
Shaila syok melihat kondisi dapur. Tepung berserakan dimana mana. Dan yang lebih parah lagi, adonan kue yang sudah tak pada tempatnya, sudah meleber di meja dan lantai. Ingin marah, sudah tentu tak berani. Alhasil, dia hanya bisa mendongkol dalam hati. Menarik nafas, lalu membuangnya perlahan.
"Sorry." Ucap Nara sambil tersenyum absurd. Jelas dia tak enak hati. Bukannya membantu, malah bikin rusuh.
"Suara apa tadi Sep?" Teriak Bu Lastri dari dalam kamar mandi.
"Bukan apa apa Bu. Cuma hal kecil." Jawab Septian sedikit teriak.
Shaila memutar kedua bola matanya malas. Cuma hal kecil katanya? Astaga, padahal untuk membuat adonan tadi sudah pasti pakai uang. Belum lagi kotornya? siapa yang mau bersihin. Tapi lagi lagi, Shaila cuma bisa menggerutu dalam hati.
"Biar abang yang beresin semunya." Septian seakan bisa membaca raut wajah Shaila. Membuat Shaila bisa sedikit bernafas lega.
"Kuenya, nanti kakak beliin aja Sha. Jadi gak perlu bikin lagi." Nara ikut menimpali. Setidaknya, itu bentuk tanggung jawab yang bisa dia berikan.
Shaila manggut manggut lalu meninggalkan dapur.
"Gara gara abang nih." Seru Nara sambil memelototi suaminya.
"Lah, kok jadi abang yang salah. Kan kamu yang numpahin adonannya."
Nara berdecak kesal lalu berjalan menuju wastafel. Di terpaksa membersihkan wajah disana karena di kamar mandi masih ada Bu Lastri.
"Sini abang bantu bersihin." Septian menyusul kewastafel lalu membantu membersihakan wajah Nara yang belepotan tepung. Dia juga membersihkan bagian rambut Nara yang tampak putih karena tepung.
Nara bergantian membersihkan wajah Septian. Nara mendekatkan wajahnya kepipi Septian dan mengendus disana. Adonan yang berasal dari telur dan gula itu sudah pasti berbau sedikit amis.
"Amis bang, harus dicuci pakai sabun."
Septian malah meraih pinggang Nara hingga menempel ditubuhnya.
"Abang, apaan sih." Nara melihat kanan kiri, takut ada orang. Malukan, kalau ke gap lagi pelukan didapur.
"Kamu sih, godain abang duluan. Ngapain pakai cium cium pipi coba." Goda Septian sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Gak usah ge er, aku cuma mau mastiin, amis gak?" Sanggah Nara. "Lepas bang, takut ada yang lihat." Nara berusaha berontak.
Tapi emang dasarnya Septian yang usil. Bukannya melepaskan, dia malah mengeratkan peluakannya. Memajukan wajah lalu mendaratkan bibirnya kebibir Nara.
"Asep!" Teriakan keras membuat ciuman itu langsung terlepas.
Septian dan Nara langsung menoleh kesumber suara. Ternyata, ada Johan disana. Pria itu berdiri mematung di pintu masuk dapur. Menatap cengo kearah Septian dan Nara, dengan mulut sedikit terbuka.
"Johan!" Septian tak kalah syok dari Johan. Sedangkan Nara, dia menunduk karena malu..
"Nga, Ngapain lo disini?" Tanya Septian.
"Di, dia... Bu, Bu Nara."Johan menunjuk kearah Nara. "Istri lo?"
"Iya." Jawab Septian. Dia tak mungkin bisa mengelak. Apalagi, Johan tetangganya, pasti nanti juga sering melihat Nara disini.
Johan hampir saja terjatuh jika dia tak berpegangan pada dinding. Wow... ini berita paling menghabohkan versi nya. Dia bertandang kerumah Septian gara gara ibunya yang terus nyerocos menceritakan tentang istri Asep. Tak mau mati penasaran, ingin memastikan sendiri, seperti apa istri Asep yang katanya cantik banget dan kaya raya itu.
"Sumpah, gue masih gak bisa percaya." Johan geleng geleng. Mereka kuliah ditempat yang sama, bahkan Nara juga mengajar disana. Kenapa bisa tak ada yang tahu jika mereka suami istri?
__ADS_1
Septian segera menghampiri Johan dan mengajak dia bicara di ruang tamu.
"Gila lo Sep. Jadi bini lo Bu Nara. Bisa bisanya kalian menyembunyikan hal itu. Padahal nih ya, gue pikir, Bu Nara pacaran sama Diego." Septian buru buru membekap mukut Johan. Tak mau saja keluarganya mendengar, takut berpikiran macam macam tentang Nara.
"Pelan aja kalau ngomong." Lirih Septian sambil melepaskan tangannya dari mulut Johan.
"Jadi Bu Nara bini lo, bukan pacarnya Diego?" Lirih Johan.
"Enak aja, bini gue lo kata pacarnya Diego."
"Ya kan gue gak tahu bego. Makanya diakui didepan umum. Biar gak dideketin sama cowok lain. Udah tahu bininya bening gitu, ngapin juga main rahasia. Diembat cowok lain baru tahu rasa lo."
"Amit amit." Septian menepuk nepuk dahinya sendiri. "Emang harus gitu dipublikasikan. Kita juga bukan artis kali. Eh., lo gak usah banyak omong sama yang lain. Pura pura tak tahu aja. Sampai mereka tahu sendiri nantinya." Pesan Septian.
...*******...
Nara sedang berada dikamar Shaila dan Sarah. Kedua iparnya itu sedang membantunya belajar memakai hijab model pashmina. Nara sudah berkali kali belajar melalui tutorial di internet, tapi hasilnya masih kurang memuaskan. Hingga dia akhirnya meminta bantuan iparnya.
