
Malam ini, meski bukan weekend, cafe tampak ramai. Mungkin karena ada live musik dari sebuah band indi yang cukup populer.
Dan karena itu juga, Septian yang hendak menghampiri Nara terkendala karena banyaknya orderan. Ditambah lagi, manager yang matanya seakan tak pernah lepas memperhatikan kondisi cafe. Membuat Septian yang hendak mengambil ponselpun terasa sungkan. Takut dapat teguran.
Sedangkan Nara, dia terus memperhatikan Septian yang sibuk. Tapi pandangan matanya tiba tiba dihalangi oleh seorang pemuda yang tiba tiba duduk didepannya.
"Sendirian? Kenalin, aku Bagas." Pemuda tak dikenal itu menyodorkan tangannya kearah Nara. Dengan sunyum menawan dan gaya sok cool, dengan harapan si wanita akan terpesona. Tapi sayangnya, tidak berlaku untuk Nara.
"Bisa pergi dari situ gak? anda menghalangi pandangan saya." Usir Nara dengan nada jutek.
"Astaga, maaf. Mau nonton live musik ya?Lumayan enak sih suara vokalisnya. Tapi suara aku lebih enak loh." Ujar cowok itu dengan pede nya sambil menggeser duduknya agar Nara bisa melihat kearah band.
Nara memutar kedua bola matanya malas. Siapa juga yang mau lihat band, dia mau lihat Septian. Dasar sok tahu, batin Nara.
"Mau denger aku nyanyi gak?"
Nara mengerutkan dahinya sambil menatap jengah kearah Bagas. Tak paham dengan sikap cowok yang sok kenal itu.
"Enggak minat. Mending pergi dari sini deh." Usir Nara.
Disudut lain, Septian mulai kesal melihat Nara bicara dengan pria tak dikenal. Dia buru buru menyelesaikan pesanan dan hendak pergi. Namun sial, Kiki lebih dulu memanggilnya.
"Sep, apa apaan sih lo. Pesanannya espresso sama latte. Kenapa dua duanya latte?" Tegur Kiki yang kesal karena Septian salah membuat pesanan.
Septian berdecak sambil menepuk jidatnya sendiri. Karena Nara, dia jadi tak bisa fokus.
"Napa lo, ada masalah keluarga? bini lo selingkuh sama cowok lain? Apa kurang jatah?" Ledek Soni, sesama barista sambil terkekeh. Semuanya memang tahu Septian sudah menikah, hanya saja tak kenal dengan istrinya.
"Sok tahu." Desis Septian sambil menatap tajam kearah Nara lalu kembali kedepan coffee maker untuk membuat espresso.
Melihat ada latte yang nganggur, Tyo segera mengantarkan kemeja Nara. Niat hati ingin mengajak kenalan. Tapi sesampainya dimeja itu, dia malah mendengar Nara sedang mengusir cowok yang tadi duduk didepannya. Membuat Tyo seketika kicep, tak berani godain Nara.
"Ini mbak latte nya." Dengan sopan Tyo meletakkan latte diatas meja.
"Loh kok gambar smile, bukan love?" Protes Nara.
"Emangnya tadi, mbaknya pesen latte art gambar love ya? bukannya hanya bilang latte art doang?" Tanya Tyo.
"Tapikan aku tadi sudah bilang mas. Suruh Septian yang bikin." Nara pikir, tanpa bilangpun, Septian sudah pasti bikin latte art gambar love.
"Ini Asep yang bikin kok mbak. Atau... mau dibikinin yang baru?" Tawar Tyo.
"Gak usah." Jawab Nara sedikit kecewa sambil menatap kearah Septian. Tapi pria itu sedang tak melihatnya.
__ADS_1
Septian sedang fokus membuat latte art saat Kevin datang.
"Americano satu." Seru Kevin didepan meja bar.
Soni mengacungkan jempolnya, bertanda dia akan segera membuatkan.
"Kenapa muka lo?" Tanya Soni sambil membuatkan pesanan.
"Kesel sama Si Tyo, main serobot aja dia. Padahal gue yang mau nganter pesanan ke meja 11. Eh... malah diduluin." Jawab Kevin yang tampak kesal.
"Pesanan meja 11 udah dianter?" Tanya Septian terkejut. Padahal saat ini, dia sedang bikin latte art spesial buat Nara.
"Latte yang lo buat tadi, yang salah orderan. Latte itu udah diantar ke meja 11 ama Tyo. Resek emang tuh anak. Gak bisa lihat yang bening dikit." Kesal Kevin.
"Tapi emang cakep sih. Dah gitu sendirian pulak. Auto bikin para jomblo terpesona dan pengen ngajak kenalan." Sahut Soni. "Kalau gue sama Asep mah, udah punya bini. Udah bukan masanya lirik kanan kiri. Iya gak Sep?" Tanyanya sambil melirik Septian
"Dari jauh aja kelihatan cakep. Dari dekat makin cakep Son." Kevin geleng geleng sambil membuang nafas kasar. "Dah gitu, tuh bahu mulus banget, bikin otak gue traveling Kemana mana."
