
Hampir isya' Septian baru sampai rumah. Setelah memarkir motornya. Dia segera masuk dengan menenteng kantong berisi empek empek.
Dia yang berniat hendak menaiki tangga, urung karena mendengar suara Nara dari arah dapur.
"Aku bawa kedepan ya bik." Suara Nara terdengar berbarengan dengan kemunculan wanita itu dari dapur.
"Abang." Ucapnya saat melihat Septian berjalan kearahnya. "Dapet empek empeknya?"
Dengan senyum lebar, Septian mengangkat kantong berisi pempek pesanan Nara.
Setelah meletakkan tempe bacem diatas meja makan. Nara meraih kantong kresek dari tangan Septian. Tapi tiba tiba, raut wajahnya berubah saat melihat tulisan pada kantong tersebut.
Secara otomatis, ingatannya kembali pada Abi. Pada pria yang dulu sering menghabiskan waktu berdua, menikmati empek empek direstoran tersebut.
"Kenapa?" Septian melihat ada kejanggalan dari ekspresi Nara.
"Em... kok banyak banget?" Tak mungkinkan, dia bilang keinget mantan suami.
"Kali aja mama sama papa mau Ra. Bi Surti juga masak disuruh lihatin doang."
"Tapi ditempat ini mahal loh bang." Nara jelas tahu harga disana, karena itu tempat favoritnya dulu bersama Abi.
"Abang baru dapat rezeki. Tak ada salahnya kan abang manjain istri dengan makanan enak."
"Rezeki?" Nara mengernyitkan keningnya. "Bukannya baru gajian?"
"Bukan gaji, tapi dikasih orang. Tadi gak sengaja, abang nolongin orang yang kena jambret."
"Abang nolongin orang kena jambret" Nara seketika melotot. "Tapi gak papakan, gak ada luka kan?" Nara memperhatikan Septian dari atas kebawah lalu memutar tubuhnya.
"Alhamdulillah abang baik baik aja Ra." Ujarnya sambil membelai puncak kepala Nara. "Abang dikasih uang. Udah nolak sih, tapi dia maksa. Ya udah, anggap aja rejekinya kamu sama baby."
"Lain kali gak usah ikut campur urusan orang. Aku gak mau abang kenapa napa gara gara nolongin orang."
"Lihat orang kesusahan masak diem aja Ra? Insyaallah abang akan jaga diri. Gak usah terlalu cemas." Ucapnya sambil mengusap lembut pipi Nara.
"Abang mandi dulu, biar entar bisa makan malam sama sama." Pamitnya lalu naik keatas memuju kamarnya.
Nara menuju dapur untuk memindahkan pempek ke wadah. Bi Surti membantu memotong dan menuang kuahnya kedalam mangkuk.
Mata Nara berkaca kaca saat mencicipi sepotong. Abi, bayangan pria itu kembali muncul dalam benaknya. Rasa tersakiti, rasa tak terima dan rasa marahnya kembali muncul. Mungkin rasa cinta sudah tidak ada, tapi rasa benci jelas masih ada disudut hatinya yang paling dalam.
"Non, pempeknya mau dibawa ke meja makan gak?" Tanya Bi Surti.
Nara masih tenggelam dalam ingatannya. 8 Tahun bukan waktu yang singkat. Begitu banyak kenangan diantara mereka. Dan akan terasa perih jika kenangan itu muncul dengan sendirinya tanpa diminta.
"Non." Bik Surti menepuk bahu Nara.
"Eh, iya, apa bi?" Nara tampak gelagapan.
"Pempeknya dibawa kemeja makan gak?"
"Biar saya saja yang bawa." Nara mengambil sepiring penih pempek lalu dibawanya kemeja makan. Dibelakangnya, Bi surti bantu membawakan kuahnya.
__ADS_1
...****...
Setelah makan malam, Nara mengajak Septian menikmati pempek digazebo yang ada dihalaman belakang. Tempat itu favorit Nara sajak dulu. Udaranya begitu segar. Ditambah letaknya yang langsung menghadap ke kolam, membuat pikiran terasa tenang.
