Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TAWARAN


__ADS_3

Bu Lastri membangunkan Septian selepas adzan subuh berkumandang.


"Bang, bangun, sholat subuh dulu. Pas itu pindah, tidur dikamar."


Septian yang merasakan tepukan di lengan dan mendengar suara ibunya perlahan mengerjabkan matanya. Dia baru sadar jika tertidur dimushola. Kepalanya tak lagi dipangkuan ibunya, sudah berpindah ke bantal.


"Sholat subuh dulu lepas itu pindah ke kamar. Ibu mau ke masjid."


Setelah ibunya pergi, Septian kekamar mandi untuk mencuci muka dan wudlu. Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, dia naik ke kamarnya. Matanya terasa lengket, masih sangat mengantuk. Setelah mencium aroma bantal dan kasur, dia langsung terbang kealam mimpi.


...******...


Nara terbangun mendengar ketukan pintu dan suara cempreng Bik Surti.


"Non Nara, udah siang non. Non, udah bangun belum?" Teriak Bik surti dari balik pintu kamar Nara.


"Iya bik." Sahut Nara dari dalam. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Semalam dia tak bisa tidur hingga habis subuh baru tidur. Dan efeknya, sudah tentu sekarang ngantuk banget..


Tapi saat teringat suaminya yang tak pulang semalam, rasa kantuknya mendadak hilang. Diambilnya ponsel yang ada dinakas, lalu mengecek panggilan dan pesan.


Ternyata tak ada notif apapun. Kecurigaannya makin kuat. Dimana sebenarnya suaminya itu sekarang. Kalaupun tidur, dia pasti sudah bangun untuk sholat subuh. Tapi kenapa dia belum mengecek ponselnya, terbukti dari pesan WA yang dia kirim belum juga berubah jadi centang biru.


Nara kembali menghubunginya, tapi tak diangkat. Tak mau putus asa, dia mencoba sekali lagi. Dan akhirnya dijawab.


"Hallo."


Deg, Nara terkejut saat seorang perempuan yang menjawab ponsel suaminya.


"Assalamualaikum Kak, nyariin abang ya? Abang dikamarnya, ini Shaila, mau aku panggilin?"


Nara mengelus dadanya, menetralkan kembali detak jantung yang tadi sempat berdegup kencang. Karena cemas dan terlalu overthinking, dia jadi lupa dengan suara Shaila. Udah mikir macem macem gara gara yang angkat cewek.


"Eh..iya Sha." Jawab Nara.


"Tunggu bentar ya kak, aku sambil jalan ke kamar abang nih."


"Kok ponsel abang bisa sama kamu Sha?"


"Sebenarnya bukan sama aku. Tapi ada didalam ransel abang yang ketinggalan di sofa ruang tamu. Lupa kali abang, gak dibawa naik kekamar. Tadi pas aku beres beres ruang tamu, denger suara ponsel, setelah aku cek, ternyata dari ransel abang." Jelas Shaila sambil berjalan menaiki anak tangga.


"Semalam abang Nginep disitu Sha?"


"Iya kak, pulang bareng aku semalam. Kata abang, dia udah bilang sama kakak?"


"Iya, udah kok."


Nara bernafas lega. Dugaanya ternyata salah. Septian benar benar menginap dirumah ibunya semalam. Ternyata dia terlalu overthinking.


Tok tok tok


"Bang, ada telepon dari kak Nara nih." Ujar Shaila dari balik pintu. "Bang."


tok tok tok


Shaila terus mengetuk hingga terdengar sahutan dari dalam.


"Masuk Sha."


Shaila masuk dan langsung menyerahkan ponsel pada abangnya. "Ada telepon dari kak Nara."


Septian meraih ponsel dari tangan Shaila. Dia yang masih ngantuk berat, menjajawab telepon sambil tiduran. Rasanya tak ada tenaga hanya untuk sekedar duduk.


"Assalamualaikum Ra." Jawabnya dengan suara lemas karena kantuk.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Abang dirumah ibu?" Tanya Nara langsung.


"Hem."


"Ada apa, kenapa mendadak begitu? apa ibu sakit?"


