
Devi buru buru pergi. Wajahnya tampak panik, dan itu membuat Tiur merasa aneh. Jelas jelas dia melihat Arumi kemarin, kenapa Devi bilang salah lihat. Apakah mungkin seorang mertua tak tahu jika menantunya sedang melahirkan?
Ah sudahlah, itu urusan mereka, kenapa jadi dia yang bingung. Tiur melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat Nara. Tapi lagi lagi, entah kebetulan atau apa, dia melihat Abi.
Sekarang dia yakin, jika yang dia lihat kemarin Arumi. Tapi kenapa Devi berbohong, mengatakan jika dia kesini untuk menjenguk temannya?
Sepanjang perjalanan, dia terus memikirkan masalah itu, hingga tanpa terasa, dia sudah sampai didepan kamar Nara.
"Assalamualaikum." Ucap mama Tiur saat baru memasuki kamar.
"Waalaikum salam." Jawab Nara dan Septian berbarengan.
"Gimana sayang, udah baikan?" Tanya mama Tiur sambil menaruh kue diatas meja.
"Alhamdulillah Ma." Jawab Nara sambil memakan apel yang baru dikupas oleh Septian.
"Kamu udah makan Sep?" Tanya mama Tiur.
"Udah Ma."
"Biar mama yang gantiin jaga Nara. Kalau kamu mau pulang ambil sesuatu, pulang aja."
"Enggak kok Ma. Aku keluar nyari kopi dulu ya. Nanti kalau Nara mau ke toilet atau apapun, telepon aja."
"Ya sudah, kamu keluar nyari angin sana dulu. Biar gak suntuk. Nara serahin aja ke mama."
Septian keluar dari ruang perawatan Nara, melewati koridor yang lumayan ramai hingga dia berhenti di kantin rumah sakit. Membeli satu cup kopi, lalu menuju taman yang ada disebelah rumah sakit.
Dia duduk santai sambil meminum kopi dan mengecek ponsel. Ibunya bilang, sebentar lagi mereka akan datang. Jadi lebih baik nanti dia jemput dilobi daripada ibu dan adiknya harus mencari kamar Nara.
"Septian." Seseorang menepuk pundaknya.
"Mas Abi." Sahut Septian lalu meletakkan kopi dan menyalami pria yang sekarang berdiri disampingnya. "Gak nyangka bisa ketemu lagi disini. Lagi apa mas, ada keluarga yang sakit?"
Septian menggeser duduknya agar Abi bisa duduk disebelahnya.
"Istri saya melahirkan."
"Alhamdulillah, selamat ya."
Abi tersenyum lalu duduk disebelah Septian. "Kamu sendiri, ada kepentingan apa disini?"
"Ada sedikit masalah dengan kandungan istri saya. Jadi dia harus bedrest beberapa hari."
"Semoga cepat sembuh."
"Makasih. Oh iya, gimana anak dan istri Mas. Sehat semua? "
__ADS_1
Abi menghembuskan nafas kasar lalu tersenyum getir. Jelas tak ada yang baik baik saja baginya. Apalagi jika itu menyangkut tentang anaknya. Dia menatap kedepan dengan pandangan kosong. Seolah seperti itulah masa depannya. Kosong, tak tampak adanya tanda tanda kebahagian setelah ini. Sangat berbeda dengan wajah kebahagian yang biasa terpancar dari seorang yang baru saja bergelar ayah.
"Ada apa mas?" Septian bisa melihat ada yang tidak baik baik saja.
"Saya sudah pernah ceritakan tantang anak saya."
Septian mengangguk. Dia jelas masih ingat tentang cerita Abi kalau anaknya down syndrome.
"Anak saya terdeteksi menderita kelainan jantung bawaan. Memang anak down syndrome 40 pesen kemungkinan mengalaminya. Dan sekarang, dia masih dirawat di ruang NICU." Terang Abi.
Dia lalu merogoh saku celana. Mengeluarkan kotak kecil yang sudah menjadi candunya sejak duduk dibangku kuliah. Mengambil sebatang, menjepitnya dikedua bibir lalu menyulutnya. Menghisap dalam kemudian menghembuskan asapnya.
"Rokok." Tawarnya pada Septian.
"Saya gak ngerokok." Jawab Septian sambil menggeleng.
"Cuma ini yang bisa menenangkan saya sekarang. Rasanya, cobaan ini terlalu berat." Ujarnya sambil terus menghisap rokok.
"Mungkin mau naik kelas mas, makanya diuji."
"Semoga benar ini ujian, bukan karma." Sahutnya sambil tersenyum getir.
