Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
FIRST LOVE


__ADS_3

Septian masih setia membelai punggung Nara yang saat ini sedang menangis didadanya. Berharap selesai menangis, wanita itu tak marah lagi padanya.


"Maafin abang ya Ra. Kamu pasti kecewa karena tadi abang ngobrol sama Nurul saat kamu masih dipasar. Tapi itu tadi Nurul baru datang kok Ra. Kami juga belum sempat ngobrol apa apa." Septian berusaha menjelaskan.


"Kamu boleh kok marah sama abang. Tapi jangan diemin abang kayak gini ya."


Nara masih sesenggukan. Dia bingung mau bicara apa. Karena sebenarnya dia sama sekali tidak marah.


"Saat kami ngobrol berdua tadi. Kami juga gak ngobrolin yang aneh aneh kok. Hanya menyelesaikan yang sepatutnya udah selesai saja. Kamu percaya kan sama abang?" Tanya Septian sambil mengangkat wajah Nara dan menangkup kedua pipinya yang basah karena air mata.


Nara mengangguk pelang.


"Aku percaya bang. Tapi... "


"Tapi apa?"


"Aku takut. Nurul begitu sempurna. Aku takut dia akan mengambil posisiku." Ujar Nara dengan tatapan sayu.


Septian menyeka air mata Nara lalu mengecup keningnya lama. Ada perasaan bahagia dihatinya. Bahagian karena Nara takut kehilangannya.


"Gak ada yang akan mengambil posisimu. Dan lagi pula, abang juga tak berniat untuk menggantikanmu dengan siapapun. Hati abang hanya buat kamu." Ujar Septian sambil sambil meraih tangan Nara dan menempelkan telapak tangannya didada.


"Kamu tahu, lingkarang tak akan terbentuk jika kedua ujung garis tidak disatukan. Begitu juga kita, tidak akan ada cinta jika kamu dan aku tidak bersatu. Aku memang bukan orang yang sempurna. Tapi aku merasa sempurna jika bersamamu. Kamu adalah rumah tempatku pulang Ra. Kamu segalanya bagiku."


Nara seketika memeluk Septian dan menyandarkan kepalnya didada bidang suaminya. Hatinya terasa damai dengan ucapan yang terdengar begitu tulus. Ya, wanita mana yang tak meleleh dengan ucapan seperti itu. Mungkin karena wanita selalu mengedepankan perasaan, jadi lebih mudah baper.


Septian mencium puncak kepala Nara sambil membelai rambutnya.


"Omeletnya dihabisin ya." Septian menguraikan pelukan Nara lalu meraih piring berisi omelet.


Memotong dengan pisau lalu menusuknya dengan garpu.


"Ak." Titahnya sambil menyodorkan garpu berisi omelet di depan mulut Nara.


Dengan senyum yang mengembang, Nara membuka mulutnya dan memakan omelet tersebut dengan lahap. Setelah itu dia gantian mengambil garpu lalu menyuapi Septian.


Septian mengecap rasa yang sedikit aneh dari omelet itu. Lebih tepatnya, terasa begitu asin.


"Enakan buatannya Bik Surti ya Ra." Ujarnya sambil tersenyum absurd dan menggaruk garuk tengkuknya. Ternyata selain tampilannya yang kurang cantik, rasanyapun dibawah standart.


"Siapa bilang? enak buatan abang. Aku lebih suka yang ini." Nara mengambil sepotong besar omelet lalu memakannya dengan lahap. Sama sekali tak keberatan dengan rasa asin yang sedikit berlebihan.


"Abang emangnya boleh ya hari ini cuti lagi?"


"Abang gak cuti. Cuma minta tukar shift sama teman. Jadi besok abang harus gantiin dia. Abang kerja 2 shift."


"Apa!" Nara langsung berhenti mengunyah. syok mendengarnya jika suaminya akan bekerja dari pagi hingga tengah malam.


"2 shift? mulai jam 10 pagi sampai jam 12 malam?" Nara masih tak bisa percaya.

__ADS_1


"Iya."


"Astaga bang. Itu lama banget. Gara gara aku abang jadi kerja double besok." Nara menyesal karena tindakan kekanak kenakannya membuat suaminya harus kerja selama 14 jam.


"Yah gimana lagi, istri ngambek sih." Goda Septian sambil terkekeh.


"Maaf, aku gak ngambek kok. Aku cu__."


"Iya, abang ngerti kok." Potong Septian.


"Abang mandi dulu ya." Septian beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Enak kali ya, mandi ada yang gosokin punggung. Eh.... sayangnya, gak ada yang mau." Ujarnya dengan suara lumayan keras.


Nara yang merasa tersindir langsung meletakkan piring omelet yang tadi dia pangku. "Abang." Serunya sambil menyusul Septian kedalam kamar mandi.


"Mau aku gosokin?" Tawarnya sebagai permintaan maaf karena tadi sudah menolak.


Septian tergelak mendengarnya. "Gak usah, abang cuma becanda doang. Udah sana keluar, abang mau mandi."


"Yakin?"


"Iya yakin. Udah sana keluar. Udah mau magrib."


Nara mengangguk lalu keluar dari kamar mandi.


...****...


