Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
HEMPASKAN PELAKOR


__ADS_3

Nara mulai belingsatan saat Septian menciumi leher hingga bagian dadanya. Dan beberapa tanda merah mulai tampak bertebaran terutama disekitaran dada yang putih dan mulus itu. Dengan cekatan, Septian menurunkan tali gaun tidur hingga benda itu melorot keperut.


Nara yang sedang tak memakai Bra, membuatnya tak perlu susah susah lagi untuk melepas benda itu. Sekarang dua buah kesukaannya itu terpampang jelas didepan mata.


"Auh....Abang jangan gigit." Lenguh Nara saat Septian menggigit puncak dadanya. Memang terasa nikmat, tapi sedikit perih.


"Gemes banget Ra."


Septian terus menyantap sarapan paginya yang nikmat itu. Seperti tak bosan bosan untuk terus mengulum dan memainkannya.


"Ahhhh.... abang.... udah, jangan lama lama disitu."


Septian baru teringat jika dia hanya punya waktu 15 menit. Mau tak mau, dia harus bisa menyingkat pemanasannya.


"Ya udah pindah ke sofa yuk." Ajaknya.


"Kok ke sofa? kenapa gak ke ranjang?"


"Pengen suasana baru Ra. Gaya baru juga." Bisiknya sambil mencium cuping telinga Nara.


Nara hanya menurut saja saat Septian menarik tangannya menuju sofa. Setelah keduanya sama sama polos, Septian langsung menyerang bibir Nara. Saling beradu bibir hingga bertukar saliva.


Septian yang merasakan milik Nara sudah sangat basah, segera memposisikan dirinya. Dia duduk setengah rebahan diatas sofa lalu menyuruh Nara duduk diatasnya.


"Gak papa bang, gak bahaya buat baby?" Nara masih ragu ragu.


"Enggak Ra, udah naik aja. Masukin pelan pelan." Ujar Septian sambil membantu Nara menyatukan milik mereka.


"Uhhh... " Lenguh Nara saat milik suaminya terbenam sempurna didalam miliknya.


tok tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi keduanya.


"Septian, Septian." Teriakan mama Tiur dari balik pintu mengurungkan niat Nara untuk menggerakkan pinggulnya.


"Nara....Septian... "


"Iya mah." Jawab Nara.


"Mang Dadang pingsan. Suruh Septian bantu ngangkat dan bawa ke rumah sakit."


Septian ketika frustrasi. Kenapa saat posisi sudah pas, gangguan malah datang.


"Iya mah." Jawab Nara sambil bangkit dari atas tubuh Septian. Membuat senjata panjang yang masih berdiri tegak itu, harus rela untuk berpisah dengan sarangnya.


"Itu Mang Dadang, bisa gak sih pingsannya dipending dulu." Ujar Septian sambil mengacak acak rambutnya karena frustrasi.


Antara kasihan dan lucu, seperti itulah Nara melihat ekspresi wajah suaminya. Tapi mau gimana lagi, terpaksa gaya baru harus dipending dulu. Momennya sedang tidak tepat.


Septian dan Nara buru buru mengenakan pakaian lalu turun kebawah. Didapur, tampak Bik Surti yang sedang menangisi Mang Dadang.


...*****...


Hari ini, Septian ke kampus untuk bertemu Pak Yudha. Tinggal beberapa hari lagi dia sidang. Dia juga sudah minta ijin ke manager coffee shop selama 2 hari pas sidang dan hari sebelumnya. Dia tak ingin sampai mengulang. Selain karena ingin cepat lulus, juga karena malu pada papa Satrio jika sampai tidak lulus.


"Bagus semua Sep. Kamu tampaknya juga sudah sangat siap." Ujar Pak Yudha.


"Alhamdulillah pak, dapat banyak bimbingan dari Bapak, Nara dan papa."


"Semoga sukses. Jangan lupa jaga stamina pas hari H. Jangan sampai sakit, istirahat yang cukup."


"Baik pak, terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu." Septian segera keluar dari ruang dosen.


Dia melihat chat terakhir dengan Nara. Istrinya itu masih mengajar, sekitar 15 menit lagi baru selesai. Dengan semangat 45, Septian melangkahkan kaki menuju fakultas MIPA. Dan sesekali, menyapa mahasiswa yang dia kenal.


Dia langsung menuju kelas dimana Nara mengajar. Menunggu tak jauh dari situ agar bisa menegur atau sekedar melihat saja. Padahal dirumah juga ketemu. Tapi rasanya kangen jika seharian dikampus tak bertemu Nara.


"Cie. Cie.. . ngapain main kesini, nungguin bini?" Goda Johan yang baru saja menghampirinya.


