
Luka karena pengkhianatan Abi belum sepenuhnya hilang. Ditambah kenyataan jika kasih sayang Devi selama ini hanyalah palsu, membuat Nara semakin terluka. Bukan sebentar dia kenal Abi. Bahkan mereka pacaran 8 tahun lebih. Waktu yang saat ini sungguh dia sesali. 8 tahun dia buang sia sia hanya untuk mencintai seorang pria yang tak lebih dari seorang pengkhianat.
Nara tak henti henti menyeka air mata yang terus meleleh sepanjang perjalanan menuju kamarnya. Dia merasa jika selama ini, hidupnya hanya dipenuhi dengan orang orang bertopeng.
Melihat Nara yang terus menyeka air mata, membuat Septian tak tega. Dia menghentikan kursi roda lalu berjongkok didepan Nara.
"Maafin abang ya. Gara gara abang, kamu sakit hati lagi karena masa lalu. Abang sungguh tidak tahu jika Abi yang abang kenal, adalah mantan suami kamu." Ujar Septian sambil menyeka air mata Nara. Hatinya ikut sakit melihat Nara yang terus menangis.
Nara menggeleng. "Abang gak salah. Mungkin sudah waktunya aku tahu jika tak ada yang tulus menyayangiku. Abi, Arumi, Mama Devi, tak ada yang tulus padaku." Jawab Nara sambil terisak.
"Jangan pernah bilang seperti itu. Jangan hanya karena tiga orang, kamu melupakan orang lain yang tulus menyayangi kamu. Salah satunya abang. Abang sayang.... banget sama kamu Ra. Ada juga papa, mama, kak Kinan, ibu, Sarah, dan Shaila. Bik Surti juga sayang, mang Dadang juga. Dan satu lagi." Septian meletakkan telapak tangan Nara diperut buncitnya. "Dia salah satu yang akan menyayangi kamu dengan tulus."
Nara seketika menghambur di pelukan Septian. Mengabaikan tatapan beberapa orang yang lewat dengan pandangan aneh serta bisik bisik. Yang dia butuhkan sekarang adalah pelukan Septian. Hanya itu yang bisa membuatnya tenang dan nyaman.
Setelah Nara tenang, Septian kembali mendorong kursi rodanya menuju kamar.
"Kalian dari mana saja?" Tanya mama Tiur yang sudah menunggu didalam kamar bersama papa Satrio.
"Maaf mah, tadi kami ada kepentingan sebentar." Jawab Nara.
Mama Tiur yang melihat muka sembab Nara segera mendekat. "Ada apa sayang?"
Papa Satrio yang juga melihat hal yang sama ikut mendekat. "Ada masalah?"
Nara menggeleng sambil berusaha tersenyum.
"Ada apa Sep?" Tanya Papa Satrio. Tak mungkin tak ada apa apa wajah sampai sembab. Mata merah dan lelehan maskara mengotori pipi dan sekitar mata.
"Ini salah Septian Pah."
"Maksudnya?" Wajah papa Satrio langsung tegang.
"Saya mengajak Nara mengunjungi teman saya yang istrinya baru melahirkan. Saya tidak tahu jika itu adalah mantan suami Nara."
"Astaga." Mama Tiur memejamkan matanya sambil memegangi dadanya. Sedangkan papa Satrio, lebih pada geram. Dia tak ingin lagi berurusan dengan keluarga itu. Tapi Septian malah mengajak Nara menemui mereka.
"Apa kamu sebodoh itu sampai tidak tahu jika dia adalah mantan pacar Nara? Kamu itu terlalu ceroboh, bikin Nara sedih saja. Gimana kalau Kondisinya drop lagi?" Omel papa Satrio. Dia tak mau menyebut Abi mantan suami Nara. Karena dimatanya dan dimata hukum, pernikahan mereka tak pernah terjadi.
__ADS_1
"Maaf Pa." Jawab Septian sambil menunduk.
"Jangan marahi abang Pa. Dia tak tahu. Dia tak salah apa apa." Bela Nara.
"Dia ngomong apa sampai kamu nangis nangis kayak gini?" Tanya papa Satrio.
Nara langsung menceritakan tentang apa yang dia lihat dan dengar hari ini. Papa Satrio mengepalkan kedua tangannya. Andai saja dia ada disana, pasti akan buat perhitungan pada manusia manusia tak tahu diri itu.
"Kurang ajar mereka." Seru papa Satrio dengan nafas memburu menahan emosi.
"Sudah Pa, sudah. Yang penting Nara sudah terbebas dari manusia manusia seperti mereka. Mama justru merasa lega sekarang. Mama kadang merasa sungkan saat pelanggan spa milik Devi pindah ketempat mama. Tapi sekarang, sepertinya mama tak perlu memikirkannya lagi." Ujar Tiur sambil mengelus lengan suaminya agar lebih sabar. Anggap saja, ini adalah berkah dari musibah yang dulu menimpa Nara.
Tiur segera mengajak mereka pulang. Tak mau memperpanjang membahas orang orang tak penting itu.
