Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
DIRAWAT


__ADS_3

Septian mondar mandir didepan UGD. Dia tak bisa tenang sebelum mendengar jika Nara dan bayi mereka baik baik saja. Teringat wajah pucat pasi Nara saat dibawa masuk ke UGD, membuat Septian cemas luar biasa. Bibirnya tak henti henti mengucap dzikir dan doa. Berharap Allah masih mengijinkan dia dan Nara untuk menjadi orang tua.


"Tenang Sep." Ujar Johan sambil menepuk bahu Septian.


"Mana bisa gue tenang Jo. Istri sama anak gue belum jelas keadaannya." Septian mengacak acak rambutnya karena frustrasi. "Tadi itu gimana sih Jo ceritanya, Nara jatuh apa gimana?"


Johan bingung harus mulai cerita darimana. Dia memang menyukai Mayang. Tapi tak berarti dia harus menyembunyikan fakta kan? Dan akhirnya, dia menceritakan kronologi kejadian dikampus tadi.


"Si Mayang gak pernah bosen bikin ulah. Dulu saat gue sama Nurul. Udah gak terhitung ulah dia. Tapi selalu gue maafin mengingat dia udah gue anggap kayak adik sendiri. Tapi kali ini, kalau sampai terjadi sesuatu sama Nara atau anak kami. Gue bakal bikin perhitungan sama dia." Tekan Septian sambil menonjok dinding UGD. Dia butuh penyaluran rasa kesalnya pada Mayang.


"Semoga aja Bu Nara dan anak lo baik baik aja." Ucap Johan.


Tak lama kemudian dokter keluar dan memanggil keluarga Nara. Septian dan Johan, kedua pria itu segera menghampiri dokter.


"Saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Septian.


"Puji syujur, istri anda dan janin dalam kandungannya baik baik saja."


"Alhamdulillah." Ucap Septian dan Johan bersamaan.


"Tapi istri anda mengalami flek. Jadi harus bedrest minimal 3 hari."


"Apa itu berbahaya dok?"


"Berbahaya jika dibiarkan. Jadi saya sarankan, istri anda dirawat dirumah sakit biar perkembangannya bisa terus kami pantau."


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri dan anak saya dok."


"Baiklah kalau begitu."


"Bisa saya melihat kondisi istri saya?"


"Silakan."


Septian segera masuk kedalam. Dia melihat Nara terbaring diatas brankar dengan wajah yang masih pucat. Matanya masih tampak memerah karena habis menangis. Hampir sepanjang perjalanan kerumah sakit, Nara memang menangis terus.


"Bang." Panggil Nara saat melihat suaminya datang.


Septian menghampirinya lalu berdiri disamping brankar dan menggengam tangan Nara.


"Semua baik baik saja. Udah gak usah sedih. Gak usah mikirin yang aneh aneh. Apa masih sakit?"


Nara menggeleng.


Johan menyusul masuk untuk melihat kondisi Nara serta mengembalikan kunci mobil.


"Gimana Bu, udah baikan?" Tanya Johan.


Nara hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Sep, gue pulang dulu ya." Pamitnya sambil menyerahkan kunci mobil pada Septian.


"Makasih banyak ya Jo."


"Sama sama. Saya permisi dulu Bu." Johan segera keluar meninggalkan mereka.


Septian merapikan rambut Nara yang berantakan disekitar wajah lalu mengecup keningnya.


"Kalau ada yang sakit, bilang ke abang."


"Maafin aku ya bang. Aku ceroboh, aku __"

__ADS_1


"Udah, udah, Johan udah cerita semua. Ini bukan salah kamu. Yang penting kamu dan anak kita baik baik saja. Jangan pikirkan yang lain lagi."


Obrolan mereka terhenti saat suster datang dan memberitahu Septian untuk mengurus kepindahan Nara ke ruang perawatan.


Septian segera menuju tempat administrasi untuk mendapatkan kamar.


"Mau dirawat di kelas berapa pak?" Tanya perempuan cantik, petugas administrasi.


