
Lastri, Sarah dan Shaila tampak sibuk didapur. Mereka membuat soto lamongan kesukaan Septian untuk acara tahlilah nanti malam. Septian melewati mereka begitu dan langsung menuju toilet karena udah kebelet.
Setelah urusan toilet selesai. Septian menuju kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari sana.
"Nara gak tersinggung kan karena omongan ibu ibu tadi Sep?" Tanya Lastri yang sedang duduk di dapur sambil mengupas bawang.
"Kayaknya sih tersinggung sedikit bu."
"Kamu bujuk dia supaya jangan sedih lagi."
Septian membatalkan niatnya untuk kembali kekamar. Dia menarik kursi lalu duduk didepan ibunya.
"Apa tak masalah jika Nara ikut tahlilah nanti malam bu. Takutnya, banyak yang ngomongin dia." Kekhawatiran Septian sangat beralasan. Baru beberapa orang yang kumpul ditoko tadi pagi aja, udah ngeghibahin Nara. Gimana nanti malam, saat orang satu RT berkumpul dirumahnya.
Bu Lastri menghentikan aktifnya mengupas bawang. Dia meletakkan pisau lalu menatap wajah gusar anaknya.
"Gak usah khawatir. Ada ustadzah Noor nanti malam. Beliau yang akan meluruskan tentang status Nara. Beliau istri pak penghulu. Tahu dengan jelas status Nara saat kamu mengurus surat surat nikah dulu. Beliau yang akan membantu menjelaskan nanti jika ibu ibu mulai nyinyir."
Septian menghela nafas lega mendengarnya. Semoga saja setelah ini, Nara mendapatkan keadilan. Kasihan juga kalau dia selalu dicap janda.
"Kak Nara baik banget ya bang. Gamis darinya tadi bagus banget. Harganya sih aku yakin mahal. pasti belinya dibutik. Aku jadi keinget Kak Nurul. Beberapa hari yang lalu ketemu dia. Pakai gamis yang cantik banget. Mirip yang dibelikan kak Nara." Ujar Shaila.
Deg
Sarah seketika menepuk jidatnya. Dia baru ingat jika meletakkan hadiah dan sebuah amplop di laci meja belajar abangnya dua hari yang lalu.
"Kak Nara dikamar abang?" Tanya Sarah dengan raut cemas.
"Iya." Jawab Septian santai.
"Gawat bang." Sarah mendadak panik, Membuat ketiga orang disana bingung.
"Gawat apanya Sar?" Tanya Shaila penasaran.
"Abang udah lihat belum surat di laci meja belajar?"
"Surat apa?" Septian mengernyit bingung.
"Surat dari kak Nurul. Dua hari yang lalu, dia nitipin surat dan hadiah buat abang. Aku letak dilaci meja belajar."
"Sial."
Septian langsung berlari secepat kilat menaiki tangga. Dia bahkan terlupa membawa air mineral yang tadi diambilnya dari kulkas. Saat dia membuka pintu, jantungnya terasa mau copot. Dia melihat Nara sedang berdiri disamping meja belajar. Wanita itu tampak memegang secarik kertas, yang Septian yakini adalah surat dari Nurul.
Nara menoleh saat melihat Septian yang baru memasuki kamar. Tangannya tampak gemetaran memegang secarik kertas.
"Ra." Septian menutup pintu lalu menghampiri Nara. Meraih surat itu lalu meletakkanya diatas meja tanpa dia baca dulu.
"Siapa Nurul Bang?" Tanya Nara dengan mata yang sudah berkaca kaca. Pikirannya kacau saat ini. Bayangan pengkhianatan yang dilakukan Abi menguasai pikirannya. Dia takut hal yang sama juga dilakukan Septian.
"Mantan abang."
Cairan bening perlahan mulai membasahi pipi Nara. Dadanya sesak mengetahui ada mantan yang masih menyimpan rasa untuk suaminya itu. Dan kenapa Septian masih menyimpan surat dan hadiah itu? Apakah masih ada rasa diantara keduanya?
"Gak usah dipikirin, cuma masa lalu." Lanjutnya sambil berusaha meraih pinggang Nara tapi tak berhasil. Wanita itu lebih dulu mundur dan menepis tangan Septian..