"Yang model kayak gini Sha." Nara menunjukkan model gambar diponselnya. Gambar model hijab yang dia inginkan.
"Siapp.. Kakak diem bentar ya. Biar aku yang makaiin. Kakak perhatiin sambil belajar." Nara mengangguk dan menuruti perkataan Shaila.
Shaila sudah sangat mahir. Tak sampai lima menit, dia sudah selesai. Padahal itu dia termasuk pelan, karena sekaligus memberi tutorial pada Nara.
"Siapp.. " Shaila membalikkan bahu Nara menghadap cermin. "Perfect, kakak cantik banget, sumpah." Puji Shaila.
"Aduh aduh.... Abang bakalan gak kedip ini nanti." Goda Sarah sambil menyenggol lengan Nara.
"Semua itu butuh proses kak, gak instan. Dulu awalnya Sha juga susah. Tapi lama lama karena biasa, jadi mudah. Udah kayak makanan sehari hari." Jawab Shaila.
Sarah meraih ponselnya yang ada diatas meja belajar. "Selfie yuk." Ujarnya penuh semangat.
"Yuk yuk." Jawab Shaila dan Nara barengan.
Sarah segera mengarahkan kamera ponselnya kearah mereka bertiga. Bergaya secute mungkin untuk menghasilnya gambar sesuai dengan harapannya.
"Ganti pakai ponsel kakak dong." Nara meraih ponselnya lalu segera membuka kamera dan mengerahkan pada mereka.
"Wow.... bagus banget kameranya kak. Padahal ini lagi didalam ruangan loh, malem lagi. Tapi bisa bening gini ya?" Puji Sarah.
"Beda kelas lagi Sar, sama ponsel kamu." Cibir Shaila.
"Hahaha.... betul betul betul."
Cekrek Cekrek cekrek
Nara mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya. Hingga suara ketukan pintu menghentikan kegiatan seru mereka.
"Masuk." Sahut Shaila dari dalam.
Ternyata Septian yang datang. Tatapan pria itu langsung tertuju pada Nara. Istrinya itu tampak begitu cantik dengan balutan gamis dan hijab pashmina.
"Masyaallah, istri abang cantik sekali." Puji Septian sambil tersenyum dan terus menatap Nara.
__ADS_1
"Cie... Cie... " Goda Sarah dan Shaila.
"Istri abang udah bisa dibawakan?" Tanya Septian sambil berjalan menghampiri mereka bertiga. Matanya tak lepas sama sekali dari sosok Nara.
"Tuh kan bener kata Sarah. Abang sampai gak kedip. Terpesona lihat Kak Nara. Terpesona... aku... terpesona." Sarah malah lanjut menggoda sambil bernyanyi.
Septian tak mempedulikan Sarah, dia meraih tangan Nara dan mengajak wanita itu kembali kekamar mereka. Tapi masih baru mau buka pintu. Ibunya sudah keburu muncul dari arah tangga.
"Masyaallah, mantu ibu cantik sekali." Puji Bu Lastri sambil menyentuh lengan Nara. "Langsung kebawah ya, bentar lagi, tamunya udah mulai datang."
"Sekarang bu?" Tanya Septian.
"Ya iyalah, masak besok Bang." Jawab Bu Lastri sambil geleng geleng. "Sarah, Shaila, buruan turun." Teriak Bu Lastri.
Kedua anakmya itu langsung menyahut dan keluar dari kamar.
Nara yang hendak ikut turun kebawah ditahan oleh Septian.
"Kita selfi dulu." Ajaknya sambil menahan pergelangan tangan Nara.
"Ya udah, kita tunggu dibawah ya kak." Ujar Shaila yang langsung mengikuti langkah ibu dan adiknya menuruni tangga.
Septian mengajak Nara masuk kamar karena ponselnya ada dikamar. Menuntun wanita duduk diatas ranjang lalu melakukan selfi beberapa kali.
"Udah bang, aku udah ditungguin nih." Rengek Nara karena Septian masih terus terusan mengambil foto, entah untuk yang keberapa kalinya.
"Satu kali lagi." Septian kembali mengarah kamera ponsel kearah mereka berdua.
"Dari tadi satu kali satu lagi terus."
Seketika Septian tergelak mendengar protesan istrinya. Dan kali ini, Septian tak bohong. setelah satu kali jepretan, dia meletakkan ponselnya diatas bantal.
"Istri abang cantik sekali sih." Puji Septian sambil menyentuh dagu Nara.
Nara menggigit bibir bawahnya dengan wajah bersemu merah. Hatinya sudah seperti taman bunga yang bermekaran dan dipenuhi kupu kupu.
"Rasanya gak rela ngelepasin kamu kebawah. Pengen aku kunciin dikamar aja." Goda Septian.
"Apaan sih. Udah ah, aku turun dulu." Nara segera bangkit dari duduknya. Tapi baru saja dia hendak melangkah, Septian kembali menahan pergelangan tangannya. Dia berdiri lalu memegang kedua bahunya dan menatap matanya Nara dalam.
Cup
Septian mengecup kening Nara. Membuat jantung Nara jadi berdetak kencang.
"You are so beautifull."
Septian merasa seperti orang yang baru jatuh cinta. Setiap hari, dia merasakan jatuh cinta lagi dan lagi pada istrinya itu. Mungkin karena mereka tak pernah pacaran sebelum menikah. Jadi rasanya, masih seperti orang baru pacaran. Masih hangat hangatnya, masih menggebu gebu.
.
UDAH UP 2 NIH HARI INI. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE, MUMPUNG BESOK HARI SENIN
TERIMAKASIH
__ADS_1