Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
BERDERIT


__ADS_3

Nara memejamkan matanya sambil menikmati semilir angin yang berasal dari kipasan buku yang dipegang Septian. Setidaknya, itu bisa membuat gerahnya sedikit hilang.


Bisa memeluk dan berbantalkan lengan suami tercinta adalah suatu kenyamanan tiada tara. Entah efek hamil atau apa, yang pasti, Nara sangat menyukai aroma tubuh suaminya. Rasanya, tetap wangi biarpun berkeringat.


"Bang." Panggil Nara sambil memainkan jari jarinya didada Septian.


"Hem..." Septian hanya menjawab dengan deheman.


"Aku pernah baca buku. Disitu ditulis, susahnya jadi wanita."


"Emang apa susahnya, melahirkan?"


"Bukan?"


"Lalu?"


"Bukan langsung baca dibukunya sih. Tapi cuma cuplikan sebuah buku yang diunggah di sosmed." Nara teringat tentang apa yang dia baca beberapa hari yang lalu. Mungkin tak penting bagi sebagian orang. Tapi cukup menyita perhatian dan pikirannya. Benarkah demikian, seperti apa yang tertulis di cuplikan buku itu?


"Apa sih?" Septian mulai kepo.


"Susahnya jadi wanita. Pintar diranjang, dikatain kaya pelacur. Gak mau ngoral, dikatain gak bisa muasin suami. Serba salah gak sih jadi wanita?"


Septian tersenyum mendengarnya. Dia pikir apa yang akan dikatakan Nara adalah sesuatu yang penting, atau Seenggaknya sedikit penting. Eh taunya hanya masalah ranjang.


"Gak semua pria mikir Gitu Ra. Kadang, ada suami yang suka istrinya agresif. Tapi kadang ada juga gak suka. Semua itu tergantung pola pikir masing masing orang. Selera itu relatif Ra. Si A bilang enak, eh... si B bilang gak enak. Si A suka istri yang pandai diranjang. Si B suka istri yang pandai didapur. Semua orang itu tidak sama."


"Kalau Abang, suka yang mana?"


"Kalau abang sih.....Suka yang pandai diranjang." Lirihnya sambil cekikikan. "Kalau abang suka yang pandai didapur, abang sudah pasti nikahin Bik Surti. Enak enak sih masakannya."


Nara berdecak kesal. Padahal dia serius nanya, malah ditanggapi dengan guyonan.


"Abang... aku serius nanyak." Rengek Nara dengan nada jengkel.


"Abang juga serius jawab."


"Aku itu termasuk pinter diranjang gak sih bang?"


"Pinter."


"Tapi abang gak nganggep aku kayak pelacur kan?"


"Mikir apa kamu, ya enggak lah. Abang justru suka ditreat kayak gitu."


"Yakin?"


"Seratus persen." Nara seketika tersenyum lega mendengarnya.


"Terus ya bang. Katanya dosa kalau istri nolak diajak ml. Terus kalau suami yang nolak, boleh gitu? ish gak adil banget." Protes Nara.

__ADS_1


"Kata siapa sih Ra. Mungkin yang sering kita dengar memang seperti itu. Tapi sebenarnya, suami juga wajib memenuhi keinginan istrinya untuk berhubungan badan. Jadi kalau suami nolak. Artinya dia melalaikan kewajiban untuk memberi nafkah batin. Itu juga dosa Ra. Sama saja."


"Beneran bang?"


"Setahu abang sih seperti itu."


"Jadi, tadi aku dosa dong karena udah nolak abang?"


"Ya gak Gitu juga Ra. Kalau nolak karena sebab yang jelas, tentu tidak dosa. Salah satunya seperti sedang haid, sakit atau lagi hamil dan takut membahayakan janinnya."


Septian berhenti mengipasi Nara. Lama lama pegal juga tangannya. Dan lagi, Nara tak ada tanda tanda ngantuk, masih aja ngajak ngobrol ngalor ngidul.


"Bang kok berhenti." Protesnya.


"Pegal Ra."


"Terus aku makin gak bisa ti___"


Sebelum Nara menyelesaikan kalimatnya, Septian sudah lebih dulu membekap bibirnya dengan ciuman. Dia kemudian menarik lengannya dari bawah kepala Nara lalu membalilikka tubuhnya hingga berapa tepat diatas Nara.


Cuma cara ini menurutnya yang paling efektif untuk membuat Nara cepat mengantuk.


Sementara bibirnya sibuk beradu dengan bibir Nara. Tangannya bergerak menyingkap daster Nara lalu menyelinap masuk kedaam kain segitiga yang menutupi aset berharga itu. Bermain main disana hingga terasa sangat basah.


Diserang atas dan bawah membuat Nara diterbangkan keawang awang. Tapi tak lama, karena kemudian dia dihempaskan begitu saja. Septian melepaskan pagutan bibir mereka serta berhenti memainkan bagian inti Nara.


"Bang, kenapa berhenti?"


Muka Nara seketika memerah menahan malu. Tapi sudah kepalang basah. Rasanya tak enak digantung seperti ini. Ditinggal pas lagi panas panasnya.


"Lanjut?" Septian kembali bertanya.


"Lanjut." Jawab Nara malu malu.


