
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Diego, Shaila hanya diam. Bahkan saat Diego mengajaknya bicara, dia sama sekali tak mau menjawab.
Mata Shaila fokus pada ponsel. Dia membaca chat digrup kelasnya. Semua orang seperti langsung percaya tanpa butuh bukti. Foto dirinya dan Diego juga terpampang disana.
Shaila mengetik pembelaan dirinya. Tapi kemudian dia hapus sebelum disend. Siapa yang akan percaya dengan klarifikasinya jika tanpa bukti.
"Sha, maafin gue." Entah untuk keberapa kalinya kata itu terucap dari bibir Diego. Tapi Shaila seolah membisu, sama sekali tak menanggapi. Hingga mobil yang mereka tumpangi sampai dirumah, Shaila tetap diam.
Seperti kemarin, tante Eva menyambut Shaila dengan hangat. Dia segera mengajak Shaila menyiapkan bahan didapur karena sebentar lagi chef Roger akan datang. Rumah tampak sepi, karena om Dion bekerja sedangkan Damar sekolah.
"Kamu kenapa?" Tanya mama Eva yang sejak tadi melihat wajah Shaila yang tak seceria kemarin.
"Gak papa tante." Jawab Shaila sambil berusaha tersenyum.
"Ada masalah sama Diego?" Tebak mama Eva..
Shaila menggeleng.
"Tante lihat Diego kayak galau gitu sejak tadi. Jarang jarang loh dia kayak gitu. Cerita dong kalau ada masalah? Gak usah sungkan sama tante, anggap saja mama sendiri. Kalau Diego yang salah, tante bakal marahin dia. Jangan pikir karena dia anak tante, tante bakal selalu bela dia. Tante bela kebenaran." Tente Eva masih saja berusaha mengorek informasi.
Setelah privat selesai, akhirnya Shaila bercerita. Dia bahkan sampai menunjukkan grup chat kelas. Dimana dia jadi bahan gosipan disana gara gara Diego.
Tante Eva seketika geram. Dihampirinya Diego yang sedang rebahan di ruang keluarga.
"DIEGO!" Teriak mama Eva lantang. Deigo yang sedang tidur disofa seketika terjingkat hingga hampir jatuh.
"Tanggung jawab kamu."
"Tanggung jawab?" Diego masih tak paham. Dia yang baru terbangun dari tidur gelagapan dimintai tanggung jawab.
"Jangan pura pura bego. Gara gara kamu, Shaila digosipin hamil." Jelas mama Eva sambil menoleh kearah Shaila yang berdiri disampingnya. Gadis itu meremas ujung blousenya. Sebenarnya dia tak mau mengadu, tapi rasa kesalnya pada Diego membuatnya terpaksa mengadukannya pada mama Eva.
"Terus aku harus tanggung jawab gimana? Nikahin Shaila, gitu?" Jawab Diego dengan entengnya.
"Astaga." Mama Eva kian geram. Dia mendekati Diego dan langsung menjewer telinganya.
"Aduh mah sakit mah, sakit mah." Diego meringis sambil berusaha melepaskan tangan mama Eva dari cuping telinganya.
"Bersihkan nama baik Shaila. Jelaskan yang sebenarnya."
"Caranya?" Tanya Diego tanpa rasa bersalah.
"Pikir sendiri." Geram mama Eva.
Disaat bersamaan, ponsel mama Eva berdering. Melihat ada panggilan dari suaminya, dia segera menjauh untuk mengangkat.
Diego menatap Shaila. Tapi lagi lagi cewek itu melengos. Benar benar malas melihat Diego.
Selama bicara dengan papa, mata mama Eva terus menatap tajam Diego. Bahkan dari sorot matanya, wanita paruh baya itu seperti mau menelannya hidup hidup. Selesai menelepon, dia kembali mendekati Diego.
"Sekarang tak hanya Shaila yang malu, tapi keluar kita ikut malu." Bentak mama Eva.
__ADS_1
"Ikut malu gimana sih mah?"
"Yakin kamu tidak tahu?"
"Gak tahu lah. Emang ada apa?"
"Cek ponsel kamu."