"Iya lah bro." Jawab Septian santai.

__ADS_1


"Eh... perut bini lo udah semakin besar. Anak anak pada banyak yang kasak kusuk. Menduga duga apakah Bu Nara hamil."


"Masak sih?"


"Iya. Emang sampai kapan sih mau dirahasiain?"


"Kata Nara sih, dosen FMIPA udah pada tahu semua kalau dia hamil. Ya, walaupun belum pada tahu siapa suaminya."


Septian melihat ruang kelas Nara terbuka. Beberpaa mahasiswa sudah tampak keluar dari sana.


"Asep..." Teriak seorang cewek yang tak lain adalah Mayang. Sial sekali, kenapa pas dia pengen ketemu Nara, selalu pas ngajar dikelas Mayang.


Cewek itu langsung menghampiri Septian dan Johan.


"Asep, kamu tuh susah banget sih sekarang dicariin. Jarang banget ke kampus, dah gitu gak pernah balas chat aku." Ujar Mayang sambil cemberut.


"Asep udah nikah Yang. Bukannya gue udah pernah bilang. Ngapain lagi sih nyariin Asep. Kenapa gak nyari gue aja yang jelas jelas jomblo." Sahut Johan. Tapi malah mendapat nyengiran dari Mayang.


"Beneran kamu udah nikah Sep?" Tanya Mayang sambil bergelayut dilengan Septian. Sejak kecil dia memang mengejar ngejar Septian. Tapi selalu diabaikan oleh pria itu.


"Yang jangan gini dong." Septian berusaha melepaskan lengannya dari belitan tangan Mayang. Takut jika Nara tiba tiba keluar lalu salah paham.


"Kamu bohong kan Sep, kamu belum nikah kan?" Mayang malah mengeratkan belitan tangannya dilengan Asep.


Dan disaat itu, Nara muncul dari ruang kelas. Dan wanita itu langsung memberikan tatapan tak suka.


"Yang lepas." Sentak Septian yang kesal karena ulah Mayang. Mereka memang dekat, karena sejak kecil tumbuh bersama. Mayang diasuh orang tua Septian sejak balita hingga kelas 6 SD karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Tentu saja tidak gratis, melainkan dibayar.


"Enggak." Salak Mayang yang kekeh tak mau melepaskan lengan Septian. "Sebelum kamu jujur sama aku, kalau kamu belum nikah. Kalaupun udah nikah, kenapa aku dan orang tuaku gak diundang?" Seru Mayang.


"Sep, jawab Sep?"


Septian tak bisa fokus pada pertanyaan Mayang karena Nara sedang berjalan kearah mereka. Jantungnya berdegup kencang, takut jika istrinya tak bisa mengontrol emosinya dan tiba tiba ngamuk.


Tak beda dengan Septian. Johan juga tampak tegang. Dia takut terjadi perang dunia.


"Permisi, bisa tolong lepasin tangannya Septian." Ujar Nara yang sekarang sudah berdiri didepan Mayang.


Melihat ada dosen, Mayang mau tak mau melepaskan tangan Septian.


"Septian bisa ikut saya sebentar. Ada yang perlu kita bicarakan." Ucap Nara dengan gaya seelegan mungkin. Bagaimanapun dia dosen, citranya harus tetap dijaga.


"Ada urusan apa sama Asep Bu? Ibu kan gak ngajar dia?" Mayang mulai kepo.


"Ada urusan penting. Maaf, ini rahasia, jadi gak bisa saya kasih tahu kekamu. Ayo Septian."


"Baik Bu." Septian langsung mengikuti langkah Nara hingga mereka berhenti ditempat yang tak begitu ramai.


Nara melipat kedua tangannya sambil memelototi Septian. Tampak sekali jika dia sedang dalam mode cemburu.


"Maaf, aku udah coba ngelepasin tangan Mayang tadi."


"Tauk ah." Sahut Nara sambil mengerucutkan bibir. "Udah ah, aku mau kekantin sama dosen yang lain." Nara meninggalkan Septian begitu saja.


...*****...


Dikantin, Nara tengah makan sambil berbincang bincang dengan dosen lainnya. Dia melihat Septian datang dan duduk di meja yang tak jauh darinya.


"Bu Nara beneran hamil?" Tanya Bu Sasti.


"Iya bu."


"Kita kita aja gak tahu kalau Bu Nara menikah, tiba tiba aja udah hamil."


"Bulan depan rencana mau ngadain acara tujuh bulanan dirumah. Ibu ibu datang ya."


