Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
DEBAT


__ADS_3

Setelah mengantri lumayan lama, akhirnya tiba juga giliran Nara. Dengan didampingi Septian, mereka masuk keruangan dokter kandungan.


Nara langsung disambut dengan hangat dan langsung diarahkan ke ranjang oleh perawat.


Setelah diolesi gel, dokter segera melakukan USG.


"Sai hay dulu dong sama debay." Ucap dokter Ana.


"Babynya sehat, detak jantung normal. Air ketuban bagus. Dan beratnya udah 2,2 kg. Panjang 43 cm."


"Jenis kelamin dok?" Tanya Nara yang memang penasaran sejak dulu.


"Disebutin apa enggak nih Pah?" Tanya dokter Ana sambil tersenyum dan menoleh kearah Septian. Sejak awal, Septian memang selalu menolak disebutkan jenis kelamin.


"Sebutin aja dok. Mamanya udah gak sabar pengen tahu." Jawab Septian.


"Pengen belanja perlengkapan bayi dok." Nara memang sudah tak sabar ingin segera membeli perlengkapan bayi. Dia juga ingin membuatkan kamar spesial. Kalau tak tahu jenis kelaminnya, pasti susah.


"Baby boy." Ucap dokter Ana.


"Yey...." Seru Nara dengan girangnya. Dia memang ingin anak laki laki. Pengen punya kembarannya bang Asep.


Sementara Septian, hanya bisa geleng geleng melihat kegembiraan Nara. Kalau buat dia, boy or girl, sama saja.


"Jadi mamanya pengen banget baby boy nih ceritanya?" Tanya dokter Ana..


"Biar makin banyak guardian angel nya. Dan biar jadi paling cantik sekeluarga."


Seketika tawa dokter Ana dan perawat pecah. Alasan yang terdengar konyol namun masuk akal.


"Usia janin sudah 34w, sudah saatnya memikirkan tentang proses persalinan. Karena biasanya, bayi lahir di 37 - 42 w." Terang dokter Ana..


"Aku mau caesar dok. Ditangani dokter langsung ya, kayak kak Kinan kemarin."


Septian mengerutkan kening. Kenapa harus caesar, batinnya.


"Mau ambil paket VIP kayak Kinan juga?"


"Yang Suite dok."


Septian kian dibuat melongo. Mereka belum diskusi soal ini, tapi kenapa Nara sudah mengambil keputusan sendiri.


"Boleh, dua minggu lagi pas cek kandungan. Bisa mulai pilih jadwal sc nya. Maunya tanggal berapa, dipastikan dulu. Biar gak bentrok sama yang lain." Sahut dokter Ana.


"Kandungan Nara baik baik sajakan dok? Maksud saya, bisa melahirkan secara normalkan?" Tanya Septian.

__ADS_1


"Sejauh ini sih, semuanya baik. Tak ada komplikasi yang patut dikhawatirkan. Kemungkinan besar, bisa lahiran secara normal. Jadi mau normal apa sc?"


"Enggak, saya gak mau normal dok. Saya mau caesar saja." Sahut Nara.


Perawat mengambil sebuah brosur dan menyerahkannya pada Septian.


"Ini daftar harga paket bersalin disini pak. Mulai dari normal hingga paket Suite. Jadi mungkin bisa didiskusikan dulu berdua, gimana enaknya."


Septian menghela nafas. Ternyata semahal ini paket bersalin dirumah sakit ini. Matanya langsung tertuju pada biaya sc kelas suite, dan dia hampir pingsan melihat angka yang hampir mendekati 50 juta. Padahal kalau lahiran normal di bidan, 0 nya bisa hilang.


Dalam perjalanan pulang, Septian terus memikirkan tentang biaya persalinan. Darimana dia dapat uang senanyak itu.


"Bang, gimana kalau kita ke mall sekalian, mumpung aku baru gajian. Aku pengen belanja perlengkapan bayi. Nyicil dikit dulu gak papa." Nara memecah kesunyian didalam mobil.


