Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TAHLILAN


__ADS_3

Para jamaah tahlil yang terdari dari ibu ibu satu RT sudah pada berdatangan. Setiap sabtu malam, memang jadwalnya tahlil rutin ibu ibu. Selain untuk mengaji bersama, juga untuk mengeratkan tali silaturrahmi antar tetangga.


Sepertinya, malam ini istimewa, tampak dari banyaknya orang yang datang. Padahal, biasanya tak sebanyak ini. Ada saja yang tak hadir karena berasalan ada kepentingan dan lain lain.


Bu Lastri menyambut tamu didepan pintu. Dia sengaja mengajak Nara untuk ikut berdiri disebelahnya. Sedangkan Shaila dan Sarah, mereka didapur menyiapkan segala keperluan. Mereka baru akan keluar jika acara tahlil dimulai.


"Jadi ini mantunya Bu Lastri. Masyaallah, cantik sekali." Puji Bu Mila yang baru datang dengan beberapa ibu ibu yang lain.


"Kenalin, Nara, istrinya Septian." Jawab Bu Lastri. Nara mengangguk sambil tersenyum dan menyalami para tamu. Setelah bersalaman, mereka langsung mencari tempat untuk duduk lesehan diatas karpet yang sudah disiapkan.


"Cantik banget ya bininya Asep."


"Beruntung banget Tuh si Asep."


"Katanya anak orang kaya."


"Percaya sih. Lihat aja mobilnya yang diparkir di depan. Dah gitu mukanya glowing banget, pasti pakai skincare mahal."


Dan masih banyak lagi omongan ibu ibu yang lain. Tapi jika masih dibatas wajar, Bu Lastri dan Nara tak mempermasalahkannya. Toh dalam hidup ini, diomongin orang udah jadi makanan sehari hari. Mau jadi orang baik ataupun buruk, pasti gak akan lepas dari omongan orang. Bahkan orang yang sudah meninggalpun, kadang masih diomongin.


"Apa kabar nak Nara, masih inget sama ibu gak?" Tanya seorang wanita berhijab syari yang sedang bersalaman dengan Nara.


Nara menoleh ke arah Bu Lastri. Karena sejujurnya dia tak ingat sama sekali.


"Dia ustadzah Noor. Dulu ikut kerumah kamu pas acara akad nikah." Bu Lastri mengingatkan Nara.


"Maaf ya ustadzah, saya tidak ingat sama sekali." Ujar Nara.


"Tidak apa apa." Sahut ustadzah Noor sambil menepuk lengan Nara. "Mungkin karena kamu pingsan hari itu, jadi tak berapa nggeh siapa saja yang ikut."


Nara tentunduk malu. Malu jika ingat, dia langsung pingsan setelah Septian mengucapkan ijab kabul.


Setelah semua jamaah datang, acara segera dimulai. Ustadzah Noor memimpin tahlil yang dilanjutkan dengan shalawat kemudian doa bersama. Setelah semua rangkaian acara dilewati, sekarang saat mereka menikmati hidangan yang disiapkan.


Bu Lastri dan Nara kebelakang untuk membantu Shaila dan Sarah membagikan makan dan minum pada tamu.


"Bu Lastri, sotonya enak sekali. Kapan kapan ajari saya resepnya." Celetuk Bu Nia.


"Boleh Bu, datang saja kemari kalau mau nyatet resepnya." Sahut Bu Lastri.


"Kuenya juga enak loh Bu. Kayak kue kue mahal yang dijual di toko. Bikin sendiri apa beli?" Tanya Bu Retno yang mencicipi cheesecake lebih dulu sembari menunggu jatah makanannya.


"Itu dari besan Bu."


Mendengar kata dari besan. Ibu ibu yang lain langsung pada ikutan mencicipinya. Membuat cheesecake yang disusun di dua piring langsung ludes.


"Makanan orang kaya enak gini ya." Puji Bu Lila yang baru pertama kali memakan cheesecake seenak itu. "Ini bikin sendiri Nara?"


