
Septian keluar dari ruangan Pak Yudha dengan wajah puas. Skripsinya lumayan lancar, tak banyak yang perlu direvisi. Sekarang masih jam makan siang. Jadi dia masih punya banyak waktu sebelum bekerja shift sore.
Dia berniat jalan jalan ke FMIPA. Siapa tahu beruntung bisa bertemu Nara. Tapi niatnya tertunda karena panggilan dari Seno yang sedang kumpul bareng teman yang lain.
"Gimana skripsi lo?" Tanya Seno.
"Alhamdulillah lancar. Mereka kenapa? kok kayak lemes gitu?" Septian menunjuk dagu kearah Teman temannya yang tampak lesu, tak ada semangat hidup.
"Lagi patah hati masal mereka." Jawab Putra sambil cekikikan. Sepertinya dia sangat bahagia melihat derita teman temannya.
"Patah hati masal?" Septian mengernyit heran.
"Iya, ibarat kata nih. Maju susah, mundur apalagi."
"Gak paham gue." Septian garuk garuk kepala dengan ekspresi absurd.
"Makanya, lo sering sering kumpul ama kita. Biar gak ketinggalan info terupdate. Budos idola mareka, kemarin jalan sama Diego." Lirih Seno.
Deg
Septian hampir saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang sakit kagetnya. Dia jelas tahu siapa budos yang dimaksud.
"Gila gak? Diego Sep." Seno menekankan kata katanya. Seolah olah, Diego adalah pria yang sangat luar biasa. "Gimana gak susah buat maju kalau saingannya Diego. Kalau gue sih mending mundur alon alon."
Seno lanjut menyanyikan lagu mundur alon alon dihadapan teman temannya sambil sesekali tertawa. Bikin yang lain mendelik kearahnya dengan ekspresi pengen nampol.
Septian mulai gelisah. Pikirannya sudah kemana mana. Apalagi kalau inget soal bau parfum kemarin.
"Diem lo pe ak." Maki Ganes sambil menoyor lengan Seno. Sedangkan Seno tak peduli, masih saja terus menyanyi. Berbahagia diatas penderitaan teman temannya. Tak tahu saja dia, Septian lebih parah hati lagi dibanding seluruh temannya.
"Sen." Septian menarik lengan Seno. "Darimana lo tahu kalau kemarin mereka jalan bareng?"
Seno membuka ponselnya lalu menunjukkan instastory milik Diego. Disana tampak Diego dan Nara duduk bersebelahan disebuah toko laptop. Bukan foto selfi, melainkan ada yang memfoto mereka dari sebelah.
Septian mengepalkan telapak tangannya. Dadanya terasa sesak. Jadi Nara berbohong kemarin. Dia bilang dengan Nova, tapi kenapa malah dengan Diego. Membelikan hadiah untuknya, tapi dengan pria lain, sungguh ironis.
"Pesona Bu Nara emang tak terbantahkan. Sampai sampai, cowok sekelas Diego kepincut sama dia. Padahal tuh ya, yang ngejar Diego banyak banget. Eh, dia malah kecantolnya sama Bu Nara. Ini mah Fix, laki yang dulu nyeraiin Bu Nara begok banget, sumpah."
Berita tentang pernikahan Nara yang dibatalkan memang sudah tersebar seantero kampus. Gimana gak nyebar, di IG, banyak ditemukan foto pernikahan Nara dan Abi. Tentu saja bukan dari akun Nara atau Abi, tapi dari akun orang orang yang hadir dalam pernikahan mereka.
"Diego itu, fakultas apa sih?" Tanya Septian tiba tiba.
"Yang lain pada ngepoin Bu Nara, kenapa lo malah ngepoin Diego?" Bukannya menjawab, Seno malah balik bertanya.
__ADS_1
"Jawab aja kenapa, susah banget ya?" Septian jadi kesal karena Seno tak kunjung menjawab.
"Fakultas ekonomi."
Septian segera cabut dari tempat itu. Tujuannya sekarang adalah fakultas ekonomi. Berharap bisa bertemu dengan Diego disana. Sepertinya nasib baik sedang tak berpihak padanya. Dia tak bertemu dengan Diego. Padahal dia hanya ingin memastikan, apakah parfum Diego, sama dengan yang menempel dibaju Nara kemarin.
...*****...
Bang, udah pulang belum?
Nara mengirim pesan tersebut pada Septian. Setelah hampir 5 menit, baru ada balasan.
Udah
Nara mengernyit membaca balasan singkat dari Septian. Jarang jarang suaminya itu membalas sesingkat itu. Padahal, dia sedang tidak bekerja. Dan tadi siang, suaminya itu juga tidak mengirim pesan. Mengingatkan agar dia tidak lupa makan siang.
Tak ingin makin bertanya tanya tentang balasan singkat Septian. Nara segera mengemasi barangnya lalu keluar dari ruang dosen. Dia melangkah cepat menuju tempat parkir khusus dosen.
"Bu Nara tunggu." Seseorang memanggilnya dari belakang.
Nara membalikkan badannya lalu berdecak saat tahu Diego yang memanggilnya. Cowok itu tengah berlari kearahnya. Dia ingin tak mempedulikan, tapi yang ada, nanti Diego malah terus terusan memanggilnya. Dan mereka jadi pusat perhatian. Oh no, jangan sampai.
"Maaf ya Bu buat yang kemarin." Ujar Diego sambil mengatur nafasnya.
