
Klinik aborsi!
Septian langsung menjatuhkan helmnya saking terkejutnya. Dia segera berlari masuk dan mencari keberadaan Nara.
Tapi didalam sangat sepi. Tak tampak satu orangpun kecuali seorang wanita dibalik meja administrasi.
Tanpa bertanya, Septian langsung membuka pintu yang bertuliskan ruangan dokter. Tapi tak ada siapa siapa didalam.
"Cari siapa mas?" Teriak ibu ibu admin.
Septian sama sekali tak menggubris. Dia beralih membuka pintu bertuliskan ruangan tindakan.
"Nara." Teriak Septian saat melihat Nara berbaring disebuah brankar. Selain Nara, ada seorang pria memakai pakaian biru, seperti orang yang akan melakukan operasi. Tangannya tampak memegang alat alat yang mengerikan. Serta seorang perawat berpakaian serba putih.
Nara dan dua orang yang berada didalam tampak terkejut.
"Anda siapa? silakan keluar." Hardik si suster.
Septian menghampiri Nara dan menarik wanita itu turun dari ranjang.
"Septian lepas." Teriak Nara sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Septian.
Tapi bukannya melepaskan, Septian malah mengambil tas Nara yang berada dimeja dan menarik wanita itu keluar dari klinik.
"Septian, lo udah gila. Kenapa tarik tarik gue keluar." Teriak Nara saat mereka sudah berada didekat mobil milik Nara.
"Lo yang gila." Bentak Septian balik. "Lo tahu apa yang lo lakuin? lo tahu apa akibatnya? Bisa mikir gak sih kalau itu berbahaya."
"Bukan urusan lo. Ini hidup gue, gue berhak ngelakuin apa saja." Teriak Nara yang kesal karena Septian ikut campur dalam masalahnya.
"Oh, jadi seperti itu." Septian tersenyum sinis sambil melepaskan cekalannya pada tangan Nara.
"Kalau lo punya hak atas hidup lo, janin itu juga demikian. Dia gak pernah minta ada disana." Septian menunjuk dagu kearah perut Nara. "Lo yang udah bikin dia ada disana. Dan sekarang, dia juga punya hak untuk hidup."
"Lo bukan siapa siapa gue. Jadi gak usah ngurusin hidup gue." Ucap Nara sambil berbalik dan berjalan menuju pintu masuk klinik.
Cekrek
__ADS_1
Septian memfoto Nara lalu menunjukkan kearah Nara.
"Gue udah foto lo. Silakan masuk kembali. Tapi berita lo yang melakukan aborsi, akan gue sebar di internet dan kampus. Lo pasti udah bisa memprediksi, gimana akhir dari karier lo sebagai dosen." Ancam Septian.
"Mau lo apa sih?" Tanya Nara sambil mulai menangis. Dia bingung harus bagaimana lagi sekarang. Septian berjalan mendekati Nara dan memegang kedua bahunya.
"Pulang, jangan pernah ngelakuin hal bodoh kayak gini. Nyawa lo taruhannya."
Nara memejamkan matanya. Yang dikatakan Septian benar. Bisa saja nyawanya melayang akibat tindakan aborsi. Dengan terpaksa, akhirnya dia mengangguk karena tak ada pilihan lain.
Septian membimbing Nara hingga masuk kedalam mobil.
"Jalan pelan pelan, gue ikutin dari belakang. Berhenti didepan minimarket terdekat. Lo butuh minum untuk mengembalikan kinerja otak lo."
Nara mengikuti apa yang Septian katakan. Dia melajukan mobilnya pelan lalu berhenti didepan minimarket terdekat.
Septian memarkirkan motornya lalu masuk ke dalam minimarket dan membeli dua botol air meneral. Kemudian dia masuk kedalam mobil Nara dan menyerahkan sebotol air mineral pada wanita itu.
Keduanya sama sama meneguk air meniral masing masing dalam diam. Hingga akhirnya, Septian memulai pembicaraan.
Nara mengangguk.
"Laki laki yang menghamili lo gak mau tanggung jawab?" Tanyanya lagi.
"Dia gak tahu kalau gue hamil."
Septian berdecak sambil geleng geleng. "Kenapa lo gak bilang ke dia. Mungkin aja dia mau tanggung jawab."
