
Lagu Perfect – Ed Sheeran mengalun merdu melalui ponsel pintar Nara. Lagu yang sangat cocok untuk berdansa bersama pasangan. Cuaca dan tempat sudah sangat mendukung. Tapi sayang, manusianya yang kurang mendukung.
"Abang!" Pekikan itu yang berkali kali keluar dari mulut Nara. Pasalnya dia kesal karena beberapa kali Septian menginjak kakinya. Niat hati mau dansa romantis, tapi apalah daya skill tak ada. Septian sama sekali tak bisa berdansa, bisa dibilang pengalamannya soal itu nol besar.
Nara melepaskan tangannya yang mengalung dileher Septian. Dengan ekspresi dongkol dia meraih ponsel diatas meja dan mematikannya.
"Maaf." Ucap Septian sambil menahan tawa melihat kekesalan Nara.
"Abang gak cocok dansa sayang. Abang cocoknya goyang koploan kayak pas kita di Bali dulu. Abang puterin lagu koplo dari ponsel abang ya."
Septian mengambil ponselnya dan mencari lagu koplo di galery musiknya. Tapi belum sempat dia memutar lagu, Nara lebih dulu merebut ponselnya dan mematikan daya.
"Gak usah." Nara meletakkan kembali ponsel tersebut diatas meja sambil cemberut.
Septian meraih pinggang Nara lalu mencium bibirnya yang mengerucut indah itu.
"Abang ih." Nara mendorong dada Septian agar pria itu menghentikan ciumannya yang terus terusan itu.
"Kamu kalau lagi cemberut gitu bikin makin gemes tau gak?"
"Gak taulah." Salak Nara.
Mata Nara membulat sempurna saat Septian tiba tiba mengangkat tubuhnya. Tangannya refleks berpegangan pada leher pria itu.
"Adem yang, ngamar aja yuk. Udah kangen pengen nengokin baby." Goda Septian sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dih dasar mesum," cibir Nara.
"Tapi kamu cintakan?"
"Enggak."
"Enggak salah maksudnya." Septian terkekeh geli melihat ekspresi malu malu Nara. Dia mengangkat tubuh istrinya itu masuk kedalam rumah.
Saat hendak menaiki tangga, mereka berpapasan dengan mama Tiur. Septian segera menurunkan tubuh Nara lalu menunduk menahan malu. Resiko tinggal bareng mertua. Jauh dari kata dunia milik berdua. Karena pada kenyataannya, ada banyak pasang mata disini.
Mama Tiur menatap Nara sambil geleng geleng.
"Dihalaman belakang banyak nyamuk ya? Dada kamu sampai merah merah gitu. Segede apa nyamuknya?"
__ADS_1
Blush
Wajah Nara sontak memerah menahan malu. Kedua tangannya bergerak untuk menutupi dada yang penuh dengan kissmark. Bagaimana tidak penuh, saat ngobrol dipinggir kolam, Septian tak henti henti menciumi dadanya. Pria itu beralasan gemas karena dada yang menyembul sebagian itu tampak begitu menggoda.
"Kita ke kamar dulu ya mah." Pamit Nara yang sudah tak bisa menahan malu lagi. Dia dan Septian lalu berjalan menaiki tangga sambil sesekali saling menoleh lalu cekikikan.
Sesampainya dikamar, Septian langsung mengunci pintu. Dia yang sudah tak tahan segera meraih pinggang Nara dan meraup bibir merah yang menggoda untuk dinikmati lagi dan lagi.
Septian meraih tangan Nara dan meletakkan diatas miliknya yang sudah mengeras sempurna.
"Udah gak tahan bang?" Goda Nara sambil mengedipkan sebelah mata.
"Dari tadi. Tapi kamu malah ngajak dansa."
"Astaga, pantesan dansanya gagal total. Fokusnya terbagi sih." Ledek Nara sambil ketawa cekikikan.
Septian membuka celananya yang sudah terasa sesak sejak tadi. Membebaskan senjatanya dari sangkar yang mengurungnya.
"Manjain punya abang Ra." Pinta Septian dengan suara serak karena gairah.
Nara mulai memainkan senjata panjang yang selalu membuatnya melayang hingga langit ketujuh. Memberikan sentuhan sentuhan istimewa pada sesuatu yang spesial itu. Kenapa spesial? karena pakai telur, wkwkwk.
Setelah merasa benar benar tak sanggup lagi. Septian melepaskan seluruh pakaiannya Nara dan menggiringnya menuju Sofa. Menciumi leher hingga dada dan menambah kissmark yang tadi sudah dia buat dikolam.
"Abang..... " Nara semakin menekan kepala Septian saat pria itu menenggelamkan diri didadanya. Menikmati kesukaannya itu hingga membuat Nara tak henti hentinya mengeluarkan des*han.
Septian memposisikan diri disofa. Mengulang waktu itu yang sempat gagal. Dengan harapan malam ini sejarah tak terulang kembali.
"Ahhhhh.... ." Pekik Nara saat milik Septian terbenam sepenuhnya dalam miliknya. Dia mengatur nafas sebentar lalu mulai menggerakkan pinggul dengan bantuan tangan Septian.
Nara berpegangan pada dada Septian dan terus bergerak naik turun. Septian benar benar menikmati gaya baru ini. Nara benar benar tampak cantik saat berada diatasnya. Dadanya yang mengayun indah membuat Septian sungguh merasa dimanjakan.
Peluh terus membanjiri tubuh mereka berdua ditengah aktivitas panas yang menguras tenaga itu.
"Abang....." Pekik Nara saat dia mencapai puncak. Dan sesaat kemudian, Septian juga mendapatkannya.
Nara memeluk Septian sambil mengatur nafas yang masih ngos ngosan.
Septian membelai punggung Nara sambil berkali kali mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
"Capek?"
Nara mengangguk.
"Tapi gak ada yang sakitkan? baby aman?"
"Aman bang." Jawabnya sambil memejamkan mata.
Septian melihat Nara yang tampak sangat kelelahan. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Tak seharusnya membuat istrinya yang sedang hamil itu sampai kecapekan. Semoga saja bayi mereka baik baik saja.
"Ngantuk." Gumam Nara.
"Mau tidur?"
Nara mengangguk.
"Tapi lepasin punya abang dulu ya sayang."
"Hah."
"Punya abang masih didalam Ra."
Seketika Nara teringat. Tubuh mereka masih menyatu. Dia belum turun dari pangkuan sang suami. Dengan tenaga yang masih tersisa, dia bangkit lalu duduk setengah rebahan disamping Septian.
"Maafin abang ya, udah bikin kamu kelelahan." Septian mengangkat tubuh Nara dan membaringkannya diatas ranjang.
"Istirahat dulu. Ronde keduanya besok pagi aja. Giliran abang yang kerja. Kamu cukup rebahan sama ngede sah aja."
Septian mengambil tisu untuk membersihkan milik Nara dari sisa per cintaan mereka. Menyeka keringat diwajah cantik itu lalu menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"I love u sayang."
.
.
LIKE, KOMEN, VOTE SERTA HADIAH, SENANTIASA DITUNGGU.
YANG MEMBACA NOVEL INI TAPI BELUM TEKAN FAVORIT, BURUAN FAVORITKAN YA GUYS....
__ADS_1