
Septian kaget saat dia pertama kali membuka mata. Ini jelas bukan kamarnya. Dia melihat sekitar sambil mengumpulkan kesadarannya. Ternyata dia ketiduran di coffee shop. Semalam Agus sudah membangunkan saat cafe mau tutup. Tapi Septian malah menyuruh semua pulang dulu. Sedangkan dia masih ingn tidur sebentar lagi karena matanya terasa lengket. Tapi bukannya tidur sebentar lalu pulang, dia malah ketiduran hingga pagi.
Septian merasakan tubuhnya sakit semua. Selain karena habis kecelakaan, tidur di sofa dengan posisi tubuh sedikit menekuk, membuatnya kurang nyaman.
Dia seketika kepikiran Nara. Wanita itu pasti cemas karena dia tak pulang tanpa kabar. Septian langsung menyambar jaket dan ponsel lalu turun kebawah.
Septian melajukan motornya pelan hingga rumah. Setelah memarkirkan motor, dia langsung masuk.
"Baru pulang?" Tanya papa Satrio yang tak sengaja berpapasan dengannya.
"I, iya Pah." Tentu saja Septian gugup bukan main. Meski dia tak berbuat salah dan hanya ketiduran di coffee shop. Tapi pulang pagi jelas bukan perilaku terpuji dan membuat orang berspekulasi tentangnya.
"Nginep dimana semalam?"
"Di cafe, gak sengaja ketiduran."
Papa Satrio mengernyitnya dahi. Dia merasa ada yang aneh. Bukankah Nara tadi bilang jika Septian tidur dirumah ibunya, tapi kenapa jawaban Septian berbeda. Jelas ada yang berbohong diantara mereka. Ada apa sebenarnya.
"Permisi Pah." Pamit Septian lalu berjalan menuju kamarnya.
Didalam kamar, Nara sibuk dengan ponsel dan berbagai pikiran negatif. Dia hendak menghubungi Septian tapi batal karena mendengar suara pintu yang dibuka. Saat dia menoleh, ternyata Septian yang datang.
"Abang. Abang darimana, kenapa semalam gak pulang?" Nara langsung memberondonganya dengan pertanyaan.
Septian menutup pintu kembali lalu menaruh tas diatas meja belajar.
Nara kian emosi saat Septian tak segera menjawab pertanyaannya.
"Abang." Nara menghampiri Septian lalu menarik lengan pria itu agar menghadap kerahnya.
Septian meringis merasakan sakit dilengannya. Bagaimana tidak sakit, Nara mencengkeram tepat dilukanya yang tertutup jaket.
"Abang kemana semalam, kenapa tidak pulang?" Seru Nara yang makin kehilangan kesabaran.
"Abang ketiduran di coffee shop Ra."
"Gak usah bohong." Teriak Nara. "Kemarin aku samperin di coffee shop gak ada. Terus abang semalam gak pulang. Pergi kemana Hah?"
"Gak usah teriak teriak. Malu kedengeran mama sama papa," peringat Septian. Kamar mereka sekarang pindah dibawah, dan letaknya lumayan dekat dengan ruang keluarga. Kemungkinan terdengar sangat besar.
"Gimana gak teriak, aku kesel sama abang. Semalam gak pulang tanpa alasan yang jelas."
Septian menghela nafas lalu memegang kedua bahu Nara.
__ADS_1
"Abang ketiduran di coffee shop Ra."
"Bohong." Pekik Nara sambil melepaskan tangan Septian dari bahunya. "Abang Kemana, jujur sama aku?"
Septian berdecak kesal. Harus jujur seperti apa lagi. Toh kenyatanaannya seperti itu. Septian merasakan kepalanya berdenyut. Badannya yang pegal pegal menuntutnya untuk segera merebahkan diri dikasur.
"Abang capek Ra. Badan abang pegel semua. Abang istirahat dulu ya." Septian berjalan kearah ranjang. Tapi baru saja dia hendak naik keatas ranjang. Nara lebih dulu menariknya lengannya.
"Capek!" Serunya dengan muka penuh emosi. "Abang habis Ngapain semalam? kenapa pagi pagi bilang capek, bilang badannya pegel? Ngaku bang, habis ngapain semalam?"
"Kemarin abang jatuh dari motor."
