Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
I LOVE YOU


__ADS_3

Septian mulai sibuk didepan laptop. Dia fokus mengerjakan skripsi. Beda hal nya dengan Nara. Wanita itu justru sibuk didepan meja rias. Memoles make up tipis diwajahnya, mengoles lotion diseluruh tubuh dan menyisir rambut panjanganya. Tak lupa menyemprot parfum disekitar leher dan pergelangan tangan.


Nara mengambil sesuatu dari almari sambil senyum senyum sendiri. Lalu dengan penuh semangat, membawanya masuk kedalam kamar mandi.


Konsentrasi Septian sedikit terganggu dengan bau parfum yang begitu wangi. Hampir setiap malam Nara memang terbiasa memakai parfum. Tapi malam ini, rasanya sedikit berlebihan.


Wangi itu kian mengusik indar penciuman Septian tatkala aromanya terasa kian mendekat. Dia yang berniat menoleh, urung karena sepasang tangan melingkar dilehernya. Terasa sangat lembut dan wangi saat kulit tangan itu bersentuhan langsung dengan kulit leher dan rahangnya.


Nara memajukan wajahnya kesamping wajah Septian. Meniup pelan telinga suaminya, hingga membuat darah pria itu berdesir. Saat pipi mereka bersentuhan, bulu kudu Septian seketika meremang.


"Udahan dong belajarnya." Ucap Nara dengan suara menggoda. Membuat hasrat Septian yang tadi sudah berhasil padam, kembali menyala. Septian bangkit lalu membalikkan badan menghadap Nara.


Matanya seketika membulat sempurna. Dia menatap Nara cengo. Istrinya itu terlihat begitu menggoda dengan lingerie dan g-stringg warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Selama ini, Nara memang belum pernah tampil semenggoda ini.


Lingerie transparan itu menunjukkan dengan jelas lekuk tubuh Nara. Dada yang tak terbungkus bra jelas membuat jakun Septian naik turun. Puncak dadanya yang mencuat sempurna seperti melambai lambai minta dinikmati.


Nara mengalungkan tangannya di leher Septian lalu mencium bibir pria itu dengan lembut. Jelas saja sang suami tak mau tinggal diam. Dia yang sudah dikuasai kabut gairah, segera membalas ciuman Nara. Membuat ciumann yang awalnya lembut berubah menjadi panas dan menuntut.


Nara menurunkan tangannya dari leher Septian lalu masuk kedalam kaos pria itu. Mengusap dada bidang sang suami dan bermain main disana.


Septian melepaskan pagutan bibir mereka. Menarik kaosnya keatas hingga lepas agar istrinya bisa dengan leluasa mengeksplor dadanya.


Nara mulai memberikan kecupan basah pada telinga, leher dan dada Septian. Malam ini, dia ingin memberikan treat yang sedikit berbeda. Mungkin terkesan sedikit nakal. Tapi niatnya sudah bulat, dia akan membuat Septian bertekuk lutut malam ini. Memberikan kesan luar biasa hingga suaminya itu selalu terbayang bayang adegan hot mereka diranjang.


"Ra... uhhh... " Septian mulai meracau dengan suara parau. Nara benar benar memanjakannya malam ini.


"Argh... Ra... " Septian terus mende sah karena perlakuan Nara. Seluruh tubuhnya terasa terbakar, nafasnya menderu.


Septian menarik bahu Nara lalu menciumi leher jenjang milik istrinya itu. Meninggalkan jejak jejak merah sebagai tanda kepemilikannya. Menarik turun kedua sisi tali lingerie hingga benda itu terjatuh dilantai. Tangannya menelusup kedalam kain segitiga kecil dan bermain main disana. Lalu menarik benda itu sedikit kasar hingga talinya lepas dan terjatuh dilantai.


"Ahhhh... Abang...." Nara belingsatan saat suaminya bermain main diinti tubuhnya. Suaminya itu sungguh pandai hingga dia tak kuasa lagi menahan pelepasan pertamanya.


