Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
LEGA


__ADS_3

Meminta maaf bukanlah perkara mudah. Butuh kelapangan hati. Karena biasanya, siapapun yang meminta maaf, pasti dianggap sebagai si pesalah. Padahal meminta maaf tidak selalu karena dia yang paling salah. Tapi mungkin itulah jalan yang terbaik.


Septian mempersiapkan hati terutama mentalnya sebelum mendatangai papa Satrio. Tinggal berbulan bulan dengan papa mertuanya itu, jelas membuat Septian sedikit banyak paham dengan wataknya.


Nara mengenggem tangan Septian saat taksi online yang mereka naiki hampir sampai dirumahnya. Nara bisa melihat kegelisahan diwajah suaminya.


"Papa pasti maafin kamu." Ucap Nara untuk sedikit mengurangi ketegangan Septian.


"Semoga." Sahut Septian sambil mencium tangan Nara.


Tadi sebelum berangkat, Nara sudah mengirim pesan pada mamanya. Memberi tahu wanita itu jika dia dan Septian akan datang malam ini.


Saat mereka datang, mama Tiur langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. Sedangkan papa Satrio, pria itu duduk disofa ruang tengah dengan wajah tanpa senyum sama sekali.


Nara menggandeng tangan Septian menghampiri papanya. Keduanya bergantian mencium takzim tangan papa.


Mama Tiur duduk disebelah papa. Sedangkan Nara dan Septian, duduk disofa lain yang berada disebelah kanan papa.


Nara tak pernah melepaskan tangannya dari tangan Septian. Dia ingin suaminya tahu, jika dia selalu mendukungnya apapun keputusan papa nanti.


"Saya datang kemari untuk meminta maaf Pah, mah." Ujar Septian dengan perasaan resah. Apalagi melihat wajah papa yang tampak tegang tanpa senyum, jelas membuat Septian dua kali lebih gugup.


"Tahu kesalahan kamu?"


"Tahu Pah." Jawab Septian sambil mengangguk.


"Apa?"


"Melakukan kdrt."


"Apa menurut kamu, saya harus memaafkan pria yang melakukan kdrt pada istrinya?"


"Saya tahu kesalahan saya fatal. Saya sangat menyesal untuk itu. Dan saya berjanji tak akan mengulanginya lagi."


"Janji dibuat untuk ditepati, bukan untuk dilanggar. Seberapa besar keyakinan kamu untuk tidak melanggar janji itu?"


Septian makin gugup. Pertanyaan papa sangat jauh dari prediksinya. Dan pembawaan papa yang tenang tapi ekspresi menyeramkan, sungguh mengaduk aduk mentalnya.


"Saya hanya manusia biasa yang tak bisa jauh dari kata khilaf dan lupa. Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menepati janji saya."


Nara merasakan tangan Septian dingin dan sedikit gemetar. Dia mengusap pelan lengan suaminya itu untuk lebih menenangkannya.


"Nara." Panggil papa Satrio.


"Iya Pah." Nara seketika menatap kearah papanya.


"Disini, kamu korbannya. Apa kamu mau memaafkan suami kamu?"


Nara segera mengangguk. "Nara udah maafin abang. Nara sadar jika selama ini, Nara belum bisa menjadi istri yang baik. Nara dan abang, kami berdua masih sama sama dalam proses belajar kearah sana. Jadi, Nara mohon, beri kami kesempatan untuk membuktikan jika kami bisa membangun rumah tangga kami dengan baik."

__ADS_1


Papa Satrio sadar, jika Nara dan Septian yang menjalaninya. Jadi dia tak bisa berbuat apa apa jika keduanya sudah saling memaafkan dan menerima kesalahan masing masing. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Nara. Jika menurut Nara, Septian yang terbaik untuknya, dia bisa bilang apa selain mendukung dan hanya mengawasi dari belakang.


"Baiklah, papa akan memaafkan kamu. Papa akan memberikan kamu kesempatan untuk membuktikan jika kamu suami yang layak untuk Nara. Tapi ingat, ini bukan kesempatan kedua, tapi kesempatan terakhir."


"Terimakasih Pah." Ujar Nara dan Septian bersamaan. Mereka lalu saling menatap dan tersenyum lega.


"Oh iya, untuk cafe. Saya lihat, semakin hari semakin sepi. Papa harap, kamu bisa segera mengatasi hal ini."


"Iya Pah. Septian akan segera mengatasi permasalahan itu."


"Bagus."


Papa Satrio beranjak, dia segera meninggalkan ruang keluarga dan kembali kekamarnya.


"Ya sudah, kalian istirahat sana." Mama Tiur pergi menyusul suaminya.


Nara dan Septian ikutan beranjak dan menuju kamar mereka.


Sesampainya dikamar, Septian langsung merebahkan diri diatas ranjang. Rasanya lega sekali setelah permintaan maafnya diterima. Beban berat yang berada dipundaknya seperti langsung hilang. Sekarang, dia tinggal fokus pada coffee shop. Semoga dengan bantuan Diego, tempat itu bisa segera ramai.


Nara ikutan naik ke atas ranjang dan berbaring disisi Septian. Tangannya bergerak membelai dada bidang suaminya.


"Abang lega banget yang." Ucap Septian dengan mata menatap langit langit kamar.