Pertanyaan yang sungguh membingungkan untuk Septian. Kelas 2 atau 3,rasanya tak mungkin. Karena harus bersama dengan pasien lain. Apa kata mertuanya nanti kalau tahu Nara dirawat dikelas tersebut. VVIP, rasanya mustahil. Mengingat dana yang dia punya sangat terbatas.


"Kelas berapa pak?" Petugas kembali bertanya karena Septian tak kunjung memberi jawaban.


"Boleh saya lihat rincian harga masing masing kamar?"


Petugas tersebut mengangguk lalu mengeluarkan selembar kertas berisi rincian harga masing masing kamar.


Mata Septian membulat sempurna melihat berapa harga perharinya di ruang VVIP. Seumur hidup, baru hari ini dia tahu jika semahal itu kamar perawatan VVIP. Hanya kamar saja, sudah satu juta lebih perharinya. Itu belum biaya lain lagi.


Septian memijit mijit pelipisnya. Hanya untuk memilih kamar perawatan saja, sudah sepusing ini. Keterbatasan dana memang membuat segalanya terasa sulit.


"Kamar kelas 1." Akhirnya dengan segala pertimbangan, dia memilih yang tengah.


"Baiklah, kalau begitu silakan mengisi formulir data pasien dan memberikan deposit. Setelah itu, kami akan urus pemindahannya."


Setelah melakukan semua prosedur, Septian kembali lagi ketempat Nara.


...*****...


Proses pemindahan Nara sudah selesai. Dan wanita itu juga sudah menggunakan baju pasien. Tapi Septian, pria itu duduk termenung di disamping ranjang. Tampak sekali jika dia sedang banyak pikiran. Dan yang utama, tentu saja memikirkan respon mertuanya saat tahu Nara dirawat di kelas satu. Bukan VIP atau bahkan VVIP.


"Astaga bang, aku sampai lupa kalau hari ini abang sidang. Gimana hasilnya?"


"Alhamdulillah abang lulus Ra."


"Ada apa bang?"


"Maaf ya Ra. Cuma bisa ngasih kamu perawatan dikelas 1." Ujarnya sambil menggenggam tangan Nara. Mungkin perawatan kelas satu sudah luar biasa untuk keluarganya. Bahkan dulu saat Sarah sakit, ayahnya hanya mampu memberikan pelayanan kelas 2. Tapi bagi keluarga Nara, jelas berbeda.


"Astaga bang, aku kira kamu mikirin apaan." Nara geleng geleng. "Ini udah bagus kok bang. Aku gak papa disini. Yang penting gak campur sama pasien lain. Kalau campur, aku gak nyaman, gak bisa tidur. Udah gak usah dipikirin. Aku nyaman kok disini." Terang Nara sambil tersenyum dan mengusap lengan Septian. Dia harus mulai belajar menerima keadaan suaminya. Belajar untuk memahami, sampai sebatas mana kemampuan suaminya.


Mungkin tak apa bagi Nara. Wanita itu bisa menerima. Tapi orangtuanya, apakah mereka terima anaknya dirawat dikelas satu?


"Aku yang harusnya minta maaf bang. Hari ini harusnya kita adakan perayaan buat kamu. Tapi aku malah harus bedrest kayak gini." Ucap Nara dengan wajah penuh penyesalan.


"Gak usah mikirin tentang itu Ra. Yang penting itu kamu dan anak kita." Sahut Septian sambil mengusap perut Nara. "Kalian segalanya buat abang." Septian meraih tangan Nara dan menciumnya berkali kali.


"Mama kok belum datang ya bang?" Nara sudah menghubungi mamamya sejak di UGD tadi. Tapi karena mamanya sibuk mengurusi kedua anak Kinan, mungkin telat datangnya. Kemarin Kinan melahirkan, tapi karena Septian masih sibuk mengurusi skripsi. Mereka belum sempat menengok.


"Bentar lagi kali Ra. Kamu udah ngasih tahu belum, kamar tempat kamu dirawat?"


"Udah."


"Atau mungkin anak anak kak Kinan rewel, jadi gak bisa ditinggal."


"Iya kali."


...*******...


