
Tiga orang yang berada dalam ruangan tak tahu jika dibalik pintu, dua orang sedang mendengarkan obrolan mereka. Septian dan Nara, mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh perempuan yang ada didalam ruangan.
Dada Nara tiba tiba bergemuruh. Dia familiar dengan suara itu.
"Kayaknya kita datang diwaktu yang tidak tepat Yang. Kita kesini lain kali aja ya." Septian hendak memutar kursi roda tapi ditahan oleh Nara. Dia mencengkeram lengan Septian sambil menggeleng.
"Tunggu sebentar bang."
Septian melihat ekspresi yang tak biasa diwajah Nara. Ekspresi marah, kesal dan luka. Semuanya bercampur menjadi satu.
Nara ingin memastikan sebelum dia pergi dari tempat itu. Benarkah jika yang bicara didalam adalah orang yang dia kenal.
"Hidup kamu jadi berantakan sejak kamu menikahinya. Kalau saja kamu tidak menceraikan Nara. Semua tak akan seperti ini. Hidup kamu pasti akan lebih tenang." Terdengar lagi suara lantang dari dalam kamar.
Septian membulatkan matanya mendengar nama Nara disebut. Apakah itu Nara istrinya? kalau iya, ada hubungan apa mereka dengan Nara?
Sedangkan Nara, wanita itu tampak memegangi dadanya yang terasa sesak. Sekarang dia yakin, itu suara Devi, mamanya Abi. Wanita yang dulu sudah dia anggap sebagai mamanya sendiri.
"Pas banget kamu lagi main kesini sayang. Mama lagi bikin strawberry shortcake. Kata Abi, itu kesukaan kamu." Ujar Devi saat Nara baru sampai dirumahnya.
"Pas banget ya tante. Aku memang suka banget strawberry shortcake dan apapun yang rasa strawberry." Jawab Nara sambil mencomot strawberry yang ada diatas cake.
"Jangan panggil tante. Panggil mama, kayak Abi. Kamukan calon mantunya mama." Ucap Devi sambil memotong cake menjadi kecil kecil.
"Apaan sih Mah." Abi menyahuti. "Nara itu baru lulus SMA. Entar dia malah ilfeel sama aku kalau mama terus terusan bilang calon mantu. Dikiranya disuruh cepat cepet nikah. Nara itu masih mau kuliah di UK."
"Makanya, sebelum ke UK, kamu lamar dulu. Diiket dulu biar gak kecantol bule disana. Mama gak rela kehilangan calon mantu idaman seperti Nara. Pokoknya, kamu harus jadi mantunya mama." Ujar Devi sambil merangkul pundak Nara lalu keduanya tertawa bersama.
Mata Nara mulai berkaca kaca sangat ingatan lama itu muncul kembali. Manusia memang hanya bisa berencana. Karena sejatinya, Tuhanlah yang maha menentukan.
"Lihatlah nasib kamu sekarang. Perekonomian mulai susah. Bertahun tahun kerjapun, kalau ikut orang, tetap saja tak bisa enak. Tak bisa jadi bos. Kamu lupa cita cita kamu. Kamu ingin punya perusahaan sendiri. Kamu tak suka diperintah, kamu ingin jadi bos, jadi pemilik perusahaan. Tapi sekarang rasanya tak mungkin. Yang ada hidup kamu kian susah gara gara lebih milih pelakor itu." Devi menunjuk Arumi sambil menatap penuh kebencian. Dimatanya, Arumi tak lebih dari seorang pelakor yang menghancurkan masa depan anaknya.
"Udahlah Ma, kepalaku makin pusing dengar omelan mama." Sahut Abi.
"Kalau saja kamu tak cerai dengan Nara. Hidup kamu pasti enak. Tinggal dirumah mewah, tak perlu susah susah nyicil lagi. Bisa minta bantuan mertua kalau butuh modal untuk buka perusahaan. Kalau dia, bisa apa dia." Devi lagi lagi menyudutkan Arumi. "Bisanya hanya menyusahkan. Hanya menambah beban dengan memberikanmu anak cacat dan penyakitan."
"Tolong jangan sebut anak aku cacat mah. Dia anak istimewa." Potong Arumi sambil menangis.
"Istimewa pala lo peyang. Kalau memang dia istimewa dimata kamu. Ambil dia, bawa pergi jauh sana. Jangan ngerepotin Abi." Ujar Devi sambil menunjuk nunjuk Arumi.
__ADS_1
"Apa maksud mama bicara seperti itu?" Arumi tak habis pikir dengan mertuanya itu. Bisa bisanya nyuruh dia pergi jauh dari Abi. Padahal dia baru saja melahirkan. Belum kering luka bekas melahirkan. Tapi malah ditambah luka batin bertubi tubi.
"Mending kalian pisah saja. Ceraikan saja dia Bi. Hidup kamu akan susah kalau masih berasama dia. Kembali saja pada Nara."
Septian membelalakkan matanya. Sekarang dia paham. Abi yang dia kenal, adalah Abi mantan suami Nara. Dia berjongkok sambil menatap kedua mata Nara yang sudah bercucuran air mata.
"Kita pergi dari sini ya." Ucapnya sambil mengusap air mata Nara.
Tapi Nara menggeleng. Dia belum ingin pergi. Justru dia ingin masuk kedalam untuk menyaksikan secara langsung perdebatan keluarga pengkhianat itu.
"Abang gak mau kamu terluka lagi sayang."
Tapi Nara tetap menggeleng.
"Kenapa sih mah, mama sebegitu bencinya sama aku. Kenapa mama tak bisa menerimaku seperti mama menerima Nara?" Tanya Arumi.
