
Disebuah rumah sakit, tepatnya didepan ruang NICU. Seorang wanita menangis sesenggukan. Siapa lagi kalau bukan Arumi. Anaknya sedang kritis, dan Abi belum bisa mengumpulkan uang untuk operasi. Keluarga mertuanya tak mau membantu. Sedangkan keluarganya sendiri, tak bisa diharapkan.
Nova dan Amel yang baru datang, segera memeluk Arumi bergantian. Sejatinya, hari ini mereka ingin menghadiri acara tujuh bulanan Nara. Tapi saat dijalan, Arumi menelepon dan nangis nangis menceritakan kondisi anaknya. Nova yang memang tak tegaan, mengajak Amel ke tempat Arumi terlebih dulu.
"Gimana kondisi anak lo Rum?" Tanya Nova.
"Masih dalam masa kritis. Belum bisa dioperasi karena biayanya masih kurang."
"Sabar ya Rum." Nova menepuk nepuk punggung Arumi.
Sedangkan Amel, dia yang kemarin baru pulang dari luar negeri, sama sekali tak memberi respon. Jujur dia masih tak bisa terima dengan apa yang dilakukan Arumi pada Nara.
"Kapan kamu pulang Mel?" Tanya Arumi.
"Kemarin." Jawab Amel jutek
Arumi mengajak Nova dan Amel duduk dikursi panjang. Arumi terus menangis sambil menceritakan kondisi putranya. Selain itu, dia juga kecewa pada Abi yang terkesan cuek. Tak begitu memikirkan nasib anak mereka. Bahkan Abi menolak mentah mentah usul Arumi untuk mengajukan pinjaman dikantor.
"Gimana kalau kita galang dana buat anak lo. Gue bisa bantu umumin di grup." Usul Nova.
"Yakin ada yang mau bantu?"Salak Amel sambil tersenyum sinis. "Lo tahukan, nama Arumi udah rusak gara gara menghancurkan pernikahan Nara. Apa kira kira masih ada yang mau simpati sama keadaan Arumi?"
Arumi memaklumi sikap Amel yang terkesan benci padanya. Itu sangat wajar, dia adalah tokoh antagonis dalam persahabatan mereka, jadi sudah wajar jika dia diperlakukan seperti ini. Yang dikatakan Amel juga benar. Mungkin sudah tak ada lagi yang mau bersimpati padanya.
"Mel, bisa gak sih, gak usah bicara kayak gitu. Sahabat kita sedang butuh bantuan."
"Sahabat?" Amel tersenyum miring. "Cih, sahabat yang nusuk sahabatnya sendiri dari belakang." Sindirnya.
Merasa suasana mulai tak kondusif. Nova tak ada cara lain selain mengajak Amel pergi dari tempat itu. Dia tak mau Arumi kian sedih karena omongan pedas Amel.
"Kita bakal bantu sebisa kita. Lo tenang aja." Ujar Nova sambil menepuk bahu Arumi untuk menguatkan wanita itu.
"Kita? lo aja kali." Lirih Amel sambil memutar kedua bola matanya malas.
"Kita pergi dulu ya Rum. Semoga anak lo diberi kesembuhan. Gue bakal share digrup, galang dana untuk bantu biaya operasi anak lo."
"Terimakasih ya Nov." Arumi memeluk satu satunya orang yang masih mau berada dipihaknya.
"Mel, maafin gue ya." Ucap Arumi sambil menatap Amel.
"Minta maaf sama Tuhan dan Nara, bukan sama gue. Gue mah bodo amat." Amel pergi lebih dulu meninggalkan Arumi dan Nova.
"Gak usah dimasukin ke hati omongan Amel. Jaga kesehatan, jangan lupa makan. Anak lo butuh lo."
Arumi mengangguk sambil terus mengusap air mata.
...*****...
Septian mengajak Nara masuk lalu mengambilkan makanan untuknya. Takut karena sibuk, istrinya lupa makan sampai kelaparan. Dengan sepiring nasi dan segelas air putih, dia menghampiri Nara yang sedang istirahat di ruang tengah. Diluar masih banyak tamu yang mengobrol dengan mama dan papa.
"Abang suapin ya."
Septian mengambil sesendok nasi dan segera menyuapkan pada Nara.
"Capek banget." Keluh Nara sambil memijit mijit bahunya sendiri.
"Ya udah, habis makan, istirahat dikamar. Nanti abang pijitin." Tawar Septian sambil ikut melahap makanan. Sebenarnya dia juga lumayan kelaparan.
"Kamu pasti juga capek. Jadi mending manggil tukang pijit aja." Jawab Nara.
"Yakin? padahal, pasti enakan abang loh mijitnya." Goda Septian sambil mengedipkan sebelah mata. Membuat Nara terkekeh dibuatnya.
