
Shaila terpaksa ikut mobil Diego demi kelancaran urusan mereka. Setelah mendapatkan laptop sesuai perjanjian, dia akan langsung mengakhiri semuanya. Dia tak mau mengecewakan abangnya. Ditambah lagi, dia udah janji bakal putus sesegera mungkin dengan Diego. Putus? emang udah jadian? entahlah, gak jelas.
Mobil Diego berhenti didepan rumah mewah bergaya Eropa. Sudah tentu itu rumahnya. Dia mengantarkan mamanya pulang lebih dulu sebelum lanjut ke mall.
Shaila memperhatikan rumah tersebut. Rumah itu bahkan lebih mewah dari rumah Nara. Apakah ini salah satu yang dimaksud abangnya, jika perbedaan mereka sangat jauh.
"Shaila, gak mau mampir dulu?" Tawar mama Eva.
"Enggak tante. Masih ada urusan soalnya." Jawab Shaila sopan sambil mencium tangan Eva.
"Ya udah, hati hati bawa mobilnya." Pesan mama Eva sambil membuka pintu lalu keluar.
"Bye Ma." Ucap Diego dan langsung tancap gas menuju mall.
Sepanjang perjalanan, Shaila hanya diam. Dia lebih banyak melihat kearah jendela daripada kedepan atau kearah Diego. Mulut Diego rasanya gatal ingin segera membuka obrolan.
"Abang lo ngomong apa tadi?"
"Nyuruh gue ngejauhin lo." Jawab Shaila sambil menoleh ke arah Diego.
"Lo?" Diego mengernyitkan kening. "Bukankah tadi lo sempat manggil gue kakak ya didepan Bu Nara sama Asep. Kok sekarang lo lagi?"
Sebenarnya, Shaila juga tak enak memanggil dengan sebutan LO, mengingat usia Diego lebih tua darinya. Tadi dia emang berniat merubah panggilan, tapi karena mereka akan segera berakhir, rasanya tak perlu mengubah panggilan.
"Emang penting ya?"
"Pentinglah. Sebagai pacar, gue pengen dong ada panggilan sayang. Kakak, atau apalah, asal jangan Lo aja."
"Pacar???"
"Iya, pacar. Kitakan udah jadian. Jadi lo pacar gue sekarang."
"Kita gak pernah pacaran. Lo hanya bermain trik supaya gue terkesan nembak lo. Padahal kenyataannya gak kayak gitu. Pacaran itu, antara dua orang yang saling mencintai, bukan dua orang yang saling membutuhkan."
"Lo udah pernah pacaran?" Tanya Diego sambil menoleh kearah Shaila.
"Belum." Jawabnya sambil menggeleng.
"Makanya lo gak ngerti."
"Maksudnya?"
"Cinta itu artinya saling membutuhkan. Kalau lo cinta sama seseorang, lo pasti butuh dia. Butuh diperhatikan. Butuh di disayang. Butuh dia ada disamping lo saat lo lagi susah maupun senang. Lo pasti bakal tahu rasanya saat lo beneran jatuh cinta. Lo bakal ngerasa, kalau lo butuh banget dia."
Kenapa terdengar seperti curhat. Mungkin seperti itulah yang Diego rasakan. Dia butuh Anna. Tapi Anna seolah tak butuh dia. Mereka memang belum putus, tapi komunikasi, bisa bisa dibilang mungkin hanya seminggu sekali.
"Mungkin benar kata lo. Cinta itu butuh. Tapi Membutuhkan, itu bukan cinta. Kayak lo butuh art, butuh guru, bahkan butuh teman. Bukan cintakan? hanya butuh." Shaila membalik kata katanya.
Dikala cewek lain akan mendekat padanya saat diberi celah. Shaila justru ingin menjauh. Dan sikap seperti itulah yang kadang bikin penasaran. Bikin ingin menunjukkan jika dia bisa menaklukkan.
"Oh iya, kata abang gue, lo suka kak Nara ya?"
"Cie..cemburu ni ye." Ledek Diego.
"Ngimpi aja dilamain. Entar kalau udah siang pasti kebangun juga akhirnya."
"Huft." Diego membuang nafas kasar.