"Beli Bu." Jawab Nara.


"Pasti mahal nih." Nara hanya menjawab dengan senyuman.


"Kue yang lain dicicipi juga Bu." Tawar Nara.

__ADS_1


Setelah kasus menumpahkan adonan Brownis. Nara langsung mengajak Septian membeli kue ditoko. Alhasil, pulang pulang, dia membawa dua box besar brownis dan satu box besar bolu gulung.


"Wah, kalau makanannya enak enak gini. Pasti kalau giliran yasinan di rumah Bu Lastri, dijamin pada datang semua." Celetukan Bu Nia langsung disambut tawa oleh ibu ibu yang lain.


"Eh nak Nara, kata Johan. Kamu itu dosen di kampusnya. Emang bener ya?" Tanya Bu Nia, ibu Johan.


"Iya Bu." Jawab Nara sambil mengangguk.


"Nara ini, lulusan S2 dari luar negeri loh." Puji ustazdah Noor. Yang memang sudah lebih tahu latar belakang Nara.


"Walah Walah, udah cantik, kaya, pinte lagi. Kurang apa coba. Beruntung banget si Asep." Puji Bu Wati.


"Denger denger, kamu hamil duluan ya?" Celetuk Bu Retno sambil tersenyum sinis.


Deg


Wajah Nara langsung pias. Walaupun itu benar, tetap saja dia merasa malu. Bu Lastri tersenyum sambil memegang tangan Nara yang mulai terasa dingin.


"Jangan jangan... kamu diceraikan gara gara...." Bu Retno sengaja tak melanjutkan kata katanya agar semua pada bertanya tanya.


"Gara gara apa Bu?" Bu Lastri menyahuti. "Gara gara dia selingkuh lalu hamil dengan anak saya?" lanjutnya.


Nara mulai tampak cemas.


"Jangan suka berspekulasi ibu ibu." Tutur ustadzah Noor. "Status Nara saat menikah dengan Septian bukanlah janda. Dan tidak benar jika dia diceraikan gara gara selingkuh dengan Septian hingga hamil."


"Bukan janda gimana. Orang dia udah pernah nikah. Suami saya bahkan datang kepernikahannya." Sahut Bu Retno.


"Batal gimana sih?" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut ibu ibu.


"Begini ya ibu ibu. Mungkin yang kalian tahu, cuma tentang perceraian. Tapi sebenarnya, pembatalan pernikahan itu ada. Jika ada alasan kuat dan jangka waktu pernikahan belum 6 bulan. Bisa mengajukan pembatalan. Dan jika pembatalan itu disetujui, catatan pernikahan mereka akan dihapus. Mereka dinyatakan tak pernah menikah. Dan tentu saja, statusnya masih lajang, bukan janda atau duda. Contohnya seperti kasus Nara." Jelas ustadzah Noor.


"Memang alasannya apa?"


"Sepertinya itu privasi, jadi rasanya kurang etis jika kita bicarakan diforum seperti ini." Jawab ustadzah Noor. "Daripada sibuk mengurusi aib orang lain, yang ujung ujungnya menimbulkan dosa. Kenapa tak menjalin silaturrahmi saja, yang jelas jelas, bisa mendatangkan pahala." Lanjutnya.


Semuanya tampak setuju dengan ucapan ustadzah Noor. Lagipula, bukankah jika kita menutupi aib orang lain, Allah juga akan menutupi aib kita. Berita tentang Septian yang menikah tiba tiba karena alasan pacarnya hamil duluan emang sudah santer terdengar.


Setelah acara selesai. Mereka saling bersalaman lalu pulang. Sekarang, tinggal Bu Lastri dan keluarga yang sibuk membereskan rumah.


Sarah dan Shaila sibuk mencuci piring. Sedangkan Septian, dia menggulung karpet dan membersihkan ruang tamu.


