
Septian tak menduga jika Raka adalah seorang yang ramah dan humble. Walaupun wajahnya terkesan serius, tapi dia ternyata orang yang suka humor. Obrolah mereka mengalir begitu saja. Seperti tak pernah kehabisan topik.
"Gimana skripsi?"
"Alhamdulillah lancar Mas. Sudah hampir 60 persen."
"Jangan sungkan minta bantuan papa. Aku yakin, papa gak akan menolak untuk hal itu. Lebihlah mendekat ke papa. Kalau dia lagi sendirian, ajak ngobrol. Ya, walaupun mungkin ujung ujungnya kamu kena semprot mulu. Anggap saja itu kritikan yang membangun."
Septian tersenyum absurd. Haruskan dia lebih mendekatkan diri ke papa Nara. Maksudnya bisakah dia? Papa Satrio tampak kaku dan arrogant, membuat nyalinya langsung menciut saat baru ditatap.
Disaat mereka masih terus mengobrol. Kinan dan Nara turun kelantai bawah dan menemui mereka. Kedua wanita itu saling pandang dan tersenyum melihat Raka dan Septian yang tampak akrab.
"Kelihatannya udah akrab nih? ngobrolin apaan sih?" Tanya Nara yang baru datang dan langsung duduk disebelah Septian.
Sedangkan Kinan, wanita itu duduk di sebelah suaminya.
"Ra, kamu ini gimana sih? dirumah ada coffee maker tapi kamu gak ngasih tau Septian?" Tanya Raka.
"Aku mana tahu." Nara mengedikkan bahu. Dia memang terlalu acuh untuk barang barang yang ada dirumah.
"Dia mana tahu mas. Kelamaan diluar negeri. Dah gitu gak pernah nginjek dapur. Mana tahu coba." Sahut Kinan sambil mengusap perutnya yang sudah buncit.
"Kasian sekali kamu Sep. Punya istri yang bisa apa apa. Jangankan masakin buat kamu, bikinin kamu kopi aja pasti gak bisa." Ledek Raka.
Nara langsung melotot mendengar cibiran Raka. Tapi, benar juga, dia memang tak bisa apa apa kecuali rumus matematika.
"Bukan gak bisa mas. Tapi belum bisa. Kalau mau belajar ya pasti bisa." Sahut Septian sambil menoleh kearah Nara dan menyentuh kepalanya.
Nara tersenyum malu malu lalu bergelayut dilengan suaminya.
"Pulang yuk, udah malem. Mama udah nanyain tadi."
Raka tergelak mendengarnya. "Kamu itu keluar sama suami Ra. Masih aja dicariin sama emak. Berasa ngajakin anak gadis orang keluar gak sih Sep kalau gitu?" Lagi lagi Raka mencibir.
"Suka suka kamu lah mas. Ayo pulang bang." Nara malas menanggapi. Dia berdiri sambil menarik lengan Septian.
"Ya udah pulang sana. Ini sudah jadwalnya Mas mau tugas malam." Celetuk Raka sambil melirik Kinan. Sedangkan yang dilirik hanya bisa geleng geleng.
"Tugas malam teroosss..... Pantesan Tuh pabrik gak berhenti produksi. Baru juga nikah 5 tahun, anak udah mau 3 aja." Ledek Nara dan langsung disambut gelak tawa oleh lainnya.
Setalah berpamitan, Septian dan Nara langsung bergegas pulang. Dalam perjalanan, Nara tak banyak bicara. Wanita itu tampak berkali kali menguap. Sudah sangat ngantuk sepertinya.
Dan benar saja, sesampainya dirumah, Nara sudah ketiduran. Tak tega membangunkan istrinya, Septian memilih mengangkat tubuh Nara memasuki rumah.
"Nara kenapa Sep?" Tanya mama Tiur yang heran melihat Nara dalam gendongan suaminya.
"Gak papa mah, cuma ketiduran dimobil."
Tiur menghela nafas lega mendengarnya. "Ya udah, bangunin aja. Takkan mau kamu gendong sampai keatas?" Tiur menoleh kearah tangga.
"Masih muda mah. Kuatlah gendong sampai atas." Celetuk Satrio yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
Septian hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Papa mertuanya itu memang selalu menohok setiap berbicara.
"Kuat kok mah." Jawab Septian dan langsung melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Sesampainya dikamar, Septian segera merebahkan tubuh Nara diatas ranjang. Dia mengatur Nafasnya yang sedikit ngos ngosan. Nara lumayan berat juga. Walaupun kurus, postur tubuh yang lumayan tinggi membuatnya berat. Belum lagi ditambah hamil, sudah pasti berat badannya naik.