"Enggak. Abang ngantuk berat Ra. Nanti abanh telepon lagi."


tut tut tut


Nara kesal sekali. Semalaman dia tak bisa tidur karena Septian tak pulang dan tak bisa dihubungi. Tapi sekali bisa ditelepon, kayak ogah ogahan jawabnya. Main langsung ditutup pula. Bikin mood pagi harinya rusak saja.


"Abang ngeselin banget sih." Omel Nara sambil melempar ponsel ke atas ranjang.


Setelah bersiap siapa ke kampus, Nara langsung turun untuk sarapan. Dia hanya mengambil sedikit nasi dan lauk. Gak selera makan sama sekali.


"Kenapa Ra?" Tanya mama yang melihat anaknya hanya mengaduk aduk makanan. Padahal sejak hamil, Nara selalu banyak makannya.


"Gak selera mah."


"Kenapa?"


"Gak papa."


"Kapan kamu jadwal ke dokter? Udah rembukan sama Septian kapan mau sc nya? Ini udah 36w kan, dua minggu lagi juga udah boleh di sc." Tanya mama Tiur.


Nara meletakkan sendoknya. Dia jadi teringat perdebatannya dengan Septian tempo hari yang mengakibatkan renggangnya hubungan mereka.


"Abang minta aku lahiran normal mah."


"Kenapa?" Tanya papa. Mama yang ingin tanya jadi batal, karena sudah terwakilkan.


"Abang pengen ngebiayain persalinan aku, gak mau pakai uang mama atau papa. Makanya dia minta normal biar murah."


"Tapi aku takut Pah, aku gak mau normal. Pasti sakit banget. Denger cerita kayak serem banget gitu."


"Jangan parno dulu. Liat saja orang orang dulu. Semuanya lahiran normal. Tapi anaknya pada banyak semua. Bahkan ada yang sampai 10. Kalau emang seseram bayangan kamu. Mereka tak akan mau melahirkan hingga 10 kali."


Nara berdecak kesal. Kenapa papanya terkesan membela Septian, tidak dirinya.


"Tergantung kesiapan kamu aja Ra. Kalau kamu takut, terus dipaksain. Yang ada malah darah tinggi. Ujung ujungnya apa, harus sc juga. Mantapin hati dulu. Bicara baik baik sama Septian."


...*****...


Dicafe, Diego celingukan mencari Shaila. Sudah hampir satu jam dan secangkir kopi sudah habis, Shaila tak muncul juga. Sedangkan Asep, dari jauh tampak memperhatikannya.


Tak mau pulang tanpa hasil. Dia meminta seorang pelayan untuk memangilkan Shaila.


"Sha, ada yang nyariin tuh?" Ujar Citra yang dapat mandat dari Diego.


"Siapa?"


"Cowok cakep. Cakep banget pokoknya."


Tanpa melihat, rasanya Shaila tahu siapa yang mencarinya. Siapa lagi kalau bukan Diego. Dia tak punya teman pria yang terlalu dekat. Siswa disekolahnya juga rata rata perempuan.


Shaila melepas apronnya lalu keluar dari dapur. Menurut Citra, cowok itu duduk dimeja 8, jadi matanya langsung fokus kesana. Dan benar saja, mesti hanya terlihat punggungnya, udah kelihatan jika itu Diego. Yang membuatnya tak. habis pikir, kenapa cowok itu masih juga mencarinya.


Dia beralih melihat abangnya. Abangnya itu tampak sibuk membuat kopi. Dengan langkah lumayan cepat, dia menghampiri meja no 8.


"Ada apa?" Tanya Shaila langsung. Dia melirik kearah abangnya, takut jika diperhatikan dari jauh.


"Duduk dulu."

__ADS_1


"Gue sibuk. Kalau gak ada yang penting, gue kembali kedapur."


Diego terkekeh mendengar alasan Shaila. Rasanya mustahil sibuk saat cafe sangat sepi. Bahkan pengunjungnya bisa dihitung dengan jari.


"Gue lihat, makin sepi aja coffee shop abang lo."


Shaila membuang nafas kasar sambil memutar bola matanya jengah.


