Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
JADIAN


__ADS_3

Diego tak bisa berkutik saat mamanya menarik lengannya menuju arah pintu. Sumpah demi apapun, dia ingin punya jurus menghilang saat ini. Malu setengah mati kalau datang kesini tak membawa pasangan.


Diego terus menunduk, berharap ada keajaiban hingga Nara atau Asep tak melihatnya.


"Diego." Panggil seseorang yang tak lain adalah Ganes. Ganes beserta teman teman yang lain baru keluar dari rumah Nara dan tak sengaja, melihat Diego digandeng seorang wanita paruh baya.


Tatapan mereka tertuju pada gandengan tangan itu. Beribu pertanyaan muncul dikepala masing masing.


"Ngeliatian apa kalian. Ini nyokap gue." Bentak Diego yang seakan tahu apa yang mereka pikirkan.


"Oo.... " Sahut mereka bersamaan.


"Ternyata anak mami lo." Celetuk Putra dan seketika disambut gelak tawa berjamaah.


"Gak berani nemuin Bu Nara sendiri? Takut sama Asep lo?" Ledek Irwan sambil membekap mulut menahan tawa.


"Kenapa pula anak saya harus takut?" Tanya mama Eva, mamanya Diego.


"Diakan ngejar ngejar Bu___" Secepat kilat Diego membekap mulut Putra. Tak ingin mamanya tahu dia mengerjar wanita bersuami.


"Ngejar Bu Nara." Melihat mulut Putra dibekap. Irwan berinisiatif melanjutkan.


Seketika Diego menjadi lemas, dia melepaskan tangannya dari mulut Putra. Apes sekali dia hari ini. Dan sepertinya, cuma bisa pasrah kalau diomeli mamanya.


"Gak usah fitnah anak saya. Anak saya itu pria terhormat, bukan pebinor. Enak saja kalian bicara ngawur seperti itu." Diluar dugaan, Mama Eva malah membela Diego. Dan itu membuat Diego bernafas lega.


"Tapi beneran kok tante. Satu kampus tahu ka___"


"Udah udah, gak usah bicara ngawur." Potong mama Eva. "Diego udah punya pacar, ngapain pula ngejar bini orang. Kayak gak laku aja." Ketus mama Eva.


Putra dan kawan kawan mendadak kicep. Mereka memang bukan lawannya emak emak. Mundur teratur lebih aman dari pada melawan emak emak. Karena sudah digariskan, jika emak emak selalu benar.


"Anna pacarnya?" Irwan bertanya ragu ragu. Dia kenal Diego sejak SMA. Jadi tahu siapa pacar cowok itu.


"Enak aja si Anna." Semprot Mama Eva sambil memelototi Irwan. "Gak sudi saya punya mantu model majalah dewasa seperti itu. Calon mantu saya itu wanita baik baik, sholehah. Gak kayak si Anna yang jualan apem diluar negeri."


"Hahaha... " Tawa mereka langsung pecah mendengar kegeraman Mama Eva. Anna memang pacarnya Diego sejak SMA, tapi tak direstui karena kuliah dan jadi model majalah dewasa di US.


Disaat bersamaan, Mama Tiur yang melihat pelanggan setianya datang segera menghampiri.


"Udah datang, kenapa gak langsung masuk?" Sapanya sambil cipika cipiki.


Melihat itu, Ganes dan kawan kawan segera pamit.


"Kenalin Jeng, ini anak sulung saya, Diego."

__ADS_1


"Diego." Ucap Diego sambil mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh mama Tiur.


"Ganteng sekali. Kalau saja Nara punya adik perempuan, pasti saya jodohin sama kamu." Ujar mama Tiur sambil menepuk lengan Diego.


"Siapa dulu dong mamanya." Sahut Mama Eva dengan bangga.


"Masuk yuk." Ajak mama Tiur.


Mama Eva menarik tangan Diego masuk. Dengan muka yang menunduk, dia berharap Nara dan Asep tak melihat. Ternyata didalam sangat ramai. Dia bisa bernafas lega karena besar kemungkinan dia tak terlihat. Tapi sial, saat dia mengangkat wajah, justru bertatapan dengan Nara. Ketahuan kan!


Sekarang mana mungkin dia kabur. Akan lebih memalukan jika sudah disini tapi tak menyapa Nara dan Asep. Bisa bisa, dia dicap pecundang sejati.


Dan disaat beberapa langkah lagi ketempat Nara dan Asep. Dia melihat keajaiban. Shaila, cewek itu ada disini.


"Bentar mah." Diego melepaskan lengannya dari tangan mama Eva.


"Mau kemana? kita sapa anak Jeng Tiur dulu."