"Jadi beneran, lo suka sama Kak Nara?"
"Gimana ya ngejelasinnya, gue bingung. Suka iya, cinta tidak."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Gue suka tertantang kalau lihat cewek cakep. Apalagi tuh cewek banyak yang ngincer. Ya, kayak Bu Nara Gitu. Cantik, banyak diidolain. Auto pengen buktiin kalau gue bisa menangin hati tuh cewek. Bisa dibilang, pembuktian."
"Pembuktian kalau lo playboy sejati." Cibir Shaila sambil menahan tawa. Bisa bisanya naklukin cewek dibuat ajang pembuktian. Tak habis pikir dengan apa yang ada diotak cowok yang duduk disebelahnya ini.
"Sebenarnya cuma sebatas itu. Tapi gue ngefans sih sama dia. Cantik, pinter, karier ok. Mungkin jika dia masih lajang dan ngasih gue kesempatan buat deket. Gak menutup kemungkiman gue bisa cinta sama dia. Tapi untuk saat ini, gue belum bisa bilang sampai ditahap cinta sama Bu Nara. Apalagi saat udah tahu dia punya suami."
"Pantesan lo dicap playboy. Jadi deketin cewek cuma buat pembuktian doang, terus lo campakin, JAHAT."
"Jangan salah, gue gak sejahat itu. Gue gak pernah nyampakin kok. Gue cuma ngedeketin cewek cewek cantik. Kalau dirasa bisa bikin gue cinta, ya gue tembak. Kalau enggak, ya gue tinggal. Dan sejauh ini, gak ada yang bisa bikin gue cinta. Jadi ya gue tinggalin semua."
"Dasar, tukang ghosting."
"Ya..kalau julukan itu sih tepat. Bisa dibilang, gue emang tulang ghosting. Tapi namanya juga cari yang terbaik, gak ada salahnya kan. Daripada gue tembak, terus gak nyaman, gak mau diputusin, gue sendiri yang ribet."
"Jadi menurut lo, orang yang gak mau diputusin itu bikin ribet?"
"Ya... gitu lah."
"Ya udah, kalau begitu, kita putus."
"Hah." Diego melongo.
"Lo gak sukakan sama orang yang ribet karena gak mau diputusin. Gue juga. Jadi gue minta, lo terima keputusan gue. Jangan bikin ribet."
Diego menyesal telah mengatakan hal tadi. Sekarang, tak mungkin dia menjilat ludahnya sendiri. Walaupun sebenarnya, dia masih ingin mengenal Shaila lebih jauh. Dia melihat ada yang berbeda dalam diri Shaila dibanding cewek cewek lain yang pernah dia kenal. Dan entah kenapa, sejak pertemuan di depan salon waktu itu, otaknya bisa tiba tiba otomatis memikirkan Shaila. Dan itu yang dia butuhkan, pengalihan pikiran dari Anna. Selama ini, dia selalu gagal mencari pengalihan. Baru ketemu, eh... dianya gak mau. Nasib, nasib.
Mobil Diego memasuki basement mall. Setelah memarkirkan mobilnya, dia dan Shaila segera menuju toko laptop miliknya.
"Hallo bos, apa kabar?" Sapa Arjun, salah satu pegawainya.
Diego hanya tersenyum kecut, sekecut hatinya yang baru saja diputusin Shaila. Mungkin bisa masuk rekor pacaran tersingkat. Ya, kalau dihitung, mungkin tak sampai 3 jam sejak jadian, udah putus.
"Eh, dia bukannya cewek waktu itu ya. Yang kesini nyariin bos?" Gumam seorang pegawai yang masih bisa terdengar ditelinga Shaila. Ternyata, ada yang masih ingat dengan wajahnya.
Shaila menunduk, malu mengingat kejadian hari itu. Karena Diego tak ada ditoko, dia ngeyel minta pegawai meneleponnya. Mengatakan pada pria itu jika dia sudah menunggu ditoko. Tapi hasilnya, Diego malah bilang sibuk dan tak mau datang. Bikin dia malu saja. Terkesan seperti perempuan ngejar Diego tapi diabaikan.
Diego menyuruh pegawainya mengambil laptop sesuai permintaannya.
