Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
GOSIP OH GOSIP


__ADS_3

Bu Lastri, Sarah dan Shaila datang dengan membawa rantang berisi penuh makanan. Bu Lastri sengaja masak banyak spesial untuk Nara. Semalam dia sudah menanyakan menu apa saja yang diinginkan menantunya itu. Dan sejak subuh, dia sudah berkutat didapur bersama Shaila, sementara Sarah bertugas menjaga toko.


"Assalamualaikum." Ucap Bu Lastri kala memasuki ruangan tempat Nara dan bayinya.


"Waalaikumsalam." Jawab Septian dan Nara bersamaan.


Shaila segera meletakkan rantang berisi makanan keatas meja. Sementara Sarah langsung menuju box bayi. Dilihatnya keponakan gantengnya tengah tertidur nyenyak.


"Makan dulu." Ujar Bu Lastri sambil melepaskan rantang dari susunannya. Aroma sedap makanan seketika menguar memenuhi ruangan.


"Masak apa Bu?" Tanya Septian sambil mendekati ibunya untuk melihat menu makanan yang beliau bawa.


Ternyata isinya sayur sop, ayam goreng serta tempe dan jamur krispi. Sesuai pesanan Nara semalam.


"Mana cah kangkung pesenanku bu?" Tanya Septian yang tak melihat menu requestnya ada didalam rantang.


"Sengaja gak ibu buatin. Kasihan kalau nanti Nara pengen. Kata orang, makan kangkung bikin bayi diare." Jawab Bu Lastri sambil menata lauk dan nasi.


"Masak sih Bu, mitos kali." Sahut Septian sambil meraih tempe krispi dan langsung melahapnya.


"Entahlah, daripada kejadian beneran, mending gak usah makan dulu. Makanan yang lainnya kan banyak. Gak usah ngambil resiko." Bu Lastri menyiapkan nasi dan lauk kedalam piring yang dia bawa dari rumah dan menyerahkannya pada Septian.


"Suapi sekalian istri kamu."


Septian mengangguk sambil meraih piring tersebut. Bu Lastri sengaja mengambil dengan porsi besar karena untuk dua orang.


Septian duduk disamping Nara lalu menyuapinya sambil ikutan makan.


"Enak Bu." Puji Nara sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Makan yang banyak. Ibu menyusui cepat lapar. Karena makanannya dibagi berdua sama bayinya. Tadi pagi sebenarnya ibu pengen buatin sayur daun katuk biar asinya banyak. Tapi kata Shaila jaman sekarang sudah banyak asi...asi apa Sha?" Bu Lastri lupa sebutannya.


"Asi booster Bu." Sahut Shaila.


"Ya, ya, itu yang ibu maksud. Jadi mending beli itu aja. Takutnya kamu kurang suka sayur daun katuk."


"Insyaallah udah dibeliin kakak aku kok Bu. Dia paling perhatian masalah seperti ini. Dia dokter, juga sedang mengasihi sama seperti aku sekarang." Tadi dia sempat chat dengan Kinan. Sebagai seorang pejuang asi, Kinan langsung ngerekomendasiian merk yang menurutnya paling bagus. Dan dia juga bilang akan membelikannya untuk Nara.


Bu Lastri mengambil cucunya dari box untuk dia gendong. Dibelainya wajah menggemaskan itu sambil diciumnya berkali kali.


"Udah dapat nama belum kak? Apa jadi Juno namanya?" Tanya Sarah yang sejak kemarin kepo dengan nama.


"Namanya Aydin, panggil Ay aja, baby Ay." Jawab Nara.


"Aduh aduh, bagus banget namanya. Hai baby Ay, kenalin ini onty Sarah." Ujar Sarah sambil memegang jari jemari imut baby Ay. Sebenarnya dia ingin sekali menggendong, tapi masih takut.


"Dih onty, ncing lebih cocok Sar." Ledek Shaila.


"Kakak aja kali yang dipanggil ncing, aku mah ogah." Sahut Sarah.


"Abang dipanggil apa?" Tanya Ibu.


"Maunya sih ayah Bu." Jawab Septian setelah dia menelan makanan didalam mulut. "Tapi Nara maunya dipanggil mama. Bingung jadinya."


"Ngapain bingung, mama sama ayah juga boleh boleh aja, gak ada yang melarang." Ucap Bu Lastri.


"Kurang keren bang ayah. Kenapa gak mommy sama daddy aja." Usul Sarah.


"Halah Halah panggilan apa itu. Yang wajar wajar aja." Sahut Bu Lastri.


"Jaman sekarang itu udah wajar Bu."