Sesuai dengan harapan Septian. Dan dengan semangat penuh, mereka berdua saling membantu membuka baju. Melanjutkan pergulatan yang tadi sempat terjeda.


"Ahhh....abang... " Suara sumbang itu mulai terdengar, membuat Septian buru buru membekap mulut Nara dengan telapak tangannya.


"Jangan berisik Ra, takut kedengaran Shaila dan Sarah."


Nara mengangguk, membuat Septian segera melepaskan bekapannya. Dia lanjut menghujam milik Nara dengan kuat dan mulutnya dengan rakus menyerang dada. Nara kembali bersuara merdu lagi, tapi buru buru dia bekap sendiri pakai tangannya.


Krek Krek krek


"Bang, bang stop bang." Ujar Nara sambil berusaha mendorong tubuh Septian. "Ranjang kamu berderit, aku takut ranjangnya roboh." Ketakutan Nara sangat beralasan, ranjang itu mengeluarkan suara aneh. Membuat Nara takut jika tiba tiba roboh. Dia sedang hamil, akan bahaya bagi janinnya jika sampai ranjangnya ambruk. Belum lagi malunya, ah... membayangkan saja sudah malu sekali.


Septian yang juga mendengar segera menghentikan hujamannya.


"Kita lanjut ditempat lain." Ujar Septian sambil menarik miliknya yang masih mengacung sempurna.

__ADS_1


"Hah ditempat lain? dimana?" Nara bingung, dia tak paham tempat lain yang dimaksud. Tak ada sofa dikamar ini. Kamar mandi juga tak ada. Lalu?


Septian mengedarkan pandangannya lalu "Disana Ra." ucapnya sambil menunjuk meja belajar, membuat Nara seketika melotot dengan ekspresi tak percaya.


"Ayo Ra, abang udah gak tahan. Kamu nungging sambil pegangan meja ya?" Titahnya yang lagi lagi membuat Nara melongo.


Yang benar saja, masa iya kayak gitu, batin Nara.


"Ra, ayo." Septian meraih tangan Nara dan memaksa wanita itu turun dari ranjang. "Tadi kamu yang minta lanjut."


Karena tak ada pilihan, Akhirnya Nara menurut. Dia memposisikan tubuhnya sesuai dengan arahan Septian.


Septian melanjutkan aksinya disana hingga Keduanya sama sama mendapatkan pelepasan. Tubuh Nara hampir merosot kelantai kalau saja Septian tak memegangi tubuhnya. Lututnya yang terasa lemas efek pelepasan luar biasa yang dia dapatkan.


Septian mengangkat tubuh Nara lalu merendahkannya diatas ranjang. Seluruh tubuh mereka berdua dibanjiri peluh. Selain karena olah raga malam, juga karena udara kamar yang panas.


Septian mengambil tisu untuk membersihkan bagian inti Nara serta menyeka keringat diwajahy. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Nara. Tapi wanita itu malah merengek kepanasan.


"Gerah bang, gak mau pakai selimut." Ujarnya sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kalau gak mau pakai selimut, pakai baju. Nanti kamu masuk angin."


"Ngantuk, mataku udah gak bisa dibuka ini." Nara sudah sangat lelah dan ngatuk.


Septian menghela nafas lalu memungut pakaian dallam milik Nara. Dengan perlahan, dia memakaikannya agar tubuh Nara tak polos begitu saja. Sepertinya usahanya berhasil. Terbukti, Nara sudah tampak tertidur pulas.


...******...


"Gak usah ikut deh Ra, dirumah saja sama abang." Bujuk Septian saat Nara hendak ikut kepasar pagi bersama Shaila dan Sarah.


"Kenapa sih bang. Kak Nara juga pengen kali jalan jalan dipasar sini." Bela Shaila.


"Tapi kakak kamu itu hamil Sha. Terus kalau minggu gini, pasar ramai. Takutnya ketabrak orang."


"Ya Allah bang. Kan bisa minggir kalau ada orang ramai ramai. Lagian aku liat, banyak kok wanita hamil yang kepasar. Aku dan Sarah bakal jagain, tenang aja." Bujuk Shaila.


"Boleh ya bang, aku pengen banget." Rengek Nara.


"Ya udah ibu ikut juga kalau gitu. Biar bisa jagain Nara." Sahut Bu Lastri yang baru keluar dari kamar.


"Ya udah deh." Akhirnya Septian mengalah. Melawan 4 wanita, jelas tidak mudah. Jadi mending dia mundur teratur.


Setelah keempat wanita itu kepasar, rumah seketika sepi. Tinggal Septian saja sendirian menjaga rumah. Untuk mengusir kebosanan, dia memilih menyalakan TV dan mencari tontonan yang kiranya menarik.


Dia sampai terkantuk kantuk didepan TV, tapi mereka berempat belum pulang juga. Hingga akhirnya, terdengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok


Kalau mereka berempat yang datang, tak mungkinkan mengetuk pintu. Pasti langsung masuk. Jadi siapa yang mengetuk pintu.

__ADS_1


Dengan langkah malas Septian berjalan untuk membuka pintu. Saat pintu dibuka, dia terkejut melihat sosok yang berdiri diambang pintu.


"Nurul." Gumam Septian.


__ADS_2