"Sama, aku juga bang."


"Sekarang masalahnya tinggal cafe doang. Semoga saja, bisa segera teratasi."


"Bukan salah kamu." Sahut Septian sambil menoleh kearah Nara lalu mencium keningnya.


Septian memiringkan tubuhnya. Punggung tangannya bergerak memindai wajah cantik Nara.


"Kamu makin cantik sayang."


"Dih, gombal. Pasti ada maunya." Nara menyebikkan bibirnya.


Septian seketika tergelak lalu mengecup singkat bibir Nara.


"Emang kamu gak pengen?" Septian mengedipkan sebelah matanya. Tangannya mulai bergerilya diatas tubuh Nara.


"Udah lama banget puasanya. Hampir 3 minggu loh sayang. Gak kasihan apa sama dia." Septian meletakkan tangan Nara dibagian sensitifnya yang sudah terasa mengeras.


"Maaf." Nara merasa menyesal. Apalagi kalau ingat sudah mendiamkan Septian cukup lama dan sempat menolaknya juga.


"Maaf kamu gak diterima."


"Ish, kok gitu sih."


"Gak diterima, sebelum bikin dia tidur nyenyak."

__ADS_1


Nara langsung tergelak. Dengan segera, dia bangkit dari posisi tiduran dan membuka celana suaminya. Di bebaskannya sesuatu yang meronta ronta itu.


Dimanjakannya sesuatu itu hingga membuat Septian merem melek dan mengeluarkan de sah an.


Setelah cukup lama, Septian membalikkan keadaan, sekarang, giliran dia yang memanjakan milik Nara.


Dia berikan sentuhan sentuhan istimewa pada bagian bagian sensitif Nara. Membuat wanita itu resah dan bergerak belingsatan tak karuan. Mulutnya tak henti henti mende sah. Dia sungguh menikmati apa yang dilakukan Septian. Rasanya, dia sudah sangat rindu sentuhan itu. Sentuhan penuh kenikmatan yang bisa melambungkannya hingga langit ketujuh.


"Aku udah gak tahan bang, buruan." Pinta Nara yang sudah sangat resah.


Septian puas sekali mendengar permintaan Nara. Dengan senang hati, dia segera memulai penyatuan mereka. Sekarang, dia tak bisa bergerak seleluasa dulu, karena perut Nara sudah sangat besar.


Septian berusaha mengontrol hentakannya. Meskipun terasa susah dan kadang hampir kebablasan. Dia tak mau sampai menyakiti janin mereka.


Setelah keduanya mendapatkan pelepasan. Septian merebahkan tubuhnya disebelah Nara. Dilihatnya istrinya itu yang tampak sangat kelelahan. Sejak hamil trimester tiga, Nara memang tak sekuat dulu, dia lebih mudah lelah.


Seperti biasa, setelah membersihkan miliknya dikamar mandi, Septian mengambil tisu untuk membersihkan milik Nara. Dilihatnya Nara masih memejamkan mata. Wajah lelahnya membuat Septian tak tega untuk meminta lagi.


Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh polos Nara lalu mencium keningnya lama.


"Maaf ya, udah bikin kamu kecapekan gini."


"Gak papa bang. Aku seneng kok." Sahut Nara dengan mata yang masih terpejam karena kantuk bercampur lelah.


"Aku ngantuk berat bang, tidur yuk." Nara menarik lengan Septian agar tiduran disebelahnya.


"Em.. " Septian bingung mau menjelaskan. Sebenarnya, dia ingin pulang sekarang. Besok pagi, dia ada janji membantu teman teman pemuda masjid untuk mempersiapkan kuliah subuh dan pengobatan gratis. Selain itu, sebenarnya, ibunya ingin dia dan Nara tinggal lebih lama disana. Tapi Septian jelas ragu untuk menyampaikan itu, mengingat Nara tak nyaman tinggal disana.


"Ada apa bang?" Tanya Nara sambil membuka matanya.


"Sebenarnya, ibu ingin kita tinggal lebih lama lagi disana. Tapi abang gak maksa kok. Abang tahu kalau kamu kurang nyaman disana. Jadi nanti biar abang yang ngejelasin sama ibu."


"Jangan dong bang. Aku kan jadi gak enak sama ibu. Aku gak papa kok tinggal disana lebih lama."


"Kamu lagi hamil tua Ra. Abang gak mau kamu gak nyaman."


Nara bangun lalu memeluk Septian. "Aku nyaman dimanapun. Asalkan sama abang."


"Yakin?"


"Hem." Nara mengangguk lalu mencium pipi Septian.


"Makasih." Septian meraih tangan Nara dan menciumnya berkali kali.


"Ya udah, kita balik kerumah kamu sekarang, atau besok pagi?"


"Besok pagi, abang ada janji bantuan pemuda masjid. Jadi abang harus balik sekarang. Tapi kalau kamu capek dan ngantuk. Kamu tidur sini saja. Besok siang, abang jemput kesini."


"Enggak enggak, aku ikut abang aja. Aku gak mau ditinggalin sendirian disini." Nara gegas turun dari ranjang dan membersihkan diri dikamar mandi.

__ADS_1


.


Udah up 2 nih hari ini. Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote. Terimakasih.


__ADS_2