Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BERSYUKUR


__ADS_3

Hampir jam 11 malam Septian baru pulang. Padahal dia janji pada Nara tak akan pulang larut. Tapi apa daya, terlalu banyak yang harus dia urusi karena beberapa hari tak datang ke coffee shop.


Sesampainya dikamar, hatinya berdenyut. Dia melihat Nara tertidur sambil duduk bersandar di kepala ranjang. Mungkin saking lelah dan ngantuk, hingga dia tertidur sambil menggendong baby Ay yang tengah menyusuu.


Pelan pelan Septian mengambil baby Ay. Dia tak mau mengusik tidur Nara. Tapi Nara malah gelagapan saat Ay lepas dari tangannya.


"Astaga abang." Nara memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Aku pikir Ay jatuh." Lanjutnya dengan wajah yang masih panik.


Septian menempelkan telunjuknya dibibir agar Nara diam. Dia lalu memindahkan baby Ay kedalam box.


Setelah memastikan kelambu box bayi tertutup sempurna, Septian berjalan kearah nakas. Dia menuang segelas air putih lalu disodorkannya pada Nara.


"Minum dulu." Ibu menyusuii memang harus banyak minum air putih, makanya Septian sebisa mungkin selalu mengingat Nara.


"Makasih." Ujar Nara lalu meneguk air dalam gelas hingga habis.


"Kok gak nenenin sambil tiduran?" Tanya Septian sambil meraih gelas dari tangan Nara dan mengembalikan keatas nakas.


"Susah kalau yang sebelah kanan. Aku masih belum terbiasa dengan posisi tiduran. Bisanya cuma yang sebelah kiri."


"Ya udah gak papa, tapi segera dibiasain. Kalau malam malam nenenin sambil duduk, yang ada kamu malah kurang istirahat."


Nara mengangguk sambil memijat mijat bahunya yang terasa pegal.


"Capek, mau abang pijitin?"


"Gak usah, abang baru pulang, pasti juga capek."


"Enggak kok."


Septian naik keatas ranjang lalu duduk dibelakang Nara. Menempatkan kedua tangannya dipundak. Lalu mulai memberikan pijitan di bahu Nara.


Nara memejamkan matanya menikmati pijitan Septian. Rasa penatnya seharian ini terasa langsung berkurang.


"Lapar?" Tanya Septian.


"Kok tahu?" Nara mengernyit sambil menoleh kebelakang.


"Nebak aja, kata ibu, menyusuii membuat cepat lapar."


"Jagain Ay ya, aku kebawah ambil makanan."


"Gak usah, abang aja yang ambil. Kamu istirahat sambil jagain baby Ay."


Septian menghentikan pijatannya. Sebelum beranjak dari ranjang, dia masih menyempatkan diri mencium kening Nara. Kemudian dia keluar lalu menutup kembali pintunya.


Sesampainya didapur, ternyata tak ada makanan. Semua lauk habis, hanya tinggal nasi saja yang tersisa. Dia berniat untuk mengambil ponsel dikamar dan pesan delivery. Tapi tiba tiba, dia dapat sebuah ide. Sepertinya memasak nasi goreng bukan ide yang buruk.


Dia lalu membuka kulkas. Mencari bahan bahan yang bisa digunakan untuk pelengkap nasi goreng. Senyumnya merekah saat menemukan sosis, telur serta sawi hijau.


Septian mulai mengeksekusi bahan bahan tersebut. Dia tak mau Nara menunggu terlalu lama.


Sambil berdendang pelan, Septian mulai menumis bumbu, memasukkan telur serta sawi. Tapi tiba tiba dia dibuat terkejut dengan sepasang lengan yang melingkar dipinggangnya. Dia juga merasakan dada yang menempel dipunggungnya.


"Sayang." Ucap Septian ketika dia menoleh dan mendapati Nara yang tengah memeluknya dari belakang.


"Pantesan lama banget, masak dulu?" tanya Nara tanpa mau melepaskan pelukannya.


"Kok kamu kesini, baby Ay sama siapa?"


"Dia nyenyak banget kok tidurnya. Buruan lanjutin, terus kita kembali kekamar." Titah Nara.


"Lepasan dulu pelukannya, susah gerak kalau gini." Ucap Septian sambil memasukkan nasi kedalam penggorengan.


"Gak mau." Nara malah menyandarkan kepalanya dipunggung nyaman sang suami. Jujur, dia merasa terharu dengan perhatian perhatian yang diberikan Septian padanya. Bahkan tengah malam, suaminya itu masih mau memasak untuknya.


"Tukar posisi aja gimana. Kamu yang masak abang yang meluk."


"Aku gak bisa bang."

__ADS_1


"Abang ajarin."