Nara menyandarkan kepalanya dibahu Septian sambil memangku mangkok berisi pempek. Bemanja manja pada orang tercinta, ditempat favorit dan dengan makanan favorit pula. Hal sepele tapi sangat menyenangkan untuk Nara.
"Besok abang cuti. Kita kerumah ibu pagi pagi ya?" Ujar Septian sambil membelai rambut Nara.
"Terserah abang." Jawab Nara lalu memasukkan sepotong pempek dalam mulutnya.
Saat mereka tengah asyik bercengkerama. Ponsel Nara berbunyi. Ada telepon dari nomor tak dikenal. Tapi dari foto profil wa nya, jelas Nara kenal.
"Kok gak diangkat?" Tanya Septian.
Nara menyerahkan ponselnya pada Septian. Seketika mata Septian membulat sempurna melihat profil Diego disana.
"Dia sering nelpon kamu?"
"Beberapa kali, tapi gak pernah aku angkat."
"Abang angkat boleh?" Tanya Septian sambil menoleh untuk melihat ekspresi Nara.
"Terserah." Nara tampak tak keberatan.
Septian menghela nafas lalu menekan tombol hijau. Dia juga meloud speaker agar Nara bisa ikut mendengar. Dari seberang sana, langsung terdengar sapaan dari Diego. Dari suaranya, terdengar sangat bahagia.
"Ada keperluan apa menelepon istri saya?" Tanya Septian langsung. Menurutnya, tak pernah berbasa basi pada cowok itu.
"In, ini nomor telepon Bu Nara kan?" Diego pikir, dia salah nomor.
Diseberang sana tampak terdiam. Mungkin dia sedang bingung. Tapi entahlah, tak ada yang tahu.
tut tut tut
Selanjutnya, telepon dimatikan oleh Diego.
Septian mengembalikan ponsel itu pada Nara. Tapi raut wajahnya sudah tak serilex tadi.
"Ada apa bang?" Nara menyadari perubahan raut Septian.
"Kapan mau jujur kalau abang suami kamu. Diego ini sudah termasuk yang meresahkan. Dan mungkin, setelah ini akan ada Diego Diego lain lagi."
Nara menunduk sambil meremas jari jarinya.
"Kamu malu banget ya punya suami aku?'
Nara menggeleng cepat sambil menatap Septian.
"Jangan salah paham. Bukan malu karena bersuami abang. Tapi malu karena hamil diluar nikah. Aku dosen bang. Aku harus jadi panutan. Aku belum siap dihujat karena hamil diluar nikah."
Air mata Nara mulai turun deras. Mungkin sudah banyak kasus hamil diluar nikah. Tapi dia dosen, nama baiknya dipertaruhkan disini.
Septian meraih pundak Nara lalu mengecup keningnya beberpaa kali. "Maaf, abang gak mikir sejauh itu. Tapi semua ini gak bisa disembunyikan terus Ra. Perut kamu lama lama besar."
__ADS_1
"Ya kalau udah besar, terpaksa Ngaku. Kita bisa bilang udah lama nikahnya."
"Yakin mereka percaya?"
"Semoga."
Septian menyeka air mata Nara lalu mencium keningnya. "Maafin abang ya, semua ini salah abang."
"Salah kita berdua bang." Koreksi Nara.
Mereka terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya, Nara menanyakan hal yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Berapa banyak cewek yang pernah ons sama abang?"
Lidah Septian seketika kelu mendengarnya. Pertanyaan yang tak mungkin dia jawab, karena takut Nara akan sakit hati.
"Gimana rasanya ons sama cewek cewek itu? Enak mana rasanya sama aku? Pasti kamu sering ngebandinginkan?" Bahasan Nara malah makin melebar kemana mana. Dalam lubuk hatinya, kadang rasa takut itu ada. Takut jika suaminya merasa lebih puas dengan wanita lain dibanding dirinya yang memang masih minim pengalaman.
"Gak usah bahas yang dulu dulu. Aku gak mau kamu sakit hati."
