
Sudah lebih dari tengah malam tapi Diego belum juga bisa tidur. Dia hanya membolak balikkan badan diatas ranjang berukuran king size dikamarnya. Pikirannya masih berkecamuk tentang kejadian siang tadi. Ada hubungan apa sebenarnya Shaila dengan Fahmi? Ingin bertanya langsung, tapi tak enak. Entar dikira terlalu ikut campur, padahal gak ada status hubungan apa apa.
Ingin rasanya, cowok itu mengirim chat pada Shaila, tapi sekarang sudah lebih dari tengah malam. Tepatnya sudah jam 1 dini hari. Apakah pantas dia mengirim chat diwaktu ini?
Tapi saat dia iseng membuka room chat Shaila, ternyata cewek itu sedang online. Jam segini, online? kira kira sedang chat dengan siapa? Pikiran Diego kian berkecamuk.
Malam
Dihapus lagi tulisan itu sebelum disend, karena ini sudah lewat tengah malam.
Lagi apa?
Dihapusnya juga ketikan itu.
Hanya untuk mengirim sebuah chat, kenapa rasanya sesusah ini. Bahkan lebih susah dari menulis skripsi.
"Belum tidur?"
Akhirnya, kata basi basi itu yang dia kirim pada Shaila.
Satu detik, dua detik, hingga lebih dari sepuluh detik, tak ada balasan. Bahkan belum centang biru. Sedang sibuk chat dengaan siapakah tengah malam begini? apakah Fahmi?
Diego mengacak acak rambutnya sendiri. Dia benar benar frustrasi. Dia mengambil bantal lalu dia remas remas dan pukul pukul untuk melampiaskan kekesalan.
Kling
Bunyi yang terdengar seperti tetesan hujan di bulan juli. Sangat menyejukkan.
Diego menarik nafas lalu membuang perlahan. Dia harus mempersiapkan hati sebelum kecewa. Takutnya, itu bukan suara notif pesan dari Shaila, melainkan orang lain.
Belum
Ingin rasanya Diego guling guling dikasur saking senangnya. Shaila membalas chatnya. Dan ini belum 3 menit. Bisa masuk rekor, balasan tercepat. Karena selama ini, Shaila selalu lama membalas pesan
Tumben?
Balas Diego.
Sudah lebih dari 5 menit tapi belum dibalas. Padahal online. Sedang sibuk dengan siapakan cewek ini, Diego terus bertanya tanya.
Kamu lagi chat sama siapa sih? Fahmi ya? Ada hubungan apa sama dia?
Saking kesal dan penasaran, akhirnya kalimat itu dia kirim juga.
Kalau iya, kenapa? marah?
Mata Diego terbuka lebar. Jadi mereka ada hubungan?
Pengen marah. Tapi aku sadar bukan siapa siapa kamu. Tapi satu hal yang tak bisa aku kendalikan dari perasannku. Aku cemburu.
Diego harap harap cemas menunggu balasan dari Shaila. Kira kira, apakah cewek itu marah dengan kejujurannya.
__ADS_1
Aku cuma lagi chat di grup sekolah. Aku gak ada hubungan spesial sama kak Fahmi. Kita hanya teman biasa saja karena dia saudara mantannya bang Asep.
Yesss... Teriak Diego. Perasaan yang mengganjal sejak tadi akhirnya ambyar. Berganti menjadi ribuan kupu kupu yang terasa menggelitiki dada dan perutnya. Senyum tersungging di bibirnya. Hatinya riang tak terkira karena Shaila tak ada hubungan dengan Fahmi.
Eh.. tunggu dulu. Diego menghentikan selebrasinya. Gimana kalau Fahmi ternyata diam diam suka Shaila?
Disaat dia sibuk dengan pikirannya, ponselnya kembali berbunyi. Ternyata chat dari Shaila.
Udah sampai mana hafalannya?
Sebuah kemajuan, jangankan bertanya, biasanya Shaila hanya menjawab singkat saja chat darinya.
Baru sampai Al bayyinah ~ Diego
Udah jauh dong. Figthing ~ Shaila
Mata Diego terbelalak melihat chat dari Shaila. Benarkah cewek itu sedang menyemangatinya sekarang. Apa itu artinya, lampu hijau?
Saking bahagianya, Diego sampai bingung untuk membalas apa. Dia senyum senyum sendiri dikamar seperti orang gila.
