
Akhir akhir ini, Septian selalu pulang saat coffee shop tutup. Alhasil, dia sampai rumah sudah sangat larut. Seperti hari ini, hampir jam 1 malam dia baru sampai rumah.
Septian membuka pintu kamar perlahan agar tak mengganggu tidur Nara dan baby Ay. Tapi ternyata, ibu dan anak itu tidak sedang tidur. Mereka terlihat tengah bercanda meski diusia satu bulan baby Ay masih belum bisa merespon dengan tawa.
"Belum tidur?" Tanya Septian sambil berjalan mendekati kedua orang tersayangnya.
"Ay ngajak begadang. Padahal udah di nenenin tapi tetep gak mau bobok. Kangen kamu kali bang."
Septian tersentil mendengar kata kangen. Sejak coffe shop ramai, dia memang sangat sibuk dan jarang ada waktu untuk Nara dan Aydin.
"Kangen ayah ya sayang." Septian hendak membelai pipi gembul sang putra tapi segera dicegah oleh Nara.
"Bersih bersih dulu, ganti baju." Titahnya sambil melotot.
"Astaga..." Septian menyeringai kecil. "Baik mama cantik. Galak banget sih...untung cantik." Godanya sambil menoel dagu Nara.
Septian mengambil baju ganti didalam almari kemudian masuk kedalam kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan ganti baju, dia segera menghampiri baby Ay. Rasanya sudah tak sabar ingin menggendongnya.
Baby Ay tampak menggerak gerakkan tangan dan kakinya dengan semangat. Bayi kecil itu terlihat tak ngantuk sama sekali. Septian mengulurkan tangannya untuk meraih baby Ay. Digendongnya baby gembul itu sambil ditimang timang dan diciumi berkali kali.
"Ayah kangen banget sama kamu."
"Sama mamanya enggak nih?" Protes Nara.
"Enggak."
Nara seketika melotot mendengarnya.
"Gak kangen, tapi kangen banget."
Seketika bibir monyong Nara berubah menjadi senyuman manis. Dia lalu mendekati Septian dan memeluknya dari belakang.
"Cafe ramai banget ya bang?" Tanya Nara dibalik punggung Septian.
"Alhamdulillah, sekarang ramai terus Ra."
"Syukur deh kalau gitu. Kamu kan jadi gak galau lagi. Aku sebenarnya pengen ke cafe, tapi tak tega ninggalin baby Ay dirumah. Kata mama, baby Ay belum boleh diajak keluar keluar dulu kalau bukan untuk hal yang penting."
"Ay udah umur berapa Ra?"
"Ish." Nara seketika melepaskan pelukannya lalu memukul punggung Septian. "Anaknya sendiri gak tahu umurnya. Kebangetan deh." Omel Nara sambil berjalan kedepan Septian.
Septian malah terkekeh mendengarnya. Dia memang tak pernah menghitung usia baby Ay. Dia terlalu sibuk dengan urusan cafe.
"Udah 31 hari." Jawab Nara.
"Anak ayah udah gede rupanya. Pantesan makin endut dan ganteng." Pujinya sambil menggesek gesekan hidungnya pada hidung baby Ay. Mungkin karena geli, bayi itu menggeliat geliat dan akhirnya malah menangis.
"Abang ih, dia pasti geli karena kena jambang kamu. Makanya dicukur dong." Kesal Nara sambil mengambil alih baby Ay kedalam gendongannya.
__ADS_1
Septian meraba rahangnya sendiri. Benar kata Nara, bulu bulu halus sudah mulai tumbuh disana. Karena sibuk dia sampai lupa bercukur. Dia lalu berjalan menuju cermin dan memperhatikan penampilan barunya. Senyumnya mengembang saat dirasa, penampilannya makin macho. Makin terlihat laki.
Setelah puas bercermin, dia berjalan menuju ranjang lalu duduk disebelah Nara yang sedang menyusuui baby Ay.
"Kamu suka abang ada jambangnya apa enggak?" Tanyanya sambil mengusap usap jambang.
"Aku suka bersih."
"Dih, padahal lebih macho loh kalau ada jambangnya. Dah gitu, bikin geli geli nagihin." Dan dengan isenganya, Septian mulai menciumi leher Nara dan menggesek gesekkan jambangnya. Ingin menunjukkan sensasi geli geli enak yang dia maksud.
Nara yang merasa kegelian, berusaha menjauhkan lehernya. Tapi apa daya, Septian malah menekan pinggangnya kian erat.
"Abang geli.. " Rengek Nara yang tak bisa berkutik. Dia merasakan geli disekitar leher yang kemudian merayap hingga dadanya.
Bukannya menghentikan aksinya, Septian malah merasa keasyikan. Dia kian menekan kepalanya di bagian dada yang tidak sedang di nen. Tak hanya memggesekkan jambang, dia juga mulai membuat tanda merah disana.
"Abang nen sebelah sini ya sayang." Ujarnya dengan suara berat sambil menurunkan penutup yang menghalangi kegiatannya.
"Abang jangan dong." Nara mendorong kepala Septian agar menjauh dari dadanya. Dia sungguh tak nyaman dengan posisi ini. Rasanya sungguh aneh saat kedua puncak dadanya dihisap bersamaan. Tapi Septian seakan tak mendengar, dia malah menikmati rasa asi yang keluar dari sana.
