Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
SEPUCUK SURAT


__ADS_3

Septian melajukan mobil menuju arah rumahnya. Wajahnya tampak berseri seri. Hari ini, untuk pertama kalinya dia mengajak Nara kerumah setelah mereka resmi menikah.


Sabtu pagi, jalanan lumayan lenggang. Mungkin karena kebanyakan pekerja dan anak sekolah libur. Jadi mereka tak sampai terjebak macet.


Nara tampak gelisah saat mobilnya mulai memasuki kampung tempat tinggal Septian.


"Kenapa?" Tanya Septian sambil menoleh ke arah Nara. "Kok gelisah gitu?"


"Pertama kali kerumah mertua ya gelisahlah bang. Apalagi aku gak bisa apa apa. Entar kira kira aku disuruh Ngapain sama ibu kamu?"


Septian tergelak mendengarnya. "Palingan Entar kamu disuruh nyikat wc."


"Hah!" Nara langsung melotot mendengarnya.


"Canda sayang." Ujar Septian sambil menyentuh kepala Nara. "Udah gak usah mikir macem macem. Ibu tahu kok, kalau menantunya ini gak bisa diandalkan."


"Abang." Pekik Nara yang merasa jengkel. Disaat dia gelisah seperti ini, bisa bisanya Septian malah memcandainya terus.


Septian makin tergelak melihat kekesalan Nara. Ditambah bibir wanita yang mengerucut, membuatnya makin gemas ingin mencium. Sayangnya, waktu dan tempat tidak mendukung.


Akhirnya, mereka sampai juga. Septian langsung membelokkan mobil memasuki halaman rumahnya.


Pagi itu, toko kelontong ibunya cukup ramai. Hingga kedatangannya menyita perhatian para pembeli.


"Bang, kok ramai banget. Harusnya kita dateng lebih siang."


"Abang juga gak tahu kalau pagi serame ini. Gak pernah bantuin, soalnya ada Sarah sama Shaila yang bantu."


Para tetangga yang kebetulan sedang belanja langsung kasak kusuk. Bahkan mereka yang awalnya rebutan minta dilayani duluan, sekarang jadi minta terakhir saja. Mereka penasaran dengan sosok istri Septian. Maklum, mereka hanya tahunya Septian menikah, tapi tak pernah tahu seperti apa istrinya. Hanya beberapa orang yang ikut ke rumah Nara waktu ijab kabul saja yang tahu.


"Asep beruntung banget ya bu Lastri. Dapet bini orang kaya. Sekarang kemana mana naik mobil. Mendadak kaya si Asep." Ujar salah satu pembeli.


Bu Lastri hanya bisa mengelus dada. Sedangkan Sarah, gadis itu tampak kesal. Ucapan itu seperti memyebut jika Septian matre.


Mata mereka otomatis terfokus pada Nara saat wanita itu keluar dari mobil.


"Beuh....Bening banget bininya Asep." Puji seorang ibu ibu sambil melongo menatap Nara.


"Pinter banget Asep nyari bini. Udah cantik, kaya lagi. Paket komplit dah."


"Bu Rosa, ini sudah selesai apa mau nambah lagi belanjaannya?" Tanya Sarah yang merasa diabaikan karena kedatangan abang dan kakak iparnya.


"Totalin dulu aja Sar. " Jawab Bu Rosa dengan mata masih fokus menatap Nara.


"Assalamualaikum." Ucap Nara dan Septian bebarengan. Menyapa ibu dan para pembeli yang antri.


"Waalaikumsalam." Sahut mereka kompak.


Bu Lastri keluar dari toko untuk menyambut anak dan mantunya. Septian dan Nara segera bergantian mencium tangan Bu Lastri. Selanjutnya, mereka bersalaman dengan para pembeli yang rata rata tetangga.


"Cantik banget bini lo Sep." Ucap Bu Marni saat bersalaman dengan Nara.