"Lain kali aja ya Ra. Lagian bentar lagi abang harus kecafe."


Septian terus melajukan mobilnya sampai dirumah. Septian membukakan pintu mobil untuk Nara dan menuntunnya hingga masuk kedalam kamar.


"Abang mau ke cafe sekarang?" Tanya Nara yang sedang duduk didepan meja rias sambil membersihkan make up diwajahnya.


"Kamu yakin mau operasi caesar?" Tanya Septian yang duduk ditepi ranjang sambil menghadap kearah Nara.


"Yakinlah bang."


"Kenapa gak normal aja sih Ra?"


Septian beranjak lalu berdiri dibelakang Nara. Mereka saling menatap melalui pantulan cermin.


"Itu kan cerita orang. Tapi kenyataannya, gak semua orang sama Ra. Ada yang lama, tapi tak sedikit juga yang cepet kok proses pembukaannya. Dan lahiran normal itu, lebih cepet proses pemulihannya." Septian mencoba memberi pengertian.


"Sok tahu, emang abang pernah ngelahirin?"


"Ya gak pernah, cuma dengar dari percakapan ibu ibu yang biasanya belanja ditempat ibu. Juga dengar dari cerita ibu juga."


"Abang tahukan darimana keluarnya bayi kalau lahiran normal?"


"Ya tahulah. Rugi dong sekolah sampai S1 kalau gak tahu darimana keluarnya bayi."


"Itu tahu. Aku gak mau punyaku longgar gara gara ngeluarin bayi. Ntar abang gak bisa puas, terus nyari yang lain. No, big no." Ujar Nara sambil membuang kapas ke tempat sampah lalu membalikkan badan menghadap Septian.


"Pikiran kamu kejauhan. Kamu lihat deh, banyak orang yang melahirkan normal tapi baik baik aja rumah tangganya. Semua akan kembali seperti awal Ra. Masak kamu kuliah sampai S2 gak ngerti." Septian bingung.


"Ok lah, mungkin semua bisa kembali lagi. Tapi balik pada kesiapan, aku gak siap melahirkan normal. Aku takut bang. Dan lagian apa salahnya sih lahiran sc? Toh gak ada masalah jugakan. Sama sama lahiran. Bukankah yang paling penting itu, semua berjalan lancar. Aku dan anak kita sehat. Udahkan, beres."


"Benar, yang paling penting memang kamu dan anak kita sehat. Tapi kamu tahukan, biaya sc itu mahal. Apalagi kamu minta paket suite."

__ADS_1


"Emangnya kenapa? toh uangnya ada. Mama juga gak keberatan aku milih paket apapun."


"Loh kok mama? Jadi kamu udah diskusi ini sama mama? Aku suami kamu loh Ra. Bahkan kamu gak pernah ngajak aku diskusi tentang ini." Septian merasa tersinggung.


Sebenarnya gak niat diskusi juga sih awalnya. Semua berjalan begitu saja saat mereka, Nara, mama dan Kinan melakukan vcall. Awalnya mereka membahas paket VIP yang dipilih Kinan. Lama kelamaan, justru membahas rencana melahirkan Nara. Dan setelah ditimang timang, mama Tiur menyarankan Nara untuk memilih paket Suite. Tentu semua itu atas pertimbangan kenyamanan. Mama ingin yang terbaik untuk Nara.


Nara diam saja tak menjawab pertanyaan Septian. Sebenarnya merasa bersalah juga karena tak diskusi dulu dengannya. Tapi dia pikir, Septian pasti akan setuju jika itu untuk kebaikannya..


"Kitakan udah sepakat, apapun itu, kita diskusikan bersama. Jangan tiba tiba ambil keputusan sepihak." Tekan Septian.


"Maaf. Tapi aku pikir, jika untuk kebaikanku dan anak kita, kamu pasti setuju."


