Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Nova tertegun saat mendengar Arumi ingin ikut ke rumah Nara. Apa wanita itu sudah gila. Lupakah dia dengan apa yang dia perbuat pada Nara. Atau mungkin masalah rumah tangganya membuat otaknya sedikit bergeser.


"Boleh aku ikut Nov." Sekali lagi Arumi mengulang pertanyaannya.


"Lebih baik jangan Rum. Lo tahukan, ini udah sore. Kemungkinan besar Om Satrio ada dirumah. Dan gue gak bisa bayangin jika dia lihat lo datang kerumahnya. Dan lagi, gue rasa Nara gak mau ketemu lo."


Aruki tersenyum getir mendengar alasan Nova melarangnya ikut. Arumi duduk dikursi teras lalu menghembuskan nafas kasar.


"Gue hanya ingin minta maaf Nov. Gue siap menanggung risikonya. Bahkan jika Om Satrio ngusir gue nantinya."


Nova menghela nafas lalu ikutan duduk dikursi teras. Diperhatikannya wajah Arumi dengan seksama. Matanya masih tampak merah, wajahnya kusut. Dan satu lagi, dari nada bicaranya, Arumi seperti orang yang putus asa.


"Lo ada masalah apa lagi sama Abi?"


"Gak ada."


"Bohong."


Seketika air mata Arumi menetas. Deras, dan makin deras hingga wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Gue nyerah Nov."


"Maksud lo?" Novi mengernyit bingung.


"Semua ini terlalu melelahkan. Gue capek Nov. Sepuluh tahun lebih gue mencintai Abi. Gue bahkan rela mengkhianati Nara demi dia. Tapi apa yang gue dapat?" Arumi tersenyum getir sambil menyeka air matanya.


"Gue bisa terima apapun yang dia perbuatan pada gue. Tapi gue gak bisa terima dengan.... " Arumi terisak, dia tak sanggup melanjutkan kata katanya.


"Gu, gue gak bisa terima saat dia mendoakan kematian pada anaknya sendiri. Gue rela disakiti, tapi sebagai ibu, gue gak rela anak gue diperlakukan seperti itu. Seorang pria yang tidak bisa menerima keadaan darah dagingnya, tak pantas menjadi ayah. Rasanya, gue sudah tidak bisa untuk mengandung anak Abi lagi. Gue gak mau melahirkan anak untuknya."


"Maksud lo?"


"Gue pengen pisah dari Abi."


"Gue setuju." Sahut Nova cepat. "Semakin cepat semakin baik."


Arumi terkekeh. "Sahabat macam apa lo? temannya mau cerai malah didukung?" Dia menangis sambil tertawa.


"Sahabat macam apa lo? tega mengambil tunangan sahabatnya sendiri?" Ejek Nova.


Keduanya kemudian tertawa bersama.


...*****...


Septian kebingungan saat baby Ay menangis. Ditimangnya baby Ay sambil ditepuk tepuk pantatnya pelan agar berhenti menangis. Tapi nihil, bayi mungil itu tetap menangis. Andai saja dia wanita, pasti sudah dia sodorkan asi agar bayinya mau berhenti menangis.


"Sayang, Ay nangis nih, aku bingung." Teriak Septian dibalik pintu kamar mandi. Nara masih mandi, dan dia yang bertugas menjaga Baby Ay.


"Keluar bentar dong, susu in dulu."


Nara yang berada didalam jadi tak bisa konsentrasi mandi. Padahal dia baru saja memakai sabun. Sebelum mandi tadi, Nara sudah mengasihi terlebih dulu, rasanya tak mungkin jika sudah lapar lagi.


"Bentar bang."


Oek oek eok


"Ra Cepetan." Sebagai ayah baru Septian panik melihat anaknya nangis hingga wajahnya memerah.


"Coba cek popoknya, kali aja penuh."


"Dia baru mandi Ra, baru ganti popok. Ya masa iya sudah penuh."

__ADS_1


"Cek dulu aja. Dia juga baru nen, jadi gak mungkin lapar." Teriak Nara dari dalam.


Septian menghela nafas lalu meletakkan baby Ay di atas kasur yang sudah dilapisi perlak.


"Astaga." Septian menepuk jidatnya sendiri. Ternyata baby Ay pup, makanya bayi itu menangis terus. Mungkin pantatnya gatal.


Dengan modal keberanian, Septian mencoba mengganti popoknya. Dia tarik perlahan perekat diapers lalu dibukanya. Dia sudah beberapakali melihat Nara mengganti popok. Sepertinya tidaklah sulit. Dan sekarang, waktunya dia praktek.


Ternyata tak semudah yang dia bayangkan. Dia bahkan gemetaran saat mengangkat pantat baby Ay. Dia sampai memahan nafas saking tegangnya. Menyentuh kulit yang masih lembut dan tulang yang mungkin belum terlalu kuat membuatnya gugup setengah mati.


Dan akhirnya, dia bernafas lega saat berhasil membersihkan baby Ay. Dan sekarang, dia hanya tinggal mengambil diapers baru lalu memakaikannya.


"Hwa hahahaha... " Septian terkejut lalu tertawa terbahak bahak saat pancuran yang berasal dari air seni baby Ay muncrat, hingga mengenai wajahnya yang kala itu sedang menunduk.


Nara yang baru keluar dari kamar mandi dibuat bingung dengan kelakuan suaminya yang tertawa sendiri. Padahal tadi teriak teriak gak jelas.


Septian mengambil tisu lalu membersihkan wajahnya.


"Ada apa bang?"


"Pipisnya Ay kena muka abang."


"Hahaha... " Nara tak bisa menahan tawanya. Dilihatnya wajah baby Ay yang diam saja tanpa rasa bersalah.


