Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
LEBIH SAKIT DARI YANG DIBAYANGKAN


__ADS_3

Penyesalan memang selalu datang diakhiri. Septian sungguh menyesal karena tak bisa mengontrol emosi. Dia sudah melakukan kesalahan fatal dengan melakukan kdrt. Septian berjalan mendekati Nara. Tangannya terulur untuk meraih tangan Nara tapi wanita itu mundur lebih dulu, membuat Septian mau tidak mau mengurungkan niatnya.


"Saya tidak mengijinkan Nara ikut denganmu." Ujar Papa Satrio.


"Tolong izinkan saya bertanya sendiri pada Nara."


"Aku tidak mau." Jawab Nara cepat tanpa melihat Septian. Hatinya terlalu sakit untuk menatap pria yang dia anggap sebagai pelindung ternyata malah menyakitinya.


Dada Septian terasa seperti dihantam batu yang besar. Apakah ini akhir dari pernikahan yang bahkan baru beberapa bulan?


"Sudah dengarkan apa jawaban Nara. Sekarang lebih baik, kamu pergi dari sini." Hardik papa Satrio.


Tidak, Septian tak mau menyerah begitu saja. Bagaimanapun, dia mencintai Nara. Dia tak ingin berpisah dengan wanita itu.


"Tolong izinkan saya bicara berdua dengan Nara." pinta Septian.


"Saya ti__"


"Pah.. " Mama Tiur menyela ucapan suaminya. "Biarkan mereka menyelesaikan masalah berdua."


Mama Tiur melepaskan tangannya dari pinggang Nara. Diraihnya tangan suaminya dan mengajaknya pergi. Dengan berat hati, papa Satrio akhirnya pergi meninggalkan Nara dan Septian.


Beberapa detik, keduanya diam. Yang terdengar hanya isak tangis Nara serta suaranya menyusut hidung.


Nara berontak saat Septian meraih bahunya. Tapi kali ini, Septian sedikit memaksa hingga Nara mau tidak mau menurut.


"Lihat abang." Ucap Septian sambil memegang kedua bahu Nara. Tapi Nara tak mau melihat, dia memilih menoleh kearah lain.


"Maafin abang. Abang tahu abang salah, tapi abang mohon, maafin abang kali ini. Abang janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Demi anak kita Ra. Tolong maafin abang. Abang cinta sama kamu. Abang gak bisa hidup tanpa kamu." Ujar Septian dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Abang tidak berniat mengajak kamu hidup susah dengan ikut sama abang. Abang akan bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Abang janji, akan memprioritaskan kebahagiaanmu." Septian tak kuasa menahan air mata. Dia sungguh takut saat ini, takut kehilangan Nara.


"Abang akan mencarikan biaya untuk operasi sc kamu. Berapapun akan abang carikan asal kamu mau ikut abang."


"Ikut abang ya sayang?"


"Maaf, aku gak bisa." Nara kekeh pada pendiriannya.


"Tolong pikirkan lagi. Abang tahu kamu masih marah saat ini. Tapi sumpah demi Allah, abang tak seperti yang kamu tuduhkan. Semalam abang ketiduran di coffee shop. Abang habis jatuh dari motor. Ini buktinya kalau kamu gak percaya." Septian hendak melepas jaket untuk menunjukkan lukanya.


"Keputusan aku sudah bulat. Aku gak mau ikut sama laki laki kasar seperti kamu."


"Baiklah kalau begitu." Dengan berat hati Septian menerima keputusan Nara. "Tapi abang akan selalu menunggu kamu. Abang ada dirumah ibu. Kapanpun kamu butuh abang. Kamu bisa datang kesana atau menelepon abang. Abang siap 24 jam untuk kamu dan anak kita." Lanjutnya sambil menyentuh perut Nara.

__ADS_1


Septian memasuki kamar untuk mengemasi barang barangnya. Saat dia hendak memasukkan laptop, tangannya terhenti. Dia urung membawa laptop pemberian Nara. Dia tinggalkan benda itu dimeja. Dia hanya membawa barang barang yang benar benar miliknya saja.


...*****...


[ Hari ini jadwal kontrol kandungan. Mau abang temenin? ]


Nara membaca pesan dari Septian, tapi tak berniat membalasnya. Dia melanjutkan Make up, sebentar lagi, dia akan ke dokter kandungan bersama mamanya.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Nara hanya diam. Ini untuk pertama kalinya, dia periksa kandungan tanpa suaminya. Dan rasanya sungguh berbeda, seperti ada bagian dari dirinya yang hilang.


Saat hendak memasuki lobi, Nara seperti melihat Septian berdiri tak jauh dari pintu masuk. Tapi buru buru dia alihkan pandangan, mungkin ini hanya imajinasinya saja.


