
Wajah Septian seketika memanas saat Nara tiba tiba mengecup pipinya. Tentu saja dia malu setengah mati. Ini tempat umum sekaligus tempatnya bekerja. Dan setelah ini, dia pasti habis diledekin teman temannya.
"Bang." Nara menepuk lengan Septian karena pria itu hanya bengong.
"Hah." Septian tampak bingung, membuat Nara seketika menahan tawa.
"Gak mau kembali kerja, entar dipecat loh." Ledeknya.
Septian tersenyum absurd sambil menggaruk garuk tengkuk untuk mengurangi kegugupannya.
"Abang kerja dulu ya."
"Semangat ayah." Jawab Nara sambil menirukan gaya bicara anak kecil.
Dengan wajah merah menahan malu, Septian kembali ketempatnya bekerja. Tampak beberapa orang seperti sedang melihatnya sambil bisik bisik. Entah hanya perasaannya saja, atau memang mereka sedang membicarakan dia.
"Itu beneran bini lo Sep?" Tanya Soni.
"Hem..."Jawabnya sambil mengangguk.
"Cakep bener." Soni sampai geleng geleng. "Lo kata bini lo hamil, kok gak kelihatan?"
"Ketutup potongan gaun yang lebar dibagian perut kali. Udah 6 bulan, udah kelihatan."
"Pinter lo Sep nyari bini. Tapi hati hati, yang bening gitu mah, banyak yang suka. Jagain bener bener, jangan sampai diembat orang." Pesen Soni.
"Pastilah." Jawab Septian sambil tersenyum dan menatap kearah Nara.
Kevin, Tyo dan Firman jadi malu sendiri saat mereka hendak ke bagian barista. Tapi gimana lagi, kalau ada pesenan, terpaksa mereka harus ketempat itu.
"Son, latte art satu." Ujar Kevin.
"Si Asep aja. Gue belum pinter bikin latte art." Tolak Soni.
Kevin berdecak sambil memelototi Soni. Mau ngomong ke Asep, jelas dia malu.
"Apa Vin?" Tanya Septian.
"Latte art 1 Sep."
"Ditunggu bentar." Jawab Asep sambil menyelesaikan latte art untuk Nara.
"Sep, gue minta maaf ya. Sumpah, gue gak tahu kalau itu bini lo."
"Iya, gue ngerti kok." Jawab Septian. "Entar sekalian anterin ini ke bini gue ya. Tapi jangan lo godain."
"Siap Sep. Secantik apapun, kalau bini teman mah, gue gak mau Sep."
"Bukan elo nya yang gak mau. Dia nya yang gak mau sama lo." Cibir Soni sambil tertawa ngakak.
"Elo nemu dimana bini bening kayak gitu Sep?" Tanya Kevin.
"Nemu dipinggir laut."
"Lo kira ikan nemu dipinggir laut." Salak Kevin sambil melotot.
"Dih, dibilangin gak percaya." Jawab Septian sambil terkekeh.
Setelah pesanan siap, Kevin segara mengantarkannya. Tak lupa, dia juga mengantarkan latte art spesial untuk Nara.
Senyum Nara seketika mengembang melihat latte art cantik bergambar love. Dia menatap kearah Septian. Ternyata pria itu juga sedang menatapnya dan membentuk love dengan ibu jari dan telunjukkanya. Membuat hati Nara kian berbunga bunga dan bahkan sedikit berdebar.
"Tak terasa malam udah semakin larut. Dan ini, lagu terakhir dari kita. Lagu yang direquest Septian." Vokalis band menunjuk ke arah Septian. "Untuk istri cantiknya, yang duduk di meja 11."
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar memenuhi cafe. Terutama dari teman teman Septian yang ikut merasa bahagia melihat kebahagian temannya.
"Lagu yang berjudul kamu, yang dipopukerkan oleh Nano." Lanjut vokalis band.
Tak banyak perhatian kamu mengerti
Tak harus ada bunga kamu mengerti
Ku tak selalu ada kamu mengerti
Cinta tanpa terucap kamu mengerti
Mestinya kamu bisa Tinggalkan diriku ini
__ADS_1
Namun kau tak menyerah Memelukku seutuhnya
Kamu kamu Yang terus mengerti aku
Tak pernah terlukiskan Betapa besar hatimu
Kamu kamu Dengarkan ini janjiku
Kau milikku, aku milikmu Hingga akhir waktu
...******...