Akhirnya mereka bertukar posisi. Nara memegang spatula dan mulai mengaduk aduk nasi goreng. Sedangkan Septian, dia memeluk Nara dari belakang sambil memberikan instruksi apa yang harus wanita itu lakukan.


"Segini bang garamnya?" Nara bertanya dulu sebelum dia memasukkan garam ke kuali.


"Kurangi dikit."


Begitu pula dengan lada, penyedap rasa dan kecap. Nara selalu bertanya dulu karena takut salah. Dan saat semua sudah siap, Nara mengambil sedikit untuk dicicipi. Wow, dia seperti tak percaya jika rasanya bisa seenak ini. Mungkin efek lapar atau karena dibuat dengan rasa cinta.


Mereka tak mau berlama lama didapur. Setelah memindahkan nasi goreng ke piring, keduanya segera kembali kekamar. Beruntung baby Ay masih tertidur pulas, jadi mereka bisa makan dengan tenang.


Suapan demi suapan masuk kemulut Nara dan juga Septian. Hingga Nasi satu piring tinggal beberapa sendok saja.


"Kenapa?" Septian bingung saat melihat mata Nara yang tiba tiba berkaca kaca.


Seketika itu juga, Nara memeluk Septian. Dan butiran butiran bening turun dengan deras dari sudut matanya.


"Ra, sayang, ada apa?" Septian melepaskan pelukan Nara lalu menatap wanita itu lekat lekat.


"I love you." Lirih Nara.


Septian mengernyit bingung.


"I love you bang. I love you so much." Nara kembali menjatuhkan tubuhnya didada bidang suaminya.


Septian hanya diam, dia bahkan tak menjawab ucapan cinta dari Nara. Jujur dia masih bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Septian tak kunjung mengerti. Tiba tiba dia teringat tentang artikel yang dia baca tentang baby blues. Apakah ini baby blues? Pikirannya langsung mengarah kesana.


Nara menarik tubuhnya dari dada Septian lalu menyiumi wajah pria itu hingga tak ada celah yang tersisa.


Bukannya menikmati ciuman Nara, Septian justru makin panik.


"Makasih bang." Ujar Nara sambil memindai wajah Septian. "Terimakasih karena sudah mencintaiku. Terimakasih karena memperlakukan aku dengan baik. Terimakasih untuk semua kebagiaan yang kamu berikan selama ini." Nara kembali terisak.


"Nova bilang, pernikahan Arumi dan Abi sedang tidak baik baik saja. Kemungkinan mereka akan berpisah." Nara mulai bercerita sambil bersandar didada Septian dan mengusapnya pelan.


"Aku tahu seberapa besar cinta Arumi untuk Abi. Dia sudah mencintai Abi sejak masih SMP. Bahkan dia rela mengkhianatiku demi Abi. Jika sekarang Arumi sampai ingin berpisah, itu tandanya Abi sudah melakukan kesalahan yang tak termaafkan."


"Aku bersyukur karena tak jadi menikah dengan Abi. Tuhan sangat baik padaku. Dia telah mengirimkan laki laki luar biasa seperti kamu untuk menggantikan Abi."


Akhirnya Septian paham dengan sikap Nara barusan. Dia lalu mengecup dahi Nara dan membelai rambutnya.


"Aku adalah wanita paling beruntung didunia karena memilikimu dan Baby Ay. Berjanjilah jika kita akan terus bersama." Nara mendongak untuk menatap wajah Septian.


Septian meraih tangan Nara lalu menciumnya berkali kali.


"Abang janji akan selalu mencintai kamu dan baby Ay. Kalian berdua adalah prioritas abang. Kalian adalah rumah, tempat abang pulang."


"I love u bang."


"I love you too."


...******...


Sepulang dari kampus, Diego segera mencari keberadaan mamanya. Dia berteriak teriak memanggil mama hingga sang mama enggan menjawab saking geramnya. Sudah beberapa kali diberitahu, masih saja kelakuannya tak bisa berubah, menganggap rumah seperti hutan hingga dia bebas berteriak.


Brakk


Deigo mendorong kasar pintu kamar Damar. Dilihatnya sang mama berada disana dan tengah menemani Damar mengerjakan tugas kerajinan tangan.


"Mama kok diam aja sih, padahal dari tadi aku panggil." Kesal Diego. Dia ikutan duduk dikarpet bawah bersama Damar dan mamanya.


"Kapan kamu manggil?" Tanya mama Eva.


"Astaga mah, dari tadi aku manggil."


"Kamu gak manggil, sejak tadi yang mama denger itu teriakan. Kamu pikir ini hutan Hah? Papa kamu sedang tidur, tapi kamu malah teriak teriak gak jelas." Omel mama Eva. Papa Dion pulang lebih awal dari kantor karena tak enak badan. Bukannya mendapat ketenangan dirumah, eh... malah dapat suara memekakkan telinga.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya mama Eva jutek.