Sedangkan Satrio, pria tampak terus memperhatikan Nara saat mereka makan malam.


"Kamu habis nangis Ra?" Tanya papa Satrio.


Septian yang sedang mengunyah makanan sontak langsung berhenti. Masalah besar jika mertuanya itu tahu Nara menangis karenanya.


"Eng, enggak kok Pah." Jawab Nara sambil berusaha bersikap wajar.


"Mulut kamu bisa bohong, tapi mata kamu enggak. Udah bengkak gitu, masih mau ngelak."


Nara segera menelan makanan dalam mulutnya. Otaknya terus berfikir untuk mencari alasan yang paling masuk akal.


"Mama lihat, sepulang dari rumah Septian, kamu tampak murung. Apa ada masalah?" Mama Tiur ikut bicara.


Satrio meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar. Hingga suaranya dentingannya terdengar sangat keras. Tampak sekali jika dia sedang emosi.


"Kamu diperlakukan tidak baik dirumah mertua kamu? Disuruh suruh, dijadikan kayak pembantu?" Tuduh Satrio sambil menatap tajam kearah Septian.


"Enggak kok Pah." Nara buru buru menyanggah. "Mereka baik sama Nara. Baik banget malahan. Nara gak disuruh apa apa selama disana."


"Kamu apain anak saya sama nangis gitu?" Tanyanya dengan suara tinggi sambil menatap Septian.

__ADS_1


"Maaf Pa. Sebe__"


"Kok nanyak nya gitu sih Pah." Nara buru buru memotong ucapan Septian. Takut suaminya itu salah ngomong dan makin bikin papanya marah. "Aku gak diapa apain sama abang. Cuma ada sedikit salah paham aja. Aku lagi hamil, maklum baperan."


"Udahlah Pah, namanya juga rumah tangga. Sedikit banyak pasti ada masalah. Toh itu juga sebagai pembelajaran buat mereka." Tiur menengahi.


"Setelah makan, temui papa diruang kerja." Titah Satrio dengan suara lantangnya.


"Baik Pah." Jawab Septian dengan jantung yang berdegup kencang. Hatinya yang sudah tak karuan. Ada apa gerangan mertuanya ingin bicara berdua. Nafsu makannya hilang seketika.


Selesai makan, Satrio segera beranjak. Dan Nara, dia buru buru menyusul papanya. Dia takut papanya salah paham pada Septian dan berujung pertengkaran.


"Papah." Panggil Nara saat Satrio hendak memasuki ruang kerjanya.


"Pah, jangan marahin abang ya. Abang gak salah apa apa. Nara cuma baper aja sampai nangis. Abang itu baik Pah. Abang sayang sama Nara. Keluarganya juga baik." Ucap Nara sambil memegang lengan dan menatap iba kearah papanya.


Satrio berdecak sambil membuang nafas kasar melihat kecemasan diwajah Nara.


"Sebegitu cintanya kamu sama dia sampai mohon mohon sama papa kayak gini?"


Nara hanya menunduk mendengar pertanyaan papanya.


"Dia bisa ge er kalau tahu kamu kayak gini. Gak usah terlalu ditunjukin kalau kamu cinta sama dia. Bisa bisa dia besar kepala dan seenaknya sama kamu."


Nara menggeleng cepat. "Abang gak Gitu kok Pah orangnya. Abang sangat banget sama Nara."


"Dan kamu?"


"Dan Nara juga sayang banget sama abang." Jawab Nara sambil tersipu malu.


Satrio berdecak lalu mengusap puncak kepala Nara.


"Sepertinya, posisi papa sudah tergantikan sekarang." Ucapnya pelan dengan mimik muka sedih.


"Papah." Nara memeluk pinggang papanya sambil mendongak keatas menatap wajah yang mulai tampak keriput itu.


"Gak ada yang bisa gantiin posisi papa dihati Nara. Papa akan selalu jadi first love nya Nara."


Satrio membalas pelukan Nara sambil mengecup puncak kepalanya berkali kali.


"Nara sayang sama papa, sayang banget."


Septian ternyata berdiri tak jauh dari mereka. Dia terharu melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Ya, mungkin sebentar lagi dia akan mengerti perasaan yang sedang dirasakan papa Nara. Saat dia menjadi ayah nanti. Dia akan berada diposisi seperti papa Satrio.


"Kamu lihat sendirikan, bagaimana kedekatan mereka." Suara mama Tiur mengejutkan Septian. Entah sejak kapan, mama mertuanya itu sudah berdiri dibelakangnya.


"Tak peduli sudah sedewasa apapun. Seorang anak, akan tetap menjadi anak bagi orang tuanya. Dan ingatlah satu hal. Saat kamu menyakiti Nara. Pria yang sedang memeluknya itu, akan jauh lebih merasakan sakitnya. Dan wanita yang melahirkannya ini. Akan berkali kali lipat merasakan pedihnya.


.

__ADS_1


BUAT PARA READERS SEKALIAN. TOLONG KASIH LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH SEBANGAI PENYEMANGAT BUAT AUTHOR.


AUTHOR LAGI GALAU KARENA LEVEL KARYA NOVEL INI TURUN. PENGEN NANGIS JADINYA 😭😭😭😭


__ADS_2