Mendengar Nara masuk rumah sakit jelas membuat mama Tiur cemas. Dia ingin segera meluncur ke rumah sakit tapi anak anak Kinan rewel. Pengasuh mereka bahkan sampai kualahan menenangkan dibungsu yang terus mencari mamanya.


Setelah mereka tenang, mama Tiur segera meluncur kerumah sakit. Dia tak mengabari papa Satrio karena sedang ada seminar.

__ADS_1


Saat hendak memasuki lobi, dia melihat seseorang yang dia kenal sedang didorong dibrankar.


"Arumi." Gumamnya pelan. Wanita dengan perut besar itu tampak kesakitan. Sepertinya, dia akan segera melahirkan. Tapi mana keluarganya? tak nampak Abi ataupun mertuanya yang mendampingi.


Ibu Arumi sudah meninggal, dan ayahnya menikah lagi. Sejak saat itu, hubungannya dengan sang ayah merenggang.


Mungkin kalau dulu, mama Tiur akan langsung menghampirinya. Mengingat dia adalah sahabat baik Nara. Tapi tidak untuk saat ini. Semuanya sudah berubah. Dia sudah bukan lagi sahabat putrinya yang harus dia pedulikan.


"Mama." Seru Nara saat melihat mamanya datang.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?" Mama Tiur sangat cemas.


"Baik mah."


"Cucu mamah?" Tanyanya sambil mengusap perut Nara.


"Alhamdulillah baik juga Ma. Tapi aku harus bedrest beberapa hari."


"Syukurlah kalau begitu. Mama cemas waktu kamu telepon tadi."


"Duduk mah." Septian mempersilakan mama Tiur duduk dikursi yang tadi dia duduki.


Mama Tiur duduk sambil memperhatikan keadaan kamar. Dan hal itu, jelas membuat Septian ketar ketir.


"Gimana kak Kinan mah?"


"Baik sayang, besok juga sudah boleh pulang."


"Kalau aja aku gak harus bedrest, pasti udah njenguk kak Kinan. Dan kalau aja kita dirawat dirumah sakit yang sama, pasti bakalan enak."


"Udah gak usah mikirin kakak kamu dulu. Kamu istirahat aja, biar segera pulih dan bisa pulang."


Nara mengangguk.


"Sep, bisa kita bicara sebentar, berdua." Septian mengehela nafas. Sepertinya ketakutannya menjadi nyata. Mertuanya itu pasti keberatan dengan kamar perawatan Nara.


"Berdua? Nara tak boleh denger gitu mah?"


"Bentar sayang." Jawabnya sambil beranjak dari duduk. Septian segera mengikuti langkah ibu mertuanya keluar kamar.


"Kenapa gak di VIP?" tanya Mama Tiur langsung ke inti masalah.


"Maaf Ma, tapi......" Septian tertunduk malu..


"Karena biaya?"


"Kelas 1 juga sudah bagus mah. Nara juga tidak keberatan. Dia nyaman kok."


"Mungkin Nara tidak keberatan, tapi papanya? Jelas dia akan keberatan. Sebelum papanya datang, segera pindahkan Nara ke VIP atau VVIP." Mama Tiur mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan menyodorkan pada Septian.


"Pakai ini."


"Tapi mah." Septian jelas keberatan.


"Mama gak mau terjadi keributan hanya gara gara protes papanya. Lebih baik turutin kata mama. Jangan tersinggung, mama hanya ingin yang terbaik. Mama dan papa cari uang untuk Nara. Jadi jangan pernah keberatan menggunakan fasilitas apapun dari kami. Terlebih jika itu buat Nara. Sudah, ambil ini. Segera urus kepindahan Nara."


Mama Tiur menyerahkan kartu tersebut pada Septian dan memberi tahu pin nya. Mungkin terkesan memalukan untuk Septian. Tapi biarlah, gak usah mikirin harga diri dulu. Toh ini untuk kebaikan Nara dan anak mereka.


"Kamu pegang dulu selama Nara masih di rumah sakit." Lanjutnya lalu masuk kembali ke ruangan Nara.


.

__ADS_1


.


UDAH UP 2 NIH. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE. TERIMAKASIH


__ADS_2