"Ck, sayangnya sama Damar doang. Aku dimarahin mulu." Diego pura pura ngambek.


plakk


"Aduh." Diego memegangi lengannya yang digaplok mama Eva.


"Ngomong apa kamu?" Bentak mama Eva sambil melotot. Aura wanita itu seketika berubah. Dia memang sedikit sensi kalau disinggung masalah kasih sayang. Bukan apa apa, itu karena Diego bukan anak kandungnya. Dia hanyalah ibu sambung. Kalau sampai Diego merasa dibedakan dengan Damar, dia merasa gagal sebagai ibu.


"Peace mah, becanda." Diego langsung memeluk mamanya. Dia merasa salah bicara sampai raut muka mamanya berubah sedih.


"Jadi mama gak sayang kamu?" Tanya Mama Eva.


"Becanda mah. Sayang kok, sayang banget. Diego juga sayang banget sama mama." Diego mengeratkan pelukannya lalu mencium pipi dan kening mamanya berkali kali.


"Modus mah, ada maunya itu." Damar mulai menjadi provokator.


"Diam lo bocil." Bentak Diego sambil memelototi adiknya.


"Ada apa nyari mamah?" Tanya Mama Eva setelah Diego melepaskan pelukannya. Tatapannya sudah mulai lembut seperti biasanya.


"Uztad Fikri kesini tiap hari apa? Diego mau ikutan ngaji."


Damar seketika beringsut. Dia meletakkan punggung tangannya di dahi sang kakak.


"Gak lagi demam, juga gak tidur. Tapi kenapa ngigau ya mah?"


Mama Eva tak bisa menahan tawa mendengar Damar meledek Diego. Sedangkan Diego, dia langsung menghempas kasar tangan Damar yang masih bertengger didahinya.


"Ada angin apa tiba tiba ingin ikut ngaji? Selama ini, mulut mama sampai berbusa ngajak kamu ikutan ngaji tapi tak pernah mau. Yang katanya, Diego udah bisa ngaji kok mah, udah bisa baca Alquran, udah bisa sholat, ngapain ngaji lagi?" Mama Eva menirukan gaya bicara Diego saat cowok itu menolak diajak ngaji bersama.


"Betul betul betul." Celetuk Damar.


"Diego pengen memperbaiki bacaan sholat mah. Diegokan mau jadi imam."


Mata mama Eva seketika terbelalak. Sedangkan Damar, bocah itu malah geleng geleng. Dia takut kakaknya kesurupan jin muslim. Karena tiba tiba saja berubah 180 derajat.


"Kamu mau jadi imam dimana? di masjid mana? Nanti mama ajak papa dan Damar ikut sholat berjamaah jika kamu imamnya?" Tanya mama Eva penuh antusias.


"Bukan di masjid, tapi dirumah."


"Jadi kamu mau ngimamin kita sholat?"


"Bukan mama dan Damar."


"Terus?"


"Shaila."


"CAPEK DEH." Seru Damar dengan lantang. Kakak yang dia pikir kerasukan jin muslim, ternyata kerasukan ukhti Shaila.


Mama Eva menghela nafas. Ternyata ada udang dibalik rempeyek. Niat belajar jadi imam karena ada maunya. Tapi tak apalah. Selama itu mengarah kepada kebaikan kenapa tidak. Dia saja yang selama ini berusaha mengajak Diego belajar ngaji selalu gagal. Dan sekarang, demi Shaila, anaknya itu mau belajar. Perubahan positif yang patut dia dukung.


"Uztad Fikri kesini tiap rabu malam bakda isyak. Jangan keluyuran Kemana mana kalau mau ikutan ngaji." Ustad Fikri adalah guru ngaji privat keluarga Diego.


"Diego juga mau menghafal surat surat pendek. Mulai dari An nas hingga ad dhuha." Itu salah satu syarat dari Shaila.


"Aku yakin deh, kalau dari An nas hingga ad dhuha, kakak cuma hafal 3 surat." Damar mulai sok tahu.


Diego mendengus. Mana bisa dia menyangkal, toh kenyataannya dia memang hanya hafal 3.


"Apa aja?" Mama Eva mulai kepo.


"An nas, Al ikhlas, sama Al kautsar." Ledek Damar lalu tertawa cekikikan.


"Puas! Terooos... ejek Terooss..." Kesal Diego.


"Gak usah nungguin Ustad Fikri. Belajar aja sama Damar. Damar mah hafal semua surat pendek dari An nas sampai Ad dhuha." Ucapan Damar seperti pukulan telak untuk Diego. Benar kata Shaila, mampukah dia menjadi pemimpin keluarga jika sama anak kelas 4 SD saja kalah.

__ADS_1


__ADS_2