"Jadi mau ketemu gue cuma mau bilang itu?" Sinis Shaila. Ucapan Diego terdengar seperti ledekan.


"Enggak sih. Gue cuma mau nyampaiin pesan mama gue. Selasa depan, dia nunggu lo dirumah untuk belajar bikin dessert."


Good idea Diego. Kamu yang nungguin, pakai alasan mama.


"Maaf, gue gak bisa."


"Kenapa? bukannya bagus buat ningkatin skill memasak lo. Kalau makanan yang lo bikin enak, pasti banyak yang suka terus ngerekomendasiian ke teman temanya. Kalau hanya B aja, gak yakin mereka mau kembali lagi kesini."


Shaila tampak berfikir. Sebanarnya ini tawaran yang bagus. Kapan lagi bisa belajar pada chef profesional, gratis lagi. Tapi yang membuat dia ragu, takut tak dimarahi abangnya. Selain itu, dia tak begitu dekat dengan Diego. Apakah tak masalah jika dia datang kerumahnya.


"Dih, malah bengong." Cibir Diego. "Gimana? Cafe abang lo sepi gini, kalau gak bikin gebrakan, bisa bisa gulung tikar. Dan satu lagi, gue bisa bantu promosiin kalau lo mau. Gini gini, gue seorang you tuber sekaligus selebgram."


Shaila mengernyit, tak yakin dengan apa yang dikatakan cowok itu. Dia tak punya akun instagram, jadi tak begitu tahu siapa saja selebgram. Kalau you tube, sering lihat, tapi paling tentang tutorial memasak. Tak pernah sekalipun dia melihat Diego di you tube.


"Gak percaya." Dia mengambil ponselnya lalu menunjukkan akun IG miliknya yang followwernya udah diatas 1 juta. Selain itu, canel youtube nya ternyata juga sudah memiliki banyak subcriber.


"Gimana, percayakan?"


"Ngapain masih gangguin adik gue?" Tanya Septian yang tiba tiba ada didekat mereka. Shaila langsung salah tingkah. Sedangkan Diego, tampak biasa saja.


"Gak usah galak begitu, gue pelanggan disini. Ingat, pembeli adalah raja."


Septian berdecih mendengarnya. Alasan yang terdengar sangat klise. Datang sebagai pembeli, tapi ada udang dibalik rempeyek.


"Eh Sep, ngomong ngomong, cafe lo sepi amat."


"Bukan urusan lo." Sinis Septian. "Sha, masuk kedalam Gih."


"Paan sih Sep, orang gue masih mau ngobrol sama adik lo. Main suruh masuk aja."


"Gak penting ngobrol sama lo." Salak Septian.


"Pentinglah, apalagi ini menyangkut kelangsungan hidup cafe lo."


"Ngapain bawa bawa cafe gue?"


"Gue bisa jadiin tempat ini ramai. Bagi gue, hal itu bukan sesuatu yang susah."


"Gak usah sok deh."


"Bukan sok, tapi gue emang bisa. Gue anak ekonomi, paham soal bisnis ginian. Emang lo anak teknik." Diego menyebikkan bibirnya mengejek Asep.


"Gue bisa viralin cafe ini. Dan lo pasti tahu apa dampaknya jika viral. Cafe lo bakal diserbu pelanggan. Tapi, selain itu, kopi dan dessertnya harus benar benar enak. Biar mereka mau balik lagi kesini dan jadi pelanggan. Percuma viral kalau yang dijual b aja. Lain kali mereka gak akan mau kembali. Hanya akan nyoba sekali terus hilang. Gue lihat konsepnya udah bangus, cuma promosinya aja yang kurang. Dan promo lewat sosmed, paling efektif."


Septian membenarkan ucapan Diego. Dia sering melihat berita ditv atau internet soal cafe yang viral. Dan sudah pasti, setelah viral, bakalan ramai banget. Mungkin cara ini sangat tepat untuk meningkatkan penjualan.


"Gue mesti bayar berapa supaya lo bikin cafe gue viral di sosmed?"


Diego tersenyum. Sepertinya dia sukses membujuk Septian.


"Gratis, cuma ada satu syaratnya."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2