Diego mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Dia mengernyitkan dahi. Ternyata ada banyak notif dari ig. Tak hanya itu, Ferdi, admin akun ig nya sekaligus orang yang selalu mengurusi masalah endorsmen meneleponnya berkali kali.
Mata Diego terbelalak melihat akun ig nya tiba tiba diserang haters. Banyak sekali yang menghujatnya. Rata rata mengatainya P K karena menghamili gadis SMA. Beberapa orang juga mempertanyakan masalah nikah diam diamnya.
"Papa kamu malu karena orang orang dikantor pada ngomongin kamu." Mama Eva menunjuk nunjuk kearah Diego hingga cowok itu memejamkan matanya.
Shaila, cewek itu ikutan bingung. Bahkan dia tak paham dengan apa yang tante Eva bicarakan. Kenapa semua orang pada ngomongin Diego? Bukankah dia yang sedang dihujat, kenapa Diego ikutan? Dia belum nggeh kalau Diego juga ikut terseret dan dihujat lebih banyak orang karena dia lumayan terkenal.
"Kok bisa gini sih Ma?" Diego tak menyangka masalahnya akan makin melebar seperti ini.
"Ya bisalah. Foto kamu dan Shaila itu disebar digrup sekolah Shaila. Bahkan ada vidio dimana kamu mengatakan jika Shaila itu istri kamu. Dan dari ucapan kamu, secara tidak langsung kamu membenarkan jika Shaila itu hamil. Pasti diantara mereka ada yang ngenalin kamu. Secara follower kamu itu banyak banget, dan rata rata cewek. Shaila kan sekolah di SMK yang rata rata muridnya cewek."
Mendengar penjelasan Mama Eva, Shaila seketika paham. Dia ingat saat Diego bilang dia selebgram, juga tentang penjelasan Sarah waktu itu.
"Hadoh." Diego berdecak kesal. Ternyata kepopuleran tak hanya membawa keuntungan saja, tapi juga diikuti dengan menurunnya privasi. Kehidupannya akan makin disorot, tak hanya oleh fans, tapi juga haters yang berusaha untuk menjatuhkannya. Dan disaat ada celah, orang orang yang tidak menyukainya akan Membulli nya habis habisan.
"Bereskan segera masalah ini. Jangan melempar kotoran di wajah Shaila dan keluarga kita maupun keluarganya."
Diego menelepon Ferdi. Dia butuh saran dari cowok itu. Dan akhirnya, Ferdi menyarankan untuk membawa Shaila serta pelaku penyebar berita ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Dan semua itu, harus disiarkan secara live agar semua orang percaya.
Ditempat lain, Nara sedang bersiap siap untuk pulang. Selepas dhuhur, Bu Linda sudah mengijinkan dia dan anaknya pulang.
Papa Satrio dan Mama Tiur juga sudah ada disana. Mereka tak sabar memboyong pulang cucu kesayangannya. Terlebih papa Satrio, dia sangat antusias. Dia sampai cuti kerja demi menjemput baby Ay.
"Uluh Uluh gantengnya cucu kakek." Ujar papa Satrio sambil menimang nimang baby Ay. "Arjuno nya kakek ini."
"Papah, namanya bukan Arjuno. Namanya Aydin, baby Ay." Protes Nara sambil cemberut.
"Kamu sih, disuruh kasih nama Arjuno gak mau." Sahut papa Satrio. Nara hanya mendengus mendengarnya.
"Papah kamu itu sejak dulu suka sekali dengan nama Arjuno Ra. Kalau saja kamu laki, pasti sudah dikasih nama Arjuno." Ungkap mama.
"Untung aku cewek." Celetuk Nara.
"Mampir kerumah dulu kan ini?" Tanya Bu Lastri.
"Iya Bu. Mau ngambil barang barang aku dan Nara yang ada dirumah." Jawab Septian.
"Kenapa gak nginep dirumah dulu beberapa hari sih Sep?" Bu Lastri masih belum puas bersama cucunya.
"Kamar dirumah gak cukup buat tidur bertiga Bu. Tapi aku janji deh, bakal sering sering ngajak Ay kerumah ibu." Hibur Septian yang melihat kesedihan diwajah sang ibu.