__ADS_1
"Masih siang, gak usah ngode deh." Ledek Nara.
"Emang aturan darimana, siang gak boleh Ngode?"
"Tauk ah." Nara tak mau menanggapi lagi. Dia terlalu lelah hari ini.
Mereka melanjutkan makan hingga satu piring penuh dihabiskan berdua. Setelahnya, Septian kebelakang untuk mencuci tangan dan menaruh piring.
Nova dan Amel baru datang saat acara sudah selesai. Amel mengomeli Nova karena dia ketinggalan acara adat tujuh bulanan yang dilakukan Nara. Padahal tinggal diluar negeri membuatnya kangen melihat acara adat seperti itu.
"Siang tante." Sapa Nova dan Amel pada mama Tiur.
"Eh ada kalian berdua. Kok baru datang?"
"Iya tante, tadi ada urusan sebentar. Nara mana ya tante?" Tanya Nova yang sejak masuk tak melihat keberadaan Nara.
"Didalam, tadi lagi makan kayaknya. Kalian masuk aja."
Nova dan Amel langsung masuk. Mereka sudah sangat hafal dengan seluk beluk rumah ini. Jadi tak susah untuk menemukan Nara yang saat ini sedang duduk santai disofa ruang tengah.
"Hallo bumil." Seru Amel sambil berjalan kearah Nara dan langsung memeluknya dari samping.
"Amel." Nara kaget banget melihat ada Amel. Pasalnya sahabatnya itu tidak pernah bilang kalau mau pulang ke Indonesia.
"Kok gak bilang kalau pulang ke Indonesia?"
"Surprise."
Nova menghampiri kedua sahabatnya dan duduk disebelah Nara.
"Selamat ya. Acaranya Kayaknya meriah banget." Ucap Nova.
Nara merentangkan kedua lengan untuk merangkul sahabatnya.
"Sorry Ra, gara gara Nova tuh, jadi telatkan kita." Jawab Amel sambil menatap kesal kearah Nova.
Nara menurunkan lengannya dari pundak Nova dan Amel. Dia menoleh kearah Nova dengan tatapan yang seolah mengatakan, ada apa?
"Maaf Ra. Gue terpaksa ketempat Arumi dulu. Gue gak tega saat dia telepon sambil nangis nangis. Anaknya kritis, butuh biaya secepatnya untuk operasi." Nova menjelaskan.
"Dan lo tahu gak Ra. Si Nova, dengan gampangnya, bilang mau galang dana buat anaknya Arumi. Kalau gue sih ogah bantu orang kayak gitu. Mungkin itu karma buat dia. Sekarang nyahokkan dia. Kerjaannya cuma nangis nangis tiap hari." Amel menumpahkan kekesalannya pada Arumi.
Nara terdiam, dalam hati kecilnya, tak ada sedikitpun rasa simpati untuk Arumi. Mati rasa, mungkin itulah definisi yang paling tepat. Tapi bayi itu, apakah harus dihukum atas kesalahan orang tuanya? Apakah dia tak pantas untuk menerima bantuan hanya karena orang tuanya? Rasanya tidak adil.
"Gue mau nyumbang."
"What!" Pekik Amel.
"Elo sadar apa yang baru lo omongin Ra? Ini bayinya Arumi sama Abi. Biarpun gue berharap akan banyak yang ngasih donasi. Tapi gua gak pernah berharap lo ikutan nyumbang." Ujar Nova.
"Elo masih mau bantuin Arumi?" Amel geleng geleng.
"Jangan salah sangka. Gue sama sekali gak bantu Arumi. Gue bantu anaknya. Bayi itu gak bersalah. Bentar lagi gue jadi ibu." Nara mengusap perutnya. "Gue harap, kejadian serupa gak terjadi sama anak gue. Semoga anak gue selalu sehat, sempurna, dan tak kurang satu apupun."
"Amin... "Sahut Amel dan Nova barengan.
"Tapi gue minta ijin sama suami gue dulu. Gimanapun, sekarang gue udah berdua, gak sendiri lagi. Jadi keputusan apapun yang bakal gue ambil, harus dengan persetujuan suami gue, termasuk ngeluarin uang buat donasi. Tapi gue yakin, suami gue pasti dukung. Diakan baik banget, pria terhebat dalam hidup gue." Nara senyum senyum sendiri sambil memuji Septian. Membuat Nova dan Amel saling tatap dengan berbagai pertanyaan dikepala.
"Ada yang bucin nih kayaknya." Ledek Amel sambil menyenggol lengan Nara.
"Banget Mel. Sampai sampai nih, suaminya diumpetin. Takut ditikung pelakor kayak dulu. Gue aja nih ya, sampai sekarang belum pernah lihat muka suaminya." Nova ikut ikutan meledek.