Melihat tubuh istrinya bergetar dan tampak lemas. Septian membopong tubuh polos itu keatas ranjang. Mengungkungnya dibawah dengan mata yang saling menatap penuh cinta. Tangannya bergerak membelai wajah cantik itu. Menunggu Nara menikmati sisa sisa pelepasannya. Setelah dirasa cukup, dia kembali mengulum bibir Nara, beradu lidah dan saling bertukar saliva. Memulai penyatuan sesungguhnya dan bergerak dengan ritme cukup cepat.


Nara terus mende sah dan memanggilnya. Membuat Septian lebih bersemangat dan serasa memiliki tenaga ektra untuk memu askan istrinya. Tangan Nara perpegangan pada punggung Septian sambil mengusapnya.


Mereka berdua sama sama larut dalam gelombang dahsyat yang memabukkan. Bersama sama bergerak menuju puncak kenikmatan tiada tara.

__ADS_1


"Abang... " Teriak Nara sedikit kuat saat dia kembali mendapatkan pelepasan untuk kedua kalinya. Tak berselang lama, Septianpun menyusul.


Mereka saling bertatapan untuk waktu yang lama sambil mengatur nafas. Hingga akhirnya, Septian merebahkan tubuh lelahnya disamping Nara.


"Terimakasih sayang." Ucap Septian sambil mencium kening Nara lama. Senyum puas tersungging dibibir keduanya.


"Abang suka?" Tanya Nara memastikan.


"Of course." Jawab Septian sambil meraih tangan Nara dan menciumnya berkali kali.


Septian memiringkan tubuhnya menghadap Nara lalu menyeka keringat diwajah cantik itu. Dia juga menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nara yang bersemu merah.


Jantung Nara berdegup kencang. Ditatap sedekat ini jelas membuatku tersipu malu.


"Capek?" Tanya Septian dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Nara.


"Maaf udah bikin kamu capek."


"Aku suka." Sahut Nara malu malu. Entahlah, setiap kali selesai melakukan hubungan suami istri, dia merasa malu. Terlebih kali ini. Bagaimana tidak, dia jelas jelas orang yang pertama menggoda. Walaupun mengajak suami duluan pahalanya besar, tetap saja hal itu membuatnya malu.


"Ra.... "


"Kamu bahagia menikah dengan abang?"


Nara mengulum senyum. Menurutnya itu pertanyaan konyol. Tidakkah suaminya itu bisa membaca bahasa tubuhnya selama ini. Apakah dia tak terlihat bahagia hingga Septian harus menanyakannya?


"Bahagia. Kalau abang?" Nara balik bertanya sambil mengusap rahang Septian yang terasa sedikit kasar karena belum dicukur.


"Sangat bahagia."


"Ra.... " Panggil Septian tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Nara.


"Hem... "


"Kamu cantik."


Blush

__ADS_1


Seketika wajah Nara memerah. Bukan pertama kali Septian berkata demikian. Tapi kata kata itu, selalu mempu membuat wajahnya bersemu merah dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"I love you." Ucap Septian sambil menatap dalam kedua mata Nara.


"I love you too." Jawab Nara sambil menyentuh rahang kokoh milik suaminya. Kemudian bergerak memindai setiap inci wajah tampan Septian. Wajah yang selalu membuatnya rindu.


"I love you." Ucap Septian sambil meraih tangan Nara yang berada diwajahnya lalu menciumnya lama.


"I love you too abang."


"Ra.... "


"Hem.... "


"I love you." Septian kembali mengucapkan kata itu untuk yang ketiga kalinya.


"Love you too abang." Jawab Nara gemas sambil mencium pipi Septian.


"I love you."


"I love you."


"I love you."


"I love you."


Septian terus mengucapkan kalimat itu hingga Nara kesal.


"Abang ih..... itu itu mulu yang diucapin." Nara sampai menarik gemas bibir Septian. Membuat si pemilik bibir tak kuasa menahan tawa.


"Gak peduli kalau kamu bosen dengernya. Tapi abang akan makin sering ngucapinnya. I love you Ra."


Nara mesam mesem. Wanita mana yang tak akan meleleh jika diperlakukan demikian oleh suaminya.


"Kamu cantik sekali pakai lingerie. Tapi lebih cantik lagi kalau gak pake apa apa."


"Abang.... "Rengek Nara sambil mencubit pinggang Septian.

__ADS_1


__ADS_2