"Tapi dikampung kita gak wajar."

__ADS_1


"Ya biar ada. Biar gak sama dengan yang lain."


Septian dan Nara hanya terkekeh mendengar perdebatan ibu dan Sarah. Sedangkan Shaila yang sudah paham dengan watak adiknya memilih tak ikut ikut. Dia membuka ponselnya dan melihat ada beberapa chat dari Diego. Cowok itu bilang sedang otw kerumahnya.


Shaila masih kesal gegara kejadian kemarin. Dia memilih tak membalas satupun pesan dari Diego sejak semalam.


"Oh iya Sha, makasih ya buat perlengkapan bayinya. Ngomong ngomong banyak sekali, dan bagus bagus semua. Habis berapa, biar kakak ganti." Ujar Nara.


"Gak usah kak." Jawab Shaila.


"Jangan gitu. Kakak tahu yang kamu beli itu brand mahal semua, pasti habis banyak. Apalagi kata Sarah, dirumah masih banyak, cuma sebagian saja yang dibawa kesini semalam."


Bu Lastri dan Sarah seketika menatap Shaila penuh tanya. Ibu baru tahu jika barang yang dibeli Shaila adalah barang mahal. Kalau Sarah sebenarnya sudah bisa menduga saat mencuci kemarin. Semua barang yang dibeli Shaila terlihat mahal.


"Kamu dapat uang darimana Sha?" Tanya Ibu dengan raut penasaran.


"Da, dari tabungan Shaila Bu." Jawabnya bohong.


"Masak sih, gak yakin aku." Shaila langsung memelototi Sarah. Bisa bisanya adiknya itu malah menyudutkannya.


Sarah jelas tak percaya jika Shaila membeli semua itu dengan tabungannya. Shaila jenis orang yang suka berhemat, tak mungkin membeli barang mahal dengan jumlah sebanyak itu. Dan lagipula, sebanyak apa tanbungan kakaknya itu hingga tak minta ganti pada abangnya..


"Bukan dibelikan laki laki yang nganter kami kemarin, temannya abang?" Tanya Bu Lastri penuh selidik.


Septian seketika mengernyitkan dahi. Apakah laki laki yang dimaksud ibunya adalah Diego?


Shaila bingung mau menjawab. Dan disaat bersamaan, ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Diego. Buru buru dia menekan tombol merah. Selain waktunya yang dirasa kuranng tepat, dia juga masih kesal pada cowok itu.


"Teman aku siapa Bu?" Tanya Septian.


"Yang hari itu datang kerumah bang, yang katanya kerja di cafe juga. Kemarin dia jemput Shaila, katanya mau les privat memasak. Pulangnya juga dianter dia."


Penjelasan ibu sudah sangat jelas untuk Septian. Tidak salah lagi, pria yang dimaksud pastilah Diego.


Shaila seketika gemetaran. Ada rasa takut jika abangnya marah. Dia jelas tahu abangnya tak suka pada Diego.


Ibu baru tahu kalau nama pria kemarin adakah Diego.


"Assalamualaikum."


Salam dari arah pintu membuat semua orang seketika menoleh. Panjang umur, orang yang dibahas tiba tiba muncul.


"Waalaikum salam." Jawab ibu dan Sarah. Sedangkan Shaila tampak begitu terkejut melihat Diego tiba tiba ada disana. Padahal dia sama sekali tak memberitahu keberadaannya.


Diego mendekat lalu menyalami tangan Ibu.


"Ini anaknya Bu Nara?" Ujarnya sambil menatap bayi mungil dalam gendongan ibu. "Selamat ya Bu, Sep." Lanjutnya sambil melihat kearah Nara dan Septian. "Maaf ya sayang, om datang gak bawa kado."


"Bukannya kemarin udah ngasih kado banyak." Septian sengaja mengucapkannya. Dia ingin tahu reaksi Diego. Benarkah dia yang sudah membelikan semua perlengkapan bayinya.


"Itu bukan dari gue, dari Shaila." Sahut Diego.


"Tapi lo kan yang bayarin?"


"Em... " Diego tersenyum absurd sambil garuk garuk kepala. Dia melihat kearah Shaila, namun cewek itu malah melengos. Tampak sekali kalau masih marah.


"Makasih ya nak buat kadonya." Ucap Bu Lastri. Dia bisa melihat ketegangan diwajah Septian. Tak ingin terjadi keributan, lebih baik dia menengahi.


"Sama sama Bu." Akhirnya Diego mengakui juga.


"Kok tahu sih kita ada disini?" Tanya Sarah.