__ADS_1
Nara hanya tersenyum dengan muka merona menanggapi ledekan sahabatnya.
"Sayang....abang bawain Uli bakar nih. Kata Bik Surti, ini makanan kesukaan kamu." Seru Septian yang baru muncul dari dapur. Dia tak tahu jika ada teman Nara disana.
Nova dan Amel menatap pria berpakaian adat jawa yang berjalan kearah mereka. Tanpa diberitahu, mereka yakin jika itu suami Nara.
Nara berdiri lalu menghampiri Septian. "Bang, Kenalin ini teman teman aku. Nova dan Amel." Ucapnya sambil melingkarkan tangan dilengan Septian.
"Septian." Ucap Septian sambil mengulurkan tangan kearah Nova.
"Nova." Sahut Nova sambil menjabat tangan Septian.
"Amel." Sekarang gantian Amel yang menjabat tangan Septian..
"Maaf, gak tahu kalau ada tamu. Cuma bawa uli dua potong. Saya ambilin lagi dibelakang ya."
"Gak usah repot repot bang."
"Amel....ngapain lo ikut manggil abang. Panggil namanya, kan udah kenalan." Tekan Nara
Nova langsung tergelak. Dia sudah pernah kena semprot Nara gara gara manggil bang. Sekarang giliran Amel kena.
"Dih, cuma manggil abang aja gak boleh. Penjual cilok yang lewat depan rumah, gak keberatan tuh gue panggil abang." Cibir Amel.
"Yaudah, panggil aja bang sana, tukang cilok, tukang batagor, tukang siomay, suka suka lo. Asal jangan suami gue."
Amel menghela nafas. Tak ingin melanjutkan berdebatan yang sudah bisa ditebak hasilnya. Pasti dia yang bakal kalah.
Septian kembali kedapur untuk mengambil uli. Sedangkan Nara, dia kembali duduk disofa sebelah antara Amel dan Nova.
"Ganteng juga suami lo Ra. Pantesan lo bucin." Puji Nova.
"Muji boleh, naksir jangan. Gue galak, habis siapapun yang berani ganggu suami gue."
Tawa Amel dan Nova seketika meledak. Sepertinya sahabatnya itu, sudah banyak belajar dari pengalaman. Takut suaminya kembali direbut pelakor seperti tempo dulu. Pengalaman memang guru yang terbaik.
"Gue gak kayak Arumi, tenang aja." Ucap Amel sambil merangkul bahu Nara.
"Gue seneng lihat lo bahagia Ra." Nova ikut ikutan merangkul Nara.
"Ngomong ngomong, suami lo emang cakep Ra. Di Australia, gak ada yang kayak gitu." Ucap Amel.
Nova langsung melempar bantal sofa ke muka Amel. "Bego, tentu aja gak ada. Disanakan adanya bule."
"Jangan salah, orang Indonesia juga ada kali, Cina, India, macem macem pokoknya." Amel balas melemparkan bantal ke kepala Nova.
Nara terkekeh melihat aksi kocak kedua sahabatnya. Kalau dulu mereka selalu berempat. Sepertinya, sekarang harus puas haya bertiga. Karena berempat, sudah mustahil baginya.
"Eh, btw....lo hamil kok makin cantik sih Ra?" Puji Amel sambil menatap wajah Nara yang tampak berseri seri.
"Karena gue bahagia. Rahasia, tetap cantik dan awet muda itu hanya satu, bahagia. Semua orang pasti gak bakalan nyangka kalau gue lebih tua dua tahun dari suami gue. Karena gue cantik dan awet muda."
Nova dan Amel menyebikkan bibir mendengar kenarsisan Nara. Tapi benar juga apa yang dikatakan Nara barusan.
"Si Abi bego banget. Udah ninggalin wanita secantik dan sebaik lo. Suatu saat, dia pasti nyesel sampek guling guling kayak orang kesurupan." Amel menggebu gebu kalau udah urusan ngejelekin Abi. Dia benci banget sama pria itu.
"Bukan Abi yang bego. Tapi Nara sama Arumi. Bisa bisanya cinta sama cowok berengsek kayak Abi. Cowok gak setia, cowok gak bertanggung jawab, dan gak tahu diri." Ujar Nova yang tak kalah geram.
"Ya, lo benar Nov. Tapi itu dulu, sekarang gue udah pintar. Udah dapetin yang lebih segalanya dari Abi."
"Siapa?" Tanya Septian sambil tersenyum. Entah sejak kapan, pria itu berdiri didepan mereka. Ditangannya ada sepiring uli bakar yang dia ambil dari dapur.
__ADS_1
"Abang lah." Jawab Nova dan Amel kompakan lalu tertawa ngakak.