"Abang... please jangan gini dong. Ay kena rambut kamu." Nara masih berusaha mendorong kepala Septian agar berhenti menyedot sumber kehidupan baby Ay.
"Sorry sorry." Septian seperti tersadar dari kegilaannya. Dia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dengan segera ditutupnya kembali dada Nara agar tak membuat hasratnya kian membumbung tinggi.
"Abang lagi pengen?" Tanya Nara.
Nara jelas bukan orang bodoh. Dia bisa melihat kilatan gairah di mata suaminya. Bisa dimaklumi juga, sudah sebulan pria itu menahannya.
"Setelah Ay bobok, aku bantuin." Ucap Nara.
"Enggak usah, abang gak pengen kok. Lagian kamu pasti lelah udah jagain Ay seharian. Terus sampai jam segini juga belum tidur, pasti ngantuk banget. Setelah Ay tidur, kamu ikutan tidur aja." Tolak Septian sambil membelai pipi Nara menggunakan punggung tangannya. Dia tak mau menjadi egois. Tak mau merasa nikmat sendiri sementara Nara tidak.
"Udah 31 hari kok bang. Tinggal beberapa hari aja." Hibur Nara.
"Gimana kalau setelah 40 hari, kita honeymoon berdua? Deket deket sini aja, sehari semalam doang."
Nara tampak galau, sama sekali tak bersemangat seperti Septian.
"Kenapa?" Tanya Septian.
"Gimana kalau kita rayain dirumah saja? Aku gak bisa ninggalin Ay lama lama."
"Kan ada persediaan asip?"
"Tapi.... " Nara bingung menjelaskan.
"Tapi kenapa?"
"Aku gak bisa pisah lama lama sama Ay. Aku takut gak bisa enjoy jika jauh dari Ay. Aku pasti kangen dia."
__ADS_1
Septian tersenyum lalu mencium kening Nara.
"Abang bangga sama kamu. Sebagai ibu baru, kamu sudah memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Ay."
"Iyalah bang, kan aku yang nenenin dia."
"Wah, berarti bonding sama abang lebih kuat lagi dong. Secarakan, abang lebih lama nen nya daripada Ay." Goda Septian sambil menyeringai kecil.
Nara seketika memukul lengan suaminya. Ada ada saja pemikiran pria itu.
Setelah dirasa Ay cukup nyenyak tidurnya, Nara segera memindahkannya kedalam box. Memastikan kelambu tertutup rapat lalu kembali keranjang dimana Septian tengah menunggunya.
"Udah ngantuk?" Tanya Nara. Dan Septian menjawabnya dengan gelengan.
"Lagi pengen?" Tebak Nara.
"Enggak sayang." Sangkal Septian. "Sini bobok, abang peluk."
Nara segera merebahkan tubuhnya disebelah Septian. Dia melingkarkan tangan di perut sang suami sambil merebahkan kepala di dada bidangnya.
"Ra, menurut kamu, gimana kalau bulan depan, abang ngelamar kerja diperusahaan?"
Nara seketika terkesiap. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Septian.
"Bukannya cafe udah ramai. Kenapa sih, masih harus ngelamar di perusahaan?"
"Biar gajinya dobel Ra. Biar bisa nyenengin kamu dan Ay."
Nara seketika memberengut. "Aku udah bahagia kok. Lagipula aku ada gaji juga. Udah dobelkan kalau ditambah gaji kamu. Lagipula sekarang kamu owner, jelas tak hanya terima gaji sebagai barista, tapi juga dapat keuntungan coffee shop."
"Abang pengen cari pelangalaman sekaligus tambahan uang. Abang ingin bisa buka cabang baru."
"Kerja dicafe aja, kamu udah sibuk banget. Gimana kalau kerja dobel? Kamu pasti makin gak ada waktu buat aku dan Ay." Sebenarnya, itulah alasan terkuat Nara tak menyetujui. Dia ingin Septian punya banyak waktu untuknya fan baby Ay.
"Abang akan usahain selalu ada waktu buat kalian. Abang akan cari barista baru. Biar nanti abang cuma ngecek doang kalau ke coffee shop." Septian masih berusaha membujuk.
"Baiklah kalau itu yang abang mau. Aku hanya bisa mendukung saja." Dengan berat hati, Nara mengatakan itu.
"Kok kayak gak redho gitu sih?"
"Redho kok. Asal niatan kamu kerja benar benar buat aku dan Ay, bukan buat cari wanita baru."
"Astagfirullah sayang." Desis Septian gemas. Bisa bisanya Nara kepikiran kearah sana.
"Abang sama sekali gak mikir ke arah situ. Abang cuma ingin memberikan penghidupan yang layak untuk kamu dan Ay. Abang sayang kamu Ra. Niat abang murni kerja, bukan yang lain, apalagi wanita."
"Tapi abang itu ganteng. Pasti banyak yang suka nanti." Ucap Nara sambil cemberut.
"Ya biarin mereka suka. Yang penting abangkan gak suka. Abang sukanya sama kamu doang." Sahut Septian sambil menghujani wajah Nara dengan ciuman.
__ADS_1