Terdengar suara tawa mama Devi.
"Jangan mimpi. Kamu bukan Nara, kamu bukan menantu idamanku." Jawab Devi sambil tersenyum sinis.
"Aku akan berusaha menjadi menantu yang baik. Tapi aku mohon, jangan berusaha untuk memisahkan aku dan mas Abi." Kalau saja dia tak habis melahirkan, dia pasti sudah berlutut dikaki mertuanya.
Deg, Jantung Nara seakan berhenti berdetak. Jadi selama ini, kebaikan mama Devi tak lebih hanya demi status sosial.
"Jadi karena itu. Karena Nara kaya, mama mau menerimanya. Dan hanya karena aku yang berasal dari keluarga miskin, mama tak mau." Arumi memang bukan dari keluarga berpunya. Tapi dia juga seorang sarjana. Pandai memasak, pandai melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Bahkan kalau diadu, mungkin dia jauh lebih baik dari Nara jika untuk hal rumah tangga.
Abi memegangi kepalanya yang rasanya mau meledak. Mama dan istrinya terus berdebat, tak ingat jika ini masih dirumah sakit. Tak memikirkannya yang lagi pusing karena biaya operasi anaknya.
Sedangkan diluar, hati Nara kian mendongkol. Kasih yang selama ini dia pikir tulus dari seorang Devi. Ternyata tak lebih dari pencitraan agar bisa menaikkan status sosialnya.
"Mama pikir, setelah kamu menikahi Nara. Keluarga kita akan makin sejahtera. Papa Nara seorang rektor. Akan mudah adik adik kamu untuk kuliah ditempat itu. Dan mama pikir, usaha spa mama akan makin berkembang setalah menjadi besan Tiur. Ternyata apa, sekarang Tiur dan temannya malah membuka salon dan spa yang lebih besar dari mama. Dan hampir semua pelanggan mama beralih ketempatnya. Tinggal menunggu waktu, mungkin spa mama akan bangkrut."
Devi ingin meledak jika mengingat semua mimpinya dulu hancur seketika saat Abi mendadak menceraikan Nara. Dan sekarang, usahanya hampir bangkrut. Sedangkan papa Abi sudah pensiun. Dan dia menyalahkan Arumi atas semua yang menimpa keluarganya. Makanya, tiap kali melihat Arumi, bawaannya ingin marah marah untuk melampiaskan kekesalannya.
"Ceraikan pelakor itu. Kembalilah pada Nara. Lakukan apapun untuk mendapatkan dia kembali. Kalau perlu, bersujud dikakinya agar Nara mau memaafkanmu."
Brakk
Nara mendorong pintu dengan kasar. Nafasnya naik turun menahan emosi mendengar semua ucapan mereka. Septian mendorong Nara memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
"Nara." Gumam Devi dan Abi bersamaan.
"Aku tidak akan pernah memaafkan dia meskipun bersujud dikakiku. Bahkan sampai menangis darahpun, aku tak akan memaafkanya." Tekan Nara sambil menatap nyalang Devi dan juga Abi bergantian.
"Nara, tolong maafkan Abi. Abi hanya khilaf gara gara rayuan pelakor itu." Ujar Devi sambil menunjuk Arumi yang duduk diatas ranjang.
"Tidak akan pernah ada pelakor jika di laki laki tak memberi celah. Dan satu lagi, jangan pernah berharap kembali padaku. Karena aku sudah mempunyai pengganti yang jauh lebih baik darinya." Ucap Nara sambil memegang tangan Septian yang berada didorongan kursi roda. "Pengkhianat sepertinya tak layak untukku." Lanjutnya sambil menatap tajam Abi.
Abi terus memperhatikan Septian. Apa mungkin, pria itu adalah suami Nara?
Devi berjongkok didepan Nara sambil memegang tangannya.
"Mama mohon maafkan Abi sayang." Nara menarik kasar tangannya dari genggaman Devi. Sedangkan Septian, dia langsung menarik mundur kursi roda Nara.
"Tolong jangan ganggu istri saya lagi."
Mata Devi membulat sempurna mendemgar ucapan Septian. Dia tak tahu jika Nara sudah menikah. "Apalagi sampai berharap anak anda kembali pada istri saya. Dalam mimpipun, pengkhianat seperti anak anda tak layak untuk istri saya."
Abi berdiri lalu mendekati Nara. "Jadi, dia suami kamu?" Tanya Abi seolah tak percaya.
"Iya, saya suami Nara. Wanita yang dulu anda talak sebelum 24 jam pernikahan." Jawab Septian.
"Terimakasih karena kebodohan anda, saya bisa mendapatkan wanita luar biasa seperti istri saya."
"Ayo kita pergi bang." Pinta Nara yang sudah merasa sangat sesak.
Septian mengangguk lalu memutar kursi roda Nara. Tapi sebelum keluar, dia kembali membalikkan badan.
"Tolong jaga anak anda dengan baik. Jangan menambah dosa dengan menelantarkannya, apalagi mendzoliminya. Dia anak istimewa tanpa dosa yang mungkin kelak akan membawa anda kesurga. Tuhan masih menyayangi anda dengan menitipkan anak istimewa. Jangan pernah melakukan kesalahan fatal untuk yang kedua kalinya."
Dia berbaik dan langsung meninggal kamar Arumi.
.
.
Maaf kemarin malam gak up. Anak Author sedang sakit. Mohon doanya untuk Shanum semoga cepat sembuh.
Selain itu, dikeluarga otor juga kedatangan member baru. Author dapat keponakan lagi, Baby Mikail.
__ADS_1