Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BUTUH WAKTU


__ADS_3

Selain Shaila dan Diego yang tampak kaget. Septian lebih kaget lagi. Shaila menikah dengan Diego? mana rela dia. Adiknya terlalu baik untuk cowok semacam Diego yang terkenal play boy.


Septian berdecak dengan wajah masam. Dan hal itu tak lepas dari perhatian Shaila. Cewek itu tahu betul abangnya tak menyukai Diego.


"Bagaimana Bu? Ibu setuju Menikahlah Shaila dengan Diego?" Tanya Mama Eva pada Bu Lastri.


Bu Lastri tampak bingung. Dia tak terlau mengenal keluarga mereka. Jelas dia tak mau menyerahkan putrinya pada keluarga yang belum jelas.


"Maaf ya bu, belum terlalu kenal tapi udah mau ngelamar aja." Ucap Mama Eva sungkan. "Jeng Tiur kenal kok sama keluarga kami. Insyaallah keluarga kami keluarga baik baik. Papanya Diego ini, salah satu mantan anggota dewan. Pak Dion Pratama, tahukan, dulu sering masuk TV."


Bu Lastri mengangguk canggung. Dia baru tahu jika Diego anak mantan pejabat.


Sombong, batin Septian.


"Maaf sekali, bukannya mau sombong. Hanya ingin ibu tahu saja, jika kami dari keluarga baik baik."


Septian menelan ludahnya susah payah. Kenapa mama Diego seperti bisa membaca suara hatinya.


"Tidak ada niat untuk menyombongkan diri sama sekali. Lagi pula suami saya juga sudah tidak ikut politik lagi sekarang. Dia lebih milih ngurusin usaha saja." Lanjut mama Eva..


"Iya Bu Lastri, saya kenal baik dengan keluarga mereka." Mama Tiur menimpali. "


Bu Lastri hanya mendengar sambil sesekali mengangguk saja. Mendengar silsilah keluarga Diego membuat dia makin ragu menyerahkan Shaila. Mampukah putrinya beradaptasi dengan keluarga mereka. Apalagi Shaila hanya lulusan SMA dan masih terlalu muda. Septian yang kuliah dan sudah dewasa saja, terkesan susah berbaur dengan keluarga Nara.


"Kalau masalah Diego masih kuliah, jangan khawatir, tahun depan sudah lulus. Dan lagi, dia sudah bisa mencari uang sendiri. Dia sudah punya usaha toko laptop, udah ada 2 cabangnya. Ya, walaupun modal awalnya dari papanya. Tapi dia berhasil mengelola dengan baik."


Lagi lagi Septian mendengus mendengar mama Eva yang membanggakan anaknya. Kenapa hanya positifnya saja yang dibahas, kenapa predikat playboy nya tak diungkap juga, gerutu Septian dalam hati.


"Selain itu, Diego juga dapat penghasilan dari endorsmen. Saya rasa, dia sudah mampu menjadi suami. Mampu untuk memberikan nafkah pada Shaila."


Septian seperti tersindir mendengarnya.


"Wah hebat sekali Diego. Masih muda sudah sukses." Puji papa satrio.


Sial, kenapa papa Satrio ikut memuji, bikin Septian makin panas saja. Selama ini, papa seperti meremehkankannya. Tapi sekarang malah memuji Diego. Rasanya, dia semakin kecil saja.


"Saya kerja sama dengan cafe Septian juga kok om." Ujar Diego.


"Benarkah?" Papa Satrio tampak antusias.


"Iya, dan saya rasa, cepat atau lambat cafe itu akan maju pesat. Dan akan segera buka cabang ditempat lain." Jawab Diego sambil melirik Asep. Modus biar dapat restu.


Dih, cari muka nih anak. Dikiranya kalau dia muji cafe gue, bakalan gue kasih restu? gak akan, batin Septian.


"Amin..." Sahut papa Satrio.


"Gimana Bu, diterima gak, lamaran saya? Nanti kalau diterima, saya akan mengajak keluarga besar saya kesini."


Bu Lastri terdiam sesaat. Dia memikirkan kata kata terbaik untuk disampaikan agar tak melukai harga diri mama Eva.