Septian berjongkok didepan Nara sambil menggenggam kedua tangannya.


"Benar, aku akan setuju jika untuk kebaikan kalian. Tapi kembali lagi, abang gak ada uang untuk membiayai persalinan semahal itu."


"Abang gak perlu mikirin biaya. Mama yang bakal tanggung semuanya."


"Mama, mama, mama." Entahlah, tiba tiba Septian jadi emosi jiwa mendengar kata mama. "Sampai kapan kita terus bergantung sama mama?" Tanya Septian dengan nada yang mulai meninggi. "Abang ini suami kamu Ra. Abang yang harusnya bertanggung jawab untuk biaya persalinan kamu, bukan mama."


"Aku tahu bang. Tapi abang belum ada uangkan? Jadi apa salahnya sih, kita pakai uang mama atau papa?"


"Tapi disini harga diri abang dipertaruhkan Ra. Abang ingin terlihat bertanggung jawab. Ingin dipandang mampu menjadi kepala rumah tangga oleh orang tua kamu. Bukan jadi parasit dirumah ini."


"Gak ada yang anggap abang parasit, itu pikiran abang sendiri."


"Kamu ngerti gak Ra. Abang udah cukup tertekan selama ini. Mulai dari tempat tinggal, makan, biaya rumah sakit kamu tempo hari, serta modal usaha abang, semuanya dari orang tua kamu. Abang ngerasa gak berguna banget jadi suami. Please, untuk kali ini, biarkan abang menunjukkan jika abang mampu jadi kepala rumah tangga dengan membiayai persalinan kamu. Kata ibu, melahirkan dibidan murah kok."


Nara syok, melahirkan dibidan? yang benar saja. Dia tak mau melahirkan normal di bidan dengan fasilitas seadanya. Bahkan mungkin, alat USG saja tak ada. Bagaimana nanti jika terjadi emergensi? Tak ada tenaga profesional seperti dokter yang akan langsung mengambil tindakan operasi. Membayangkan saja, Nara sudah merasa takut.


"Tega abang menyuruh aku lahiran di bidan. Bagaimana jika terjadi sesuatu sama aku atau anak kita? Demi harga diri, abang korbanin aku, abang biarin aku kesakitan?" Teriak Nara. Dia kecewa dengan keputusan Septian. Dia berdiri dari bangku dan hendak keluar kamar tapi ditahan oleh Septian.


"Semua orang melahirkan itu pasti sakit Ra. Bahkan kalau bisa, abang rela gantiin rasa sakit kamu."


"Halah, kamu ngomong gitu karena gak mungkinkan. Gak mungkin kamu bisa ngerasain sakitnya melahirkan seperti apa yang aku rasain." Tekan Nara sambil menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya tampak menegang, gurat gurat emosi sudah terlihat jelas.


"Disini aku yang ngerasain sakitnya. Aku yang berjuang hidup dan mati demi melahirkan anak kita. Dan kamu." Nara mendorong dada Septian. "Dengan egoisnya malah memikirkan harga diri. Kecewa aku sama kamu." Air mata Nara perlahan mulai turun.


Septian menyeka air mata Nara lalu memeluknya.


"Abang tahu kalau melahirkan itu pertaruhan antara hidup dan mati. Tapi kamu dengar sendirikan apa yang diucapkan dokter Ana. Gak ada masalah apapun pada kehamilan kamu. Dan kamu bisa melahirkan secara normal. Dokter tak akan bicara seperti itu jika hal itu bisa membahayakan kamu dan anak kita." Ujarnya dibalik punggung Nara.


"Udahlah bang, aku capek."


Nara melepaskan pelukan Septian lalu membaringkan tubuhnya diatas Ranjang. Dia memposisikan tubuhnya memunggungi Septian yang berdiri disamping ranjang.

__ADS_1


"Ya udah, kamu istirahat. Abang mau ke cafe." Septian mencium kening Nara lalu mengbil kunci motor dan menuju cafe


__ADS_2