Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TEMAN BARU


__ADS_3

Setelah melepas appron dan mengganti seragam dengan baju biasa. Septian bergegas keluar dari cafe. Sore ini begitu cerah. Matahari yang hampir terbenam memberikan efek cantik luar biasa dilangit. Dan seketika, dia teringat Nara. Istri cantiknya yang sekarang pasti sedang menunggu dirumah.


Septian menelepon Nara. Menanyakan apa dia sedang menginginkan sesuatu. Dan ternyata, wanita itu menginginkan pempek.


Dengan semangat 45, Septian berkeliling mencari pedagang pempek. Tapi teriakan dari seseorang membuatnya berhenti. Seorang pria tampak sedang mengejar orang yang dia teriaki jambret.


Septian yang mengendarai motor, segera menghadang motor di penjambret. Dan kakinya menendang penjambret tersebut hingga orang itu dan motornya terjatuh.


Beruntung Septian pandai bela diri. Dan dengan bantuan warga lain, akhirnya bisa membekuk jambret tersebut.


"Ini dompet mas nya?" Septian menyerahkan dompet tersebut pada korban.


"Terimakasih ya mas. Kalau tidak ada mas, pasti sudah raib dompet saya."


"Sama sama." Jawabnya sambil mengatur nafas yang masih ngos ngosan akibat berkelahi.


"Ini buat mas." Laki laki tersebut menyodorkan beberapa lembar uang merah pada Septian.


"Gak usah mas. Saya ikhlas nolongnya." Tolak Septian.


"Saya juga ikhlas ngasihnya." Pria itu memaksa. Dan akhirnya, Septian menerimanya.


"Eh mas, tahu penjual empek empek gak sekitar sini?" Tanya Septian.


"Tahulah. Makanan kesukaan saya itu. Ayo saya antar ke restoran yang pempek nya enak."


Restoran? Seketika Septian jadi kurang berminat. Sudah pasti harganya mahal. Padahal dia sedang mencari penjual keliling. Tapi mengingat dia baru dapat rezeki, jadi tak apalah.


"Jauh gak?"


"Deket kok. Naik motor mas saja. Mobil saya, saya parkir di depan ruko sana tadi." Orang itu menunjuk tempat dimana dia memarkir mobilnya. Juga tempat dimana dia dijambret tadi.


"Ayo kalo gitu." Septian segera naik keatas motornya disusul orang tersebut. Dengan arahannya, sampai juga mereka disebuah restoran yang menjual pempek. Restoran itu tampak ramai. Mungkin karena jam pulang kerja. Jadi dia harus sabar menunggu pesananannya dibuatkan.


"Astaga, sepertinya kita belum kenalan sejak tadi." Ujar pria itu saat mereka sedang duduk menunggu pesanan pempek.


"Saya Abi." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Septian." Sahut Septian sambil menjabat tangan Abi.


Mendengar nama Abi, membuat Septian teringat pada mantan suami Nara. Beberapa kali Nara pernah menyebut nama itu. Tapi, nama Abi itu pasaran. Belum tentu juga ini Abi yang sama, batinnya.

__ADS_1


"Kamu sepertinya lebih muda dari saya. Saya panggil langsung nama gak papa kan?" Tanya Abi.


"Senyamannya mas saja."


"Saya langganan disini Sep. Enak pempeknya. Sering banget kesini, dulu." Kata kata dulu seperti menggantung diudara. Dia jadi teringat pada mantan terindahnya, Nara. Mereka sesama penyuka pempek. Ya, dia adalah Abi yang sama. Abi yang dulu pernah menjadi suami Nara walaupun tak sampai 24 jam.


"Kalau saya sih kurang suka. Hanya saja, istri saya sedang ngidam pempek."


"Istrinya hamil?"


"Iya mas. Kalau mas, sudah menikah apa belum? Atau mungkin, sudah punya anak?" Septian balik bertanya.


"Istri saya juga sedang hamil." Jawab Abi dengan wajah yang tampak kurang bersemangat. Seperti tak bahagia dengan kehamilan istrinya. Tapi Septian tak berani bertanya. Takut menyinggung. Lagipula, bukan urusan dia.


Obrolan mereka terhenti saat pesanan Septian selesai. Mereka langsung menuju ruko tempat Abi memarkirkan mobilnya.


"Mau langsung pulang?" Tanya Abi setelah turun dari motor Septian.


"Enggak mas, bentar lagi magrib. Jadi mau sholat jamaah dulu. Mumpung lagi deket masjid." Septian menujuk dagu kearah sebuah masjid yang dekat dengan tempat itu. "Kalau mas nya mau sholat juga. Kita bisa barengan. Saya bonceng sekalian kemasjid." Tawarnya.


Abi tampak berfikir, kemudian dia mengangguk. "Ya udah, saya barengan mas saja."


Septian menarik gas motornya begitu Abi duduk dibelakangnya. Mereka menuju masjid yang jaraknya hanya sekitar 100 meter saja dari tempat itu. Sembari menunggu adzan yang sebentar lagi akan berkumandang, mereka duduk santai diteras masjid.


"Alhamdulillah istri saya tak pernah minta yang aneh aneh."


"Udah berapa bulan?"


"7 bulan."


"Bentar lagi lahiran dong. Pasti seneng banget ya?"


Abi tampak tersenyum getir. Ekspresi yang sama sekali tak menunjukkan jika dia bahagia menanti kehadiran anaknya. Seperti sedang membawa beban yang sangat berat sekali.