"Maaf Bu, bukannya menolak. Tapi ini hal yang sangat serius. Jadi saya harus berdiskusi dulu dengan Shaila dan keluarga besar. Tidak masalahkan kalau saya menunda memberi jawaban. Selain itu, Shaila dan Diego masih sama sama muda."


Mama Eva tampak kecewa, tapi bisa dimaklumi juga alasan Bu Lastri.


"Baiklah Bu, semoga saja, nanti jawabannya iya. Saya sudah sangat sreg dengan Shaila." Ucap Mama Eva sambil tersenyum pada Shaila


...*******...


"SURPRISE."


Teriak Kinan, Raka dan kedua anak mereka. Nara dibuat syok dengan kejutan dari kakaknya. Dia sampai menutup mulutnya yang menganga menggunakan telapak tangan.

__ADS_1


Kinan dan Raka telah mengubah interior kamar Nara. Bagian pojok dari kamar itu disulap bak kamar bayi. Nuansa Biru dengan hiasan bertema Dinosaurus mendominasi sisi itu. Tak lupa tulisan welcome baby Aydin juga tersemat disana.


Nara memang pernah bilang tak mau anaknya berada dikamar lain. Dia ingin satu kamar dengan baby Ay.


"Gimana Ra, suka?" Tanya Raka.


Nara mengangguk cepat.


Kinan menghampirinya lalu mengambil baby Ay dari gendongan Nara. Bayi mungil itu tampak tak terganggu meski lumayan berisik disana. Terlebih saat Cinta dan Lovely ribut ingin mencium dedek Aydin.


"Mau tium adek, mau tium adek." Rengek si kecil lovely.


"Aku dulu, aku dulu." Protes Cinta yang tak mau kalah.


"Gak boleh berisik." Kinan meletakkan telunjuknya didepan bibir. "Nanti dedek Ay kebangun. Gantian ciumnya." Kinan mendekatkan wajah Aydin pada Lovely lalu berganti cinta.


"Kasih mana kak?" Nara menanyakan keberadaan anak ketiga Kinan.


"Tadi sih bobok, dijagain suster." Jawab Kinan.


"Kalau malam rewel gak?" Tanya Nara. Dia sering mendengar keluhan ibu ibu yang baru melahirkan jika anak mereka rewel hingga semalaman tak bisa tidur.


"Awal awal rewel Ra. Tapi alhamdulillah sekarang udah enggak. Ay gimana semalam? rewel?"


"Enggak sih, paling bangun buat nen doang. Terus bobok lagi."


"Bagus deh kalau gitu."


"Makasih banyak ya Kak surprisenya. Ini bagus banget." Ucap Nara sambil memperhatikan box bayi serta wall paper dan hiasan lainnya.


"Sama Cinta gak terimakasih tante. Cinta loh yang pilih wallpapernya." Protes Cinta.


"Astaga, makanya bagus sekali wallpapernya. Pilihan Cinta ternyata. Makasih banyak ya kakak Cinta. Dedek Ay pasti seneng banget." Ucap Nara sambil menyentuh puncak kepala Cinta.


"Hahaha... gak papa, Entar yang ke 4 cowok ya Mas." Goda Septian.


"Amin... Kayaknya aku harus berguru deh sama kamu caranya bikin anak cowok." Gurau Raka yang langsung disambut gelak tawa oleh yang lain.


"Gimana rasanya lahiran normal? gak sakitkan?" Tanya Kinan.


"Dih, bohong banget kalau gak sakit. Sakitlah, namanya juga lahiran." Jawab Nara.


"Tapi habis ini mau kan punya anak lagi?" Goda Raka.


"Ya mau lah mas." Sahut Nara.


"Kita gak mau kalah sama kalian. Kalau kalian nanti 4, kita bakalan 5." Canda Septian.


"Dih 5, kamu aja yang ngelahirin kalau gitu." Protes Nara sambil memelototi Septian.


Mereka semua langsung tertawa. Obrolan itu terus berlanjut hingga jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya mereka pulang karena besok Raka harus bekerja. Cinta juga harus sekolah. Sedangkan Kinan, dia sudah resign dari rumah sakit karena memilih menjaga 3 orang anak.


Setelah mereka pulang. Nara mengambil baby Ay dari box karena sudah sudah waktunya nen. Dia duduk selonjoran diatas ranjang sambil mengasihi.