PLAK
"Gila lo Sep, ngapain mukul pala gue." Protes Kevin sambil melotot.
"Cuci otak kotor lo. Tuh yang lo travelingin, bini gue." Sentaknya lalu segera pergi dari tempat barista.
Soni mengedikkan bahu, karena dia memang tak tahu apa apa. Dia barista baru disini.
Septian jelas tak terima jika istrinya jadi objek santapan mata mata nakal tak bertanggung jawab. Apalagi sampai bikin otak traveling kemana mana, jelas dia tak rela lahir batin. Dengan langkah cepat, dia segera pergi keloker untuk mengambil jaketnya.
"Malam semuanya... " Bagas tiba tiba sudah bediri dipanggung mini dan menyapa para tamu. "Malam ini, saya ingin menyanyikan sebuah lagu yang berjudul all of me, dari john legend. Spesial buat wanita cantik yang duduk dimeja nomor 11."
Mata Nara seketika melotot. Tak menyangka jika cowok yang tadi mengajaknya kenalan menunjuknya dari atas panggung. Membuat semua mata pengunjung otomatis melihat kearahnya.
Septian yang baru kembali dari loker tak kalah terkejut mendengarnya.
"Tunggu." Teriak Septian saat para pemain band hendak membunyikan alat musik mereka. Membuat semua orang melihat kearahnya.
"Maaf, saya keberatan jika anda menyanyikan lagu spesial untuk wanita dimeja nomor 11. Karena dia adalah istri saya." Ujar Septian dengan suara lantang.
Sontak pria yang hendak menyanyi itu menunduk karena malu. Dan para pengunjung langsung kasak kusuk. Dan yang paling terkejut, sudah pasti teman teman Septian. Terlebih Kevin, sumpah dia malu banget. Tyo dan Firman hanya bisa melongo. Dan Soni, menatap tak percaya.
Septian berjalan menghampiri Nara lalu menyerahkan hoodinya.
"Pakai ini."
__ADS_1
"Kenapa?" Dengan bodohnya, Nara malah bertanya kenapa. Membuat Septian makin jengkel saja.
"Baju kamu terlalu seksi Ra."
"Sexxy? bagian mananya? perasaan biasa aja. Gak ketat, gak kelihatan dadanya. Bawahnya juga gak terlalu pendek."
Septian berdecak mendengar Nara yang malah bicara panjang lebar. Dia yang sudah geram langsung memakaikan hoodynya tanpa persetujuan Nara.
"Ini Indonesia Ra, bukan UK? Versi seksinya beda."
Nara diam saja tanpa protes saat hoody over size itu menenggelamkan tubuhnya.
"Bang, harus gitu pakai ini. Apa gak kelihatan lucu. Panjangnya hampir sama dengan gaunku loh."
"Mending kelihatan lucu daripada menggoda iman para pria satu coffe shop." Jawab Septian dengan nada jengkel tapi masih berusaha untuk sabar dan tenang.
"Abang marah?"
"Bukannya marah, tapi gak suka milik abang dinikmati banyak orang." Ujarnya sambil merapikan rambut Nara yang berantakan karena memakai hoody.
Septian senantiasa memelankan suaranya. Tak mau ada yang sampai mendengar obrolan mereka. Dan untungnya, band mulai memainkan musik. Jadi omongannya tenggelam dalam lagu.
"Apalagi sampai bikin otak pria lain traveling kemana mana. Gak ikhlas abang Ra. Sadar gak sih, kalau penampilan kamu tadi, mengundang mata pria lain untuk menatap kamu. Suka kamu seperti menjadi pusat perhatian seperti itu?"
Nara menggeleng sambil menunduk.
Septian meraih tangan Nara lalu menggenggamnya. "Maaf jika menurut kamu, abang terlalu posesif. Tapi bolehkan kalau abang egois. Tak ingin membagi hak abang pada orang lain?"
Lagi lagi Nara mengangguk.
Septian menatap latte yang baru diseruput sedikit dimeja Nara lalu meraihnya.
"Latte itu bukan untuk kamu sebenarnya. Itu buat orang lain." Terangnya sambil meminum latte itu hingga habis.
"Abang buatin yang baru lagi ya, yang ada lovenya. Yang bikinnya tulus pakai cinta."
Nara seketika mengangguk sambil tersenyum. Septian memang pandai bikin dia baper.
"Abang kerja lagi." Pamit Septian sambil menyentuh puncak kepala Nara.
"Bentar." Nara menahan lengan Septian lalu mengelap sudut bibirnya yang terdapat sisa latte.
Tentu saja Septian baper dibuatnya, hingga tanpa sadar senyum senyum sendiri.
__ADS_1
"I love you abang. Cup." Seketika mata Septian membola. Nara mencium pipinya ditempat umum. Membuat wajahnya langung merah dan terasa panas.