
Mata Abi memanas melihat screenshot yang dikirim Willy padanya. Willy adalah adik kelasnya dulu di SMA. Ss obrolan teman SMA angkatan Arumi mengenai postingan Nova. Dimana Nova mengadakan penggalangan dana untuk operasi jantung anak Arumi dan Abi.
Lola - Mau ketawa takut dosa.
Hani - Seriusan ini?
Joni - Mata gue gak lagi katarakkan? Karma dibayar kontan ini namanya.
Jihan - Nara mana Nara. Dimanapun lo berada, gue yakin, lo lagi ngakak sekarang.
Toyib - Jangan gitu dong guys. Teman lagi kesusahan, gak baik malah dijulidin. Yang mau bantu silakan, yang enggak juga gak papa. Kasihan noh si Arumi. Bukannya bebannya diringanin, malah berat gara gara baca KOMEN kalian.
Joni - Gue sih mau mau aja bantu. Tapi kalau ingat gue dulu pernah dibully sama Abi. Duit 500 rebu yang baru gue keluarin dari dompet, auto pengen masuk lagi.
Nova - Please guys, Arumi lagi butuh banget bantuan. Perihal dosanya, itu urusan dia. Tapi bayi malang itu, berhak mendapatkan uluran tangan kita.
Topan - Gue setuju sama Nova. Gue nyumbang Nov. Ke Rek yang tertera diatas kan?
Lola - Gue juga nyumbang, Itung Itung buat tabungan gue masuk surga.
Hani - Eh Nov, denger denger, anaknya down syndrome ya? Kasihan banget kalau bener. Gue juga nyumbang deh. Entar emak bapak gue, gue suruh nyumbang juga.
Tiyok - Cih, Si Abi yang sok paling ganteng se SMA ceritanya jadi orang kere nih sekarang. Sampai ngemis minta bantuan. Ngakak berjamaah yuk. Nara, untung lo gak jadi nikah sama dia.
Dan masih banyak lagi screenshot yang Abi tak mampu membacanya. Hatinya meradang, melepuh, bernanah, entah apa lagi. Predikat cowok most wanted disekolah dulu, seakan langsung ambyar mak byar. Harga dirinya seolah diinjak injak hingga hancur tak berbentuk. Apalagi sampai ada yang bilang dia ngemis, mau ditaruh mana mukanya.
Ini baru digrup SMA IPA angkatan Arumi. Mungkin saja Nova mengirim ke grup lain juga.
Setelah membereskan semua pekerjaannya, Abi langsung pulang. Tak sabar ingin meminta penjelasan pada Arumi.
BUGH
Arumi yang baru tertidur sekitar 10 menit, terpaksa bangun karena lengannya tertimpuk sesuatu. Apalagi kalau bukan ponsel yang dilemparkan Abi.
"Apa apaan sih Mas?" Tanya Arumi sambil mengucek mata. Mengumpulkan kembali kesadarannya yang masih tersebar. Padahal dia ingin tidur sebentar untuk menghilangkan pusing. Dia baru pulang dari rumah sakit satu jam yang lalu.
"Baca itu." Bentak Abi sambil menunjuk ponselnya yang berada disamping lengan Arumi.
Arumi mengambil ponsel tersebut lalu membuka kuncinya. Dilayar langsang muncul ss kiriman dari Willy.
"Kamu minta sumbangan? kenapa gak bilang sama aku dulu?" Abi meradang.
"Kalau aku bilang, apa kamu setuju?"
"Kalau sudah tahu aku gak setuju, kenapa masih kamu lakuin. Sengaja mau mempermalukan aku?" Abi menunjuk dirinya sendiri. Nafasnya memburu, wajahnya tampak mengeras. Gurat gurat kemarahan terlihat jelas disana.
__ADS_1
"Aku udah putus asa mengharapkan uang dari kamu. Berapa kalipun aku memohon, kamu tetep gak mau mengambil pinjaman di kantor. Aku terpaksa melakukan ini. Aku udah gak nemu jalan lain."
"Dan menurut kamu ini jalan?"
Arumi menengadahkan wajah untuk menahan agar air matanya tak turun. Dia ingin sekali tegar, lelah terus terusan menangis.
"Jawab." Teriak Abi sambil melempar vas bunga kelantai.
PYARRR
Pecahan beling berserakan dilantai. Kepala Arumi rasanya mau pecah seperti vas itu. Cobaan ini terlalu berat baginya. Tapi jiwa keibuannya, memaksa dia untuk tetap tegar.
"Ya, ini jalan satu satunya." Jawab Arumi.
"Kamu sadar gak sih Rum. Secara tidak langsung, kamu udah mengumbar aib keluarga kita. Kamu membuat aku dipandang rendah. Kamu membuat aku terlihat memalukan dimata semua orang. Dan satu lagi, semua orang jadi tahu tentang anak kita yang cacat. Kamu itu ngerti gak sih?"
