Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
KANGEN


__ADS_3

Septian pulang kerumah setelah melihat Nara dari jauh. Ya, pria itu memang berada dirumah sakit. Dia rindu pada Nara. Ingin sekali mendampingi Nara periksa kandungan. Tapi sayangnya, Nara seperti tak berkenan dia dampingi. Wanita itu tak membalas satupun pesan yang dia kirim.


Dengan wajah kusut Septian memasuki rumah. Setelah salim pada ibunya yang kebetulan duduk diruang tamu, dia langsung naik kekamar. Kembali dia mengecek ponsel dengan harapan ada balasan chat dari Nara. Tapi ternyata nihil, tal ada satupun balasan dari Nara setelah puluhan chat dia kirim.


Justru dia mendapat beberapa chat dari Diego. Cowok itu menanyakan kenapa dia dan Shaila tak datang ke cafe. Sepertinya Diego sudah tak sabar ingin mulai bekerja.


"Bang." Sapa ibu yang baru memasuki kamar Septian. Wanita paruh baya itu tampak membawakan segelas teh hangat.


"Minum dulu." Diangsurkannya teh yang masih tampak mengeluarkan sedikit asap itu pada Septian.


"Makasih Bu." Sahut Septian sambil meraih teh dari tangan sang ibu dan langsung meminumnya. Teh hangat itu mampu melegakan tenggorokannya yang sejak tadi terasa kering.


"Gimana, ketemu sama Nara?" Tanya Ibu sambil duduk ditepi ranjang.


"Dia gak mau aku temenin periksa bu." Jawab Septian dengan suara lemah.


Septian meletakkan gelas berisi teh yang tinggal setengah diatas meja lalu menghampiri ibunya. Dia naik keatas ranjang dan merebahkan kepalanya dipangkuan sang ibu.


"Sabar." Jawab sang ibu sambil membenarkan posisi kepala putranya.


"Seperti inilah pernikahan. Cobaan ditahun pertama memang kadang terasa berat. Mungkin dengan begini, kalian bisa saling introspeksi diri. Menerima kelebihan pasangan itu memang mudah, tapi menerima kekurangan, butuh kelapangan hati. Tapi yakinlah, jika kamu dan Nara bisa menghadapi cobaan ini." Lanjutnya sambil membelai kepala Septian. Lastri merasakan jika dahi putranya hangat, untuk memastikan, dia letakkan punggung tanganya didahi Septian.


"Aku nyesel banget udah mukul Nara Bu."


"Yang penting jangan sampai diulangi lagi."


"Gak akan Bu."


"Badan kamu terasa hangat bang. Ibu ambilin obat ya?"


"Gak usah Bu. Mungkin kecapekan aja. Dibuat tidur juga pasti akan reda sendiri."


"Eh... jangan dibikin enteng. Mending minum obat sebelum makin parah. Ibu ambilin obat dulu." Septian memindahkan kepalanya dari pangkuan sang ibu ke bantal. Kepalanya memang terasa pusing. Matanya juga sedikit panas. Bahkan saat mengendarai motor tadi, dia merasa kedinginan. Mungkin dia memang sakit.


Lastri turun untuk mengambil obat penurun panas dan segelas air putih. Setelah itu dia naik kembali dan menyerahkannya pada Septian.

__ADS_1


...*****...


POV NARA


Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku hanya diam. Perasaan bersalah ini terus menggerogoti hatiku. Aku sudah salah karena menuduh suamiku yang tidak tidak. Bukan merawatnya setelah kecelakaan, aku malah menuduhnya yang tidak tidak.


Rasanya, sungguh tak adil jika hanya dia yang disalahkan disini. Dia memang sudah menamparku, tapi sedikit banyak, akulah yang sudah memancing emosinya. Karena trauma diselingkuhi, aku jadi overthinking.


"Mau mampir beli sesuatu dulu?" tawar mama.


Aku hanya menjawabnya dengan gelengan. Tak ada selera makan sama sekali.


"Kamu belum makan malam Ra. Perut jangan dibiarin kosong. Kasihan anak kamu."


"Tapi aku gak lapar mah."


"Tapi anak kamu lapar."


"Berhenti direstoran depan pak." Titah mama pada supir.