Mama Tiur dan Nara berencana untuk mengadakan syukuran tujuh bulanan besar besaran. Sebagai ganti karena pernikahannya dulu hanya dihadiri segelintir orang saja.


"Kalau diundang ya pasti datang Bu."


Nara tak bisa fokus lagi pada obrolannya saat melihat Mayang datang menghampiri Septian dan Johan yang sedang makan.

__ADS_1


"Kok lo tahu gue ada disini?" Tanya Septian yang kaget karena Mayang tiba tiba duduk disebelahnya. Dia segera menatap Nara, dan seperti dugaannya, istrinya itu memberikan tatapan marah.


"Tahulah, mata gue kan banyak." Jawab Mayang sambil mengangkat gelas es jeruk milik Septian.


"Itu minuman gue."


"Pelit, minta dikit." Seru Mayang sambil melotot.


BYURR


"Astaga." Pekik Mayang saking kagetnya. Dia yang hendak menyedot terpaksa gagal karena Nara menyenggolnya hingga sebagian es itu tumpah mengenai kemejanya.


"Sorry." Ucap Nara dengan tampang bersalah yang dibuat buat.


"Bu Nara apa apa sih?" Pekik Mayang tertahan sambil meletakkan gelas itu kembali. Jelas dia tak berani memarahi Nara. Takut dapat nilai E.


"Maaf May, kepala ibu mendadak pusing. Maaf ya, gak sengaja."


"Pusing ya Bu, duduk sini Bu. Lo minggir Yang." Septian mendorong tubuh Mayang agar berdiri.


Setelah Mayang berdiri, Nara langsung duduk disebelah Septian lalu meminum es jeruk yang tadi hampir diminum Mayang.


"Loh loh Bu, itu minumannya Asep. Main sedot aja." Protes Mayang yang tak terima.


"Astaga, maaf ya Sep. Ibu pusing, jadi main sedot aja minuman kamu." Ucap Nara sambil tersenyum ke arah Septian.


Johan yang duduk didepan Asep hanya bisa menahan tawa sambil memegangi perutnya. Siang siang disuguhi drama rumah tangga yang kocak. Lumayan, bisa jadi mood boosternya yang habis ini mau ada kuis.


"Udah gak pusing bu. Saya mau duduk." Tanya Mayang.


"Duduk sini kan bisa Yang." Johan menepuk space kosong disebelahnya.


"Ogah, aku mau duduk disebelah Asep. Aww...." Tiba tiba Mayang memekik kesakitan karena lengannya dicengkeram Nara dengan sangat kuat.


"Bu Nara apa apaan sih, sakit tahu." Protes Mayang sambil mengusap lengannya.


"Maaf May, tadi anak ibu tiba tiba nendang kuat, jadi ibu kaget. Terus refleks mencengkeram lengan kamu."


"Astaga." Tampak sekali wajah Mayang yang memerah menahan marah. Tapi balik lagi, dia tak bisa berbuat apa apa mengingat Nara adalah dosennya.


"Jadi gosip ibu hamil itu beneran?"


"Iyalah, lihat nih perut ibu udah gede." Nara menunjukka perutnya.


"Jadi ibu gak pacaran sama Diego?"


"Ya enggaklah, Diego buat kamu aja." Jawab Nara sambil mengulum senyum termanisnya.


"Gak mau Bu. Saya maunya Asep aja."


Nara mengepalkan tangannya lalu berdiri.


"Aduh aduh... " Lagi lagi Mayang memekik kesakitan.


"Sory, keinjek ya." Nara pura pura bersalah.


Septian dan Johan kompak tertawa. Mereka sudah tak sanggup lagi menahan tawa.


"Kok kalian malah ngetawain aku sih?" Kesal Mayang sambil memelototi dua temannya itu. "Kaki gue sakit, baku juga kotor. Anterin gue pulang Sep."


"Septian, urusan kita tadi belum selesaikan. Ikut ibu keruang dosen sebentar."


Lagi lagi Mayang dibuat kesal karena Septian mengikuti langkah Nara meninggalkan kantin. Dia menghentak hentakkan kakinya dilantai sambil ngomel ngomel gak jelas.


"Duduk yang, nih minum biar kepala lo adem." Johan menyodorkan minumannya pada Mayang.


"Ogah gue minum bekas lo." Sinis Mayang lalu meninggalkan kantin dengan perasaan dongkol setengah mati.


.


TERIMAKASIH BUAT YANG MASIH SETIA MEMBACA. MUMPUNG SENIN, JANGAN LUPA VOTE NYA BUAT BANG ASEP DAN NARA.

__ADS_1


LIKE, KOMEN DAN HADIAH, SENANTIASA DITUNGGU.


__ADS_2