Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
MELEPAS LAJANG


__ADS_3

Diruangan yang sangat mewah dengan hiasan khas kamar pengantin, Septian duduk gelisah. Dilihatnya jam ditangan berkali kali. Tinggal beberapa saat lagi. Dan rasanya, dia semakin gugup.


Tak jauh darinya, Shaila sedang duduk didepan meja rias. Disampingnya, ada dua orang MUA yang sedang melakukan finishing pada riasannya. Kebaya putih simpel nan elegan beserta hijab senada ia kenakan saat ini. Ya, hari ini hari pernikahannya dan Diego.


"Tenang." Ujar Nara sambil menggenggam tangan suaminya. "Kamu kok gugupnya melebihi pengantin bang." Ledeknya.


"Huft." Septian membuang nafas kasar lalu menautkan jari jarinya pada jemari Nara.


"Ini tugas berat yank." Ujarnya sambil menatap Nara. "Ini untuk pertama kalinya aku perperan sebagai pengganti ayah." Tiba tiba mata Septian mengembun saat teringat sang ayah.


"Abang pasti bisa." Nara menyemangati.


Septian mencoba tersenyum walau hatinya gusar. "Abang hanya takut Ra. Takut menyerahkan Shaila pada orang yang salah. Takut dia tak bahagia. Setelah ini, yang paling berhak atas Shaila bukan lagi aku atau ibu, tapi suaminya." Air mata Septian tak bisa tertahan lagi. Dia bukan orang cengeng. Hanya saja hatinya benar benar mengharu biru saat ini.


Nara memahami apa yang dirasakan Septian. Apalagi mengingat trek record Diego.


"Ini pilihan Shaila bang. Dia tahu apa yang terbaik untuknya dan apa yang membuatnya bahagia. Jangan terlalu overthinking. Aku yakin, Shaila sudah memikirkan matang matang sebelum menerima lamaran Diego."


"Sudah selesai." Ucapan salah satu MUA menghentikan obrolan Septian dan Nara. Keduanya sama sama melihat kearah Shaila lalu mendekatinya.


"Masyaallah cantik sekali Mbak Shaila. Pantesan Mas Diego buru buru pengen ngehalalil." Goda MUA tersebut sambil menatap pantulan wajah Shaila dicermin. Shaila tersipu malu. Hari ini, perasaannya benar benar tak terdefinisikan.


"Adik siapa dulu dong." Celetuk Septian yang sekarang sudah berdiri dibelakang Shaila. Matanya menatap pantulan wajah Shaila disana cermin. Adiknya itu memang sangat cantik.


"Kamu cantik banget Sha." Puji Nara yang juga sudah berada didekat Shaila.


"Makasih kak." Jawab Shaila sambil menoleh kearah Nara.


"Kamu bahagia Sha?" Tanya Septian.


Shaila memutar duduknya menghadap Septian. Dia bisa melihat mendung diwajah sang kakak. Digenggamamnya kedua tangan Septian sambil mendongak menatap wajahnya.


"Shaila bahagia bang." Dia mengungkapkan perasaan terdalamnya. Dan hal itu bisa terlihat oleh Septian.


Septian menyentuh kepala Shaila lalu mengecupnya lama. "Abang selalu mendoakan kebahagiaanmu. Semoga pilihanmu adalah yang terbaik."


"Amin.... " Sahut Shaila dan Nara bersamaan.


Acara melow melow an harus selesai karena waktunya sudah tiba. Pengantin pria sudah siap di ballroom hotel dan akad nikah akan segera berlangsung.


Bu Lastri dan Sarah menggamit Shaila menuju tempat acara. Sedangkan Nara, menggandeng Septian dan selalu menyemangatikanya agar tidak nerveous.

__ADS_1


Suasana ballroom tak begitu ramai. Diego dan Shaila sengaja hanya mengundang kerabat saja saat akad nikah. Baru saat resepsi nanti malam, akan banyak orang yang diundang.


Shaila duduk dibelakang dengan Bu Lastri, Sarah dan Nara. Septian duduk berhadapan dengan Diego yang saat ini tampil sangat memukai dengan pakaian adat jawa yang selaras dengan Shaila.


Wajah Diego dan Septian sama sama tengang. Ini pengalaman pertama bagi keduanya. Semalam Diego terus menghafal apa yang harus dia ucapkan hari ini, begitu juga dengan Septian. Dan yang membuat lebih menegangkan. Acara ini, disiarkan secara live di akun sosmed milik Diego.


Setelah menarik nafas dan membuang perlahan, Septian mulai melakukan tugasnya sebagai wali. Dan dengan satu tarikan nafas, Diego berhasil mengucapkan ijab kabul dengan baik dan benar.


