Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
SALAH SASARAN


__ADS_3

Shaila sungguh tak menyangka jika akan ada diposisi ini. Serba salah, ingin mundur, butuh laptop. Selaian itu, dia juga malu kalau ketahuan pacaran bohongan. Apalagi kalau sampai Diego bilang ini hanya demi laptop. Hancur harga dirinya.


Maju terus, sudah pasti kena marah. Apalagi wajah abangnya tampak murka, membuat dia makin gemetaran.


Septian sudah tentu tak terima. Dia tak melarang Shaila pacaran, asal dengan pria baik baik. Bukan playboy paling terpopuler dikampus. Yang setiap ada maba cantik, langsung sikat. Tapi yang membuat Septian sangat tidak menyukai Diego, tentu karena dia mengejar Nara.


"Sini." Septian menarik tangan Shaila dari genggaman Diego. Panas hatinya melihat adik kesayangan dipegang cowok berengsek macam Diego.


"Apa apa sih. Main tarik tarik cewek orang." Diego malah nyolot. Dia masih berusaha mempertahankan tangan Shaila.


"Kak, lepasin gue, please... " Lirih Shaila setengah memohon pada Diego.


"Enggak." Jawab Diego cepat. "Ingat, kita udah jadian, gak ada kebohongan disini." Bisik Diego


Septian makin geram melihat mereka malah berbisik didepannya. Dia mengepalkan kedua telapak tangannya. Kalau saja Nara tak memegangi lengannya sambil geleng geleng, sudah pasti bogem mentah melayang kewajah Diego.


"Dia abang aku." Lirih Shaila sambil menunduk. Takut melihat kemarahan diwajah sang kakak.


"Apa?" Diego takut salah dengar. Dia ingin memastikan sekali lagi karena ucapan Shaila terlalu pelan.


"Lepasin tangan adik gue sekarang juga." Tekan Septian dengan nafas yang memburu. Dia berusaha sekuat tenaga mengontrol emosi agar tak meledak dan menghancurkan acaranya. Dia tak mau acara yang sudah disusun dengan apik, hancur hanya gara gara ketidak mampuannya menahan emosi.


"Adik" Gumam Diego sambil berusaha mencerna ucapan Septian. Dia masih belum nggeh juga.


"Dia abang aku."


JEDER


Ucapan itu terdengar bak petir disiang bolong. Diego buru buru melepas tangan Shaila. Wajahnya mendadak pucat pasi, melongo seperti orang bodoh. Sepertinya dia salah sasaran kali ini. Mampus, kalau Shaila jujur ini hanya akal akalannya, mau ditaruh mana mukanya. Ini sih namanya bukan dapat solusi. Tapi keluar dari kandang macam, masuk kandang singa. Dia bakal jadi bahan ketawaan Asep dan Nara.


Melihat tangan Shaila terlepas, Septian berniat menarik adiknya itu ketempat lain. Tapi belum terealisasi, mama Tiur dan mama Eva keburu datang.


Melihat mamanya datang, Diego makin kelabakan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, dia pasrah pada yang maha kuasa.


"Ternyata kalian ada disini toh. Mama cariin dari tadi. Ini loh Jeng, calon mantu saya." Mama Eva dengan pedenya memperkenalkan Shaila sebagai calon mantu saya. Tentu saja, Nara terkejut, lebih lagi Septian, dia sampai tak bisa berkata apa apa.


"Cantikkan, namanya Shaila."


Shaila ingin sekali kabur dari tempat itu. Tubuhnya terasa lemas. Kenapa situasi jadi makin runyam seperti ini. Ini sudah jelas diluar kendalinya.


"Tente, seben__" Shaila ingin menjelas5tapi keburu dipotong oleh mama Tiur.


"Jadi kita bakal jadi saudara dong."

__ADS_1


"Saudara?" Mama Eva mengernyitkan dahi.


"Dia adik iparnya Nara."


"Astaga, jadi seperti itu. Wah wah, seneng sekali dengarnya. Bisa dong setelah ini kita buka usaha bareng. Pengen deh ikutan sukses kayak Jeng Tiur, yang usahanya ada dimana mana." Puji Eva.


"Bisa aja Jeng. Jeng kan udah kaya, suaminya pengusaha sukses. Tinggal duduk manis, duit udah ngalir dengan sendirinya."


"Permisi Ma, tante, kami tinggal sebentar." Septian menarik tangan Shaila dari tempat itu. Membawanya ketempat yang lumayan sepi. Dia butuh penjelasan. Awalnya dia tak percaya jika Shaila pacaran dengan Diego. Tapi mendengar mama Diego yang memperkenalkannya sebagai calon mantu, mau tak mau dia jadi yakin kalau Shaila pacar Diego.


Setelah mama Tiur dan mama Eva pergi dari sana. Nara langsung memberikan tatapan tajamnya pada Diego.


"Jadi beneran kamu pacarnya Shaila?"


"Ya iyalah Bu. Kan mama saya juga udah bilang, Shaila calon menantunya." Jawab Diego sambil tersenyum absurd. Dalam hati, dia berterimakasih karena Tuhan masih menyayanginya kali ini. Masih mau menyelamatkan harga dirinya. Tapi tunggu, Shaila bersama Septian, bagaimana jika cewek itu bicara yang sebenarnya.


"Sejak kapan kamu pacaran sama Shaila?" Nara terus memberondong Diego dengan berbagai pertanyaan.


"Sejak... sejak... " Gak mungkinkan dia bilang sejak beberapa menit yang lalu. "Sejak minggu lalu. Saat tahu ibu udah nikah sama Asep." Diego berusaha tenang. Tak ingin kebohongannya terbongkar.


"Putusin Shaila. Dia gadis baik baik."


