
Minggu adalah waktu yang mungkin sangat dinanti oleh hampir semua orang. Karena dihari itu, pekerja dan anak sekolah bisa dipastikan semuanya libur. Waktu yang paling pas untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan.
Quality time, sebuah kata yang mungkin menjadi dambaan semua orang. Terlebih bagi Arumi yang sedang hamil besar. Kehamilannya sudah menginjak usia 31w. Mungkin sekitar 2 bulan lagi dia akan melahirkan.
Tapi pada kenyataannya, dia hanya sendiri pagi ini. Berjalan jalan disebuah taman yang ada trek jogingnya. Kata orang, dengan banyak berjalan, akan memudahkan proses persalinan. Ikhtiar itulah yang sedang dia lakukan saat ini.
Setelah merasa cukup lelah, dia istirahat sebentar sebuah bangku panjang.
Tanpa sengaja, dia melihat Nara bersama tiga orang wanita berhijab sedang berjalan kearah penjual siomay didekat taman. Tapi Arumi tak mengenal mereka. Nara tampak bahagia, terbukti dengan senyum dan tawa yang selalu menghiasi bibirnya.
Jarak mereka tak terlalu jauh, tapi Nara tak melihat Arumi karena wanita buru buru menyerongkan badannya agar tak terlihat. Tapi Arumi masih bisa mendengar suara mereka. Karena jarak bangkunya dan penjual siomay lumayan dekat.
"Siomay 5 bang, bungkus." Ujar Nara.
"Ibu gak usah, beli 4 saja." Tolak Bu Lastri.
"Ya udah, 4 deh kalau gitu." Ralat Nara.
"Duduk sini kak." Shaila mengambil kursi plastik dan meletakkannya disebelah Nara agar dia bisa duduk.
"Terus, kamu?"
"Aku berdiri aja gak papa. Lagian kakak lagi hamil, gak boleh capek capek. Nanti abang bisa marah kalau sampai istri tercintanya kecapekan." Goda Shaila.
"Ish, bisa aja kamu. Tapi makasih loh." Jawab Nara lalu duduk dikursi plastik sebelah Bu Lastri. Sedangkan Shaila dan Sarah, keduanya berdiri karena kursi sudah penuh.
"Kakak siang ini langsung pulang?" Tanya Sarah.
"Iya Sar, abang kerja sore nanti. Besok kakak juga harus kerja."
"Nginep lagi sehari dong. Sarah suka loh kalau ada kakak dirumah. Rumah jadi makin rame."
"Yakin, suka kakak ada dirumah. Bukannya kakak cuma ngerepotin aja ya. Terus dah gitu, gak bisa bantu apa apa lagi."
"Jangan pernah mikir seperti itu." Jawab Bu Lastri. "Kamu gak ngerepotin kok. Lagian kamu itu mantu, bukan pembantu. Jadi ya, bantu sebisanya saja, tapi tak usah dipaksakan kalau gak bisa. Takutnya kamu kepaksa, terus malah gak mau nginep dirumah ibu."
Air mata Arumi menetas mendengar obrolan itu. Andai saja, dia dan mertuanya bisa seperti itu. Yang ada, dia diperlakukan seperti pembantu dirumah mertuanya. Maka dari itu, dia paling malas bertandang kerumah mertua.
"Entar kalau capek, suruh Septian mijitin kaki kamu." Ujar Bu Lastri. "Kalau gak mau, bilang sama ibu, biar ibu jewer telinganya."
Ucapan Bu Lastri langsung disambut gelak tawa oleh anak dan mantunya.
"Emang abang bocah apa, mau dijewer segala." Sahut Sarah sambil ngakak.
"Hampir tiap hari, abang selalu nawarin mijitin kok Bu. Gak perlu dijewer, kasihan." Jawab Nara.
__ADS_1
"Cie.... abang so sweet banget sih." Ledek Sarah sambil menyenggol lengan Nara.
Air mata Arumi makin deras. Jangankan dipijitin oleh suaminya. Meminta sedikit perahatian saja, dia pasti langsung kena omel. Dia jadi teringat pertengkarananya pertangtakan kecilnya dengan Abi.
"Mas, aku lagi pengen mango sticky rice. Entar pulang ngantor, beliin ya." Ujar Arumi saat Abi hendak berangkat kerja.
"Gak bisa, aku nanti lembur. Lagian beli sendiri bisa kan? pesen online juga banyak."
"Tapi anak kita pengen kamu yang beliin mas."
"Astaga.....itu anak didalam perut aja udah ngerepotin. Gimana nanti pas lahir. Lagian kamu sih ngeyel, aku bilang gugurin, masih aja kekeh mertahanin."
"Astagfirullah hal adzim Mas. Ini anak kamu loh, darah daging kamu. Kenapa kamu terus terusan bilang nyuruh gugurin."
