
Hari yang ditunggupun akhirnya tiba. Hari ini, dokter sudah mengijinkan Nara pulang. Dan tentu, ini adalah sebuah kabar gembira. Septian sedang mengemasi barang barang mereka yang ada ditoilet sekalian mandi saat seorang suster datang.
"Permisi ya Bu, saya lepaskan dulu infusnya." Ujar seorang suster muda yang berparas lumayan cantik.
"Silakan sus."
Dengan hati hati suster tersebut melepaskan infus ditangan Nara. Tapi tetap saja masih ada rasa sakit.
Nara tampak meringis saat benda itu terlepas dan mengeluarkan sedikit darah. Tapi perasaannya lega. Benda yang merepotkan pergerakannya itu akan akhirnya hilang. Dia tak sabar ingin segera make up setelah inu. Sebelum pulang, dia akan mengunjungi teman Septian lebih dulu. Dan tentu saja, harus cantik saat diperkenalkan sebagai nyonya Septian.
"Sudah bu." Ucap suster tersebut setelah menyelesaikan tugasnya.
"Terimakasih sus."
Septian keluar dari kamar mandi dengan membawa satu kantung peralatan mandinya dan Nara. Dan tiba tiba, seseorang memanggilnya.
"Asep." Panggil suster yang ternyata mengenal Septian. Dia tampak terkejut melihat Septian ada di ruang VVIP.
"Lola, ini lo kan, Lola?" Septian memastikan karena mereka sudah lama tak bertemu.
"Astaga Sep, makin cakep aja lo. Apa kabar?" Tanya Lola yang ternyata adalah teman masa SMA Septian.
Nara langsung memasang wajah garang mendengar si suster memuji suaminya. Memang cakep sih, tapi tak rela jika seorang wanita yang memujinya.
"Alhamdulillah baik La." Septian menghampiri Lola kemudian keduanya berjabat tangan.
"Jadi lo kerja disini La? Kenapa baru hari ini kita ketemu? Kemarin kemarin, lo gak pernah kesini?" Tanya Septian yang baru hari ini melihat Lola.
"Iya, gue baru hari ini pindah ke bangsal VVIP. Eh tunggu tunggu, btw, lo ngapain disini?" Lola menoleh penuh tanya kearah Nara.
"Astaga sampai lupa. Kenalin, istri gue, Nara." Ujarnya sambil menunjuk dagu kearah Nara.
Seketika mata Lola membulat sempurna. Istri? yang benar saja? Ini ruangan VVIP. Dan Septian mampu memberikan pelayangan ini saat istrinya sakit? wow sungguh membuat seorang Lola berdecak kagum.
Septian berjalan mendekati Nara. "Ra, suster Lola ini teman SMA abang."
"Salam kenal sus." Ucap Nara dengan senyum terpaksa. Malas banget sebenarnya dia berkenalan. Apalagi susternya terlihat sok akrab dengan Septian.
"Astaga Sep, salut gue sama lo. Udah jadi orang sukses. Bini sakit aja sampai dirawat di VVIP. Kerja apa lo sekarang?"
Septian meneguk ludahnya dengan susah payah. Enaknya dijawab kerja apaan ya? Septian bingung sendiri. Sedikit malu juga kalau harus bilang rezeki nomplok, dapat bini anak orang kaya.
"Em... kerja di coffee shop." Jawabnya sambil tersenyum absurd.
"Udah jadi pengusaha sukses lo? Pasti cabang coffee shop lo udah banyak. Pantesan banyak duit. Udah jadi orang kaya sekarang. Salut deh buat lo."
"Hee.... "Septian hanya nyengir saat Lola salah paham seperti itu.
Lola tiba tiba menarik lengan Septian sedikit menjauh dari Nara dan bicara lirih.
__ADS_1
"Kirain dulu, lo bakalan nikah ama Nurul. Udah klop banget sih kalian berdua. Eh malah dapat yang lebih bening."
"Jodohnya sama yang ini." Jawab Septian bangga.
"Bokapnya Nurul pasti nyesel banget kalau tahu lo sekarang udah sukses. Secarakan, dia kurang suka sama lo karena faktor ekonomi. Pengennya Nurul dapet orang ka__"
"Hem Hem." Deheman Nara membuat Lola tak melanjutkan ucapannya. Mereka berdua langsung menoleh kearah Nara yang terlihat cemberut.
"Bisa gak sih, ngomongnya gak usah bisik bisik? Ada istrinya loh disini." Sinis Nara yang kesal karena merasa diabaikan.
"Astaga maaf Bu." Suster Lola jadi salah tingkah. Malu karena sudah ngajak bicara berdua suami orang.
"Hargai dong istrinya." Sindir Nara dengan wajah juteknya.
"Istri lo galak ya Sep." Lirih Lola tapi masih bisa didengar Septian.
"Maklum bumil, sensitif." Lirih Septian sambil menahan tawa.
"Ya udah saya permisi dulu." Suster Lola buru buru pamit. Takut diteriaki pelakor.
Septian terkekeh sambil mendekati Nara yang sedang cemberut. Dengan jailnya, dia malah menyentil bibir Nara.
"Abang!" Teriak Nara yang makin kesal.
"Cemburuan banget sih." Ucap Septian sambil geleng geleng dan tersenyum.
"Ngomongin bini abang yang cantik, tapi galak." Goda Septian sambil menyeringai lebar.
Malas membahas hal itu lagi. Nara mengambil tas make up yang berada diatas nakas. Memulai merias dirinya agar terlihat makin cantik.