"Assalamualaikum." Deg, jantung Diego seperti melompat keluar saat dia tiba tiba mendengar suara Shaila. Dia menoleh sekeliling, tak ada siapa siapa? Apa dia sedang berhalusinasi?
"Vidio call tapi kok gak mau nunjukin wajah?"
Jederrr
Seketika Diego menatap ponselnya. Ada wajah Shaila disana. Ternyata, dia tak sengaja menekan tombol VC.
"Lagi apa?" Tanya Diego.
"Lagi vcall sama kamu."
"Hehehe... iya iya." Diego tertawa absurd. Jantungnya berdegup kencang. Hanya vcall, kenapa sampai nerveous begini.
"Kok diem? biasanya banyak omong?"
"Hah!" Diego melongo seperti orang bingung.
"Hahaha... kamu kenapa sih? Biasanya gak gini deh?" Biasanya, Shaila yang gugup. Sekarang, posisi seperti terbalik 180 derajat. Diego yang sampai speechless, tak tahu harus ngomong apa.
"Sss... Sha."
"Iya."
"Mau denger aku hafalan gak?"
Shaila seketika mengangguk cepat. Senyumnya merekah, mambuat Diego kian bersemangat.
Diego menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dengan diawali basmalah, dia memulai hafalan surat pendeknya.
Shaila hanya menyimak sambil sesekali tersenyum. Melihat Diego seperti ini, auranya terlihat makin kuat.
__ADS_1
"Kok gak dikoreksi? bener semua ya?" Tanya Diego setelah melantunkan beberapa surat pendek.
"Hah!" Shaila gelagapan. Dia menunduk malu dengan wajah memerah. Terlalu terpesona dengan Diego, dia sampai tak memperhatikan bacaan cowok itu.
"Hahaha... "Diego menyeringai kecil. "Ada yang terpesona nih kayaknya?"
Blush
Wajah Shaila makin merah. Dia sungguh malu.
"U, udah dulu ya. Aku ngantuk." Shaila segera mengakhiri vidio callnya bahkan sebelum Diego menjawab.
"Tunggu se." Ucapan Diego menggantung diudara karena Shaila sudah terlanjur menutup teleponnya.
Setelah telepon berakhir, Diego tiduran sambil menatap langit langit kamarnya. Dia tak pernah kepirikiran menikah muda. Selama ini, hanya senang senang yang ada dalam kepalanya. Tapi saat ini, dia benar benar ingin segera menikah muda.
Saat pikirannya traveling membayangkan menikah muda. Ponselnya tiba tiba berdering. Tertulis nama Anna dilayar. Biasanya, dia begitu semangat menjawab panggilan dari Anna. Tapi saat ini, dia bahkan tak berminat sama sekali. Diraihnya ponsel dan segera dia matikan dayanya.
...*******...
Seperti biasa, jam 9 pagi, Shaila sudah sampai di cafe. Ada yang beda hari ini. Cafe terlihat ramai padahal belum jam buka. Beberapa orang tampak mendesign cafe untuk sebuah acara. Belum terlihat acara apa, hanya tampak susunan bunga dan lampu lampu.
Shaila mendekati Mila yang kebetulan berada tak jauh darinya.
"Ada apa?" Tanyanya sambil menunjuk dagu kearah orang orang yang sedang sibuk menghias sudut cafe.
"Katanya sih, disewa buat acara lamaran." Jawab Mila.
"Siapa?"
"Gak tahu." Jawab Mila sambil mengedikkan bahu. "Katanya youtuber. Biasalah, orang orang kayak gitu. Apa apa dikit, dimewah mewahin, dibuat konten."
"Udah ijin sama abang?"
"Kata mereka sih udah."
Shaila merasa pernah melihat salah satu dari mereka. Tapi siapa, dimana? Dia sama sekali tak ingat.
"Bengong aja." Mila menyenggol lengan Shaila.
"Kayak pernah lihat orang itu deh." Shaila menunjuk salah satu orang yang sedang sibuk itu.
"Salah orang kali. Kedapur aja yuk, kita ada pesenan banyak." Ujar Mila.
"Kok aku gak tahu?" Shaila tampak heran. Biasanya dia lebih tahu daripada Mila. "Buat apa emangnya. Buat meeting?"
"Bukan, buat acara lamaran itulah."
"Oh.. "
"Kedapur yuk."
__ADS_1
Shaila mengangguk dan langsung mengekor dibelakang Mila menuju dapur.