Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
AKIBAT CANDAAN


__ADS_3

Shaila dan Diego berada di sebuah mall. Mereka sedang memilih milih baju new born disebuah toko perlengkapan bayi. Shaila tampak bingung, selain baju, kaos kaki dan topi, dia tak tahu apalagi yang harus dibeli.


"Lucu banget gak sih ini?" Diego menunjukkan sebuah jumper bayi berwarna pink dengan gambar strawberry.


Shaila mendengus, anak abangnya laki laki, masa iya pakai baju pink.


"Anak abang laki laki." Shaila kembali mengingatkan.


"Astaga iya, lupa." Diego mengembalikan baju tersebut ke gantungan. Kemudian dia mengambil beberapa jumper dengan motif dinosaurus dan awan.


"Jangan banyak banyak." Shaila mengembalikan baju tersebut ketempatnya. Dia sudah mendapatkan 2 setel baju new born, jadi dia tak ingin menambah baju lagi. Mengingat uang yang dia bawa sangat terbatas, sedangkan baju ditempat ini mahal mahal.


Diego mengambil kembali baju tersebut dan memasukkannya kedalam keranjang belanjaan. "Bagus ini, Bu Nara pasti suka."


"Tapi... "


"Gue yang bayar."


Mendengar itu, Shaila tak lagi mengembalikan. Setidaknya, dia tak takut kekurangan uang saat di kasir.


"Kebutuhan bayi baru lahir itu apa saja sih?" Tanya Shaila yang lumayan kebingungan.


"Ya mana gue tahu Sha." Jawab Diego.


Tak mau semakin bingung. Akhirnya Shaila bertanya pada pegawai toko. Dan ternyata, banyak sekali yang harus dia beli menurut penjaga toko tersebut. Mulai dari popok, bedong, gurita, selimut, handuk dan lain lain sampai Shaila bingung sendiri.


Akhirnya Diego menyuruh penjaga toko menyiapkan semuanya dan langsung dibawa kekasir. Nanti mereka akan mengambil disana. Karena perintilan itu sudah diurus penjaga toko, jadi mereka tinggal mencari topi dan kaos kaki.


Diego mengambil sebuah topi rajut pink yang ada hiasan bunganya.


"Laki laki." Ujar Shaila jengah.


"Tauk. Gue hanya lihat lihat doang." Dia mendekati Shaila sambil membawa topi tersebut.


"Pakaian bayi perempuan lucu lucu. Gue mendadak pengen cepet capet punya anak perempuan deh."


Shaila mengernyitkan Dahi. Ada ada saja cowok itu, nikah belum, udah pengen punya anak saja.


"Nikah muda kayaknya enak. Lo gak pengen nikah muda Sha?"


"Enggak, aku masih pengen sukses dulu. Pengen nyari uang, pengen bahagiain ibu." Jawab Shaila sambil memasukkan sebuah topi rajut warna grey lalu berjalan kearah jajaran kaos kaki.


"Huft, gak asik lo, gak kompak." Sahut Diego sambil mengembalikan topi pink yang tadi dia bawa ketempat semula. "Kalau lo gak mau nikah muda, gue nikah sama siapa?" Tanyanya sambil terus mengekor dibelakang Shaila.


"Ya sama cewek lo lah. Ngakunya ganteng, tapi tak punya cewek, apa gak malu?" ledek Shaila.

__ADS_1


"Enggaklah, ngapain malu. Gue bukannya gak laku, hanya belum dapat yang klik aja. Giliran sudah dapat, eh.... gak mau diajak nikah muda. Ngeselin banget gak sih, tuh cewek?" Geram Diego sambil memelototi Shaila dari belakang.


Shaila yang tiba tiba menoleh, membuat Diego salah tingkah. Dia segera pura pura melihat koas kaki. Mengambil beberapa pasang dan memasukkan ke dalam keranjang belanjaan Shaila.


"Aku udah ngambil kaos kaki." Shaila mengembalikan lagi kaos kaki tersebut ke cantelan. Tapi Diego malah kembali memasukkannya lagi ke keranjang.


"Beli juga, lucu."


"Gak usah." Shaila mengembalikan lagi. Untuk apa beli banyak banyak, toh Sarah bilang, hanya perlu beli untuk habis lahiran doang. Mereka terus berdebat hingga seorang ibu ibu menghampirinya. Ibu tersebut tampak memperhatikan perut Shaila.


"Pamali belanja perlengkapan bayi sebelum 7 bulan."


Shaila dan Diego melongo dan saling menatap. Mereka tak paham maksudnya.


"Ibu ngerti kalau kalian antusias sekali mau punya anak. Tapi lebih baik nanti dulu belanjanya, tunggu jabang bayinya 7 bulan."


Diego seketika menahan tawa. Dia akhirnya nggeh dengan apa yang dibicarakan ibu ibu itu.


"Kalian pasti masih baru menikah. Masih muda muda banget. Nikmati dulu masa masa pengantin baru. Jangan sibuk cari perlengkapan bayi. Itu dipikirin nanti kalau hamilnya udah gede."


