Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
MULAI KELIHATAN HASILNYA


__ADS_3

Usaha tidak akan menghianati hasil. Akhirnya, jerih payah Septian dan team akhirnya berbuah manis. Coffee shop mulai ramai. Semua itu jelas tak lepas dari peran seorang Diego. Berkatnya, Mezra cafe benar benar jadi viral. Diego meminta bantuan temannya sesama influencer untuk memviralkan. Dan hasilnya, sungguh luar biasa, Mezra cafe jadi tempat nongkrong favorit mulai dari anak SMA, kuliahan hingga para Pekerja kantoran.


Dan disaat weekend seperti itu. Pengunjung sangat membludak. Apalagi ada live musik yang makin menambah daya tarik bagi pengunjung.


"Go." Teriak Septian sambil melambaikan tangan kearah Diego yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Merasa dipanggil, Diego segera menghampiri Septian yang sedang sibuk.


"Daripada lo sibuk ngurusin ponsel, mending bantuin anak anak. Mereka ngeluh kualahan." Titah Septian.


"Ya kali gue jadi waitres Sep. Harga diri gue bisa anjlok. Disini banyak yang ngenalin gue. Masa iya, gue narik orderan atau nganterin pesanan." Diego memutar kedua bola matanya malas.


"Malam ini aja. Besok ada pegawai baru."


"Ogah, mending gue main ga__" Diego tak melanjutkan ucapannya karena Shaila tiba tiba nongol.


"Ya udah pergi sana kalau gak mau ban__"


"Gue bantuin." Diego cepat cepat memotong ucapan Septian. Bisa bisa Shaila ilfeel kalau tahu dia gak mau bantu.


"Kak, bahan bahan dibelakang banyak yang habis." Ujar Shaila yang baru datang.


Septian geleng geleng. Jadi alasan Diego berubah pikiran secepat itu adalah karena Shaila. Niat juga cowok itu ngambil hatinya Shaila, batin Septian.


"Catet aja semua yang habis. Ntar abang chat ke toko langganan, biar besok siang dianter barangnya."


Diego segera meminta apron pada seorang waitres. Mumpung Shaila masih ada didepan dan ngobrol dengan Septian, waktunya dia cari muka.


Dengan gaya sok cool dan buku kecil ditangan, Diego mulai menjalankan pekerjaan baru sebagai waitres.


Sebenarnya dia sangat malas, tapi gimana lagi. Demi Shaila, dia rela melakukannya.


Septian memperhatikan kerja Diego dari jauh. Ada perasaan tak enak karena menyuruhnya melakukan pekerjaan yang bukan bagiannya. Apalagi saat melihat Diego yang tak bisa istirahat karena terus dipanggil pelanggan, rasanya kasihan juga.


Mungkin karena Good looking, Diego sampai dibuat pusing gara gara pelanggan. Terutama para pelanggan cewek. Ada saja permintaan mereka, mulai dari nambah orderan, minta ini, itu, bahkan tak sedikit yang minta nomor telepon.


"Mas, mas, sini mas." Seorang wanita yang terlihat seperti tante tante melambaikan tangan ke arah Diego.


Diego yang sudah lelah, berjalan kearah wanita itu dengan langkah gontai. Dia memang tak terbiasa dengan pekerjaan seperti ini.


"Ada apa, Bu, eh mbak?" Tanya Diego yang berdiri didekat meja tersebut.


"Duduk dulu dong." Ucap wanita itu sambil menepuk kursi disebelahnya yang kosong. Dia sedang bersama dengan seorang teman sesama wanita yang tampak seumuran.


Diego yang merasa Kakinya pegal, segera saja duduk.


"Cakep banget sih." Puji wanita satunya sambil menatap Diego lapar. Dia tampak salah tingkah sendiri hingga menggigit bibir bawahnya dan mengedipkan sebelah mata. Diego mendadak mual melihatnya.


"Capek ya kerja disini?" Tanya wanita disebalahnya dengan nada menggoda.