Setelah daftar, Nara menunggu didepan poli kandungan. Dia dan mama Tiur duduk dikursi panjang menunggu giliran.


Air mata Nara menetes saat melihat wanita lain yang ditemani suaminya. Jadi seperti ini rasanya tanpa suami? Kenapa berat sekali, batinnya. Bahkan baru dua hari pisah, rasanya sudah seperti dua tahun.


"Kenapa?" Tanya mama Tiur saat melihat Nara menangis.


Nara hanya menggeleng sambil menyeka air mata.


"Mah, keputusan yang aku ambil benar gak sih?" Tanya Nara sambil menatap mamanya.


"Menurut kamu?"


"Tanyakan pada diri kamu sendiri. Kamu sudah dewasa Ra. Sudah tahu apa yang terbaik untuk kamu." Jawab Mama Tiur sambil menggenggam tangan Nara.


Nara memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Kepalanya terasa pusing karena kurang tidur dan memikirkan Septian.


Saat dia membuka mata, lagi lagi dia melihat Septian berdiri ditempat yang agak jauh. Apakah dia hanya halusinasi? ataukan suaminya itu memang ada disana?


"Ibu Nara."


Mama Tiur dan Nara segera masuk saat namanya dipanggil. Seperti biasa, dia disambut dengan baik oleh dokter Ana.


"Tumben gak sama papanya?" Tanya dokter Ana sambil bersiap siap melakukan USG.


Nara hanya menanggapi dengan senyuman.


"Papanya lagi kerja dok." Jawab Mama Tiur. "Makanya ditemenin oma hari ini."


"Pantesan mamanya terlihat kurang semangat." Goda dokter Ana. "Semuanya bagus, hanya tekanan darah saja yang agak tinggi. Jangan terlalu banyak fikiran. Tanggal sc nya sudah ditentukan?"


Nara dan Mama Tiur saling menatap.

__ADS_1


"Belum dok, saya bicarakan dengan suami dulu." Jawab Nara.


"Baiklah kalau begitu. Tapi kalau bisa secepatnya."


Setelah dari rumah sakit, mama Tiur mengajak Nara ke spa dulu karena ada urusan. Dalam perjalanan, dia melihat ada pesan dari Septian.


[ Bagaimana baby? sehat?


Boleh Abang minta foto print out USG?" ]


Pesan itu dikirim sekitar 10 menit yang lalu. Itu berarti saat Nara baru keluar dari rumah sakit. Apa itu artinya, Septian memang ada dirumah sakit tadi? Jadi yang dilihat Nara tadi benar benar Septian. Dia memperhatikan dari jauh saat Nara periksa.


Saat Mama Tiur ke tempat spa. Nara memilih ke mezra coffee shop yang berada disebelahnya.


"Eh mbak Nara." Sapa Beni, salah satu waitres disana. "Mas Asep gak ke cafe 2 hari? apa kondisinya parah?"


Nara mencerna pertanyaan Beni. Apa ini artinya, Septian benar benar habis kecelakaan kemarin?


"Ben." Teriakan dari Agus membuat Beni seketika menoleh.


"Maaf ya mbak, saya tinggal dulu." Pamitnya dan langsung menuju tempat Agus.


Nara melihat kondisi cafe. Sepi sekali, sangat berbeda dengan saat grand opening. Apakah ini yang membuat suami seperti banyak pikiran akhir akhir ini?


Nara berjalan ketempat Agus. Air matanya memaksa keluar saat melihat coffee maker yanh biasanya dipakai Septian.


"Gimana kabarnya Asep Ra? Parah ya sampai dua hari gak ke cafe? Shaila kenapa ikut ikutan gak datang? Kita jadi kalang kabut disini. Emang sih gak ramai, tapi menu favorit disini bikinannya Asep. Jadi kadang sering ada yang cansel pesanan. Suami lo emang barista yang handal. Gue mesti banyak belajar dari dia." Puji Agus.


"Cctv disini nyala semua?" Tanya Nara.


"Kayaknya sih iya. Kan masih baru, gak mungkin udah rusak. Kenapa?"


"Boleh aku ngelihat rekaman beberapa hari yang lalu?"


"Bolehlah, kan lo ownernya." Jawab Agus sambil terkekeh.


Nara melihat sendiri rekaman cctv pada hari Septian tak pulang. Ternyata benar, pria itu tidur di cafe. Dan dia juga melihat saat Shaila mengobati luka luka Septian. Air matanya menetes kian deras. Jahat sekali dia yang sudah menuduh Septian macam macam.


.


MAAF BANGET KALAU AKHIR AKHIR INI JARANG UP.


AUTHOR LAGI DAPAT MUSIBAH. PIKIRANNYA KACAU, JADI GAK BISA MIKIR.

__ADS_1


__ADS_2