Septian mengecup kening Nara lalu berganti pakaian dan mencuci muka dikamar mandi. Setelah mencuci muka, lelah dan ngantuknya terasa hilang. Merasa tubuhnya terasa segar kembali, dia memilih mengerjakan skripsi.
Nara terbangun saat tak merasakan Septian ada disebelahnya. Dia membuka mata dan mengedarkan pandangannya. Dilihatnya Septian yang sedang duduk dimeja kerjanya sambil menatap laptop.
"Udah malem bang, kok belum tidur?" Septian menoleh saat mendengar suara Nara. Ternyata, istrinya itu sudah berdiri dibelakangnya.
"Loh, kamu kok bangun sih Ra?"
__ADS_1
"Udah mau jam 12 bang, tidur yuk." Ajak Nara sambil merangkul bahu Septian dari belakang.
"Kamu tidur dulu aja. Abang selesaiin ini dulu. Bentar lagi abang nyusul." Ucapnya sambil kembali fokus ke laptop yang sayangnya sedang ngelag itu.
"Pakai laptop aku aja. Ngelag mulu gitu."
"Maklum, laptop lama. Udah gitu dipakai aku sama Shaila gantian. Capek kali dia." Itulah alasan Septian sering meminjam laptop Mayang. Shaila sering kali ada tugas sekolah yang mengharuskannya memakai laptop.
"Ya udah sih, pakai punyaku aja."
"Tanggung tinggal dikit ini. Lain kali aja pakai punya kamu. Duduk sini Ra." Septian menepuk pahanya. Nara yang paham, langsung duduk miring dipangkuan Septian.
"Mau aku bantuin?"
"Gak usah, temenin doang."
"Tapi abang makin susah ngetiknya kalau sambil mengku aku gini." Ujar Nara sambil menyentuh rahang kokoh milik Septian.
"Gak papa, tinggal dikit aja. Nuntasin bab ini doang." Jawabnya sambil mengusap puncak kepala Nara.
Nara memeluk pinggang dan membenamkan wajahnya didada bidang Septian. Menghirup aroma maskulin yang walaupun malam masih tercium dari tubuh suaminya itu. Nara berusaha tak banyak gerak agar Septian tak kesulitan mengerjakan skripsinya.
Septian kembali fokus pada layar monitor. Sesekali, dia mencium puncak kepala nara. Sedangkan Nara, wanita itu merasa ngantuknya datang lagi. Dia memejamkan mata dan mencari tempat ternyaman didada Septian.
"Ra, tidur ya?" Tanya Septian saat tak merasakan lagi pergerakan Nara.
"Belum."
"Tadi ibu telepon. Sabtu ini, kita disuruh nginep disana. Dirumah ada tahlilan rutin ibu ibu. Mereka pada kepo pengen tahu mantunya Bu Lastri. Kamu gak keberatankan kalau dikenalin ke ibu ibu kampung area rumahku. Kita kan gak gelar acara pernikahan ditempatku, jadi gak ada yang pada kenal kamu."
"Ya enggak lah bang. Masa aku keberatan dikenalin ketetangga kamu. Seneng malahan akunya."
"Tentang nginep dirumahku gimana? gak keberatan juga?"
"Ya enggak lah."
"Aku gak masalah kok."
Rasanya lega sekali mendengar jawaban Nara. Septian sudah overthinking sejak ibunya telepon tadi siang. Takut jika Nara menolak.
"Ya udah, kalau gitu, besok aku kabari ibu, kalau kamu setuju nginep disana."
"Bang.."
"Hem."
"Lapar." Ucap Nara sambil mendongak menatap Septian.
"Ya udah, kita turun kebawah nyari makanan didapur."
Nara menggeleng. "Pengen bakso."
"Astaga Ra, ini udah jam 12 malam. Mana ada bakso jam segini."
Septian jadi teringat obrolan temannya dulu. Dia bilang, orang hamil sering minta aneh aneh, atau bahasa lainnya ngidam. Apa ini termasuk?
"Abang cariin diaplikasi ya, kali aja masih ada yang buka. Kita bisa delivery."
Nara menggeleng cepat. "Pengen makan ditempat. Gak enak bakso kalau delivery."
Septian hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Resiko punya istri hamil. Yang sewaktu waktu bisa ngidam yang aneh aneh.