"Gak usah alasan." Sahut Nara cepat. "Abang selingkuh? Abang ons kan tadi malam?"
"Cukup Ra." Bentak Septian yang sudah kehabisan kesabaran. Udah badan sakit semua, malah dituduh yang enggak enggak.
Nara terkejut Septian membentaknya. Biasanya, Semarah Apapun, suaminya itu tak pernah membentak.
"Kamu itu terlalu overthinking."
"Overthinking abang bilang? Istri mana yang tak berfikir macam macam saat suaminya pulang pagi dan bilang capek. Abang habis Ngapain semalam? Habis ons sama siapa?" Nara kian lantang berteriak..
"Nara!" Pekik Septian yang makin hilang kesabaran. "Keterlaluan kamu nuduh aku seperti itu."
"Abang bukan laki laki seperti itu."
"Halah, kebiasaan abangkan emang seperti itu."
"Cukup Ra cukup."
"Kenapa bang? benerkan yang aku bilang? Bukankah memang sejak dulu kebiasaan abang itu ons?"
Plakk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Nara. Membuat wanita itu seketika memegangi pipinya yang panas. Air matanya perlahan turun. Dia sama sekali tak menyangka jika Septian bisa sampai menamparnya.
Septian menatap tangannya. Rasanya tak percaya kalau dia sampai melakukan hal sejauh ini.
"Maaf Ra, abang gak sengaja." Septian sungguh menyesal. Dia handak meraih pundak Nara tapi wanita itu lebih dulu menghindar.
"Abang jahat." Ucapnya sambil terisak lalu berlari keluar kamar. Hatinya hancur diperlakukan seperti itu.
"Papa!" Nara kaget melihat papanya berdiri didepan kamar. Apa mungkin dia mendengar semua pertengkarannya tadi?
__ADS_1
Papa Satrio menarik tangan Nara yang berada dipipi. Dilihatnya bekas tamparan disana. Seketika, emosinya membuncah.
"Ra, maafin abang Ra." Ujar Septian sambil mengejar Nara. Dan langkah kakinya terhenti melihat papa Satrio berdiri didepan kamar dengan wajah penuh emosi.
PLAK PLAK
Nara kaget melihat papanya yang tiba tiba menampar Septian dua kali.
"Berani kamu memukul anak saya dirumahnya sendiri?" Teriak Satrio dengan suara menggelegar. Membuat Mama Tiur dan bik Surti yang berada didapur langsung keluar dan berlari kearah keributan.
"Saya bisa laporkan kamu atas tindakan kdrt." Papa Satrio mengacungkan telunjuknya kedepan wajah Septian.
"Maaf Pah, tolong biarkan saya menyelesaikan masalah saya berdua dengan Nara."
Septian hendak mendekati Nara tapi malah didorong oleh Satrio hingga tubuhnya terhuyung kebelang. "Tidak ada yang perlu diselesaikan."
Mama Tiur memeluk Nara yang sedang menangis. Dia tak tahu apa yang terjadi hingga suaminya marah besar seperti ini.
"Keluar dari rumah saya." Hardik papa Satrio sambil menunjuk pintu keluar.
Nara dan Mama Tiur seketika syok mendengar papa mengusir Septian.
"Pergi dari rumah saya sekarang juga. Jangan pernah menginjakkan kaki dirumah ini maupun dicoffee shop lagi. Nara tak butuh suami yang suka main tangan seperti kamu."
"Pah, jangan terburu buru mengambil keputusan. Selesaikan semuanya dengan kepala dingin."
"Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan, karena semua sudah selesai." Jawab papa Satrio.
Septian sama sekali tak menyangka jika gara gara ketiduran di coffee shop bisa berbuntut panjang hingga diusir.
"Pah, tolong biarkan saya menyelesaikan masalah saya dengan Nara berdua."
"Tidak perlu. Lebih baik, kemasi barang kamu dan pergi dari sini."
Septian mendekati Nara dan meraih tangannya.
"Ikut sama abang."
Papa Satrio melepaskan paksa tangan Septian dari Nara.
"Pergi sekarang juga." Hardik papa Satrio.
"Saya akan pergi. Tapi saya akan membawa Nara. Dia istri saya, saya lebih berhak atas dia. Ayo Ra, ikut sama abang."
__ADS_1