"Aku tak pernah menganggap anak kita sebagai aib yang harus disembunyikan. Dan kalau kamu tak mau dipandang rendah, tinggikan derajatmu dengan menjadi ayah dan suami yang bertanggung jawab. Usahakan uang untuk biaya operasi anak kita."
"Aku udah usaha. Tapi belum dapat, terus aku harus bagaimana?"
"Udah usaha? kenapa aku gak lihat?" Cibir Arumi sambil tersenyum meremehkan.
"Aku udah coba pinjam ke mama sama papa, tapi mereka tak mau meminjami."
"Hanya sampai disitu kamu bilang usaha?" Arumi tersenyum getir. "Masih banyak jalan lain selain minta bantuan orang tua kamu. Kamu bisa mengajukan pinjaman di kantor, kamu bisa jual Mobil, motor, atau jual barang berharga lainnya."
"Tega ya kamu mas. Dimana hati nurani kamu. Anak sendiri kamu doakan mati. Kamu manusia apa bukan?" Arumi sudah berada di batas kesabaran terakhirnya. Rasanya, dia sudah tak sanggup lagi menghadapi Abi. Arumi beranjak dari atas ranjang. Lebih baik dia kembali kerumah sakit daripada dirumah yang terasa seperti neraka.
Baru juga hendak mengambil baju di almari, ponselnya tiba tiba berbunyi.
"Hallo."
"(____)
pluk
Arumi menjatuhkan ponsel ditangannya. Tubuhnya terasa tak bertulang dan langsung luruh kelantai. Tatapannya kosong, tak ada air mata. Mungkin sudah mengering karena terlalu banyak yang sudah dia tumpahkan.
"Ada apa?" Tanya Abi yang penasaran dengan apa yang baru Arumi dengar dari telepon.
Arumi mendongak, menatap nyalang kearah Abi. Dia tersenyum, tapi senyuman yang teramat getir.
"Selamat Mas. Doa kamu akhirnya terkabul. Anak kita me..ning... gal."
...******...
__ADS_1
Berita tentang kematian anak Arumi dan Abi langsung menyebar. Nova berniat mengembalikan uang donasi, tapi sebagian besar menolak dan menyumbangkan uang itu sebagai uang duka cita.
Dan berita itu, jelas terdengar sampai ditelinga Nara. Siapa lagi kalau bukan Nova yang memberitahunya.
"Ada apa?" Tanya Septian yang melihat perubahan raut muka Nara setelah membaca pesan.
"Arumi, anaknya meninggal dunia."
"Innalillahi wa Ina ilahi rojiun."
Septian merangkul Nara yang saat itu duduk disebelahnya.
"Mungkin itu yang terbaik untuknya. Setidaknya, dia sudah terbebas dari kesakitannya." Ucap Septian sambil menggenggam tangan Nara.
"Abang udah gak pernah komunikasi sama Abi lagi kan?"
"Enggaklah, buat apa. Sejak tahu dia mantan kamu, abang gak mau lagi berurusan sama dia."
"Nova bilang, besok anak anak alumni SMA, mau takziyah. Menurut abang, aku ikut apa tidak?"
"Kenapa harus menurut abang? tanyakan pada hati kamu sendiri, bagaimana sebaiknya."
"Jujur, hatiku belum tergerak untuk ikut berbela sungkawa."
"Ya udah, kalau gitu gak usah datang. Lagian kamu datang atau enggak, gak akan ada bedanya."
"Semoga anak kita selalu sehat ya bang."
"Amin. Oh iya, Kayaknya mulai besok abang akan sibuk deh. Besok mulai mendesign interior cafe. Belum lagi, abang mesti terus uji coba rasa. Pengen nyiptain Kopi yang benar benar bikin nagih. Yang bikin orang pengen lagi dan lagi setelah minum kopi buatan abang."
Cup
Nara mengecup singkat bibir Septian.
"Kayak bibir abang aja bikin nagih." Ujar Nara sambil mengusap bibir yang baru saja diciumnya.
"Yakin cuma bibir aja yang bikin nagih???" Goda Septian sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hem." Nara mengangguk sambil senyum senyum.
"Jadi yang ini gak bikin nagih?" Tanya Septian sambil menuntun tangan Nara menuju bagian sensitifnya.
Nara menggeleng.
"Yang itu gak bikin nagih, tapi bikin men de sah sambil merem melek."
__ADS_1
"Masak sih, gak yakin abang bisa bikin gitu. Kayaknya, butuh pembuktian nih. Pengen ngelihat langsung."
Tawa Nara langsung meledak mendengarnya.