Ponsel Septian tiba tiba berdering. Ternyata ada panggilan dari Nara. Dia minta suaminya kembali kekamar karena mau ketoilet.
"Maaf ya mas, ada panggilan darurat. Istri sudah manggil. Nanti kalau istri saya sudah selesai bedrest, saya ajakin nengok istri mas."
Septian meneguk sisa kopinya lalu membuang cup nya ditempat sampah.
...*****...
Sesampainya dikamar, Septian langsung mengantar Nara ketoilet. Menggendongnya hingga menunggunya sampai selesai buang air kecil lalu membawa kembali keatas ranjang.
Mama Tiur merasa lega melihat bagaimana Septian memperlakukan Nara. Sepertinya, kali ini putrinya itu tidak salah pilih. Walaupun awalnya dulu, dia juga ragu pada Septian.
"Permisi." Seorang suster datang mengantarkan makan siang.
"Mau mama suapin?" Tanya mama Tiur.
"Disuapin abang aja mah. Lagipula mama bilang ada urusan tadi." Jawab Nara.
"Ya sudah kalau begitu. Sep, mama ada urusan. Mungkin nanti malam kesini lagi sama papa. Nitip Nara ya."
"Iya mah."
"Kamu juga jangan lupa makan, jaga kesehatan."
Septian mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu mama Tiur langsung keluar.
__ADS_1
Septian mulai menyuapi Nara. Tapi baru beberapa suap, Nara sudah enggan melanjutkan.
"Gak enak bang." Ujarnya sambil menggeleng saat Septian hendak menyuapkan sesendok nasi kemulutnya.
"Dipaksa Ra, biar cepat sembuh."
Nara akhirnya kembali membuka mulut. Wajahnya yang tampak terpaksa saat mengunyah itu membuat Septian ingin tertawa.
"Entar kalau udah sehat. Abang ajak kulineran. kemana aja yang kamu pengen."
"Janji ya?"
"Iya janji. Tapi sementara ini, nurut aja sama dokter dan abang."
Nara mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang terasa tak enak itu. Sebenarnya bukan tak enak, melainkan sedikit hambar.
"Ra, istri teman abang baru lahiran. Di rumah sakit ini juga. Kalau kamu udah selesai bedrestnya, kita jenguk ya?"
"Teman kuliah, atau kerja?"
"Teman yang gak sengaja ketemu. Dulu yang abang ceritain bantu orang kecopetan terus dikasih uang."
"Oo.... "
"Mau nggak?"
"Mau lah bang. Ya udah, nanti aku telepon mama buat bawain Make up kalau kesini." Ujar Nara bersemangat.
"Buat apa make up? masa dirumah sakit aja make up Ra?"
"Ya kan mau ketemu teman abang."
Septian membuang nafas kasar.
"Kamu itu mau cantik didepan abang apa didepan orang? kenapa malah dandan kalau mau ketemu orang." protesnya. Dia teringat kejadian dicafe tempo hari. Rasanya tak ingin melihat Nara menjadi pusat perhatian seperti itu lagi. Apalagi dia tahu Abi lumayan tampan. Takut jika tiba tiba ada ketertarikan diantara keduanya.
"Bukan gitu bang. Aku itu cuma gak mau terlihat jelek. Apalagi sampai malu maluin kamu. Gak lucu kan, kalau ntar orang bilang. Itu si Asep cakep, tapi bininya jelek."
Septian terkekeh mendengarnya. Mungkin sudah kodrat wanita, selalu ingin tampil cantik kapanpun dan dimanapun. Dan paling gak suka kalau dibilang, jelek, kumal apalagi gendut.
"Gak papakan aku dandan cantik bang?"
"Ya gimana lagi. Kamunya gak pede kalau gak dandan. Tapi jangan terlalu cantik, takut dilirik yang bukan mahram. Dan satu lagi, kamu harus inget, kamu itu udah punya suami. Jangan sampai oleng kalau dilihatin cowok cakep. Apalagi sampai tebar pesona."
"Apaan sih." Nara melotot sambil memukul lengan Septian.
"Kamu pikir aku alzaimer sampai lupa kalau udah punya suami? Mana mungkin aku kayak gitu. Aku cuma bisa oleng kalau disenyumin kamu. Meleleh hati adek bang." Godanya sambil mengedipkan sebelah mata dengan ekspresi menggoda.
__ADS_1
"Gak usah ngode ngode. Abang lagi puasa, jangan bikin puasa abang makin berat."
"Hahaha... " Nara ngakak mendengarnya. Gara gara Mayangkan, mereka terpaksa puasa.