"Makasih bu petuahnya. Istri saya ini memang bandel, ngeyel orangnya. Udah saya bilangan jangan belanja perlengkapan bayi dulu malah ngambek."


Shaila langsung melotot sambil menginjak kaki Diego.


"Ibu salah sangka, dia bu___"


"Astaga kamu ini, kebelet disaat yang tidak tepat. Ya udah, kami permisi dulu. Istrinya dijagain yang baik ya mas." Ujar ibu itu sambil melangkah pergi karena anaknya sudah sangat kebelet.


"Pasti Bu." Jawab Diego sedikit berteriak.


plok plok plok


Suara tepuk tangan menarik perhatian Shaila dan Diego. Ternyata dua orang cewek tersenyum sinis sambil tepuk tangan menghampiri mereka.


"Wow... gak nyangka banget. Ternyata seorang Shaila yang terkenal pendiam, alim dan kesayangan guru guru, udah hamil." Ucap seorang cewek bernama Ara yang merupakan teman sekolah Shaila. Dia datang bersama Niken.


"Kira kira.....kapan nikahnya ya kok udah hamil? jangan jangan...???" Niken sengaja menggantung ucapannya.


"MBA!" Sahut Ara sambil cekikikan.


"Jaga mulut lo ya. Gue gak hamil, dan gue belum nikah." Sangkal Shaila.


"Lo pikir gue budeg. Gue denger obrolan lo sama ibu ibu tadi." Sahut Niken sambil tertawa meremehkan.


Shaila menatap nyalang ke arah Diego. Kesalah pahaman ini tak akan terjadi kalau saja Diego tak asal bicara seperti tadi. Ditatap seperti itu oleh Shaila, membuat Diego merasa bersalah.

__ADS_1


"Kalian cuma salah paham. Gue hanya menanggapi becandaan omongan ibu ibu tadi." Diego ikut menjelaskan.


"Kalau maling ngaku, penjara penuh dong.Hahaaha...." Kedua cewek itu tertawa terbahak.


"Kalau berita ini nyebar disekolah, kira kira gimana reaksi anak anak yang lain. Seorang Shaila Nur Medina, menyembunyikan kehamilan, dibalik hijabnya." Ledek Ara.


"Ternyata yang alim dan berhijab, lebih parah kelakuannya." Tekan Niken sambil tersenyum miring.


"Tutup mulut lo. Jangan bawa bawa hijab disini. Silakan kalau mau nyebarin berita hoaks ini. Yang ada, kalian yang bakalan malu sendiri. Karena apa? karena gue bisa buktikan jika semua ini tidak benar. Gue GAK HAMIL."


Shaila segera pergi dari tempat itu. Dan tentunya, Diego langsung mengikuti. Shaila berjalan cepat menuju kasir. Dia ingin segera membayar dan pulang.


Diego menyerahkan kartu kreditnya pada kasir saat Shaila hendak membayar.


"Gak usah, gue bisa bayar sendiri." Tolak Shaila dengan nada tinggi. Dia begitu muak pada Diego. Cowok itu selalu menempatkannya pada situasi sulit.


Tapi saat hendak membayar, ternyata uangmu tidak cukup. Barang yang diambilkan pegawai toko ternyata lebih banyak dari perkiraannya.


"Pakai ini aja mbak." Diego kembali menyerahkan kartu kreditnya pada kasir.


Setelah proses pembayaran selesai, Shaila langsung mengambil dua kantong besar belanjaannya. Dia bahkan menolak saat Diego hendak membantunya membawa.


Shaila berjalan cepat keluar dari toko tersebut dan segera menuju lantai dasar. Dia tak menghiraukan Diego yang berusaha menghentikan langkahnya dan membantunya membawa belanjaan.


"Sha tunggu Sha, Sha." Diego yang lelah mengejar Shaila akhirnya menarik pergelangan tangan cewek itu.


Shaila dengan terpaksa menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak mengeras. Nafasnya memburu karena berjalan cepat serta menahan emosi.


"Puas lo udan bikin gue kena fitnah? Siapa yang rugi disini? Gue." Shaila menunjuk dirinya sendiri.


"Maaf, gue beneran gak tahu kalau ada temen lo tadi."


Shaila tersenyum miring. Kalau saja tidak ingat ini tempat umum, ingin sekali dia meneriaki dan memaki maki Diego.


"Sekarang lo tahukan, kalau gara gara sebuah ucapan yang lo pikir hanya candaan, gue bakal kena masalah. Kalau berita ini tersebar, gue bakalan malu banget. Semua orang pasti akan mengira gue hamil diluar nikah."


"Tapi kenyataannya, lo gak hamil. Jadi gak usah takut. Lo bisa buktikan kesemua orang kalau lo gak hamil."


"Udahlah, gue capek, gue mau pulang."


"Gue anter."


"Gak perlu."


"Sha, please... Gue cuma pengen mastiin Lo baik baik saja sampai dirumah. Jadi Please, biarin gue nganter lo."

__ADS_1


Akhirnya Shaila mengalah. Dia membiarkan Diego mengantarnya pulang. Tapi sepanjang perjalanan, dia sama sekali tak mau bicara...


__ADS_2