"Laper gak?" Tanya Septian.


"Dikit."


"Abang ambilin makan ya. Harus banyak makan biar asinya banyak."


Setelah Nara mengangguk, Septian segera turun kebawah untuk mengambilkan Nara makanan. Dia ingat pesan ibunya, kalau sekarang ini, waktunya dia memberikan perhatian ekstra pada Nara.

__ADS_1


Dengan sepiring nasi dan lauk serta seteko air putih, Septian kembali kekamar. Di sengaja mengambil air banyak agar Nara lebih banyak minum.


Dengan telaten Septian menyuapi Nara. Dia benar benar memperlakukan Nara seperti ratu setelah wanita itu melahirkan.


"Sayang ayah, kuat banget sih nen nya." Ucap Septian yang sejak tadi memperhatikan cara baby Ay menyuusu.


"Enak kali ya Ra rasanya, makanya dia suka." Celetuk Septian.


"Mau ngincip?" tawar Nara sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gak usah mancing deh." Jawab Septian sambil terus menyuapi Nara.


"Ikan kali dipancing. Aku cuma nawarin, kali aja abang pengen. Daripada entar ngiler." Ledek Nara sambil terkekeh geli.


"Terus kalau habis ngincipin itu pengen yang lain gimana?"


"Tauk deh." Nara mengedikkan bahu tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Abang jajan diluar aja kalau pengen." Celetuk Septian.


"ABANG!" Pekik Nara sambil melotot. Baby Ay yang baru tertidur sampai terbangun dan menangis. Beruntung dalam posisi nen, jadi bisa langsung diam lagi.


"Becanda sayang." Sahut Septian sambil terkekeh. "Mana berani abang, takut dikebiri."


"Awas ya kalau kamu jajan diluar. Ini baru 2 hari loh bang. Masih ada 38 hari lagi, masih panjang." Nara tampak tak suka dengan Candaan suaminya.


"Maaf maaf. Abang cuma Becanda." Septian meraih pundak Nara dan merangkulnya. "Mana tega abang jajan diluar Ra. Apalagi setelah melihat perjuangan kamu melahirkan. Jangankan menunggu 40 hari. 400 haripun akan abang tunggu." Septian mencium kening Nara lama sambil mengeratkan rangkulannya.


"Jangan becanda seperti itu lagi, aku gak suka, aku takut."


Septian menarik kepala Nara kedalam dada bidangnya sambil berkali kali mengecup puncak kepala.


"Jangan mikir macem macem. Fokus saja sama baby Ay."


"Tentu saja aku kepikiran bang. Aku udah pengalaman diselingkuhi. Dan aku gak mau lagi."


"Itu yang abang paling gak suka. Selalu nyamain abang dengan mantan suami kamu."


"Aku gak punya mantan suami." Desis Nara sambil menarik kepalanya dari dada Septian.


"Iya, iya, maaf abang salah ngomong. Abang gak seperti dua Ra. Abang sayang kamu, sayang baby Ay. Bodoh banget kalau abang mengkhianati kalian demi kenikmatan sesaat." Septian merapikan rambut Nara lalu mengecup bibirnya sekilas.


Selesai menyuapi Nara, Septian mengambil baby Ay yang sudah tertidur lalu memindahkannya ke box bayi. Setelah itu dia kembali keranjang. Duduk dibelakang Nara dan memeluk wanita itu dari belakang.


"Masih sakit gak?"


"Apanya?" Tanya Nara sambil menyandarkan kepala di dada Septian.


"Yang kemarin dijahit."


"Enggak, cuma tadi masih sedikit perih saat dipakai buang air."


"Gak begah pakai ini?" Septia meraba perut Nara yang dibalut korset.


"Sedikit, tapikan biar perut aku gak gede. Aku pengen selalu seksi biar kamu makin cinta." Jawab Nara sambil sedikit mendongak melihat wajah Septian.


"Kamu selalu bikin abang makin cinta. Abang selalu jatuh cinta lagi dan lagi sama kamu." Septian meraih tangan Nara dan menciumnya berkali kali.


Wajah Nara bersemu merah. Hatinya meleleh mendengar ucapan sang suami.


"I love u abang."

__ADS_1


"I love you so bad honey."


__ADS_2