
Nara mengobrak abrik almari bajunya untuk mencari baju yang menurutnya paling seksi. Sebenarnya dia tak memiliki banyak koleksi baju seksi, hanya beberapa saja dan itu baju lama. Baju terbarunya yaitu yang dulu dia pakai dipantai saat pertama kali bertemu Septian. Dan baju itu sudah dia buang di Bali.
Yang membuatnya makin susah memilih yaitu karena perutnya yang sudah lumayang buncit. Dia harus memilih gaun yang melebar dibagian perut. Akhirnya pilihannya jatuh pada gaun model kemben yang bagian perutnya lumayan longgar. Dulu dia biasa memakainya dengan cardigan, tapi tidak untuk malam ini. Dia harus benar benar seksi sesuai permintaan suaminya.
Nara sengaja sedikit memelorotkan gaunnya agar dadanya kelihatan menyembul. Memakai Make up natural namun dengan lipstik yang lebih merah, agar terkesan lebih menggoda. Menggelung rambutnya keatas agar bahu dan lehernya lebih terekspos.
"Astaga, apa ini tidak terlalu berlebihan." Gumamnya sambil mematut diri didepan cermin.
Jujur, dia kurang PD memakai pakaian seperti itu ditempat umum. Mungkin blazer bisa menutupi dadanya. Dia berniat hendak mengambil blazer saat Septian tiba tiba masuk. Pria itu tampak begitu tampan dengan kemeja formal yang lengannya digulung hingga sebatas siku.
Septian menatap Nara dari atas ke bawah. Jakunnya seketika naik turun. Istrinya itu sungguh menggoda malam ini. Dia mendekati Nara lalu memeluknya dari belakang.
"You are so sexy honey." Bisiknya ditelinga Nara.
Nara membalikkan tubuhnya menghadap Septian lalu mengalungkan lengannya dileher pria itu.
"Abang suka?"
Septian tak mampu berkata kata lagi. Dia hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala.
Bibir nan merah merona itu sungguh menggoda. Septian memajukan wajahnya hendak mencium tapi dadanya malah didorong menjauh oleh Nara.
"Belum saatnya."
"You Make Me crazy honey." Septian menggeram menahan gejolak ditubuhnya. Rasanya dia ingin segera menerkam Nara yang malam ini sangat seksi itu. Tubuhnya yang makin berisi membuat dada dan pinggulnya kian menggoda.
Nara hanya terkekeh mendengarnya. Sungguh puas saat melihat suaminya itu tak bisa menahan diri. Itu tandanya, dia berhasil memukau suaminya.
"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Septian.
"Apa ini tak terlau seksi. Aku malu bang, aku pakai blazer ya?"
"Gak perlu sayang." Septian merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah penutup mata yang sengaja dia persiapkan.
"Harus pakai itu bang?"
"Tentu saja." Septian memakaian penutup mata pada Nara.
"Terus aku turun tangganya gimana? Aku lagi hamil loh bang."
"Kamu cukup diam aja."
Nara tak menyahuti lagi. Dia pasrah saja saat Septian menutup matanya. Hatinya berdebar debar, ingin segera tahu candle light dinner seperti apa yang akan dipersembahkan suaminya. Membayangkan saja sudah membuat hatinya membuncah.
Nara tersentak saat tubuhnya terasa melayang. Tangannya reflek mengalung di leher suaminya. Septian mengangkat tubuhnya ala bridal style. Belum apa apa saja, dia sudah merasa begitu diistimewakan.
"Bang, harus gitu pakai digendong gini. Aku berat loh. Bb aku udah naik 5kg sejak hamil." Nara jadi tidak percaya diri.
"Bukankah kata kamu abang perlu usaha. Ini salah satu usaha untuk meminta maaf."
Nara tergelak mendengarnya. Dan kemudian dia merasakan tubuhnya mulai bergerak. Septian melangkah keluar kamar dan membawanya entah kemana.
Tak berapa lama kemudian. Septian menurunkan tubuhnya pelan pelan. Bukan dikursi, ranjang atau apapun. Tapi menyuruhnya berdiri.
Septian bergerak kebelakang Nara dan perlahan membuka simpul penutup matanya.
"Loh kok dibuka, emang udah sampai?" Tanyanya sebelum penutup mata itu terbuka. .
