Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
SELALU MENDUKUNGMU


__ADS_3

Septian duduk dibalkon sambil menikmati secangkir kopi. Kopi hitam biasa, buatan Bik Surti. Dia sangat menyukai kopi. Menjadi barista adalah salah satu cita citanya. Dan yang aneh, kenapa dia kuliah jurasan teknik elektro. Bukan masuk akademi barista atau sekolah semacamnya?


Ayah Septian adalah seorang operator disebuah pabrik elektronik multinasional. Dia ingin anaknya bisa bekerja ditempat itu dengan jabatan yang bagus. Setidaknya, dengan gelar sarjana, dia bisa mendapatkan posisi yang bagus. Tak seperti dirinya yang hanya seorang operator.


"Bang... Abang... " Panggil Nara yang tidak menemukan suaminya didalam kamar. Setelah makan malam tadi, dia vidio call bersama mamanya dan Kinan dibawah. Sedangkan Septian, setelah minta dibuatkan kopi, langsung naik kekamarnya.


"Di balkon sayang." Sahut Septian.


"Ngapain disini?" Tanya Nara yang sekarang sudah ada dibalkon.


"Duduk sini." Septian menepuk pahanya.


Dengan senang hati, Nara langsung duduk dipangkuan suaminya. Sengaja duduk dengan posisi serong agar bisa memeluk pinggang Septian dan merebahkan kepalanya didada bidang sang suami.


"Kita kerumah kak Kinan yuk bang besok?"


"Lain kali aja Ra. Kamu masih butuh istirahat. Lagian tadi udah vcall sama Kak Kinan dan babynya kan?"


"Tapi pengen ngelihat langsung."


"Kapan kapan aja kalau kondisi kamu udah bener bener enak." Bujuk Septian sambil merapikan rambut Nara yang tertiup semilir angin malam.


"Abang mau nerima tawaran papa?" tanya Nara.


"Masih Bingung Ra. Pengennya sih ngelamar kerja di perusahaan tempat ayah kerja dulu. Seperti apa yang diinginkan ayah. Dan abang sudah banyak kenalah disana. Kalau menurut kamu gimana?"


"Aku sih terserah abang aja, gimana enaknya. Kerja itu gak melulu tentang gaji. Tapi juga kenyamanan. Gaji besar tapi gak nyaman, juga percuma. Ujungnya ujungnya pasti cuma merasa tertekan dan akhirnya, kerja gak bisa maksimal. Sebenarnya passion abang itu lebih kemana?"


"Kalau ngomongin tentang passion sih, udah jelas kearah barista yang. Abang nyaman banget jadi barista. Kerja yang sesuai hobi itu rasanya seperti gak kerja. Tapi balik lagi, abang butuh gaji besar untuk menafkahi kamu dan anak kita. Abangkan kepala rumah tangga."


"Terus?"


"Apanya?" Septian mengernyit bingung.


"Ya terus, abang mau ngelamar kerja atau buka coffee shop?"


Septian mengedikkan bahu. Dia memang belum ada gambaran sama sekali. Sampai pagi tadi, keputusannya sudah bulat untuk melamar kerja diperusahaan tempat ayahnya bekerja dulu. Tapi malam ini, dia jadi dilema karena penawaran mertuanya.

__ADS_1


"Gimana kalau dia duanya?" Nara memberi ide.


"Abang juga sempet mikir seperti itu. Tapi takut malah terbengkalai." Dia tak mau kemaruk yang hasil akhirnya malah gagal di keduanya.


"Kan belum dicoba." Nara menyakinkan.


"Dua bulan lagi, aku lahiran. Sebenarnya aku gak mau abang kerja dulu. Aku ingin abang selalu bisa menemin aku. Nanti kalau udah kerja, pasti susah minta cuti. Apalagi masih pegawai baru. Aku maunya abang nemenin aku pas lahiran. Aku gak mau sendiri dengan alasan abang masih kerja."


Septian paham dengan kegelisahan Nara. Semua wanita pasti ingin ditemani suami saat melahirkan. Dan jika bekerja ditemlat orang. Akan susah meminta cuti panjang. Apalagi masih pegawai baru.


"Jadi, gimana kalau sebelum aku lahiran, abang buka coffee shop dulu. Coba dikembangin dulu. Nanti kalau udah mulai jalan, mulai ramai. Abang bisa melamar kerja diperusahaan. Untuk urusan coffee shop, bisa dipercayakan pada seseorang yang kompeten. Abang tinggal mengecek saja kalau pulang kerja atau pas ada waktu. Aku juga bisa bantu kalau pas gak ngajar. Dan Shaila bentar lagi lulus SMK. Dia jurusan tata boga. Bisa tuh bikin dessert. Aku lihat dia kompeten kok."


Septian jadi teringat Shaila. Teringat cita cita adiknya yang ingin memiliki toko cake and bread. Shaila juga tak ingin kuliah dulu setelah lulus SMK. Dia ingin mengambil kursus pastry.


"Kopi bikinan abang enak banget. Bukan karena cinta atau apa, tapi murni penilaian. Abang kok bisa jadi barista sih, emang dapat ilmu darimana, pernah sekolah?"