"Makanya, lain kali kalau mau ganti popok, ***** nya ditutup dulu, jangan dibiarin kebuka. Bayi cowok dan cewek beda bang. Kalau cowok emang bisa kayak air mancur Gitu." Terang Nara sambil terus ketawa.


"Sini." Nara mengambil diapers dari tangan Septian. "Aku aja yang gantiin, abang mandi sana gih." Didoronganya punggung Septian kearah kamar mandi.


Nara lalu menggantikan popok dengan telaten. Sudah terbukti, jika wanita jauh lebih cekatan untuk hal hal seperti ini. Mungkin sudah kodratnya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Nara menoleh.


"Ada tamu Non."


"Siapa?"


"Non Nova."


"Oh.... ya udah suruh langsung kekamar aja."


"Tapi...itu.. "


"Suruh ke kamar aja bik." Potong Nara tanpa melihat kearah bik Surti. Dia terlalu fokus mengganti popok baby Ay.


"Tapi dia sa__"


"Gak papa bik, suruh langsung ke kamar saja." Lagi lagi Nara memotong ucapan Bik Surti. Padahal wanita itu ingin mengabarkan jika Nova datang bersama Arumi. Bik Surti yang sudah bekerja lama jelas mengenal Arumi.


"Baiklah Non." Bik Surti langsung kebawah untuk menyampaikan amanah dari Nara. Dirumah sedang tak ada orang, papa dan Mama Nara sedang ada acara diluar.


Nara mengambil baju untuk suaminya dan segera mengantarkan kekamar mandi.


"Bang, buka sebentar. Nova mau kesini, abang ganti baju didalam saja. Ini aku bawain baju." Ucap Nara dari balik pintu sambil mengetuk.


Ceklek


Septian membuka pintu kamar mandi lalu mengulurkan tangannya.


"Tumben ditutupin?" Nara menunjuk dagu kearah bagian sensitif suaminya yang tertutup handuk.

__ADS_1


"Takutnya kamu nyut nyutan nanti." Goda Septian sambil menaik turunkan alisnya.


"Dih, abang kali yang gitu." Ledek Nara sambil menyebikkan bibirnya.


"Yakin." Septian tiba tiba menarik tangan Nara hingga masuk kedalam kamar mandi lalu memeluknya dari belakang. Menempelkan dagunya dibahu Nara dan berbisik ditelinganya.


"Gimana, masih mau bilang gak nyut nyutan?"


Nara merasakan semriwing karena hembusan nafas Septian disekitar telinga dan lehernya. Dia juga merasakan dingin karena dipeluk oleh tubuh kekar yang basah.


"Abang lepasin ih..." Rengek Nara sambil berontak.


"Gak mau."


"ABANG! lepas." pekik Nara.


"Masyaallah NARA!" Teriakan Nova menghentikan adegan didalam kamar mandi. Menyadari ada Nova diluar, Septian segera melepas pelukannya. Nara memelototi Septian lalu merapikan baju dan rambutnya.


"Bisa ya mesra mesraan dikamar mandi. Ingat woi, haram, masih nifas." Teriak Nova.


Nara keluar lalu menutup kembali pintu kamar mandi.


"Gila ya kalian, bisa bisanya enak enakan dikamar mandi. Ni dibayi lo tinggal begitu saja." Nova masih lanjut menceramahi sambil duduk disisi ranjang dekat baby Ay.


Nara berjalan kearah ranjang sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Beberapa langkah berjalan, dia menyadari jika Nova tak sendiri. Ada sepasang kaki lain. Dan saat dia mendongak, matanya seketika membulat sempurna.


"Ngapain lo kesini?" Bentak Nara sambil menatap tajam ke arah Arumi.


Arumi meremat ujung kemejanya. Jujur, dia malu bertemu Nara.


"PERGI DARI RUMAH GUE!" Hardik Nara sambil menunjuk kearah pintu.


"Ngapain sih Nov, lo pakai ajak dia?" Nara memelototi Nova sambil menunjuk Arumi. Nova hanya menunduk. Dia tak punya pembelaan kali ini.


"Gue mau minta maaf sama lo Ra." Ujar Arumi.


"Gak perlu, karena gue gak akan pernah maafin lo. Lebih baik lo pergi. Mood gue sedang bagus. Dan gue gak mau kehadiran lo merusak mood gue."


Septian yang mendengar keributan segera mempercepat mandinya.


"Gue akan tetap minta maaf meski lo gak akan pernah maafin gue."


Nova tak mau ikut campur yang nantinya akan terkesan membela salah satu. Dia memilih mengambil baby Ay dari ranjang dan menggendongnya.


"Cih, udah tahu gak dimaafin, masih aja gak punya malu datang kesini." Cibir Nara sambil tersenyum sinis.


"Selamat ya Ra, untuk kelahiran anak kamu." Ucap Arumi sambil menatap kearah baby Ay yang berada dalam gendongan Nova. Seketika air matanya meleleh. Dia teringat pada putranya yang sudah tiada. Putra yang belum sempat dia susu i bahkan gendong karena sejak lahir langsung masuk NICU.


Pintu kamar mandi terbuka. Septian juga terkejut melihat ada Arumi disana. Dia berjalan mendekati Nara lalu merangkul pundaknya.


"Sabar." Bisik Septian sambil mengusap lengan Nara.


"Boleh gue gendong anak lo." Pinta Arumi dengan raut memohon.


"Bener bener gak punya malu ya elo." Cibir Nara sambil tersenyum sinis.


Arumi berjalan mendekati baby Ay tapi langusng didorong oleh Nara hingga terhuyung kebelakang.


"Jangan pernah sentuh anak gue." Tekan Nara.


Arumi menyeka air matanya yang turun kian deras.

__ADS_1


"Gue rindu anak gue."


__ADS_2