"Kenapa abang masih menyimpan surat dan kado dari dia? Abang masih ada rasa padanya?" Tanyanya dengan nada emosional. Pengkhianat Abi masih terasa menyakitkan. Apakah dia akan merasakannya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Jangan salah paham. Su__"
"Jawab bang." Teriak Nara yang sudah tak bisa mengontrol emosinya. Tubuhnya bergetar hebat. Dia merasakan kecemasan luar biasa. Ketakutan untuk kembali terluka lagi. "Abang masih cintakan sama dia. Makanya abang masih menyimpan surat dan hadiah dari dia? Wanita itu sudah menolak taaruf. Apa sekarang, abang berniat untuk menikahinya. Meninggalkan aku seperti yang dilakukan Abi?"
"Itu gak benar Ra." Sanggahnya.
Septian kembali maju dan meraih bahu Nara. Tapi, wanita itu terus berontak, membuat Septian mau tak mau menariknya paksa kedalam pelukannya.
"Dengerin penjelasan abang Ra."
"Lepasin." Nara masih terus berontak, berusaha lepas dari dekapan Septian.
"Nara." Teriak Septian. Membuat Nara seketika berhenti berontak. Tubuhnya mendadak bergetar hebat, dia mengalami tremor.
Septian mengangkat tubuh Nara lalu mendudukannya diatas ranjang. Dia duduk disebelah Nara sambil menatap mata sembab yang tak berhenti mengeluarkan air mata.
"Abang gak tahu menahu soal surat itu. Surat itu dititipkan Nurul dua hari yang lalu pada Sarah. Abang bahkan baru tahu tadi pas didapur. Abang juga belum membacanya. Kalau gak percaya, kamu tanya sama Sarah. Sudah hampir 2 tahun abang gak ketemu Nurul."
Nara melihat kejujuran di wajah suaminya. Tapi rasa traumanya tentang pengkhianatan membuatnya tak bisa percaya begitu saja.
"Abang gak bohongkan?"
Septian mengehela nafas lalu menangkup kedua sisi pipi Nara. "Abang kan sudah bilang kemarin. Tak ada kebohongan dalam rumah tangga kita."
"Abang masih mencintai dia?"
Septian menggeleng. "Cuma kamu yang abang cintai." Jawabnya sambil mencium kening Nara. Wanita itu sudah lumayan tenang. Tak lagi tremor seperti tadi.
"Tapi.... sepertinya dia masih cinta sama abang."
"Resiko jadi orang ganteng Ra. Banyak yang suka." Jawab Septian sambil terkekeh.
"Kita gak bisa mengatur perasaan orang lain Ra. Perasaan kita sendiri aja, kadang kita tak bisa mengendalikan. Yang kita bisa, hanyalah mencoba membentengi diri sendiri. Mencoba untuk tetap menjaga perasaan dan setia pada pasangan."
Nara melingkarkan lengannya dipinggang Septian lalu merebahkan kepalanya didada bidang suaminya. Dia menemukan ketenangan disana. Setelah tadi, emosinya sempat meledak.
"Kenapa abang putus sama dia?"
Septian akhirnya menceritakan masa lalunya dengan Nurul. Dimana mereka terpaksa putus karena Nurul dijodohkan dengan laki laki bernama Zaka, anak dari seorang kyai di jawa.
Nurul tak bisa menolak, dan dengan terpaksa dia memutuskan hubungannya dengan Septian. Mau tak mau, Septian menerima keputusan itu. Untuk mengobati lukanya itu, dia menerima tawaran temannya bekerja di Bali.
"Jadi... abang merantau ke Bali karena putus cinta?" Tanya Nara sambil mendongak menatap Septian.
"Ya... bisa dibilang begitu. Dan akhirnya, abang dapat jackpot disana."
"Jackpot?" Nara menarik kepalanya dari dada Septian sambil mengernyit bingung.
"Hem.... dapat jodoh janda kembang." Lirihnya sambil cekikikan.
"Ish.. " Nara melotot sambil memukul lengan Septian. "Bukan janda."
"Iya iya, perawan. Abang percaya kok, sudah membuktikan sendiri. " Sahutnya sambil ngakak.
"Jahat ih....ngetawain aku mulu." Ucap Nara sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Septian gemas dan langsung mengulum bibir pink nan menggemaskan itu.