"Enggak usah mah." Aku buru buru menolak. Kepalaku rasanya sudah sangat pusing, tak ingin mampir mampir dulu. "Aku makan dirumah saja mah."


Sesuai permintaanku, kami tak jadi mampir. Mobil terus melaju hingga beberapa saat kemudian kami sampai rumah. Mama langsung mengajakku kemeja makan. Beliau menyuruh bik Surti segera menyiapkan kembali makanan yang tadi sempat dia bereskan.


Aku menatap kursi kosong disebelah. Biasanya, abang duduk disana. Tapi sekarang, pria yang biasanya terlihat segan saat makan itu, tak ada ditempatnya. Apakah dia sudah makan? Sedang apa dia sekarang? Aku kangen bang.


Setelah bik Surti selesai menata hidangan, ku lihat, tak ada satupun yang membuatku berselera. Tapi anakku harus makan. Aku memaksakan diri untuk makan meski terasa sangat hambar.


Aku segera beranjak setelah menghabiskan satu centong nasi dan sepotong ikan goreng.


"Aku kekamar dulu mah." Pamitku pada mama yang masih belum selesai makan.


Aku memasuki kamar. Rasanya sangat hampa, tak seperti dulu saat ada abang. Aku duduk disisi ranjang. Kuraih bantal yang biasanya dipakai abang. Aku menciumnya, menghirup aroma tubuhnya yang masih tertinggal disana. Air mataku perlahan mulai menetes.


Kurasakan janin dalam kandunganku menendang nendang dengan kuat. Kuelus perlahan, mungkin dia juga sama, rindu pada ayahnya.

__ADS_1


Aku meletakkan kembali bantal pada tempatnya. Berjalan menuju almari untuk mencari barang abang yang mungkin masih tertinggal. Masih ada beberapa bajunya disana. Dia tak membawanya semua. Apa mungkin dia masih berharap bisa kembali tinggal lagi disini? entahlah.


Aku mengambil satu kemejanya. Kemeja warna putih yang dulu dia pakai saat akad nikah dan sidang skripsi. Memoriku kembali pada akad nikah. Dimana aku dengan konyolnya malah pingsan setelah mendengar kata SAH.


Aku juga teringat hari itu, saat aku jatuh di kampus karena bertengkar dengan Mayang. Abang menggendongku hingga parkiran. Dia juga menjagaku siang dan malam saat harus bedrest dirumah sakit.


Begitu banyak kebaikannya. Tapi hanya karena satu kesalahan, aku melupakan semuanya.


Aku kenakan kemeja putih itu. Rasanya sungguh nyaman. Bahkan anakku juga langsung tenang saat aku memakai kemeja ayahnya.


"Kangen?"


Aku kaget saat mendengar suara mama. Entah sejak kapan mama masuk, aku tak mendengar dia membuka pintu.


Mama menghampiriku sambil membawa segelas susu. Lagi lagi aku teringat abang. Biasanya, dia yang membawakanku susu.


Aku meraih segelas susu dari tangan mama dan segera meminumnya. Tapi rasanya lain dengan buatan abang. Atau mungkin hanya perasaanku saja.


"Septian ada menghubungimu?"


Aku mengangguk.


"Tadi mama melihat dia dirumah sakit."


Jadi mama juga melihatnya. Aku pikir hanya halusinasiku saja.


"Kalau kangen, coba telepon dia."


Tanganku memang sudah gatal ingin vcall dengannya. Tapi aku malu.


"Kalau bisa, segera selesaikan masalah kalian. Tak baik suami istri pisah rumah seperti ini. Apalagi sebentar lagi kalian akan punya anak. Kalau sampai orang tua berpisah, anak yang akan jadi korban. Mama lihat, kalian masih saling mencintai, jadi lebih baik, segera diperbaiki hubungannya."


"Mama dan papa memang bisa memenuhi kebutuhan materi kamu dan anak kamu. Tapi kebutuhan lain, papa dan Mama tak bisa. Jadi pikirkan baik baik apa yang harus kamu lakukan."


"Mah, aku mau nyusul abang." Ujarku penuh keyakinan.

__ADS_1


"Kalau itu yang kamu pikir yang terbaik, lakukan . Besok pagi saja, sekarang kamu istirahat dulu, sudah malam."


"Enggak mah." Aku menggeleng cepat. "Aku mau sekarang."


__ADS_2