"Bang, aku bantuin nyapu ya." Tawar Nara.


"Emang bisa?" Tanya Septian. Dia teringat ucapan Raka, jika Nara, memegang sapa saja tak pernah.


"Astaga, cuma nyapu doang, anak SD juga bisa kali." Jawab Nara sambil berjalan kedapur untuk mengambil sapu yang tergantung didepan kamar mandi.


Nara kembali dengan sapu ditangannya. Setelah semua karpet digulung, dia mulai menyapu. Tapi berkali kali dia tampak mengubah cara memegang sapu. Mulai dari satu tangan, dua tangan, hingga dia bingung sendiri. Ternyata tak semudah yang dia bayangkan.


Septian terkekeh melihat tingkah Nara. Dia kemuadian menghampiri istrinya dan memberi contoh cara memegang sapu yang benar. Tapi walaupun sudah benar, gerakan Nara masih tampak sangat kaku.


"Sini, biar ibu aja yang nyapu." Tutur Bu Lastri. "Nara istirahat aja. Orang hamil gak boleh kecapekan." Dia hendak mengambil sapu dari tagang Nara tapi ditahan oleh wanita itu.

__ADS_1


"Gak papa Bu, biar saya saja."


"Sep, ajak Nara istirahat dikamar. Dia pasti capek seharian bantu bantu." Bu Lastri mengambil alih sapu dari tangan Nara.


"Ayo istirahat saja. Inget kata dokter, kamu gak boleh terlalu capek. Aku gak mau dimarahi papa kamu karena nyuruh anaknya nyapu."


Nara seketika memeloti Septian. Takut Bu Lastri tersinggung kalau tahu papanya sering memarahi Septian.


...*****...


Nara, wanita itu berbalik kekanan dan kekiri berkali kali. Dia tak bisa tidur karena hawa panas dari kamar Septian. Belum lagi ranjang yang berukuran tak begitu besar. Dan kasur yang tak seempuk miliknya. Memang sih ada kipas angin. Tapi sudah sedikit rusak. Putarannya tak begitu kencang. Jadi angin yang dihasilkan kurang maksimal.


"Gak bisa tidur?" Tanya Septian yang juga tak bisa tidur gara gara Nara bergerak terus.


"Panas. Apa jendelanya dibuka aja yang bang biar dingin?"


"Nyamuknya masuk semua entar Ra."


Septian meraih pinggang Nara lalu memeluk.


"Abang.. gerah.. " Nara berusaha melepaskan diri dari pelukan Septian. Pelukannya yang biasanya terasa nyaman, malam ini justru membuatnya gerah.


"Ya udah, dibuka aja bajunya."


"Enggak, ntar abang malah minta macem macem." Tolak Nara.


"Gak usah fitnah. Abang gak mungkin minta macem macem. Paling satu macem doang." Godanya sambil menaik turunkan alisnya.


Nara memutar bola matanya jengah. Untuk malam ini, dia memang sungguh tak mood. Udara yang panas membuatnya tak ingin melakukan yang panas panas.


Nara berusaha memejamkan matanya. Tapi lagi lagi, dia tak bisa tidur. Septian kasihan juga melihat Nara kelimpungan.


Septian bangkit untuk mengambil buku dari meja belajarnya.


"Sini tiduran dilengan abang sambil abang kipasin pakai buku." Septian merentangkan lengan kirinya untuk dipakai bantal Nara. Sedangkn tangan kanannya sudah siap dengan sebuah buku.


Nara memposisikan kepalanya dilengan Septian dengan sebelah tangan melingkar dipinggangnya. Ayunan buku dari tangan Septian yang menghasilkan angin, membuat Nara merasa lebih nyaman.


"Bang... "


"Hem.. "


"Aku pernah baca buku. Disitu ditulis, susahnya jadi wanita."


"Emang apa susahnya, melahirkan?"


"Bukan?"


"Lalu?"


.


Lalu lanjut di bab berikutnya 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2