Septian tampak lelah sekali. Maklum, dia kerja 14 jam hari ini. Ditambah cafe yang ramai, membuatnya kurang istirahat. Dan sesampainya dirumah, setelah ganti baju dan membersihkan diri, dia langsung berniat tidur.
Lain hal nya dengan Nara, dia justru tak bisa tidur. Mungkin efek kopi atau apa, entahlah. Yang pasti, dia sama sekali tak mengantuk.
"Bang, aku gak bisa tidur." Keluh Nara yang saat itu sedang memeluk tubuh suaminya.
"Abang ngantuk banget Ra." Jawab Septian yang sudah mulai memejamkan matanya.
"Tapi aku gak bisa tidur bang." Rengek Nara sambil memainkan jari jarinya didada Septian.
"Abang capek Ra. Besok aja ya."
"Apanya yang besok?"
"Kamu lagi pengenkan?"
"Apaan sih bang. Orang aku cuma gak bisa tidur, kenapa malah menjurus kesana." Omel Nara yang tak terima dikatain lagi pengen.
"Biasanya kalau kamu bilang gak bisa tidur, itu ngode abang. Minta dibikin capek biar bisa cepet tidur pulas."
"Sok tahu. Aku tuh cuma pengen ngobrol dulu bentar." Sangkal Nara.
"Oh iya, abang baru inget. Kamu tadi ketemu Abi kan? ngobrol apa? gak aneh aneh kan?"
"Ya enggaklah."
"Makasih ya, udah mau minta ijin dulu sama abang." Ujar Septian sambil mengecup kening Nara.
"Bang."
"Nanti pas periksa kandungan lagi. Aku tanya jenis kelamin anak kita gak papa kan? Aku penasaran banget bang. Moga aja cowok, yang cakep kayak kamu. Kalau kamu pengen cowok apa cewek?"
Tak terdengar sahutan Apapun, membuat Nara mengangkat wajahnya. Dan ternyata, suaminya itu sudah tertidur. Bikin Nara seketika jengkel karena ngomong sendirian.
Tapi rasa jengkel itu mendadak hilang saat menatap wajah tampan yang terlelap itu. Tampak begitu damai dan tak membosankan untuk dipandang.
Nara mengubah posisinya menjadi duduk. Menindai wajah tampan yang membuatnya tergila gila. Menyentuh setiap bagian yang membuatnya kagum atas ciptaan Allah itu.
Setelah sekian lama menikmati wajah sang suami. Nara tak juga mengantuk. Hingga terbesit ide jahil diotaknya.
Nara turun dari ranjang lalu berjalan menuju meja belajar. Diambilanya sebuah marker pen lalu kembali naik keatas ranjang.
Sambil menahan tawa, dia menulis Nara I love U didahi Septian. Setelah itu, dia kembali berbaring memeluk Septian dan berusaha untuk tidur.
...*****...
Septian terkejut saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 6.30. Dia terlewat sholat subuh kali ini. Nara, wanita itu sudah tak ada disebelahnya. Septian yang kebelet buang air kecil buru buru kekamar mandi. Tapi ternyata dikunci dari dalam.
"Ra, kamu didalam? Buka dong, abang pengen buang air nih." Teriak Septian dari balik pintu.
"Pakai kamar mandi bawah aja bang. Perutku mules banget nih." Jawab Nara yang berada didalam.
Dengan terpaksa Septian turun kelantai bawah. Dia langsung menuju toilet didekat dapur.
"Pagi mah, bik." Sapa Septian saat melewati dapur dan melihat kedua orang itu sedang sibuk memasak.
Bukannya menjawab sapaannya, mama Tiur dan Bik Surti justru melihat aneh kearahnya. Tapi Septian yang udah kebelet tak mempedulikan itu. Dia segera masuk kedalam toilet.
"Itu aden kenapa ya bu. Dahinya kok sampai di coretin gitu?" Tanya Bi Surti yang masih heran. Dia tak sempat membaca tulisannya karena Septian terburu buru tadi.
Mama Tiur hanya mengedikkan bahu, karena tadi dia juga tak sempat membaca. Septian berlalu terlalu cepat masuk ke toilet.
Saat Septian keluar, Bi Surti yang kepo langsung memanggilnya.
"Aden."
__ADS_1
"Iya Bi."
Bi Surti langsung fokus membaca tulisan di dahi Septian. Dan seketika dia tergelak. Mama Tiur yang penasaran juga ikut memperhatikan, membuatnya menahan tawa sambil memegangi perut.
Septian yang tak tahu apa apa dibuat bingung. Dia cepat cepat membersihkan sudut matanya, takut jika ternyata ada kotoran disana.