"Nih, gue gak bohongkan." Ujar Diego saat pegawai itu meletakkan laptop baru dengan merk dan tipe yang harganya lumayan mahal.
Shaila mendadak sungkan hendak menerima. Harganya terlalu jauh dibanding laptopnya waktu itu. Ini sama persis dengan milik abangnya yang dibelikan Nara. Oleh karena itu, dia tahu berapa harganya.
"Yang lain aja." Shaila menggeser laptop tersebut kearah Diego yang sekarang duduk dikursi bersebelahan dengannya.
"Yang mana?" Diego mengerutkan keningnya. "Pilih sendiri aja deh."
Shaila melihat lihat etalase sebentar. Jujur dia tak begitu tahu harga masing masing laptop. Takut salah pilih, akhirnya dia minta bantuan pegawai.
"Mas, tolong cariin yang harganya dibawah ini ya." Pintanya sambil menunjuk laptop yang tadi.
"Loh kenapa?" Diego heran.
"Gue gak enak, ini terlalu mahal."
"Udah ini aja, sesuai perjanjian. Jun, bungkus." Titahnya pada Arjuna.
"Siap bos."
"Yakin ikhlas?" Shaila ragu.
__ADS_1
"Ikhlas."
Setelah mendapatkan laptop, Shaila berniat langsung pulang. Tapi Diego memaksanya untuk makan dulu. Tak enak hati menolak karena sudah diberi laptop mahal, akhirnya dia setuju.
Diego membawa Shaila ke restoran Jepang kesukaannya.
"Mau pesen apa?"
"Terserah lo aja."
Shaila belum pernah makan makanan Jepang. Dan ini untuk pertama kalinya, dia masuk restoran Jepang. Sebagai anak jurusan tata boga, dia jelas tahu bagaimana makanan Jepang. Semoga saja mulutnya yang katrok, bisa menelan makanan itu.
Disekolah, dia lebih banyak belajar dan praktek seputar cake dan pastry. Selain itu, hanya makanan khas indonesia. Kenapa begitu? karena tempatnya bersekolah hanya SMK biasa, yang kebanyakan siswanya kelas menengah kebawah. Jadi tidak pernah praktek makanan yang bahan bahannya terlalu mahal, takut memberatkan siswa.
Saat makanan datang, Shaila bernafas lega. Karena ternyata, Diego memesan sushi, bukan sashimi. Kalau sampai sashimi, dia pasti tak akan sanggup menelannya. Beruntung kebodohannya yang bilang pesan terserah tadi tak berujung petaka.
"Gimana, suka?" Tanya Deigo.
"Gak terlalu."
"Kenapa?"
"Gue lebih suka makanan Indonesia." Jawabnya jujur.
"Astaga, maaf ya, gue gak nanya dulu tadi."
"Gak papa, aku masih bisa makan ini kok."
Mereka kemudia saling diam dan menyantap makanan dihadapannya.
"Apa kita masih bisa bertemu lagi setelah ini?" Pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikiran Deigo akhirnya keluar.
Shaila menggeleng. "Sebaiknya gak usah. Mungkin ini yang terakhir kalinya."
"Kenapa?"
"Gue gak mau berurusan dengan lo lagi. Jadi gue anggap, ini terakhir kalinya."
"Berurusan dengan gue gak enak ya?"
"Bukan begitu. Tapi... "
"Dilarang sama abang lo?"
Tebakan Diego seratus persen benar, tapi Shaila sungkan mau bilang iya.
"Tapi jika kita gak sengaja ketemu lagi, gue masih boleh nyapa lo kan?"
Shaila mengangguk.
"Jika suatu saat kita ketemu lagi dalam sebuah ketidak sengajakan, gue anggap kita jodoh. Dan saat itu, gue gak akan ngelepas lo lagi seperti saat ini." Ujar Diego dalam hati.
.
.
.
Udah mulai bosen belum sama novel ini???? Alurnya terkesan monoton alias jalan ditempat ya?
Sabar ya gaes, sebentar lagi masuk konflik. Tapi tenang aja, gak berat. Karena author lagi banyak pikiran, jadi gak mau bikin yang berat berat.
__ADS_1
Salam dari BANG ASEP DAN NARA.