SAH


Kata itu seketika menggema diseluruh ballroom. Keduanya bernafas lega. Tak terkecuali Shaila. Bu Lastri tampak meneteskan air mata. Perasaannya campur aduk saat ini, antara senang dan sedih.


Orang tua Diego juga tampak meneteskan air mata. Terutama sang papa yang berkali kali mengusap air mata. Dia bahagia karena Diego mendapatkan wanita seperti Shaila. Harapan terbesarnya adalah, melihat Diego menikah untuk pertama dan terakhir kalinya. Dia tak ingin, kejadian antara dirinya dan ibu kandung Diego, terulang pada anaknya.


...******...


Setelah semua rangkaian acara akad nikah selesai, Shaila dan Diego beristirahat didalam kamar. Mereka sedang menunggu MUA yang akan mengubah riasan mereka berdua untuk resepsi malam ini.


Suasana canggung begitu terasa diantara keduanya. Padahal selama persiapan pernikahan, mereka sudah sering mengobrol intens bahkan sering melontarkan jokes. Tapi entah kenapa, setelah perubahan status, justru terasa canggung.


Diego memberanikan diri menggenggam tangan Shaila yang berada diatas pengakuan gadis itu.


"Kamu bahagia?" Tanya Diego. Mata mereka saling bertatapan. Dan jelas sekali binar kebahagiaan disana.


Shaila mengangguk malu sambil tersenyum. Berdua dengan Diego di dalam satu ruangan, membuatnya seperti tak kebagian oksigen.


"Makasih Sha." Ujar Diego sambil mencium tangan Shaila.


"Makasih karena mau menerimaku sebagai imam kamu."


Lagi lagi Shaila hanya bisa menjawab dengan Anggukan. Dia terlalu gugup, bahkan jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat saat ini.


"Sha."


"Iya."


"Kamu cantik banget hari ini."


"Makasih." Jawab Shaila dengan pipi merona.


"Emmm.... "Diego tampak ragu ragu melanjutkan kata katanya.

__ADS_1


"Apa?"


"Aku boleh nyium kamu?"


Wajah Shaila seketika merah padam. Berciuman? jelas itu sesuatu yang baru baginya. Sampai detik ini, belum pernah dia merasakan yang namanya ciuman. Dia hanya pernah melihatnya di adegan drama korea yang dia tonton.


Shaila mengangguk sambil menunduk. Dia menggigit bibir dalamnya untuk mengurangi kegugupan.


Berhadapan dengan makhluk berjenis perempuan memang bukan hal yang baru bagi Diego. Bahkan dia sudah pernah melakukan lebih dari ciuman dengan mantannya yang bernama Anna. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Dia merasakan kegugupan yang luar biasa.


Padahal sudah seminggu terakhir ini, dia terus tak bisa tidur karena membayangkan malam pertama dengan Shaila. Tapi kenapa saat ini, semua imajinasinya, seakan ambyar. Yang ada, hanya gugup luar biasa, bahkan degup jantungnya tak bisa dia kontrol. Sampai bernafaspun, rasanya lupa caranya.


Dengan mata yang tak pernah lepas menatap Shaila. Diego mulai menyentuh dagu istrinyanya itu dengan tangan sedikit gemetar. Dia angkat dagu Shaila hingga mata mereka saling menatap.


Shaila meremat kebayanya saking gugupnya. Jantungnya terasa mau meledak saat wajah Diego semakin dekat dengan wajahnya. Tubuhnya meremang saat nafas hangat suaminya mulai terasa menerpa kulit wajahnya.


Matanya otomatis tertutup saat merasakan sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh bibirnya.


Tok tok tok


Ketukan dari arah pintu membuyarkan konsentrasi keduanya. Diego segera menarik wajahnya begitu pula dengan Shaila.


Tok tok tok


Ketukan itu kembali terdengar. Membuat Diego mau tak mau beranjak untuk membukakan pintu.


Dia berjalan dengan perasaan dongkol. Kenapa situasi seperti tak berpihak padanya. Bahkan untuk mencium wanita yang sudah halal saja, masih ada saja gangguan.


Saat dia membuka pintu, berdiri dua orang MUA dengan membawa koper besar.


"Mengganggu ya? maaf?" Ujar salah satu dari mereka sambil tersenyum absurd. Sedangkan satu lainnya tampak menahan tawa. Sepertinya mereka bisa melihat ekspresi kesal yang tampak diwajah Diego.


Diego membuka pintu lebar lebar dan mempersilakan mereka masuk.


.


.


Sebenarnya pengen bikin bab malam pertama Diego dan Shaila. Tapi berhubung bulan puasa, jadi bab itu di skip.


Jangan lupa like,komen, vote dan hadiah buat otor. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2