Septian jadi teringat awal mula berkarier sebagai barista. Sebuah ketidaksengajaan yang kemudian menjadi dunianya. Dulu saat masih SMA, dia ambil sampingan menjadi waitres disebuah caffe. Disana dia sering melihat berista. Dan karena kenal dekat dia mulai diajari meracik kopi. Dan untuk mengembangkan ilmunya, dia mengambil kursus barista saat masih diBali.


"Pernah kursus dulu." Jawab Septian.


"Anak ayah lagi ngapain nih? main bola apa main masak masakan?" Tanyanya sambil mengusap lembut perut Nara.


"Makanya, nanti kalau periksa tanya jenis kelamin, biar tahu cowok apa cewek?" Septian selalu enggan menanyakan itu. Baginya, cewek atau cowok sama saja. Sama sama rezeki buatnya.


Septian menunduk lalu mencium beberapa kali perut Nara. Terasa geli, tapi Nara menyukainya.


"Kok babynya doang yang dicium? mamanya enggak?" Protes Nara.


"Mamanya puasa dulu. Takut pengen lebih." Jawab Septian sambil membelai pipi Nara menggunakan punggung tanganya.


Tapi bukan Nara namanya jika tidak jahil. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Septian dan ganti mengalungkannya dileher pria itu. Dan dalam hitungan detik, dia mulai mencium bibir Septian. Melepas kerinduan pada bibir yang selalu tampak menggoda buatnya.


Pertahanan Septian jebol kalau sudah digoda seperti itu. Dia membalas ciuman itu penuh damba. Mereka saling beradu bibir dan lidah. Saling menumpahkan rindu yang tertahan hampir seminggu.


Septian mengusap sisa saliva disekitar bibir Nara saat pagutan mereka sudah terlepas. Dia terus berusaha menahan diri agar tak minta lebih. Karena menurut dokter, selama seminggu kedepan, mereka tak boleh berhubungan dulu.


"Abang pengen?" Tanya Nara yang melihat mata suaminya dipenuhi kabut gairah.

__ADS_1


"Abang masih bisa nahan." Jawab Septian.


"Aku bisa kok muasin abang. Banyak jalan menuju roma." Ujar Nara sambil memindai wajah tampan suaminya.


"Enggak. Abang masih bisa nahan. Gak adil kalau cuma abang yang puas, tapi kamu enggak."


Bohong sekali kalau bisa nahan. Udah jelas dibawah sana mengeras. Ditambah Nara yang duduk dipangkuannya kadang bergerak gerak. Membuat makin susah mengontrol.


"Tapi aku gak keberatan bang."


Septian menggeleng. "Abang bukan orang yang egois."


Nara merebahkan kepalanya didada Septian dengan kedua tangan melingkar dipinggangnya.


"Salah satu teman dosen aku, sedang dalam proses cerai. Suaminya selingkuh saat dia sedang nifas. Dia memergoki suaminya beberapa kali jajan diluar. Dan menurut cerita dari dari beberapa orang. Banyak suami yang selingkuh saat istrinya nifas, saat tak mampu memenuhi kebutuhan biologis. Aku tak mau seperti itu bang."


"Jangan terlalu overthinking. Gak semua laki laki sama sayang." Sahut Septian sambil membelai kepala Nara.


"Aku menyadari salah satu alasan kenapa Abi selingkuh. Salain karena LDR, juga karena dia butuh terpenuhi kebutuhan biologis. Dulu, dia beberapa kali mengajakku bercinta. Tapi aku selalu menolak karena kami belum menikah. Dan akhirnya, Arumi yang memenuhi kebutuhan itu. Dan aku tak mau sejarah terulang lagi. Aku tak mau karena kebutuhan yang tak terpenuhi, kamu cari partner ons."


Ketakutan Nara sangat beralasan. Selain sering mendengar suami yang selingkuh saat istri nifas, juga karena kebiasaan Septian dulu. Kekhawatiran itu menjadi berlipat ganda menjelang hari kelahiran. Dia tak mau cerita serupa terjadi dalam rumah tangganya.


"Abang emang bukan pria baik sebelumnya. Tapi abang akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu dan anak kita. Abang tahu kamu belum bisa sepenuhnya percaya sama abang. Dan itu wajar mengingat masa lalu abang."


"Maaf." Nara menyesal telah negatif thinking. Tak seharusnya dia menyamakan suaminya dengan suami wanita lain.


"Kamu gak salah kok."


"Aku sayang sama abang." Ucap Nara sambil menatap dalam kedua mata Septian..


"Abang jauh lebih sayang sama kamu." Sahut Septian sambil mencium kening Nara.


"Maaf jika aku egois tak ingin abang kerja dulu. Tapi jangan salah sangka. Apapun keputusan abang. Aku pasti dukung." Ucap Nara sambil menyorokkan kepalnya di ceruk leher Septian dan memberikan kecupan kecupan basah disana.


"Sayang..." Nafas Septian kian memburu. Dan entah sengaja atau tidak, Nara justru makin aktif menggerakkan pantatnya.


"Masuk yuk, aku bantuin. Udah keras gitu, masih aja bilang bisa nahan. Mau solo dikamar mandi?" Cibir Nara sambil tersenyum. Membuat Septian seketika tergelak karena ketahuan niat hatinya.

__ADS_1


__ADS_2