"Gue gak mau nikah." Jawab Nara sambil menatap keluar jendela.
"Kenapa? masih trauma?" Tanya Septian dengan nada meremehkan.
Nara diam saja. Sejujurnya dia memang masih trauma. Menikah dengan orang yang dipacarinya selama 8 tahun saja hanya langsung tak lebih dari 24 jam. Lalu, bagaimana jika menikah dengan orang yang bahkan tak begitu kenal dan tak saling cinta. 10 jam, 3 jam, atau bahkan mungkin hanya bertahan 1 jam.
"Gak semua laki laki itu sama. Lo pernah dengar gak tentang yang namanya jodoh. Biarpun dilempar kebelahan dunia lain, kalau jodoh, pasti akan bertemu. Lain halnya dengan tak jodoh. Meski pacaran sepuluh tahunpun, kalau gak jodoh ya gak bakalan nikah."
Nara hanya tersenyum getir mendengar kata kata Septian yang sok bijak. Perasaan dia yang dosen, kenapa malah mahasiswa yang nyeramahin dia.
__ADS_1
"Sekarang, kasih tahu gue, siapa yang menghamili lo? Siapa laki laki itu? Biar gue bantu bicara sama dia. Gua bantu cari solusi biar dia mau tanggung jawab."
Nara menatap kesal kearah Septian. Bisa bisanya dia bertanya siapa laki laki itu? jelas jelas dia pelakunya. Mungkin karena waktu itu Septian memakai pengaman, dia jadi yakin kalau itu bukan anaknya.
"Astaga." Nara menepuk dahinya sendiri karena tiba tiba teringat sesuatu. "Gara gara lo, duit gue 10 juta ilang." Bentaknya sambil memelototi Septian.
"Maksudnya?" Septian mengernyit bingung.
"Gue udah bayar biaya aborsi sebesar 10 juta. Dan tadi lo main seret gue keluar gitu aja. Sekarang gimana nasib duit gue." Nara memukul mukul lengan dan bahu Septian karena kesal.
"Gu, gue gak tahu kalau lo udah bayar."
"Sekarang pokoknya lo harus ganti. Ganti duit gue 10 juta." Teriak Nara frustrasi. Aborsi gagal, uang 10 juta melayang. Sungguh benar benar sial.
"Gue gak ada duit." Kata Septian sambil mengaruk tengkuknya. "Em.... gini aja. Lo minta ganti rugi ke laki laki itu. Laki laki yang udah menghamili lo."
Nara mendengus kesal mendengar ide Septian. Minta ganti rugi ke dia gak boleh, malah disuruh minta ke yang menghamili. Sama aja begok.
"Makanya, kasih tahu gue, siapa yang menghamili lo. Ntar gue bantu ngomong. Sekalian minta ganti rugi yang 10 juta."
Nara menghembuskan nafas kasar sambil menatap Septian tajam.
"Lo orangnya."
Septian seketika melongo. Untuk beberapa detik, dia terdiam. Berusaha mencerna ucapan Nara.
"Gue?" Septian menunjuk dirinya sendiri. "Hahaha.... gak usah becanda. Gue pakai pengaman waktu itu. Dan gue udah beberapa kali ons, gak ada tuh kasus cewek yang bilang kalau hamil anak gue."
Wajah Nara mengeras karena Septian justru menertawakannya. Menganggap ucapannya tadi hanya sebuah lelucon. Hatinya sangat dongkol. Ingin rasanya dia menonjok muka Septian saat ini juga.
Sepertinya laki laki itu memang tak bisa diharapkan. Dia memang harus mencari jalan keluar sendiri. Dan harusnya, semua sudah selesai hari ini. Tapi gara gara Septian, semua rencananya gagal total.
"Lo cuma ngeprank gue kan? Enggak, gue yakin bukan anak gue." Lagi lagi Septian membuat Nara makin murka.
Nara mengambil print out hasil USG dari dalam tasnya. Dia menarik tangan Septian dan meletakkan benda itu disana.
"Kalau lo pinter, lo bakalan ngerti. Sekarang, keluar dari mobil gue." Teriak Nara dengan nafas naik turun. Dia tak sanggup lagi kalau harus menahan emosi.
__ADS_1