Nara membalikkan tubuhnya lalu melangkah pergi. Tapi Diego malah mendahuluinya dan berhenti tepat didepannya. Membuat Nara, mau tak mau terpaksa berhenti.
"Terima ya, sebagai permintaan maaf saya." Diego menyerahkan paper bag berwarna hitam pada Nara. Ada tulisan sebuah brand ternama disana. Sudah bisa dipastikan, jika isinya barang mahal.
Nara memperhatikan sekeliling. Ya, mereka jadi pusat perhatian sekarang.
"Maaf saya tidak bisa. Dan tolong, jaga sikap saat di kampus. Saya tak mau jadi bahan gosip karena kamu." Tekan Nara sambil melotot tajam kearah Diego.
"Baiklah, saya tidak akan mendekati anda dikampus lagi. Tapi tolong, setidaknya, angkat telepon dari saya. Atau kalau enggak, balas pesan saya."
Nara mendengus kesal. Pria didepannya itu lama lama ngelunjak. Dia beberapa kali mengirim pesan pada Nara. Tapi sudah pasti, Nara tak mau membalas.
"Permisi, saya harus pulang." Nara terpaksa sedikit membelokkan langkahnya agar tak menabrak Diego. Tapi cowok itu malah mengikutinya.
Nara yang kesal karena Diego terus mengikutinya segera membalikkan badan.
"Tolong jangan ikuti saya." Peringatnya dengan nada yang sangat ditekan. Tampak sekali ekspresi tak nyaman diwajah Nara.
"Saya tak akan mengikuti ibu lagi. Tapi tolong terima ini." Dia kembali menyodorkan paper bag yang dia bawa padanya Nara.
__ADS_1
"Berapa kali saya harus bilang. Saya tidak bisa. Dan perlu kamu tahu. Saya sudah menikah." Akhirnya Nara mengeluarkan jurus terakhirnya. Dia sudah kehabisan akal untuk kabur dari manusia bernama Diego itu.
Tapi tanggapan Diego sungguh diluar dugaan. Cowok itu malah terkekeh pelan. Membuat Nara bingung dibuatnya.
"Semua orang juga tahu ibu sudah menikah."
Nara melongo mendengarnya. Benarkah demikian?
"Tapi udah dinyatakan batal kan Bu?" Lanjutnya dengan penuh percaya diri.
Nara seketika menepuk jidatnya sendiri. Dia pikir semua orang sudah tahu tentang pernikahannnya dengan Septian. Nyatanya pernikahannya dengan Abi dulu. Ya, jejak digital memang susah dihapus.
"Saya sudah menikah lagi." Ucap Nara yang benar benar sudah kehabisan akal.
"Gak usah bohong Bu. Saya tahu ibu hanya bohong supaya saya gak ngejar ibu lagi. Tapi saya tipe penjuang tangguh Bu. Gak mudah menyerah."
Nara mengehela nafas lelah. Lelah menghadapi darah muda yang penuh semangat itu. Seharusnya dia tak menjadi dosen. Mungkin jadi guru TK lebih baik. Sehingga tak perlu berhadapan dengan berondong tangguh seperti Diego.
"Permisi." Desis Nara sambil melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Beruntung Diego tak membuntutinya lagi. Jadi dia bisa bernafas lega.
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Nara tak sengaja mendengar sedikit selentingan. Biasa, mahasiswi sedang ghibah.
"Ternyata seleranya Bu Nara berondong ya."
"Siapa yang gak mau coba, berondongnya keren abis."
Nara hanya bisa menebak nebak, siapa berondong yang dimaksud. Septian atau Diego? Apakah pernikahanannya dengan Septian udah tercium publik? Atau malah berondong yang dimaksud adalah Diego. Pria yang akhir akhir ini terang terangan mengejarnya?
Nara segera melajukan mobilnya menuju rumah. Sekarang suda hampir jam 3, suaminya sebentar lagi pasti sudah berangkat kerja.
Sesampainya dirumah, Nara segera naik ke kamarnya. Senyumnya mengembang saat melihat Septian sedang sibuk di meja belajarnya. Tapi tunggu, kenapa dia pakai laptop lama. Kenapa bukan yang baru dia belikan kemarin.
Septian menoleh saat mendengar pintu dibuka. Tapi kemudian, dia kembali fokus pada laptopnya. Sama sekali tak ada niat untuk beranjak dari duduknya dan menyambut Nara.
"Bang, kok gak pakai laptop yang dari aku kemarin?" Tanya Nara sambil mengalungkan tangannya dileher Septian dari belakang.
"Aku lebih nyaman pakai laptop ini Ra."
Nara berdecak kesal lalu melepaskan tangannya dari leher Septian. "Maksud abang apa sih? laptop dari aku gak nyaman dipakai? kurang apa, perasaan lebih bagus dan lebih canggih dari punya abang." Nara sedikit kesal. Dia lalu beralih menajuhi Septian dan duduk diatas ranjang.
Septian menghela nafas lalu berdiri dan menghampiri Nara. Wajah wanita itu cemberut, dengan kedua tangan dilipat didada.
"Kamu kemarin ke mall sama siapa?"
__ADS_1
Nara melongo mendengar pertanyaan Septian. Dia pikir, pria itu mendekatinya untuk membujuk, tapi kenapa malah bahas hal kemarin. Sungguh diluar dugaan.