Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
NGEMALL


__ADS_3

Septian menghentikan mobilnya dibasement sebuah mall besar di Jakarta. Tadi, sebelum meluncur ke mall, dia mengajak Nara mampir dulu ke masjid untuk menunaikan sholat magrib.


Suasana mall tak begitu ramai karena bukan weekend. Mereka langsung menaiki lift ke lantai 5, dimana terdapat gedung bioskop.


Film yang ingin ditonton Nara tayang jam 8. Sedangkan sekarang, belum juga jam 7.


"Makan dulu yuk." Ajak Septian.


"Aku gak lapar bang."


"Kasian baby nya Ra. Ini udah jam makan malam."


"Ya udah, jajan aja deh."


"Makan." Tekan Septian. "Kita ke food court bentar." Septian menggandeng lengan Nara menuju foot court yang letaknya juga dilantai itu.


"Mau makan apa?" Tanya Septian sambil memperhatikan berbagai gerai makanan yang tampak tak begitu ramai.


Nara memperhatikan sekeliling, sebenarnya dia tak begitu nafsu makan, tapi anaknya jelas butuh makan.


"Steak daging aja, saus black paper."


"Pedes Ra, bbq aja ya?"


"Aku sukanya black paper Bang."


"Ya tapi kamu lagi hamil. Bbq, well done, gak boleh medium."


"Ok." Nara tak ada pilihan lain. Sementara dia duduk menunggu, Septian pergi kegerai Steak untuk memesan.


Tak berselang lama, Septian kembali ke tempat Nara. Dia melihat Nara sedang fokus kearah lain.


"Ngeliatin apa sih?"


Nara menunjuk dagu kearah pasangan muda yang sedang bertengkar. Seorang cewek memergoki pacarnya bersama cewek lain sedang makan di food court.


"Gak usah ngurusin orang." Ujar Septian.


"Setia itu susah banget ya?" Gumam Nara sambil tersenyum getir.


"Itu tergantung pribadi masing masing Ra."


"Kenapa sih, cowok suka selingkuh?"


"Gak semua cowok Ra, catet." Septian menekankan kata katanya.


"Kebanyakan."


Septian ingin mengutarakan ketidak setujuannya, tapi tak jadi karena waitres datang membawa pesanannya.


"Loh, kok soto?" Nara mengernyit menatap semangkok soto dan segelas es teh yang dibawa waitres.


"Buat aku. Aku gak kenyang kalau cuma makan steak. Jadi aku pesen buat kamu Doang. Aku soto aja." Septian memeras potongan jeruk nipis keatas sotonya lalu mulai memakannya.


"Mau?" Tawarnya pada Nara.

__ADS_1


"Enggak." Jawab Nara lemah. Hanya gara gara melihat pasangan selingkuh yang kepergok, moodnya jadi berantakan.


"Bang, boleh lihat HP kamu gak?"


Septian langsung menghentikan makannya mendengar permintaan Nara. Sepertinya, neting akibat traumanya dulu kambuh lagi.


"Buat apa? Mau ngecek? Mulai gak percaya sama Abang?"


"Bukan gitu. Hanya saja__"


"Hanya saja, udah mulai curiga?" Potong Septian dengan nada tegas, seperti orang yang sedang tersinggung.


"Ya udah gak jadi."


Septian mengambil ponselnya yang berada di tas lalu menyodorkannya pada Nara.


"Cek aja sepuas kamu." Ucapnya sambil tersenyum. Sebenarnya, tadi dia hanya pura pura marah saja.


"Abang gak marah?"


"Ya enggak lah."


Nara segera maraih ponsel Septian dengan wajah sumringah. Tapi kemudian membuang nafas kasar karena ponsel itu dikunci.


"Apa passwordnya?"


"Nara I love you." Jawab Septian tanpa melihat Nara. Dia terlalu fokus makan soto ayam lamongan.


"Aku serius bang, jangan becanda Ih. Apa passwordnya?"


"Abang juga serius."


Nara tampak yak yakin tapi tetap memasukkan password itu. Tapi sayang, gagal, karena passwordnya salah.


"Tuh kan becanda, salah nih." Sungut Nara sambil menunjukkan layar ponsel kearah Septian.


"Kamu salah nulis kali. nara, ily, pakai huruf kecil semua." Septian mengeja huruf ily agar tak salah lagi.,


"Oh iya, bener." Tutur Nara sambil tersenyum lebar. Yang pasti, dia tak menyangka jika Septian mengguankan password aneh seperti itu. Tapi Jujur, bikin dia meleleh, baper.


Saat Nara hendak mengecek ponsel Septian, waitres datang membawa Steak pesanannya. Tapi Nara seperti tak berminat memakannya, dia lebih tertarik melihat isi ponsel Septian.


"Dimakan dulu Ra." Titah Septian. "Cek ponselnya bisa nanti. Bawa aja ponsel abang. Gak akan ada yang abang hapus atau apapun."