"Nemu dimana yang beginian? Cariin buat si Johan juga napa." Celetuk Bu Nia, ibu Johan yang juga kuliah ditempat yang sama dengan Septian.


"Kalau jandanya secantik ini mah, yang perjakapun gak akan nolak. Iya gak Sep?" Tanya Bu Wati.


"Maksud ibu apa ngomong seperti itu?" Septian tak terima dengan pernyataan tersebut. Rahangnya seketika mengeras. Tampak sekali jika emosinya mulai tersulut.

__ADS_1


Sedangkan Nara, wanita itu hanya menunduk sambil meremas jemari suaminya.


"Istri kamu ini jandakan? Beritanya udah nyebar kemana mana. Lagian buat apa ditutupi. Lagian perjaka dapat janda juga gak____"


"Istri saya bukan janda." Potong Septian cepat.


"Udah bang." Nara menarik lengan Septian sambil menggeleng. Dia tak mau masalah ini diperpanjang. Biarlah dia dicap janda.


"Nara pasti capek. Ajak masuk Sep." Ujar Bu Lastri.


"Iya bu."


"Permisi." Pamit Nara kemudian masuk kedalam rumah.


Karena toko lumayan ramai, Lastri terpaksa melayani pembeli dulu bersama Sarah. Masih banyak pertanyaan dari para pembeli yang penasaran dengan status Nara. Tapi Bu Lastri dan Sarah diam seribu bahasa. Tak mau sama sekali menjawab pertanyaan mereka.


"Abang udang datang?" Sapa Shaila yang baru keluar dari dapur. Dia segera mencium tangan Septian dan Nara bergantian.


"Sha bikinin minum ya?" Tawar Shaila.


"Gak usah Sha. Nanti kalau kakak haus, ambil sendiri saja." Jawab Nara.


"Bener juga sih. Lagian kakak kan bukan tamu. Ini rumah kakak juga." Sahut Shaila sambil tersenyum dan memegang tangan Nara.


"Oh iya, ini ada titipan dari mama." Nara menyerahkan kotak berisi kue titipan mamanya.


"Repot repot amat kak."


"Gak repot kok, beli." Sahut Nara sambil tertawa kecil.


Nara meraih paper bag yang sejak tadi ditentang Septian.


Shaila menerimanya dengan senang hati. Dan saat membukanya, rasa senangnya bertambah berkali kali lipat. Gamis berwarna merah Maroon. Model terbaru yang sejak sebulan lalu dia inginkan.


"Bagus banget kak." Shaila menempelkan gamis itu ditubuhnya sambil bergerak gerak kekanan kiri.


"Baju siapa itu, bagus banget." Seru Sarah yang baru masuk keruang tamu.


"Punya kak Sha dong." Pamer Shaila dengan bangganya.


"Buat aku gak ada?" Celetuk Sarah.


"Sarah, gak boleh Gitu." Tegur Bu Lastri. Setelah pembeli habis, Beliau langsung menutup tokonya agar bisa kumpul dengan Septian dan Nara.


"Ada kok buat Sarah. Buat ibu juga ada." Nara menyerahkan paper bag untuk Sarah dan Bu Lastri.


Setelah mengucap terimakasih, Sarah langsung membuka paperbag itu untuk melihat isinya. Betapa girangnya dia melihat gamis yang tak kalah cantik dari punya Shaila.


"Yakin deh, ini harganya mahal. Kainnya lembut banget, terus adem dikulit." Ucap Sarah. Dia belum pernah punya gamis sebagus itu.


Nara hanya menanggapinya dengan senyuman. Sedangkan Bu Lastri, tampak sungkan. Septian sudah numpang makan dan tinggal dirumah Nara. Tapi Nara masih saja memberi banyak hadiah pada mereka.


"Shaila lanjutin masak dulu ya." Pamit Shaila.


"Kakak bantuin ya Sha." Sahut Nara.


"Gak usah kak, nanti ngerepotin."

__ADS_1


"Iya, gak usah. Biar ibu dan Sarah saja yang bantu. Kamu istirahat dikamar saja sama Septian."