"Saya tahu jadi waitres gajinya gak seberapa. Gimana kalau ikut kita aja?" Tawarnya sambil menoleh keteman disebelahnya. "Kita kasih bayaran gede."


"Yok i." Sahut temannya.


Diego mulai bisa menebak arah pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Gak susah kok kerja sama kita. Cuma perlu bikin kita lemes aja. Iya gak say?" Lanjutnya sambil menoleh ke temannya. Dan yang ditoleh mengangguk dengan semangat


Diego sampai speechless. Gak salah tawaran mereka? Iya kali dia mau muasin tante tante itu.


"So, sorry tante, saya pergi dulu." Diego buru buru kabur. Dia berjalan cepat menuju pantry. Sesampainya disana, dia bernafas lega dan melepas apronnya. Ditariknya sebuah kursi dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya disana.


"Hei, lo tadi ngobrol apaan sama tuh tante tante? Gue denger dikit kok bayarannya gede? Dan gitu tuh tante tante ampe meliuk liuk kayak cacing kepanasan gitu badannya, kayak lagi gak tahan." Tanya Deni yang tadi sempat melihat.


Shaila yang juga berada dipantry jadi ikutan nyimak obrolan mereka.


"Gila tuh tante tante. Dikiranya gue cowok apaan mau di booking. Ya kali gue open bo." Jawab Diego dengan ekspresi muak.


"Hahaha...." Tawa Deni langsung pecah mendengarnya.


Shaila yang ikutan menyimak obrolan itu juga ikut tertawa kecil. Tapi kasihan juga, cowok itu tampak lelah. Udah gitu, malah digodain tante tante.


"Makanya, jangan ganteng ganteng jadi orang. Napsu kan tuh tante tante lihat lo. Bagi bagi dikit napa ke gue. Gue juga pengen kecipratan ganteng kali." Goda Deni sambil terus ngakak.


Shaila memanggil Deni dan memberikan cake pesanan anak itu. Setelah Deni pergi, ternyata Mila juga ikutan pergi. Sepertinya dia sengaja memberi ruang untuk Shaila dan Diego.


Diego mendongak saat melihat sebuah tangan menyodorkan lemon tea kearahnya. Senyumnya mengembang saat tahu orang itu adalah Shaila.


"Makasih." Ujar Diego sambil meraih lemon tea dari tangan Shaila.


Shaila kembali ketempatnya semula setelah memberikan lemon tea. Dia masih harus melanjutkan menghias cake strawberry dan memotongnya menjadi beberapa bagian.


Setelah menyesap lemon tea bikinan Shaila, Diego berjalan mendekati cewek itu.


"Enak banget lemon teanya." Puji Diego. Dia berdiri disamping Shaila sambil memegang gelas berisi lemon tea.


"Cepek banget." Jawab Diego sambil memijit mijit bahunya sendiri. "Kalau ada yang mijitin, enak kali ya."


"Tante tante yang tadi pasti mau tuh mijitin kamu. Secara dia ngeliat kamunya sampai Gitu banget."


"Kamu tadi lihat juga pas mereka godain aku?" Diego mengernyitkan dahi.


Tenggorokan Shaila terasa tercekat. Dia jadi salting gara gara keceplosan.


"A, aku tadi gak sengaja pas keluar terus lihat." Bohong Shaila dengan gugup. Padahal dia sengaja kedepan untuk melihat Diego yang menjadi waitres.


"Beneran gak sengaja lihat?" Goda Diego sambil menaik turunkan alisnya. "Atau kamu memang merhatiin aku dari tadi. Takut aku digodain cewek ya?" lanjutnya sambil tertawa kecil.


"Paan sih, gak usah kepedean." Sangkal Shaila. Dia berusaha tetap bersikap biasa walaupun sebenarnya dia sangat gugup sekarang.