"Anak saya terdeteksi down syndrome sejak dalama kandungan." Ujar Abi sambil menatap nanar kedepan. Seolah masa depannya sudah musnah.


Seketika Septian terdiam. Sekarang dia tahu, apa masalah yang sedang dihadapi pria didepannya itu. Pantas saja, raut wajah pria itu langsung berubah jika membicarakan tentang kehamilan istrinya. Memiliki anak down syndrome, jelas itu masalah yang serius bagi orang tua yang tak mampu menerima kondisi tersebut.


"Mungkin karena dosa dosa saya dan istri. Makanya anak kami mengalami down syndrome."


"Jangan bilang seperti itu." Salak Septian. Dia jelas tak setuju dengan ungkapan itu. "Tidak ada dosa bawaan. Tidak ada anak yang menanggung dosa orang tuanya." Lanjutnya sambil menoleh kearah Abi.

__ADS_1


"Seperti apapun orang tuanya. Bahkan jika itu anak hasil hubungan diluar nikah. Anak itu tetap terlahir dalam keadaan suci, tanpa dosa."


Septian teringat anak dalam kandungan Nara. Anak hasil perbuatan dosa mereka.


"Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal. Semua anak pasti punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Termasuk anak down syndrome."


Dalam hati, Abi membenarkan ucapan Septian. Tapi kalau dipikirin pikir lagi, cobaan ini terlalu berat untuknya.


"Mengurus anak down syndrome bukanlah perkara mudah. Saya takut tak bisa menjaga amanah itu." Ujar Abi sambil menoleh kearah Septian yang duduk disebelahnya.


"Allah memberikan cobaan pada hambanya sesuai dengan batas kemampuannya. Jika Allah menunjuk mas dan istri mas sebagai orang tua anak down syndrome. Saya yakin, kalian pasti mampu."


"Bicara memang mudah. Tapi menjalaninya, saya yakin tidak mudah. Akan butuh banyak biaya untuk mengurusnya. Dan yang paling utama. Anak seperti itu anak menarik perhatian. Dan mungkin, akan banyak yang mencemooh kami saat kamu membawanya keluar." Ya, selain masalah finansial, malu adalah alasana utamanya.


Septian tersenyum mendengarnya. "Mungkin dulu seperti itu. Tapi saya yakin, pola pikir orang sekarang sudah berbeda. Banyak kok anak down syndrome yang mempunyai bakat khusus hingga akhirnya bisa meraih prestasi dan membanggakan orang tua. Selain itu, ada satu lagi kelebihannya yang sangat istimewa."


"Apa?" Abi tampak penasaran.


"Anak down syndrome akan mudah saat melalui proses hisab. Dia tak akan ditanya perihal sholat, puasa, atau ibadah lainnya. Dia hanya ditanya, siapa Tuhanmu. Setelah lolos tahap itu, dia akan masuk surga. Dan seorang anak yang masuk surga, akan berusaha menarik orang tuanya juga menuju surga."


"Mungkin mempunyai anak down syndrome dianggap sebagai cobaan. Tapi dibalik cobaan itu, ada surga yang menanti." Lanjut Septian.


Abi tersenyum kearah Septian. Kali ini, tampak tulus dan tanpa beban. "Makasih ya mas, berkat mas, saya lebih semangat menanti kehadiran putra kami. Sejujurnya, saat pertama kali mengetahui anak saya down syndrome, saya menyuruh istri saya untuk menggugurkannya. Saya malu memiliki anak down syndrome. Bahkan saya tak pernah mau menemani istri saya periksa kandungan. Seolah olah, saya menyalahkannya karena mempertahankan janin itu. Tapi sekarang, sepertinya, keputusan istri saya tepat."


Abi memang kecewa dengan keputusan Arumi yang tak mau menggugurkannya kandungannya. Sejak saat itu, hubungan mereka sedikit renggang. Tak ada lagi sebuah kebersamaan. Semua seperti pada jalannya sendiri sendiri.


Abi tak siap mempunyai anak down syndrome. Alasan utamanya karena malu. Selain itu, mimpinya untuk membangun perusahaan sendiri jelas tak akan kesampainga. Akan butuh banyak biaya untuk mengurus anak down syndrome. Dan Arumi, dia tak bisa bekerja lagi karena harus mengurus anaknya. Karena orang tua Abi, tak mau mengurus cucu istimewa. Sedangkan ibu Arumi sudah lama meninggal.


Septian menepuk bahu Abi beberpaa kali. "Semangat, saya yakin, mas bisa melalui ini semua."


"Usia kamu lebih muda. Tapi pola pikir kamu jauh lebih dewasa dari saya."


"Pelajaran hidup yang mendewasakan seseorang."


"Wah, beruntunng sekali istri kamu punya suami seperti kamu Sep."


Septian menggeleng. "Saya yang beruntung mempunyai istri seperti dia." Seketika bayangan Nara hadir dalam benaknya. Jadi kangen kan.


"Sepertinya kalian berdua saling mencintai."


"Bukankah memang seharusnya seperti itu suami istri."

__ADS_1


Abi mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya. "Ini nomor saya, tolong hubungi saya biar saya bisa simpan nomor kamu. Sepertinya, lain waktu, kita bisa bertemu kembali."


Septian menerima kartu itu lalu membacanya sekilas. "Kabari saya jika istri mas melahirkan. Biar saya mengajak istri saya menjenguk istri dan anak mas."


__ADS_2