Septian menarik koper berisi barang barangnya dan Nara. Sedangkan mama Tiur, mendorong kursi roda Nara sambil berjalan beriringan dengan papa.
"Biar saya saja yang ambil mobilnya Pah." Ucap Septian saat mereka sampai di depan lobi.
"Saya saja, kamu temani mama dan Nara." Papa Satrio bergegas menuju tempatnya memarkir mobil.
Setelah papa Satrio sampai didepan lobi. Septian segera mengangkat tubuh Nara. Sedangkan Mama Tiur, gegas membukakan pintu belakang untuk mereka.
"Gak papa, abang lagi pengen gendong kamu." Sahut Septian sambil pelan pelan mendudukkan Nara dibangku belakang.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara. Nara memeluk Septian hingga tertidur dibahunya.
Sesekali papa Satrio melihat mereka dari center mirror. Perasaan lega timbul saat melihat Nara tidur dengan pulas di pelukan suaminya. Putrinya itu terlihat sangat nyaman. Kini Satrio mulai merasa jika Nara memang bahagia bersama Septian.
Sesampianya dirumah, Septian tak berniat membangunkan Nara. Dia lagi lagi, menggendongnya hingga dikamar mereka.
"Lihatlah Pah, Septian sangat perhatian pada Nara." Ujar mama Tiur sambil memperhatikan Septian yang menggendong Nara menaiki tangga. Papa Satrio yang berdiri disebelahnya hanya diam. Tapi dalam hati, dia membenarkan ucapan istrinya.
"Nara bahagia bersama Septian. Mama bisa melihat itu. Kalau bisa, jangan terlalu keras padanya. Anak kita bahagia Pah. Bukankah itu yang kita mau." Lanjutnya sambil melingkarkan tangan dilengan suaminya.
Papa Satrio juga berfikir demikian. Baginya, kebahagian Nara adalah segalanya. Sepertinya, sudah saatnya dia yakin pada menantunya. Yakin jika dia adalah pria paling tepat untuk Nara.
...******...
__ADS_1
Nara sangat lahap menyantap makan malamnya. Empat hari dirumah sakit membuat lidahnya merindukan masakan Bik Surti. Dia sampai nambah dua kali saking nikmatnya ayam ungkep dan sambel ijo bikinan bik Surti. Ditambah acar timun kesukaannya, serta masih banyak lagi lauk yang sengaja dipersiapkan untuk menyambutnya.
"Makan yang banyak Sep. Empat hari dirumah sakit pasti kurang makan. Ayo nambah lagi. Lihat Tuh Nara, sampai nambah dua kali." Ujar mama Tiur.
Septian hanya mengangguk. Jujur dia masih sungkan kalau harus nambah.
"Gimana kerjaan kamu? Cuti 4 hari gak dipecat?" Tanya Papa Satrio.
"Sebenarnya hari ini gak dapat cuti Pah. Tapi ya sudahlah, kalau dipecat, berarti harus cari kerja ditempat lain." Jawab Septian.
Nara menghentikan makannya. Ada perasaan bersalah dihatinya. Semua ini gara gara dia yang kurang hati hati hingga jatuh.
"Maaf." Ucap Nara sambil menoleh kearah Septian.
"Bukan salah kamu. Udah, jangan dipikirin." Jawab Septian sambil mengusap punggung tangan Nara.
"Kapan wisuda?" Papa Satrio kembali bertanya.
"Jadwalnya dua bulan lagi Pah?"
"Disamping salon dan spa mama, ada tempat kosong yang disewakan. Tempatnya sangat strategis. Gimana kalau sembari menunggu wisuda, kamu buka coffee shop disana."
Septian menghentikan makannya. Andai saja dia punya modal, pasti langsung bilang iya.
"Papa yang modalin." Lanjut Papa Satrio.
Nara hampir saja tersedak mendengarnya. Sedangkan Septian, dia bingung harus bereaksi seperti apa. Yang pasti, dia sungkan menerima bantuan sebesar itu dari mertuanya.
"Beneran Pah?" Nara memastikan. Kebahagiannya jelas terpancar diwajahnya. Apa ini artinya , papanya sudah bisa menerima Septian? Semoga saja.
"Ya kalau suami kamu berminat. Kalau dia mau cari kerja sesuai ijazah juga terserah. Toh dia sudah selesai sidang. Nilai sudah keluar, sudah bisa buat melamar kerja." Jawab papa Satrio sambil melanjutkan makan.
"Gimana bang?" Tanya Nara penuh antusias.
"Saya pikirkan dulu ya Pah."
"Terserah kamu. Papa hanya ingin membantu. Tapi balik lagi, semua tergantung kamu."
__ADS_1
Sebenarnya Septian ada rencana melamar di perusahaan elektronik milik asing tempat ayahnya bekerja dulu. Ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja. Dan Septian mendapatkan kemudahan jika mau melamar kesana. Dan kemungkinan diterima 90 persen.
Sarah dan Shaila juga mendapatkan bea siswa dari perusahaan itu hingga lulus SMA. Selain dapat kompensasi uang, biaya pendidikan anak juga ditanggung perusahaan.