Septian dan Nara berkeliling mencari kedai bakso yang buka. Tapi susah karena rata rata sudah tutup dijam ini. Palingan cuma pedagang nasi goreng dan sate gerobak yang masih mangkal.
Saat hampir putus asa. Nara melihat gerobak bakso yang mangkal di pinggir jalan. Senyumnya langsung mengembang. Dan dia segera menyuruh Septian untuk berhenti.
__ADS_1
"Bakso dua mang." Ujar Septian pada bapak bapak penjual bakso.
"Enggeh, enggeh. Silakan duduk dulu." Penjual itu menunjuk deretan kursi plastik yang mengelilingi meja panjang. Tempat yang memang dia sediakan untuk pembeli. Sementara dia segera membuatkan pesanan.
"Mangga baksonya." Ucap penjual itu sambil meletakkan bakso diatas meja panjang.
Nara dan Septian langsung mengambil baksonya masing masing.
"Jangan banyak banyak." Septian menahan tangan Nara yang ingin menambahkan banyak sambal di baksonya.
Nara cemburut tapi tetap menuruti titah Septian.
"Biasa tutup jam berapa mang?" Tanya Septian.
"Biasanya sebelum jam 12. Tapi hari ini sepi, jadi belum habis."
"Wah, berarti rezeki anak saya dong. Istri saya hamil. Tengah malam ngidam makan bakso. Udah keliling keliling daritadi. Beruntung masih ada mamang yang belum tutup."
"Walah, neng cantik ini lagi hamil toh. Sama dengan istri saya dirumah."
"Anak keberapa mang?"
"Pertama. Kami sudah sepuluh tahun lebih menikah. Tapi belum dikasih rezeki momongan. Baru sekarang dikasihnya." Jawab penjual bakso itu dengan wajah bahagia. Diusianya yang tampak seperti awal 40an. Dia baru akan menjadi seorang ayah.
Nara yang mendengar itu langsung menghentikan makannya. Hatinya terasa tercubit mengingat apa yang pernah dia perbuat dulu.
"Mas sama neng ini harus banyak bersyukur. Masih muda, udah dikasih rezeki momongan."
Nara mengusap perutnya, matanya mulai berkaca kaca. Teringat jika dua kali dia mendatangai klinik aborsi. Belum lagi usahanya mencari buah nanas. Dan yang terakhir, membeli obat peluruh janin.
Septian yang melihat perubahan raut wajah Nara segera memegang tangannya. "Gak papa." Ujarnya tanpa mengeluarkan suara.
"Berapa lama menikah?"
Deg
Septian segera menelan bakso yang masih ada didalam mulut. Pertanyaan yang sungguh akan memalukan jika dia jawab jujur.
"Em... baru mang." Jawaban yang paling tepat..
"Berarti langsung ya. Nikah, terus langsung hamil. Rezeki itu, harus banyak banyak bersyukur."
"Iya mang." Jawabnya sambil menoleh kearah Nara.
Setelah menghabiskan baksonya. Septian segera mengeluarkan dompet untuk membayar.
"Berapa mang?"
"40 ribu mas."
Septian yang hendak menarik uang berwarna biru ditahan oleh Nara. Wanita itu malah mengambil dompet Septian. Mengeluarkan semua uang berwarna merah yang berjumlah 4 lembar didompet suaminya.
"Ini mang." Nara mengulurkan 4 lembar uang seratus ribuan kearah penjual bakso. Septian yang melihatnya hanya bisa melongo. Cuma itu sisa uang didompetnya. Setelah kemarin, sebagian gajinya dia beri pada Nara. Belum lagi tadi sore buat periksa kandungan. Itu artinya, dia harus menguras atm nya lagi.
"Banyak sekali neng?" Penjual itu ragu menerima.
"Rezeki untuk istri dan calon anak mamang. Lagi pula hari ini sepi kan? ambil saja pak."
"Terimakasih banyak neng, mas. Semoga neng sama mas rejekinya makin lancar." Ucap Penjual bakso sambil tersenyum bahagia.
"Amin.. " Jawab Septian dan Nara bersamaan.
"Nih." Nara mengembalikan dompet yang isinya tinggal selembar uang biru dan beberpaa uang coklat itu pada Septian. Nara tak bisa menahan tawa melihat wajah pias suaminya.
"Entar aku gantiin." Bisiknya sambil terkekeh.
__ADS_1
.
Jangan lupa, sempatkan like, komen, hadiah dan besok, jangan lupa votenya