Nara terpaksa menunda mengecek ponsel Septian. Padahal, tadi dia baru sempat mengecek wa saja. Belum galeri maupun log panggilan.


Setelah makanan habis, mereka segera kembali ke bioskop karena film akan segera dimulai. Beruntung tadi Septian sudah membeli tiket, jadi mereka bisa langsung masuk.


Mereka memang belum begitu mengenal satu sama lain saat menikah. Dan baru hari ini, Septian tahu jika Nara menyukai film bergenre thriller, fantasy.


Sepanjang film, Nara tampak sangat fokus. Dia bahkan tak menyentuh pop corn maupun minuman kalau saja Septian tak menyuapinya.


Setelah film habis, mereka langsung turun kelantai dasar dan berniat segera pulang. Tapi tiba tiba mata Nara menangkap seauatu yang menarik.


"Masuk bentar yuk bang." Nara menarik Septian kesebuah toko sepatu sport yang mereka lewati.

__ADS_1


"Bagus banget bang." Nara mengambil sepatu sport keluaran terbaru sebuah merek yang cukup ternama.


Septian hanya bisa melotot melihat harga sepatu yang setara dengan gajinya bekerja sebulan penuh di coffee shop.


"Itu keluaran terbaru kak. Bisa couplean, ada mulai size 36 sampai 44." Terang spg toko sepatu.


"Ini cocok banget loh buat abang." Nara begitu antusias menunjukkan sepatu itu pada Septian.


"Sepatu aku masih bagus Ra. Belum butuh beli yang baru."


"Tapi sumpah, ini keren banget bang. Abang cobain deh."


Septian menggeleng cepat. Sepatu itu terlalu mahal untuk kantongnya.


"Udah mau tutup Mall nya Ra. Pulang yuk."


"Cobain dulu. Ini contohnya mumpung size 43,kayaknya pas buat abang."


Septian mengambil sepatu tersebut dari tangan Nara lalu mengembalikan lagi ketempat semula.


"Kok dibalikin sih?" Protes Nara.


Septian tak menjawab, dia menarik pergelangan tangan Nara dan membawa wanita itu keluar.


Nara memasang wajah cemberut, membuat Septian mau tak mau harus mengajaknya bicara dari hati ke hati.


Sesampainya dimobil, Septian langsung memegang tangan Nara dan menarik bahu wanita itu agar menghadap kearahnya.


"Ra, kamu harus ngerti kehidupan aku. Berapa gaji aku, dan ditingkat mana kemampuanku. Aku tahu niat kamu baik, pengen aku terlihat wah, terlihat keren dengan sepatu bagus tadi. Tapi itu bukan level aku. Sepatu tadi seharga gajiku sebulan. Tak mungkin aku mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sepatu."


"Aku yang beliin." Ucap Nara.


Septian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu menghembuskan nafas kasar.


"Nafkahin kamu aja aku belum mampu Ra. Baru gajian nanti aku niat ngasih kekamu. Apa ya pantas aku menerima sepatu semahal itu dari kamu. Jangan tersinggung, bukannya aku menolak, hanya merasa, kurang tepat saja." Septian hanya bisa berdoa agar Nara bisa menerima penjelasannya.


"Maaf." Nara merasa bersalah. Jujur, dia tak sampai berfikir sejauh itu. Dia hanya ingin memberikan hadiah pada Septian, tak ada niatan lain.


Septian menarik tengkuk Nara lalu mendekap wanita itu didadanya.


"Kamu gak salah. Aku yang salah disini." Septian mencium kening dan puncak kepala Nara berkali kali. Membuat Nara meneteskan air mata karena makin merasa bersalah.


Septian melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Nara. "Udah ya, lupain yang tadi. Katanya mau ngecek ponsel abang. Buruan gih dicek." Septian berusaha mengalihkan topik.


"Astaga, aku sampai lupa." Nara menepuk jidatnya sendiri. Dia mengambil ponsel Septian yang berada didalam tasnya lalu mengecek Apapun yang menurutnya perlu.


Septian hanya senyum senyum melihat tingkah Nara. Dia sama sekali tak keberatan jika Nara mengecek ponselnya. Tak ada rahasia disana, tak ada yang perlu dia khawatirkan.


"Nemuin apa?" Goda Septian.


Nara menoleh kearah Septian sambil menggeleng.


Nara kemudian mengambil ponselnya dan mengatur ulang passwordnya.


"Bang, password aku juga aku ganti. Septianily, kayak punya abang. Sekarang kita sama sama tahu password ponsel satu sama lain. Bebas mau ngecek apapun dan kapanpun. Abang juga boleh kok ngecek ponsel aku."

__ADS_1


"Pasti, abang pasti akan rutin ngecek. Ngelihat siapa saja mahasiswa yang ngechat atau ngedm budos cantik yang most wanted ini." Jawab Septian sambil menoleh ke arah Nara sambil tersenyum.


__ADS_2