Septian hanya geleng geleng melihat begitu banyaknya peralatan make up milik Nara. Dia juga punya adik perempuan. Tapi perasaan tak sebanyak itu.
Septian melanjutkan mengemasi barang barang mereka. Memastikan jika tak ada barang yang tertinggal.
"Biasa aja make up nya. Gak usah terlalu cantik." Ucap Septian yang mulai bosan melihat Nara terus saja memberikan sentuhan diwajahnya. Padahal sudah 30 menit lebih, tapi tak juga selesai.
"Dikit lagi bang." Jawab Nara sambil mengaplikasikan maskara di bulu matanya. Bagian mata memang yang paling banyak memakan waktu. Dan sekarang, tinggal sentuhan terakhir. Lipstik pink dia pilih agar terkesan natural.
"Aduh aduh Ra, mau njenguk orang melahirkan aja make up nya selama ini. Gimana ntar pas abang wisuda?"
"Kalau pas abang wisuda, make up disalon. Biar makin cetar."
"Astaga, apa semua cewek seribet kamu Ra?"
"Ini termasuk gak ribet loh bang. Belum catok rambut, blow, atau di curly. Ini aku juga gak pakai bulu mata palsu, cuma maskara doang. Kalau dirumah, makin ribet lagi."
Septian hanya bisa geleng geleng kepala. Bingung harus menanggapi seperti apa lagi.
"Padahal kamu itu gak make up udah cantik loh Ra."
__ADS_1
"Tapi kalau make up lebih cantik lagi kan bang?"
"Iya sih. Tapi abang kan jadi gak tenang. Takut banyak yang ngelirik."
Nara terkekeh mendengarnya. "Tapi kalau gak make up. Aku yang gak tenang bang. Takut abang dilirik pelakor."
"Abang udah beres nih. Abang tinggal urusin administrasi dulu ya."
"Aku mau ganti baju bang. Gak dibantuin gitu?"
"Ya udah abang bantuin dulu." Septian memdekati Nara lalu melepaskan pakaian rumah sakit yang dikenakannya. Tapi Nara yang iseng, malah sengaja menyodorkan dadanya pada Septian saat pria itu membantu mengganti pakaian dalamnya.
"Gak pengen bang? makin gede loh?" Goda Nara sambil tersenyum menggoda.
"Gak usah mulai deh." Septian berusaha mengabaikan meski susah. Cepat cepat dia memakaikan baju ganti agar matanya tak tergoda.
Setelah mengurusi administrasi, Septian langsung mengajak Nara ke ruangan tempat istri Abi dirawat. Kamar itu ada di kelas 1,jadi lumayan jauh. Tak ingin Nara lelah, Septian membawanya dengan kursi roda. Barang barang mereka masih ditinggal dikamar sembari menunggu papa Satrio menjemput.
...*****...
Dikamar tempat rawat Arumi, terjadi sedikit kegaduhan. Apalagi kalau bukan mama Devi yang uring uringan. Karena ketidak sukaannya pada Arumi, setiap melihat wajahnya, bawaannya pengen ngamuk aja.
"Jangan harap mama akan pinjami kamu uang. Pinjam saja sama keluarga istri kamu itu." Ujarnya sambil memberi tatapan tajam kearah Arumi. Abi butuh banyak uang untuk operasi jantung anaknya serta biaya selama di NICU. Beruntung biaya persalinan Arumi sudah tercover asuransi.
Arumi sudah berhenti bekerja sejak hamil 6 bulan. Sekarang mereka hanya mengandalkan gaji Abi. Gajinya memang lumayan besar, tapi mereka masih harus membayar KPR rumah yang mereka tempati saat ini. Dan itu tidak murah, mengingat rumah yang mereka beli lumayan mewah.
"Andai saja istri kamu itu nurut. Mau gugurin kandungannya. Semua tak akan seperti ini. Dan sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Jadi nikmati saja semuanya. Nikmati hari hari kalian untuk mengurus anak cacat itu. Ingat, jangan pernah repotkan mama."
Arumi meremat sprei sambil menangis. Mulut mertuanya itu memang sangat pedas. Tak pernah memikirkan Perasannya sama sekali. Bahkan mulutnya dengan fasih menyebut cucunya sendir anak cacat.
"Aku itu lagi butuh solusi mah. Bukan butuh diceramahi." Sahut Abi yang bukannya tenang, jadi makin pusing.
"Tapi kamu memang perlu diceramahi. Ingat satu hal. Jangan pernah bawa anak cacat itu diacara keluarga. Jangan mempermalukan kelurga kita. Dikeluarga kita tak ada yang memiliki keturunan seperti itu. Ini pasti gara gara istri kamu yang bawa sial." Makinya sambil lagi lagi memelototi Arumi.
Nara dan Septian yang sudah sampai didepan ruangan tak sengaja mendengarnya. Suara mama Devi memang lumayan keras. Diatambah pintu yang tak tertutup rapat, membuat Nara dan Septian bisa mendengar dengan jelas ucapan mama Devi barusan.
"Kayaknya kita datang diwaktu yang tidak tepat Yang. Kita kesini lain kali aja ya." Septian hendak memutar kursi roda tapi ditahan oleh Nara.
"Tunggu sebentar bang."
Nara merasa familiar dengan suara perempuan tersebut. Rasanya dia kenal, sangat kenal bahkan.
.
.
YUK KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE.
KALAU LIKE DAN KOMEN BANYAK. NANTI MALAM UP LAGI
__ADS_1