"Oh.... berarti banyakkan?" Nara mengambil kesimpulan sepihak. Ada kilatan amarah dimatanya.
"Ra..." Septian tampak frustrasi. "Aku udah pernah bilangkan. Aku memang pernah beberapa kali ons, tapi tak sering. Itu juga selama aku di Bali doang. Aku memang berengsek saat disana. Aku salah pergaulan. Apalagi jauh dari orang tua. Gak ada yang ngingetin. Kalau saja kamu tahu Ra. Abang malu pada diri sendiri kalau inget betapa banyak dosa abang."
Septian membuang nafas kasar lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia bukan orang yang tak mengerti agama. Meskipun, bukan orang yang ahli ilmu agama. Mengerti jika zina itu dosa, tapi tetap melakukan. Mengerti jika sholat itu wajib, tapi mengabaikannya selama tinggal di Bali.
Dia yang biasanya selalu dapat siraman rohani dari kedua orang tuanya. Mendadak menjadi gersang saat diperantaun. Serta teman dan area pergaulan baru, membuatnya ingin mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang selalu dibilang teman temannya adalah surga dunia.
"See." Septian meraih pundak Nara dan membuat wanita itu menghadap kearahanya.
"Abang sedang dalam fase bertobat. Sedang dalam masa ingin memperbaiki diri. Jadi abang mohon, jangan ungkit masa di Bali. Masa lalu, biarlah jadi pelajaran. Kita hidup untuk hari ini dan masa depan. Dan masa depan abang, adalah kamu dan anak kita. Abang tahu abang buruk, mungkin tak layak jadi suami kamu. Tapi abang akan berusaha untuk memantaskan diri."
Nara lalu memeluk Septian. Menenggelamkan kepalanya didada bidang suaminya. Ya, semua orang punya masa lalu. Septian bahkan tak pernah menanyakan tentang masa lalunya. Jadi, mungkin dia juga tak perlu mempermasalahkan masa lalu suaminya itu.
Nara mengangkat wajahnya lalu mencium bibir Septian. Mengulum, mengecap dan kadang menggigit kecil. Lidah mereka saling beradu. Hingga suara adu bibir itu terdengar nyaring ditengah sunyinya malam.
"Ra, abang pengen." Ujar Septian dengan suara serak saat pagutan bibir mereka sudah terlepas. Matanya sudah dipenuhi kabut gairah, butuh untuk segera disalurkan. Yang pasti, bukan ditempat ini.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih bang kalau pengen." Dengan gerakan cepat, Nara meraih mangkuk berisi pempek lalu menusuk sepotong dengan garpu.
"Ak." Nara mendorong sepotong pempek masuk kedalam mulut Septian. "Tinggal dikit baru bilang pengen. Kenapa gak dari tadi."
Septian melongo dengan mulut berisi pempek. Kemudian dia mengunyahnya dengan ekspresi jengkel.
Nara menahan tawa melihat ekspresi Septian. Dia bukannya bodoh, tak tahu apa arti pengen yang dimaksud suaminya. Hanya saja, dia sengaja mengerjai pria itu. Dia sudah menyiapkan kejutan spesial untuk malam ini. Jadi biarlah pria itu kesal lebih dulu.
"Udah ah, abang mau masuk. Mau lanjut ngerjain skripsi." Ujarnya sambil turun dari gazebo dan melangkah masuk kedalam rumah.
Sedangkan Nara, dia mengikuti langkah Septian dibelakang sambil menahan tawa.
.
.
__ADS_1
Maaf jika ada yang tidak setuju dengan karakter Septian. Kenapa ngerti agama kok ngelakuin ons?
Pada kenyataannya, author beberpaa kali bertemu dengan orang seperti ini. Author pernah merantau beberapa tahun dinegeri orang. Hidup bebas diperantaun sungguh mencabar iman. Apalagi jika dihadapkan dengan teman teman yang bisa dibilang melenceng. Kemungkinan kita untuk melenceng lebih besar. Godaan sangat besar. Bahkan ada seseorang yang author kenal, dia pernah mondok, tapi selama diperantauan, tak pernah melaksanakan sholat.