Lagi lagi Arumi menangis. Abi memang tak mengharapkan anak itu sejak dokter memberitahu jika anak mereka mengidap down syndrome.
"Udah Rum, aku mau kerja. Gak usah drama pagi pagi. Bosen aku lihat kamu nangis. Udah ditempat kerja banyak tekanan. Dirumah berantem sama kamu." Abi segera melangkah pergi keluar rumah. Bahkan dia membanting pintu dengan sangat keras hingga Arumi terjingkat kaget.
...*****...
Tok tok tok.
Septian yang terkantuk kantuk didepan TV, dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Dia melihat jam dinding, hampir pukul 9 pagi. Dengan langkah malas, dia berjalan menuju pintu lalu menarik handlenya.
Matanya membulat sempurna melihat tamu yang datang. Orang yang sudah hampir dua tahun ini tak bertemu dengannya.
"Assalamualaikum." Nurul mengucapkan salam. Tampak gurat bahagia diwajahnya. Mungkin karena rindunya akhirnya terobati.
"Wa, Waalaikum salam." Jawab Septian gugup.
Mereka saling diam. Suasana mendadak canggung. Mungkin karena ini pertemuan pertama mereka setelah resmi putus.
"Apa kabar bang?"
"Baik Nur."
"Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, Nur juga baik."
Septian mendadak bingung. Rumah sedang kosong. Tak mungkin dia mempersilakan Nurul masuk. Dia takut terjadi fitnah.
"Nur, maaf ya, rumah lagi kosong. Kita ngobrol diteras saja."
Nurul mengangguk, dia dan Septian kemudia duduk dikursi teras.
__ADS_1
"Pada kemana semua?" Tanya Nurul.
"Kepasar. Eh, tunggu bentar ya." Septian masuk untuk mengambil minuman dingin ditoko. Setelahnya dia kembali dan meletakkan dua botol teh diatas meja.
"Diminum Nur."
"Makasih bang." Jawab Nurul sambil membuka penutup botol lalu meminumnya sedikit.
"Em... "Nurul meremas jemarinya. Dia bingung harus memulai bicara dari mana. Ternyata, pertemuan pertama mereka sungguh terasa canggung.
"Abang... sudah menerima surat dari Nur?" Tanya Nurul sambil menoleh ke arah Septian yang duduk dikursi sebelah yang dibatasi meja.
"Su__" Septian tak melanjutkan kata katanya. Dia mendengar suara berisik Sarah. Jika Sarah pulang, itu artinya Nara juga. Dia yang awalnya menunduk, langsung mendongak dan melihat kearah gerbang rumahnya. Benar saja, mereka berempat sudah pulang.
Gelak tawa Sarah terhenti saat melihat seseorang duduk bersama abangnya diteras rumah. Pandangannya matanya langsung terfokus pada mereka. Membuat yang lainnya, ikut manatap kearah pandang Sarah.
Ada rasa cemburu dihati Nara melihat suaminya bersama seorang wanita cantik berhijab. Walaupun, mereka hanya tampak berbincang biasa, tak lebih.
"Nurul." Gumam Bu Lastri. Langkah kaki Nara seketika terhenti. Ternyata, wanita itu yang namanya Nurul.
Bu Lastri memang mengenal Nurul. Walaupun dulu, Septian tak pernah mengenakan Nurul sebagai pacar, tapi dia bisa melihat jika ada rasa antara putranya dengan gadis itu. Nurul pernah beberapa kali datang kerumah mereka, tapi tak sendiri, melainkan bersama teman teman yang lain. Biasanya untuk belajar bersama.
Perasaan Nara seketika bergejolak saat tahu jika wanita itu adalah Nurul. Mendadak dia merasa insecure. Sungguh cantik wanita bernama Nurul itu. Berhijab syari dan tampak sangat anggun. Membuat siapapun yang menatapnya merasa damai.
Bu Lastri menggandeng tangan Nara. Dia tahu, jika menantunya itu pasti sedang mengalami pergolakan batin saat ini.
Septian dan Nurul berdiri saat melihat kedatangan mereka. Dan mata Nurul, seketika terfokus pada wanita yang sedang digandeng oleh ibu Septian. Wanita dengan rambut panjang yang tergerai indah. Memakai dress motif floral selutut berwarna ungu. Sungguh sangat cantik dan menarik. Apalagi untuk kaum adam.
"Assalamualaikum." Ucap Bu Lastri dan anak anaknya.
"Waalaikum salam." Jawab Septian dan Nurul bersamaan.
Nurul segera meraih tangan Bu Lastri dan menciumnya takzim.
Setelah salim dengan Bu Lastri. Dia dan Nara saling bertatapan.
"Ini???" Nurul hendak mengulurkan tangan ke arah Nara.
"Dia Nara, istriku."
.
.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH. TEKAN FAVORIT JUGA YA BIAR SELALU DAPAT NOTIF KALAU UP.
__ADS_1