"Ulu Ulu.... cinta memang butuh pembuktian ya Den. Tak melulu hanya diucapkan, tapi harus ada bukti nyatanya." Ujar Bik Surti.
Melihat Septian yang bingung, mama Tiur kian yakin jika ini pasti ulah Nara.
"Kalau biasanya nih. Yang ngucapin cinta selalu bilang, lihatlah dadaku, atau yang lebih ekstrem, belahlah dadaku. Kalau Aden ma lain. Lihatlah dahiku."
Kali ini, Mama Tiur tak bisa lagi menahan tawanya.
"Apaan sih bik?" Septian menatap bik Surti bingung. Kemudian beralih menatap kearah mama Tiur yang sedang menahan tertawa.
"Aden mah the best pokok e. Jempol 2 eh, 4. Pantesan non Nara cinta. Lha wong lakinya juga pinter ngambil hati. Kalau kata anak muda jaman sekarang. Bikin beper, bikin melting kayak mentega diatas wajan."
Septian menggaruk garuk tengkuknya karena bingung.
"Coba deh, kamu Ngaca dulu Sep." Ucap mama Tiur yang melihat kebingungan diwajah Septian.
"Ya udah, Septian ke kamar dulu ya." Pamitnya.
"Monggo den. Seneng sekali pasti jadi Non Nara. Saking cintanya si Aden, sampai rela ditulis didahi Gitu."
Septian mengernyit bingung mendengarnya. Sepertinya memang ada yang salah dengan dirinya. Dia buru buru ingin kekamar tapi malah papasan dengan papa Satrio.
"Pagi Pah." Sapa Septian sambil sedikit membungkuk.
Lagi lagi, bukannya menjawab. Papa Satrio malah ketawa ngakak.
"Jangan cuma ditulis, tapi dibuktikan." Ujarnya sambil berlalu menuju dapur.
Septian kian dibuat bingung. Dan sesampainya dikamar, dia langsung menuju cermin. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat dahinya ada tulisan Nara I Love U. Pantesan semua orang menertawakannya.
"Nara." Desisnya sambil menggosok gosok dahinya. Tapi percuma, tulisan itu tak bisa hilang. Sepertinya Nara memakai marker pen permanen.
Nara yang baru keluar dari kamar mandi melihat Septian tengah berusaha menggosok dahinya. Dia baru ingat kalau semalam mengerjai suaminya. Dan tadi, dia malah menyuruhnya turun ketoilet bawah.
"Kerjaan kamu ini pasti." Ujar Septian sambil membalikkan badan dan menunjuk dahinya.
"Hehehehe...." Nara hanya tersenyum absurd sambil berjalan mendekati suaminya.
"Abang diketawain orang satu rumah gara gara kamu Ra. Dan sekarang lihat nih, susah banget dihapus."
"Maaf." Ujar Nara dengan ekspresi puppy eyes untuk meluluhkan Septian. "Abang duduk gih. Biar aku bersihin pakai micelar water." Lanjutnya sambil mendorong bahu Septian agar duduk dikursi meja rias.
Nara mengambil micelar water, menuangkan sedikit keatas kapas lalu menggosokknya ke dahi Septian.
Sedangkan Septian, fokusnya malah kearah lain. Nara yang sedang membungkuk membuat dadanya terlihat begitu jelas. Apalagi dia sedang menggunakan gaun tidur dengan tali spageti dan potongan dada rendah. Membuat jakun Septian seketika naik turun.
"Makin gede ya Ra."
"Apa bang?" Tanya Nara yang tak paham apa yang dimaksud.
"Dada kamu."
"Gak usah ngode. Udah siang, aku bentar lagi mau ngampus."
"Bentar aja Ra, 15 menit." Ucapnya dengan tangan yang sudah mulai menelusup kedalam gaun tidur Nara.
"Bohong kamu 15 menit, pasti lebih. Entar aku telat bang." Jawab Nara sambil lanjut menggosok dahi Septian yang hampir bersih.
Septian menarik pinggang Nara hingga wanita itu terduduk dipangkuannya.
"Sebentar aja Ra." Ujar nya dengan tatapan mata berkabut dan suara yang mulai serak.
"Janji bentar."
"Iya." Jawabnya sambil menciumi leher dan dada Nara.
.
SPESIAL PANJANG BANGET. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, HADIAH, SERTA VOTE, BESOK SENIN.
YANG BELUM FOLLOW AUTHOR, FOLLOW YAAA.... 😘😘😘😘
__ADS_1