"Tuh, pacar Diego ada disini. Diego samperin dulu." Diego menunjuk kearah Shaila yang tampak berbincang dengan seseorang.


"Ya sudah kalau gitu." Mama Eva melepaskan tangan Diego dan membiarkan anaknya bertemu calon mantu idaman.


"Ikut gue." Diego langsung menarik lengan Shaila. Membuat cewek itu kaget karena kelakuan absurd cowok sombong yang akhir akhir ini selalu tak sengaja bertemu.


"Lepas." Shaila menarik kasar lengannya sambil melotot. Diego melihat kekiri kanan. Saat dirasa situasi aman, tak ada yang mengenalnya, dia segera mengajak Shaila bicara.


"Bantu apaan?" Shaila mengernyit bingung.


"Pura pura jadi pacar gue."


"Ogah." Tolak Shaila mentah mentah.


"Gue kasih laptop sebagai gantinya." Diego mengajukan penawaran. "Yang lebih mahal dari punya lo dulu." Diego menyebut merk laptop terkenal dan tipe baru hingga membuat Shaila terbelalak.


"Gimana, setuju?" Diego mendesak.


Shaila tampak berfikir. Penawaran yang sangat menggiurkan. Tapi tak ada jaminan, cowok didepannya itu tidak berbohong. Dulu sudah pernah dibohongi, dan dia tak mau jatuh di lubang yang sama.


"Lo kan tukang php." Sinis Shaila.


"Kali ini gue sungguhan, Suer." Diego membentuk jari tengah dan telunjuknya menyerupai huruf V.


"Gue gak percaya." Sahut Shaila sambil tersenyum miring dan melipat kedua tangan didada.


Diego mengambil dompetnya lalu mengeluarkan KTP.

__ADS_1


"Pegang ini, buat jaminan." Diego meletakkan KTP nya ditas telapak tangan Shaila.


Shaila memperhatikan benda itu. Dilihatnya dengan seksama, keterangan dan fotonya. Takut jika dia dikibulin lagi.


"Yuk, gue kenalin seseorang. Ingat, ikuti skenario gue." Diego menarik tangan Shaila tapi cewek itu enggan bergerak.


"Kenapa lagi?" Kesal Diego yang sudah hampir kehabisan kesabaran.


"Gue gak mau." Dia mengembalikan KTP itu pada Diego. "Gue gak mau bohong demi dapat laptop. Bisa bisa, ilmu gue gak berkah jika alat yang gue gunakan untuk menuntut ilmu dari barang haram, hasil menipu."


Diego menepuk jidatnya sendiri. Pusing tujuh keliling memikirkan cara membujuk Shaila. Kalau saja ada Anna, dia tak akan sepusing ini. Tapi balik lagi, mamanya sangat tidak menyukai Anna. Selain Anna yang statusnya resmi pacar. Dia juga dekat dengan Ceryl, gebetan yang saat ini lagi Magang di luar kota. Dan lagi lagi, mamanya juga tidak menyukai Ceryl.


Diego mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu mencari sesuatu di galery. Setelah menemukan apa yang dia cari. Dia segera menyodorkan ponsel kedepan Shaila.


"Apaan?" Tanya Shaila bingung..


"Baca." Titahnya.


"I love you." Shaila membaca tulisan yang ada diponsel Diego tanpa berfikir panjang.


"I love you too." Jawab Diego dengan cepat.


Shaila melongo mendengarnya. Dia masih tak paham apa yang barusan terjadi.


"Bereskan? Sekarang lo gak bohong. Kita udah jadian. Barusan lo nembak gue."


Shaila kian shock. Apa seperti itu bisa dibilang jadian. Kapan dia nembak, dia hanya membaca tulisan.


Diego kembali menyerahkan KTP nya pada Shaila. Setelah itu, dia menarik pergelangan tangan cewek itu menuju tempat Nara dan Septian.


Shaila terkejut saat Diego membawanya pada Nara dan Septian. Dia berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Diego tapi percuma, cowok itu tak membiarkannya lepas.


Septian dan Nara, saling menatap, bingung dengan apa yang mereka lihat sekarang. Kenapa Diego memegang tangan Shaila.


"Kenalin Bu, pacar saya."


Bommm


Seketika pertanyaan dikepala Nara dan Septian berjawab.


"Buk__" Shaila hendak menyangkal tapi Diego mengeratkan cekalannya sambil memelototi Shaila.


"Pa, pacar kamu?" Septian shock mendengar jika adiknya adalah pacar Diego. Cowok playboy yang mengejar ngejar istrinya.


Shaila gemetaran, dia takut dimarahi kakaknya karena pacaran.

__ADS_1


.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH. AUTHOR SANGAT BERTERIMAKASIH JIKA BERKENAN MEMBERIKANNYA.


__ADS_2