Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
DIRAWAT 2


__ADS_3

Kini Nara sudah dipindahkan ke bangsal VVIP. Sebenarnya Septian memilih VIP, tapi sayangnya sedang full. Mungkin terlalu banyak orang kaya yang sakit, batinnnya dalam hati. Dia pikir hanya kelas 3 saja yang ramai peminat, ternyata VIP juga sama. Apakah ini salah satu bukti adanya kesenjangan sosial yang tinggi? entahlah.


Beruntung saat papa Satrio datang, Nara sudah berada dikamar VVIP. Jadi tak ada protes sedikitpun darinya.


"Udah Pa, Nara kenyang." Rengek Nara saat papanya menyuapi makan malam jatah dari rumah sakit. Padahal Septian yang ingin menyuapi, tapi karena papa Satrio mengambil alih makanan dari perawat, Septian hanya bisa diam.


"Yakin udah?"


Nara mengangguk.


Papa Satrio meletakkan kembali piring makanan diatas nakas lalu mengelap tangannya menggunakan tisu.


"Kita kerumah Kinan sekarang yuk Pah. Mama khawatir sama lovely, tadi nangis terus. Disini udah ada Septian yang jaga." Ajak mama Tiur. Saat dirumah Kinan dia kepikiran Nara. Saat berama Nara di rumah sakit, dia kepikiran cucu cucunya. Dia tak pernah menyangka, jika kedua anaknya akan masuk rumah sakit bersamaan.


"Ya udah kalau gitu. Cepat sembuh, besok papa kesini lagi." Ujarnya sambil mengusap puncak kepala Nara lalu mengecupnya.


"Jangan banyak gerak, bedrest total. Minta bantuan Septian kalau mau apapun." Pesan mama Tiur sambil mencium pipi dan kening Nara.


"Iya, Ma, Pa. Gak usah khawatirin Nara. Ada abang yang jagain kok." Jawab Nara sambil menoleh kearah Septian.


"Jaga Nara baik baik. Kalau ada apa apa, segera hubungi mama atau papa. Kami pulang dulu." Ujar Satrio sambil menepuk bahu Septian.


"Pasti Pah."


Setelah mengantarkan kedua mertuanya sampai pintu, Septian kembali duduk di kursi yang ada disebelah Nara.


"Ada apa?" Tanya Septian saat Nara terus menatapnya.


"Abang ganteng, apalagi kalau pas senyum."


"Nara..." Desis Septian sambil menarik hidung mancung Nara. "Sejak kapan pinter gombal?" Cibirnya.


Nara terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Abang ada hubungan apa dengan Mayang? Dia gak terima aku nikah sama abang." Sudah sejak tadi Nara ingin membahas ini, tapi karena masih ada orang tuanya, jadi dia tunda


"Gak ada apa apa. Abang udah pernah cerita kan, kalau Mayang udah kayak adik abang. Sejak kecil dia diasuh ibu. Tapi perasaan orang, kita gak bisa ngatur Ra. Sejak kecil Mayang selalu bilang suka sama abang, sejak SD. Tapi abang gak ada perasaan apa apa sama dia. Udah gak usah mikirin Mayang. Nanti biar abang yang ngomong sama dia."


Nara mengangguk lalu meraih telapak tangan Septian dan memainkan jari jarinya. Septian tampak lelah. Seharian ini begitu menguras tenaga dan pikiran. Dia menyandarkan punggungnya disandaran kursi dan memejamkan mata.


Nara kasihan sekali melihat suaminya. Dia yang tak tega, meminta Septian tidur diatas ranjang yang disediakan untuk penunggu.


Sementara Nara, malah gak bisa tidur karena sore tadi udah tidur. Dia meraih remot tv yang ada dinakas lalu mencari acara yang sekiranya menarik. Tapi karena dia yang tak hobi menonton TV, jadi tak ada yang menarik menurutnya. Sejak tadi hanya menggonta ganti chanel sampai capek sendiri.


Tiba tiba dia teringin buang air kecil. Melihat kearah suaminya yang tampak pulas, jadi tak tega untuk membangunkan. Sejak dirumah sakit tadi, Septian selalu menggendongnya jika hendak ke toilet. Tapi kali ini, sepertinya dia harus ketoilet sendiri.


Nara turun pelan pelan dari ranjang. Dia berjalan ketoilet sambil mendorong tiang infus.


Septian terbangun karena suara air dari toilet. Dia menoleh keranjang Nara. Dan istrinya itu ternyata tak ada ditempat.


"Abang." Nara terkejut saat dia membuka pintu toilet, Septian sudah bediri didepannya.


Septian berdecak lalu mengangkat tubuh Nara hingga ranjang.


"Kenapa gak bangunin abang?"


"Aku kasihan sama abang. Kelihatannya capek banget."

__ADS_1


"Terus gak kasihan sama anak kamu? Bisa gak sih nurut Ra? Susah banget dibilangin. Atau emang kamu gak sayang sama anak kita?" Ujar Septian dengan nada tinggi.


"Abang kok gitu sih ngomongnya?" Mendadak Nara ingin menangis. Belum pernah sebelumnya Septian bicara padanya dengan nada tinggi seperti tadi. "Aku emang pernah bikin salah sama anak kita dulu. Tapi bukan berarti sekarang aku gak sayang sama dia." Butiran bening meleleh dari sudut mata Nara.


"Sorry, sorry." Septian memegangi kepalanya yang terasa pusing. Tidur sebentar terus terjaga kadang emang bikin kepala pusing. Ditambah lagi dia yang terlalu mencemaskan kondisi Nara dan janinnya. Takut sekali terjadi sesuatu jika Nara banyak gerak.