Diego menahan tawa melihat Shaila yang salah tingkah. Cewek itu bahkan sampai salah memotong strawberry. Strawberry yang harusnya dibelah dua, malah dia potong menjadi beberapa bagian kecil.


"Salah Sha."


"Paan sih?" Sewot Shaila sambil memelototi Diego.


"Tuh, strawberry nya." Diego menunjuk dagu kearah strawberry yang sudah menjadi bagian kecil kecil.


Shaila melongo saat menyadari kesalahannya. Dan seketika, wajahnya memerah karena malu.


"Cie... sampai gak konsen gitu kerjanya. Cemburu ya lihat aku digodain cewek cewek sampai tante tante?" Diego makin bersemangat menggoda Shaila.

__ADS_1


"Gak usah ge er deh. Siapa juga yang cemburu." Shaila terus menyangkal sambil memotong motong cake strawberrynya.


"Kayaknya ada sesuatu deh dimuka kamu Sha."


Diego memperhatikan dengan seksama wajah Shaila. Dan hal itu justru membuat Shaila makin gugup dan salah tingkah.


"Apaan sih." Shaila muncur selangkah sambil mengusap usap pipi dan dahinya dengan telapak tangan.


"Tuh dipipi kamu." Tunjuk Diego.


Shaila kembali mengusap pipinya dengan telapak tangan. Tapi saat dia perhatikan telapak Tangannya, tidak ada apapun disana.


"Ada tulisannya Tuh."


"Tulisan apaan?" Shaila tampak tak yakin.


"Aku... cemburu.. Hahahaha... " Seketika tawa Diego pecah. Senang sekali bisa godain Shaila. Aplagi melihat wajah kesal campur malunya, bikin Diego makin gemas.


"Hap." Tawa Diego seketika berhenti saat sebuah potongan cake mendarat dimulutnya. Ya, Shaila yang jengkel karena dikerjai mengambil sepotong cake dan memasukkannya dimulutnya Diego.


Diego memegang cake yang menyumpal mulutnya. Dia gigit cake yang masuk setengah kemulutnya itu dan sisanya dia letakkan kembali ke atas meja.


"Enak, disuapin calon istri." Ujarnya sambil mengunyah cake yang ada didalam mulut.


Shaila tampak makin kesal. Dia berniat pergi tapi Diego menahannyanya.


"Tunggu bentar." Ditariknya pergelangan tangan Shaila.


"Lepas." Shaila buru buru menarik tangannya. Matanya melihat sekeliling, takut ada yang melihat dan salah paham.


"Sorry sorry." Ujar Diego sambil cengengesan.


Shaila hanya mendengus kesal.


"Tuh hijab kamu berantakan."


Shaila menghela nafas. Kali ini dia tak akan mudah dikibulin lagi.


"Gak mempan." Sewotnya sambil cemberut dam melipat kedua tangan didada.


Diego lagi lagi tak kuasa menahan tawa. Menggoda Shaila sudah menjadi seperti candu buatnya.


"Apa ketawa?" Salak Shaila.


Diego menggeleng sambil menahan tawa. Sungguh terlihat menyebalkan dimata Shaila.


"Ap..."


Shaila tak bisa melanjutkan ucapannya karena Diego memasukkan potongan cake sisa gigitannya tadi ke mulut Shaila.


Shaila melotot sambil menutup mulutnya yang penuh dengan cake. Kemudia dia perlahan mulai mengunyah cake tersebut.


"Gimana cake bekas gigitanku? enak gak?"


Shaila yang kaget segera berhenti mengunyah. Dia tak tahu kalau yang masuk kedalam mulutnya adalah bekas gigitan Diego. Mau di muntahnya rasanya sudah terlambat karena dia sudah mengunyah dan sebagian sudah dia telan.

__ADS_1


"Pasti enak dong.... " Diego menjawab sendiri pertanyaannya. "Secara ada bekas bibirnya mas calon imam. Secara gak langsung, kita udah ciuman dong Sha."


__ADS_2