"Bu Lastri Nginep dirumah kami saja." Ajak mama Tiur. "Beberapa hari gitu biar bisa puas sama baby Ay."
__ADS_1
"Kasihan anak anak kalau saya tinggal Bu. Apalagi cewek semua."
"Ajak saja mereka sekalian. Kamar dirumah kami banyak kok. Kalau gak sekarang, kapan lagi ibu mau nginep dirumah kami." Bujuk mama Tiur.
"Lain kali aja lah Bu. Dirumah lagi banyak kerjaan, terus kalau toko tutup terlalu lama, takut pelanggannya kabur." Sebenarnya hanya alasan saja. Karena sesungguhnya Bu Lastri tak akan betah tinggal dirumah orang. Apalagi besan, dia merasa kurang nyaman.
Setelah Bu Linda datang dan memastikan keadaan Nara dan baby baik, mereka langsung pulang. Biarpun hanya berjarak beberapa rumah, papa Satrio memaksa naik mobil. Dia memikirkan kondisi Nara yang baru melahirkan dan baby Ay yang masih baru lahir.
Sesampainya dirumah, saat mobil baru berhenti, beberapa tetangga pada datang. Mereka terlalu kepo untuk melihat wajah anak Nara dan Septian.
"Masyaallah, cakep sekali anak lo Sep." Puji Bu Lia.
Sebenarnya papa Satrio agak risih dengan kedatangan mereka. Dia takut baby Ay merasa terganggu.
"Mirip sekali sama Asep." Ucap Bu Retno.
"Mau tinggal disini apa dibawa ke rumah Nara?"
"Mau dibawa pulang kerumah kami Bu." Jawab Mama Tiur.
Septian naik kekamarnya untuk mengemasi barangnya dan Nara. Sementara dibawah, makin ramai saja yang datang.
Bu Lastri mengambil beberapa makanan dan minuman dari tokonya untuk disajikan pada para tetangga. Padahal mereka tak lama disana, hanya melihat sebentar lalu pamit pulang.
"Bu Lastri bentar lagi punya cucu lagi." Ucap Bu Vira saat dia dan ibu ibu lain baru keluar dari rumah Septian.
Samar samar, Bu Lastri yang ada diruang tamu mendengarnya.
"Punya cucu lagi? Emangnya Shaila sudah mau menikah? atau malah Sarah?" Tanya Bu joko kepo.
"Emangnya gak ada yang pada tahu. Si Shaila kan hamil."
Mata ibu ibu yang lain lansung pada terbelalak dan mulutnya menganga. Shaila termasuk remaja yang terkenal berkelakuan baik dan alim. Tak pernah neko neko dan tak pernah terlihat keluar dengan cowok.
"Ngomong apa ibu?" Bu Lastri yang mendengar langsung keluar. Dia tak terima putrinya digosipin yang tidak benar. "Jangan bicara yang tidak tidak tentang Shaila."
"Loh, emang kenyataannya begitukan Bu. Alena kan adik kelasnya Shaila disekolah. Katanya kabar Shaila hamil sudah menyebar disekolah."
"Jaga mukut kamu." Bu Lastri tampak murka. Dia mencengkeram lengan Bu Vira sambil melotototinya.
"Sabar bu, sabar." Bu Nia berusaha menenangkan Bu Lastri. Bu Vira yang merasakan tangannya sakit berusaha melepaskan cengkeraman Bu Lastri.
Nara keluar saat mendengar keributan dari teras.
"Ada apa Bu?" Tanya Nara sambil berdiri disamping Bu Lastri.
"Ini sih namanya karma. Dulu Asep yang menghamili anak orang. Sekarang gantian Shaila yang dihamili orang." Celetuk Bu Retno tanpa perasaan.
Nara menutup mulut dengan telapak tangan saking terkejutnya. Shaila hamil? apa itu benar?
"Karena kelakuan Asep yang gak benar, Shaila jadi kena karmanya." Bu Retno yang memang tak menyukai keluarga Septian makin gencar menghina. Setelah dulu dia puas menghina Septian yang menghamili anak orang, sekarang dia dapat kesempatan lagi untuk menjelekkan keluarga mereka.
__ADS_1