"Si Nurul gak jadi nikah. Awas ya kalau Abang berani selingkuh sama dia." Ancam Nara.
__ADS_1
"Mana berani Ra, takut dikebiri." Septian lagi lagi tertawa ngakak. Dia jadi teringat perjanjian pranikah mereka. Dimana Nara bilang akan memberi hukuman kebiri jika Septian selingkuh.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan tawa Septian dan Nara. Ternyata, Sarah yang memanggilnya. Mengajak Nara turun untuk ikut membuat kue.
Didapur, Shaila sudah menyiapkan bahan bahan dan alat untuk membuat kue bronis.
"Mau bantuin bikin kue kan kak?" Tanya Shaila saat Nara dan Septian baru sampai didapur. Sedangkan Sarah, entah kemana gadis itu sekarang.
"Mau dong." Jawab Nara semangat. "Emang mau bikin apa?"
"Brownis, kesukaan abang." Jawab Shaila.
Sedangkan Lastri, wanita itu masih sibuk didepan kompor menyelesaikan memasak soto.
"Kesukaan kamu bang?" Tanya Nara sambil menyenggol lengan Septian.
"Dulu, sekarang sukanya kue apem." Bisiknya ditelinganya Nara sambil menahan tawa.
Nara tampak berfikir. Dia tak langsung nggeh dengan makna kiasan yang dibuat suaminya itu.
"Apem kamu Ra." Bisiknya lagi. Membuat Nara seketika melotot dan mencubit pinggangnya.
"Apa yang bisa kakak bantu Sha?" Tanya Nara yang sekarang sudah berdiri disamping Shaila.
"Bantu mixer bisa kan kak? maklum, hand mixer." Jawab Shaila sambil memecahkan beberpaa telur lalu memasukkan kedalam wadah untuk dimixer.
"Itu mah kecil." Jawabnya sok sok an. Padahal dia belum pernah melakukannya. Dia beberapa kali melihat bi Surti dan mama bikin kue. Tapi selalu pakai stand mixer. Jadi tak perlu memegang lagi. Dan menurut Nara, kalau cuma memegang mixer, dia pasti bisa.
Setelah menyiapkan bahan bahan untuk dimixer. Shaila mulai menyalakan mixer lalu memberikannya untuk dipegang Nara.
Septian yang mencium bau harum soto lamongan langsung menghampiri ibunya. Makanan tersebut memang salah satu favoritnya.
"Harum sekali bu baunya."
"Iyalah, wong ibu yang masak."
"Beh,... mantep. Ibunya siapa dulu dong." Goda Septian sambil merangkul bahu ibunya.
Setelah kuahnya mendidih, Bu Lastri segera mematikan kompor. Dia yang merasa gerah, segera kekamar mandi untuk mengguyur tubuh lengketnya.
Septian melihat Nara begitu fokus memixer adonan. Melihat Shaila tak lagi ada disana. Terbesit niat jahil mengerjai Nara. Dia mengambil tepung lalu mengoleskan dipipi Nara.
"Abang!" Seru Nara yang merasa kesal.
"Makin putih kamu Ra." Ledek Septian sambil cekikikan.
"Awas ya kamu." Nara mencolek sedikit adonan lalu mengoleskan dihidung suaminya. Tawanya pecah seketika melihat hidung Septian yang mirip badut.
"Berani kamu ya." Septian kembali mengambil tepung dan mengoleskan dipipi satunya lagi.
Narapun tak mau kalah, dia kembali mencolek adonan dan hendak mengoleskan diwajah Septian. Tapi Septian berhasil menghindar lalu menjulurkan lidahnya mengejek Nara. Nara terus maju berusaha mengolesi pipi Septian, hingga tanpa sasar pergerakannya membuat.
BRAKKKK
Mata Nara dan Septian membulat sempurna. Adonan itu tumpah diatas meja hingga kelantai. Nara buru buru mematikan mixer dan meletakkannya diatas meja.
__ADS_1
"Suara apa kak?" Tanya Shaila yang buru kedapur saat mendengar suara barang jatuh. Gadis itu langsung melotot melihat adonan brownis yang tumpah ruah tak karuan.
"Sorry." Ujar Nara sambil tersenyum absurd.