"Tadi ngetuk rumah berkali kali tapi gak ada yag buka. Terus telepon Shaila gak diangkat. Dan kebetulan ada tetangga lewat yang ngasih tahu kalau kalian pada dirumah Bu Bidan karena Bu Nara melahirkan. Makanya aku langsung kesini." Terang Diego.

__ADS_1


Oek oek oek


Suara tangis baby Ay seketika membuat semua orang melihat ke arah bayi mungil itu. Saat menangis, wajah baby Ay seketika memerah. Melihat Nara yang belum selesai makan, membuat Bu Lastri berinisiatif menenangkan bayi itu. Dia yang awalnya duduk segera berdiri dan menimang nimangnya.


"Lanjutin aja makannya." Ujar Bu Lastri yang melihat Nara hendak bangkit. Dia terus menimang Baby Ay namun tangisnya tak kunjung berhenti.


"Haus kali Bu." Ujar Sarah.


"Barusan udah nen kok." Ujar Nara. Dia mempercepat makan agar segera bisa menenangkan baby Ay.


"Diapersnya penuh kali Bu." Tebak Shaila.


Bu Lastri segera meletakkan baby Ay kedalam box untuk memeriksa popoknya. Dan ternyata, tebakan Shaila benar.


"Dia pup Ra." Ujar Bu Lastri. "Lanjutin aja makannya, biar ibu yang ganti popoknya."


Nara menatap Septian, dia merasa sungkan. Tapi pria itu tersenyum sambil mengangguk. Tatapannya seolah mengatakan jika biarkan saja.


"Sha, buruan yuk, chef Roger keburu datang." Ujar Diego sambil melihat jam tangannya.


"Kamu privat lagi Sha?" Tanya Nara.


"Iya kak, masih 3 hari lagi."


"Oh iya, kemarin Agus bilang, kamu kecafe bawa puding karamel hasil les privat. Kata anak anak enak banget." Ucap Septian.


Shaila sebenarnya malas sekali datang kerumah Diego. Dia belum bisa memaafkan ulah cowok itu kemarin. Tapi melihat hasil yang kemarin dia capai, rasanya sayang jika dia tak melanjutkan privat pada chef Roger.


"Bu Shaila pergi dulu ya." Pamit Shaila. Dia tak mencium tangan ibu karena kotor akibat menggati popok baby Ay.


"Hati hati. Nak Diego, nitip Shaila ya."


"Iya Bu."


"Kita pergi dulu." Pamit Diego.


"Jagain adik gue, jangan diapa apain." Pesan Septian dengan tatapan mengintimidasi.


"Iya iya gue jagain. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan kalau ada nyamuk yang mau gigit, bakalan gue tabok hingga meregang nyawa." Jawab Diego.


"Gue sih gak peduli kalau digigit nyamuk. Asal gak lo aja yang gigit."


"Sep, kok gitu sih ngomongnya. Gak baik berprasangka buruk pada orang. Apalagi teman sendiri." Ucap Bu Lastri.


Teman dari Hongkong, batin Septian..


"Kami pergi dulu." Ujar Shaila sambil berjalan keluar dari ruangan Nara.


Saat sudah tak ada yang melihat, raut muka Shaila seketika berubah masam. Dia berjalan cepat bahkan meninggalkan Diego. Tapi saat di teras rumah Bu Linda, langkahnya terhenti saat Emir, anak bungsu Bu Linda menyapanya. Usia Emir sepantaran dengan Shaila.


Tatapan Emir seketika tertuju pada Diego. Dia masih ingat dengan foto yang dia lihat tengah malam tadi. Foto Shaila bersama Diego disebuah toko perlengkapan bayi.


"Jadi ini suami kamu Sha? Perasaan gak pernah dengar lo nikah? kok tiba tiba udah punya suami. Udah hamil lagi sekarang."


Deg


Jantung Shaila seperti copot mendengarnya. Sepertinya Niken dan Ara benar benar sudah menyebarkan gosip gak mutu itu. Bahkan Emir yang tidak satu sekolah dengannya bisa tahu.


"Gak usah ngomong aneh aneh." Salak Diego.


"Aneh apanya, orang gue dikasih tahu Nisa. Nisa bilang kabar itu sudah menyebar di grup chat kelas sejak semalam." Nisa merupakan teman sekelas Shaila sekaligus pacar Emir.


Wajah Shaila pucat pasi. Dia menonaktifkan berberitahuan grup. Dan sejak semalam, dia tak melihat percakapan dalam grup sama sekali. Shaila memang sudah lulus, dia tinggal menunggu wisuda saja.

__ADS_1


__ADS_2