"Justru karena dia gadis baik baik, makanya saya pacarin. Mama saya saja, suka sama dia. Emang dimana letak kesalahannya?"


"Tak pantas dari sisi mananya? Bukankah setiap manusia itu sama dimata Tuhan."


"Tapi tidak sama dimata saya. Saya tahu siapa kamu. Playboy kampus yang selalu ngegaet maba baru. Bahkan dosen baru juga mau kamu gaet." Sindir Nara.


"Kamu itu terkenal tukang ghosting. Deketin cewek, terus kamu tinggalin kalau udah nemu yang lebih cantik. Gonta ganti cewek cuma buat kamu ajak jalan sekali dia kali terus kamu tinggal."


Apa yang dikatakan Nara memang benar. Diego sering ngajak jalan cewek cewek cantik, ngasih harapan terus dicampakkan begitu saja. Semua itu hanya untuk mengusir kejenuhannya. Wanita yang dia cinta meninggalkannya dengan alasan menuntut ilmu. Tapi tahunya, malah meniti karier menjadi model majalah dewasa.


Ditempat lain yang lumayan sepi. Septian melepaskan tangan Shaila. Dia butuh penjelasan saat ini.


"Apa apaan ini Sha? Kamu pacaran sama Diego?"


"Sebenarnya... " Shaila bingung menjelaskan.


"Putus." Tekan Septian.


Shaila mengangguk. Dia memang tak ada niat jadian dengan Diego, jadi tak keberatan sama sekali jika disuruh putus.


Septian memicingkan matanya. Semudah itu Shaila mengangguk. Dia bahkan sama sekali tak memberikan perlawanan. Tidak tampak memperjuangkan cintanya sama sekali.

__ADS_1


"Dia bukan pria yang baik buat kamu. Darimana abang tahu, karena kami satu kampus. Abang tak mau dia sampai apa apain kamu. Dunianya dan dunia kamu berbeda. Dan perbedaan yang jauh itu, sukar untuk disatukan."


Septian tahu bagaimana pergaulan Diego. Dulu dia juga ada didunia itu. Oleh sebab itu, dia tak mau Shaila jadi korban. Adiknya itu terlalu polos untuk pria seperti Diego yang sudah sangat berpengalaman.


"Dan satu lagi, dia sempat ngejar ngejar kak Nara."


"Hah!" Shaila melongo mendengarnya. Tak menyangka jika Diego pernah mengejar iparnya.


"Abang harap, kamu bisa ngerti kenapa abang tak merestui hubungan kalian. Abang ingin yang terbaik untuk kamu. Abang sangat paham dengan dunia luar. Dunia diluar sana itu sangat keras Sha. Kalau iman kita gak kuat, kita bisa ikut terseret dalam arus. Sebenarnya abang malu bicara seperti ini, mengingat bagaimana kelakuan abang dulu. Abang sudah pernah ada diposisi itu. Dan kamu tahukan akibatnya, Kak Nara hamil diluar nikah karena perbuatan abang. Abang tak mau hal serupa terjadi sama kamu Sha. Abang sayang kamu, Sarah dan Ibu. Abang ingin bisa menjaga kalian sebagai gantinya ayah."


Shaila meneteskan air mata. Kali ini, dia sudah mengecewakan abangnya hanya demi laptop. Tapi sungguh, bukan ini maunya. Dia tak tahu kalau abangnya mengenal Diego.


"Abang tak bisa menafikan, jika dia punya pesona yang mungkin bikin kamu jatuh cinta. Tapi asal kamu tahu Sha. Perilakunya, tak sebagus wajahnya."


"Abang gak usah khawatir, Sha akan putusin dia hari ini juga."


"Syukurlah kalau kamu mau nurut sama abang."


Shaila mengangguk lalu memeluk abangnya. Walaupun abangnya pernah melakukan hal yang mengecewakan, tapi dia tetap menghormatinya seperti dia menghormati ayahnya dulu.


Diego harap harap cemas menunggu kedatangan Shaila. Dia terus berdoa semoga Shaila tak membongkar semuanya.


Sedangkan Nara, dia terus memperhatikan tingkah polah Diego yang mondar mandir gak jelas.


Melihat Shaila datang bersama Septian, dia langsung menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Berusaha terlihat tenang tapi hatinya tak karuan.


"Ikut gue." Septian menunjuk dagu kearah Diego. Dan sebagai seorang gentleman, dia mengikuti Kemana langkah kaki Septian.


BUGH


Septian langsung melayangkan tinjunya saat sudah berada ditempat yang sepi.


"Damn." Umpat Diego dalam hati sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia berusaha sabar, tak mau membalas karena situasi dan kondisi sangat tidak tepat.


"Apa sih mau lo? Setelah gagal ngedapetin bini gue, lo nyasar adik gue." Septian berusaha mengontrol emosi, agar tak sampai teriak dan menimbulkan keributan. Bagaimanapun, dia harus bisa menjaga sikap. Dia tuan rumah diacara ini. Terlebih lagi, tak mau terkesan buruk dimata mertuanya.


"Gue gak tahu dia adik lo."


"Sekarang udah tahukan? Jadi gue harap, gak usah deket deket adik gue lagi. Gue mau, hubungan kalian, putus sekarang juga."


"Lo punya dendam kesumat apa sih Sep ama gue? Perasaan kita gak pernah ada masalah. Soal Bu Nara, itu hanya kesalah pahaman. Gue gak tahu dia sudah menikah."


"Gue gak terima alasan apapun, jauhi adik gue."

__ADS_1


Septian lalu pergi meninggalkan Diego begitu saja. Sebenarnya tangannya masih gatal ingin menghajar, hanya saja situasi tidak memungkinkan


__ADS_2