"Udah sampai."
Nara sedikit bingung. Perasaan belum naik mobil, kenapa udah sampai. Apa restorannya dekat. Tapi sedekat apapun, tak mungkin sampai secepat ini.
"Taraa..." Ujar Septian saat penutup mata Nara sudah berhasil terlepas.
Nara mengerjabkan matanya. Pertama yang dia lihat adalah lampu kelap kelip. Lalu sebuah meja dengan sebuah lilin dibagian tengahnya. Dua piring makanan dan dua gelas minuman berwarna merah. Serta setangkai mawar merah.
"Ini di.... " Nara mengedarkan pandangannya. Dan seketika, dia melongo, ini halaman belakang rumahanya. Tepatnya dibawah pohon palm yang ada di pinggir kolam renang.
__ADS_1
"Gak sesuai ekspektasi ya? Sorry." Ujar Septian sambil menggaruk garuk tengkuknya. Reservasi di hotel atau restoran mewah jelas butuh dana besar. Dan dia jelas tak punya itu.
Nara memeluk Septian dari samping lalu mencium pipinya. "Ini lebih dari ekspektasiku bang." Ujarnya sambil menatap Septian.
Septian melepaskan belitan tangan Nara lalu meraih setangkai mawar merah diatas meja. Dia berlutut didepan Nara dengan setangkai mawar ditangannya.
"Forgive me, please...."
Nara langsung tergelak melihat aksi sok romantis suaminya. Apalagi melihat bunga mawar yang kelopaknya tampak sudah tak lengkap alias banyak yang sudah berguguran.
"Apa mawarnya gak ada yang lebih bagus?"
"Ini udah yang paling bagus sayang. Abang udah muter muter kebun mama. Ini mawar yang paling bagus. Bunga disini pada minder kali sama kamu. Makanya pada berguguran semua kelopaknya. Kalah saing sama kamu."
"Gombal." Cicit Nara sambil tersipu malu. "Emang udah ijin sama mama?"
"Udah, tapi mama kamu pelit." Lirihnya sambil menengok ke arah pintu. Takut jika ada yang mendengar.
Nara mengernyitkan keningnya.
"Cuma boleh metik satu. Padahal abang pengen ambil banyak, biar bisa dirangkai jadi buket."
Nara tak bisa lagi menahan tawanya. Mamanya memang sesuka itu pada bunga. Dia menanam dan merawat, tapi tak pernah mau memetiknya. Menurut mamanya, bunga akan jauh lebih indah saat dinikmati langsung di pohonnya.
"Abang gak modal banget sih." Cibir Nara.
"Sayang Ra, setangkai mawar boleh buat beli dua mangkok bakso. Jadi mending ngambil yang gratis aja."
"Dih, dasar." Nara melotot lalu tersenyum.
"Yang, gak dimaafin nih? sampai kapan abang harus berlutut gini? capek." Keluhnya.
"Baru gitu aja udah ngeluh. Tunjukin dong usahanya," ledek Nara.
"Bukannya ngeluh, tapi lapar."
Nara meraih bunga dari tangan suaminya lalu mencium aromanya yang wangi alami.
"Udah boleh bangun?"
Nara mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Septian bangun.
Septian meraih tangan itu, menciumnya lalu berdiri.
"Makasih sayang." Septian memeluk Nara dengan perasaan lega. "Udah boleh cium?" Tanyanya sambil menatap Nara.
Anggukan kepala membuat Septian langsung menyatukan bibir mereka. Mengulum, menghisap dan membelitkan lidah mereka dengan perasaan membuncah, penuh kebahagiaan.
Setelah ciuman itu selesai. Septian menarik kursi untuk Nara dan mempersilakan pujaan hatinya itu untuk duduk.
"Siapa yang masak bang?" Tanya Nara saat melihat ayam geprek dengan sambal semerah bibirnya serta timun dan kemangi.
"Abang lah." Jawab Septian bangga sambil menarik kursi dan duduk didepan Nara.
Septian memang tak pandai memasak, tapi dia bisa. Apalagi hanya hidangan sesimple ayam geprek. Hanya perlu ayam dan tepung serbaguna. Untuk sambelnya, sudah tentu minta resep pada sang ibu yang memang jago memasak.
"Cobain dong."