Nara melengos kearah lain. Masih kesal karna dituduh yang enggak enggak.


"Maafin abang." Septian meraih tangan Nara lalu menggenggamnya. "Abang capek Ra. Terus kepala pusing. Jadi bawaannya pengen marah. Apalagi lihat kamu bandel, pergi ketoilet sendiri. Abang auto pengen marah. Tekanan darah abang naik kali. Beberapa hari ini kan tengang banget mikirin sidang. Ditambah sekarang kamu ngeflek, jadi makin naik kali tensi abang. Takut banget terjadi sesuatu pada anak kita."


Nara diam saja, dia masih menatap kearah lain.


"Sayang, abang gak dimaafin nih? Harus usaha dulu biar dapat maaf?" Septian membuang nafas sambil menggaruk garuk kepalanya.


Nara mengalihkan pandangannya pada Septian. Melihat wajah lelah itu, mana tega dia marah.


"Gak marah kok, cuma kesel sama abang yang main bentak aja."


"Maaf. Tapi Beneran nih gak marah?"


Nara menggeleng. Mana mungkin dia tega marah pada suami siaga yang sepanjang hari ini terus berada disisinya.


"Ya udah, tidur gih. Abang tungguin disini sampai kamu ketiduran." Septian menarik selimut untuk menutupi tubuh Nara. Dia lalu mengambil kursi untuk duduk.


"Tapi aku gak ngantuk bang."


Septian membuang nafas kasar. Sebenarnya dia sangat mengantuk. Tapi rasanya tak tega membiarkan Nara terjaga sedangkan dia tidur.


"Ya udah, abang temenin sampai kamu tidur."


"Pengen tidur dipeluk abang." Pinta Nara dengan ekspresi puppy eyes.


"Tapi anak kamu gak mau tidur kalau gak dipeluk ayahnya."


"Anak aku apa kamu?" Ledeknya sambil menahan tawa. "Gak usah jadiin anak sebagai alibi."


"Ya kan kalau alasannya anak, kamu pasti mau."


"Biarpun alasannya kamu, aku juga mau kok."


"Tadi bilang gak mau. Katanya ranjangnya sempit." Nara menyebikkan bibirnya.


"Ya udah, geser dikit. Abang duduk disebelah kamu."


Dengan senang hati, Nara segera menggeser posisinya. Septian naik keatas ranjang dan duduk disebelahnya.


Nara yang dalam posisi rebahan, melingkarkan tangannya dipinggang Septian. Dia juga membenamkan wajahnya diperut pria itu. Menyesap aroma tubuh suaminya yang begitu menenangkan baginya.


"Udah gih tidur." Septian membelai rambut Nara sambil sesekali mencium kepalanya.


"Nyanyi dong bang."


"Suara abang jelek Ra."


"Gak papa, bagi aku, suara abang lebih merdu dari pada judika."


Septian tak bisa menahan tawanya kali ini. Yang diucapkan Nara barusan, entah itu gombalan, atau definisi cinta tak ada logika. Seperti kata orang. Kalau cinta, tahi kucing rasa coklat. Suara mirip kaleng dipukulpun, terdengar merdu. Merusak dunia kali.

__ADS_1


"Abang gak ada yang hafal Ra, lagu lagu romantis."


"Ya udah, lagu terserah."


"Hafalnya abang cuma lagu balonku ada lima. Gimana nih?" Canda Septian sambil terus membelai rambut Nara.


"Masa yang lain gak bisa bang? Dicafe kan tiap hari muter musik. Masak gak ada yang hafal?"


"Em... apa ya?" Septian memutar otaknya. Dan akhirnya dia menemukan lagu. "Lagunya noah aja ya."


"Terserah."


Septian berdehem beberapa kali sebelum memulai menyanyi. Selama ini, dia hanya vokalis kamar mandi, jadi kurang PD dengan suaranya.


Sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh cinta


Walau ku tahu kau ada pemiliknya


Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani


Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini


Maka izinkanlah aku, mencintaimu


Atau bolehkan aku sekedar, sayang padamu.


"Bang."


"Hem."


"Abang gak lagi suka sama cewek lainkan? kok lagunya Gitu?" Nara jadi baper.


"Kan cuma lagu Ra." Septian mendengus kesal. Udah ngantuk, disuruh nyanyi, terus masih dikomplain juga.


"Tapi aku baper bang. Nyanyi balonku ada lima aja deh."


"Astaga." Septian menepuk jidatnya lalu menyanyi lagu balonku ada 5. Dan saking ngantuknya, belum habis lagu, dia sudah ketiduran dengan posisi duduk.


...******...


Setelah Kinan pulang dari rumah sakit. Mama Tiur segera meluncur ke tempat Nara. Dan suatu kebetulan, dia berpapasan dengan Devi, mama dari Abi di lobi rumah sakit.


"Devi." Sapa mama Tiur duluan. Hubungan mereka memang merenggang sejak perpisahan Nara dan Abi. Tapi sebenarnya, Devi juga tak salah. Disini, Abi yang bersalah.


"Mbak Tiur." Devi balik menyapa walau dengan wajah sedikit kikuk. Sejak kejadian itu, dia memang malu bertemu keluarga Nara.


"Lagi ngapain dirumah sakit?" Tanya Tiur.


"Em.. itu.... anu... nengokin teman." wajah Devi tiba tiba panik. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


"Siapa?"


"Em... itu... La... ni. Iya Lani, mbak Tiur gak kenal."


"Oh... gitu ya. Kirain menantu kamu lagi lahiran disini."


Wajah Devi tampak makin tegang.

__ADS_1


"Salah lihat kali mbak. Maaf, saya buru buru, permisi." Devi buru buru pergi dari sana.


__ADS_2