"Gak papa bu, biar sa__"


"Kekamar abang aja. Kamu belum pernah lihat kamar abangkan?" Septian memotong ucapan Nara. Dia tak ingin Nara memaksakan diri. Berusaha membantu padahal tak bisa apa apa.


Pria itu segera menarik tangan Nara menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua.


Untuk pertama kalinya, Nara melihat kamar Septian. Kesan pertama yang dia lihat adalah sempit, tapi bersih dan rapi. Mungkin karena setiap hari dibersihkan oleh Sarah.


Septian membuka jendela dan menyalakan kipas angin yang tertempel didinding agar udaranya lebih sejuk.


Tak ada yang menonjol dari kamar itu. Hanya ranjang berukuran single, sebuah almari kayu dan meja belajar. Tak ada tv atau peralatan game seperti yang biasanya ada dikamar cowok.


"Beginilah kamar abang. Semoga malam ini, kamu bisa tidur nyenyak, ya...walaupun mungkin agak panas."


"Kita lihat saja nanti malam." Sahut Nara sambil melihat lihat beberapa foto yang tertempel didinding kamar.


Septian memeluk Nara dari belakang sambil meletakkan dagunya dibahu Nara.


"Kalau gak bisa tidur, entar malem abang bikin capek biar langsung nyenyak." Godanya sambil mencium pipi Nara.


"Ish, itu sih mau kamu." Cibir Nara.


"Mau kamu juga kan?" Balas Septian dan langsung disambut tawa oleh Nara.


"Abang kekamar mandi dulu ya Ra. Sekalian ngambil minum, hauskan pastinya?"


"Hem."


Septian melepaskan pelukannya lalu mencium bibir Nara sekilas.


"Ish, abang... " Desis Nara.


Septian hanya tersenyum dan langsung turun menuju kamar mandi yang terletak disamping dapur.


Nara membuka almari baju yang terbuat dari kayu. Isinya hanya beberapa baju dan sepatu. Mungkin karena sebagian sudah dibawa kerumah Nara. Merasa tak ada yang spesial, Nara kembali menutupnya.


Dia berganti menuju meja belajar. Ada foto Septian bersama beberapa temannya saat masih berseragam putih abu abu diatas meja. Tiga orang laki laki dan tiga orang perempuan. Nara mengambil foto itu dan melihatnya lebih dekat. Senyumnya merekah saat menyadari, Septian yang paling tampan diantara teman temannya.


Nara meletakkan kembali bingkai foto tersebut. Kemudian tangannya bergerak membuka laci. Atensinya langsung tertuju pada sebuha kotak warna navy. Dibawahnya ada amplop warna biru muda.


Nara membuka kotak tersebut. Isinya sebuah tasbih kecil yang tampak indah dan mahal. Dia menutup kembali kotak tersebut lalu meletakkan diatas meja. Dengan sedikit ragu ragu, dia meraih amplop biru muda dan melihat isinya.


Jantungnya berdegup kencang saat mengetahui jika isi amplop itu adalah sebuah surat. Hatinya dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar. Dengan pelan pelan, dia membuka lipatan kertas lalu membaca tulisan tangan yang indah itu.


Assalamualaikum Bang Tian.


Apa kabar? Semoga saja, abang selalu dalam lindungan Allah.


Maaf karena baru mengirim kabar. Nurul hanya ingin memberitahu abang, jika Nurul akhirnya menolak taaruf dengan uztad Zaka.


Maaf jika keputusan Nurul ini terkesan terlalu lama. Nurul tak bisa membohongi hati Nurul, jika cinta Nurul hanya untuk abang Tian.


Semoga cinta abang masih untuk Nurul. Semoga masih nama Nurul yang selalu abang sebut dalam doa.


Nurul selalu berdoa, agar abang jodoh Nurul.

__ADS_1


Yang selalu menyebut namamu dalam doa


Nurul


__ADS_2