"Em... aku gak bisa kalau makan sambel gak pakai sendok. Tanganku panas." Pernah merasakan tangannya seperti terbakar habis makan sambel, Nara tak berani mengulang hal itu lagi.
"Makan ayam geprek pakai sendok apa gak makin susah Ra?"
"Gimana lagi bang, daripada tanganku panas."
"Ya udah abang ambilin sendok, kamu tunggu bentar. Jagain lilinnya jangan sampai mati."
"Emang abang mau ngepet aku disuruh jaga lilin?"
__ADS_1
Septian hanya terkekeh lalu masuk kedalam rumah untuk mengambil sendok. Tak berselang lama, dia kembali dengan sebuah sendok dan garpu ditangannya.
"Tuh, mati kan lilinnya." Ucap Septian.
Nara hanya tersenyum absurd. Angin malam yang lumayan kencang membuat lilin itu tak mampu bertahan.
"Kalau beneran ngepet, udah digebukin masa abang Ra." Canda Septian sambil menyerahkan sendok dan garpu pada Nara.
Nara tergelak mendengar candaan suaminya. Dia lalu mencoba ayam geprek yang tampaknya seperti sangat pedas tapi ternyata tak begitu pedas. Septian sengaja menggunakan banyak cabai merah besar agar tidak pedas.
"Gimana?"
"Enak sih, tapi kurang nampol pedesnya."
"Ibu hamil gak boleh makan terlalu pedas."
"Ini.....?" Nara meraih gelas wine yang berisi minuman berwarna merah. Bertanya tanya, minuman apakah kiranya itu.
"Cobain aja."
Nara mendekatkan minuman itu kehidungnya. Dan seketika dia tergelak. Tercium aroma pandan disana. Sudah pasti jika itu sirup cocopandan.
Nara melihat Septian begitu lahap memakan masakannya sendiri. Sedangkan dirinya, sedikit kesusahan makan ayam geprek pakai sendok.
"Kenapa? gak enak?"
"Susah pakai ini." Nara mengangkat sendok dan garpunya.
"Mau abang suapin? tapi pakai tangan?" Tawarnya sambil mengangkat tangan kanannya.
Nara mengangguk cepat. Dengan wajah sumringah penuh semangat, dia menarik kursi kesebelah Septian. Saat Septian mengarahkan tangan yang sudah penuh dengan nasi, dia segera membuka mulutnya.
"Enak bang." Ujar Nara dengan mulut penuh makanan dan kedua jempol yang diangkat.
Septian terus menyuapi hingga makanan dikedua piring itu tandas tak tersisa.
Setelah makanan habis, mereka duduk ditepi kolam dengan kaki yang menjuntai kebawah. Memutar lagu lagu romantis dari ponsel sambil menikmati sekantong keripik kentang dan secangkir kopi.
Langit yang cerah bertabur bintang, menambah suasana romantis. Ditambah dinginnya air kolam yang merendam kaki mereka. Membuat ingin selalu berpelukan untuk saling menghangatkan.
"Maaf ya yang, cuma bisa ngasih gini." Ujar Septian sambil merangkul bahu Nara.
"Aku udah seneng banget kok bang." Jawab Nara sambil menyuapkan keripik kentang kemulut suaminya.
"Tapi kamu pasti lebih seneng kan kalau candle light dinner di hotel mewah?"
Nara menggeleng. "Bukan Dihotel atau halaman belakang yang bikin aku seneng. Tapi karena partner dinnernya abang, aku jadi seneng."
"Ish, udah pinter ngegombal kamu yang."
"Siapa dulu dong gurunya. Suhu Asep gitu loh." Godanya sambil mencium pipi Septian.
"Gak dingin?" Tanya Septian sambil mengusap paha Nara yang terekspos karena gaunnya terlalu pendek.
"Dingin."
Septian kian mengeratkan pelukannya. Tapi belum berniat mengajak Nara masuk. Rasanya sayang jika malam seindah ini tak mereka nikmati.
Septian meraih tengkuk Nara lalu mencium lembut bibirnya.
"Udah lebih hangat?"
"Dikit."
"Mau yang lebih panas?"
Nara mengangguk malu malu.
__ADS_1
"Tunggu entar malam, takut readernya gak kuat kalau di up siang siang."