
Mama Tiur dan papa Satrio tampak begitu sibuk ikut mempersiapkan acara tujuh bulanan. Meskipun sudah dihandle oleh EO, tapi mereka tetap ikut andil dalam mempersiapkan semuanya. Terutama mama Tiur, dia ingin yang terbaik untuk hari ini.
"Bik, bingkisannya dihitung lagi. Pastikan sisa, jangan sampai kurang." Titah Mama Tiur pada bik Surti. Wanita yang hari ini memakai kebaya abu abu, sama seperti ibu Septian itu tak bisa tinggal diam. Dia mengecek semuanya bahkan sampai perintilan perintilan kecil.
Ibu Septian juga sibuk menyiapkan perintilan untuk prosesi adat tujuh bulanan. Dia ingin semuanya berjalan dengan lancar.
Sedangkan Nara, Pagi pagi MUA sudah datang untuk meriasnya. Dia akan ganti baju tiga kali hari ini. Dua gaun untuk maternity shot dan sebuah kebaya untuk acara tujuh bulanan. Aura kecantikannya kian keluar. Mungkin karena rasa bahagia yang teramat.
"Masyaallah, istri abang cantik sekali." Puji Septian yang baru memasuki kamar. Dia tak seribet Nara, hanya memakai kemeja dan jas semi formal.
Nara tersipu malu sambil menatap pantulan wajahnya dicermin.
"Udah selesai?" Tanya Septian pada mbak Bella yang merias Nara.
"Bentar lagi mas, tinggal touch up yang kurang kurang aja." Jawab Mbak Bella.
Septian menarik kursi lalu duduk disebelah Nara.
"Persiapan dibawah udah selesai bang?" Tanya Nara.
"Kayaknya sih udah. Kan ada EO. Terus abang lihat juga mama, Ibuk sama papa, ikut ngurusin. Kamu gak usah mikirin yang dibawah."
"Sayang banget Kak Kinan gak bisa datang." Ucap Nara dengan raut sedih. Dia dan kakaknya sangat dekat. Jadi merasa ada yang kurang saat Kinan tidak bisa hadir.
"Kan nanti bisa VCall. Cinta sama Lovely dateng kok, mereka diantar suster."
"Kok gak diajak kesini. Aku kangen banget sama mereka."
"Mereka masih pada makan kayaknya."
"Udah Ra, udah perfect banget pokoknya." Ucap Mbak Bella setelah dia menyelesaikan Make up nya.
"Makasih ya mbak." Nara tampak puas sekali dengan hasil kerja mbak Bella.
"Mbak tinggal dulu ya. Mau lihat, fotografernya udah siap belum?" Ujar Mbak Bella sambil membereskan peralatan make up lalu keluar kamar.
Septian masih setia menatap wajah istrinya dari cermin. Berbalut gaun warna putih dengan rambut digerai dan mahkota bunga. Sungguh mirip seperti peri.
"Bang, kok bengong." Nara menepuk pundak Septian.
"Kamu itu manusia apa bidadari sih? Sumpah, cantiknya kelewatan." Puji Septian sambil menyentuh dagu Nara.
"Gombal." Sahut Nara sambil tersenyum malu malu. Hatinya berdebar debar mendengar pujian yang seperti berlebihan itu.
Septian memegang kedua bahu Nara sambil menatap dalam kedua matanya.
"Abang merasa jadi laki laki paling beruntung didunia. Bisa mendapatkan jodoh wanita secantik dan sebaik kamu. Terimakasih karena udah mau menjadi istri abang. Terimakasih karena udah mau menerima abang yang bukan siapa siapa. Dan terimakasih, karena mau mengandung anak abang." Septian tiba tiba melow. Matanya berkaca kaca karena terbawa suasana.
"Abang... kok nangis. Aku jadi pengen nangis juga nih." Rengek Nara sambil menengadahkan wajahnya. Menahan agar air mata tak jatuh hingga merusak Make up nya.
"Maaf maaf." Septian yang sadar telah terbawa suasana buru buru menyeka air mata. Kemudia dia menangkup kedua pipi Nara dan mengecup bibirnya sekilas.
__ADS_1
Tapi dorongan dari dalam diri Septian, menginginkan lebih dari sekedar kecupan singkat. Dia memegang tengkuk Nara dan menyatukan bibir mereka. Saling mengulum dan bermain lidah. Hingga mereka tak sadar, jika Bella masuk kedalam kamar.
"Hem Hem." Bella berdehem untuk menghentikan aktivitas menyenangkan dua orang yang sedang dibalut gairah.
Muka keduanya langsung merah padam menahan malu.
"Fotografernya udah siap. Yuk buruan, kita dikejar waktu." Ujar Bella sambil mendekati Nara dan Septian.
"Ya udah yuk keluar." Nara hendak beranjak tapi ditahan oleh Bella.
"Bentar, mbak touch up lagi lipstiknya."
Nara tersenyum absurd dengan muka merah menahan malu. Entah bagaimana dia berciuman tadi, lipstiknya sampai hampir hilang.
"Aw... " Rintih Nara saat kuas lipstik itu mengenai bagian bibirnya yang terluka. Padahal tadi jelas jelas tak ada luka itu.
"Buas ya abangnya."
Septian seketika menunduk malu. Dia benar benar tak sadar jika tadi menggigit hingga terluka. Mungkin karena terlalu hanyut dalam kenikmatan, Nara tak merasa sakit saat Septian menggigit bibirnya, tapi saat tersentuh kuas lipstik, rasanya perih sekali.
...******...
Setelah maternity shot, dilanjutkan dengan acara inti tujuh bulanan. Mulai dari siraman hingga dodol dawet, semua dijalani Nara dan Septian dengan suka cita. Senyum bahagia tak henti henti tersungging diwajah keduanya.
Tamu tamu yang datang lumayan banyak. Mulai dari kerabat, teman Nara dan Septian, kolega mama dan papa, serta tetangga Septian.
Mama dan Papa yang lebih banyak berinteraksi dengan tamu. Sedangkan Nara, dia sedikit lelah dan akhirnya hanya duduk saja ditemani Septian.
"Selamat ya Nak Nara dan Septian. Semoga dilancarkan hingga persalinan. Dan dikaruniai anak yang sholeh, sholeha." Ucap ustadzah Noor sambil mengusap perut Nara.
Para tetangga Septian bergantian memberi selamat. Hingga akhirnya, giliran seseorang.
"Selamat ya Bu Nara." Mayang mengulurkan tangan kearah Nara. Tapi Nara enggan menjabatnya.
"Sayang, udah, maafin Mayang ya." Pinta Septian sambil mengusap lengan Nara.
Nara menghela nafas lalu menjabat tangan Mayang dengan sedikit cengkeraman.
"Awas kalau masih berani godain suami saya." Bisiknya ditelinga Mayang.
Mayang tersenyum absurd sambil menggeleng.
"Gak berani lagi bu, istrinya galak."
Septian menahan tawa melihat ekspresi Mayang. Walaupun tak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi dia yakin jika Nara sedang mengintimidasi Mayang.
Nara mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Nova yang katanya mau datang lebih awal tapi tak muncul juga hingga sekarang. Dia sedang tak pegang ponsel, jadi tak bisa menghubungi sahabatnya itu.
Setelah rombongan tetangga. Sekarang giliran teman teman kuliah Asep yang datang menghampirinya.
"Gila lo Sep. Beneran jadi mantu sultan sekarang." Ujar Ganes sambil memeluk Septian.
__ADS_1
"Rezeki anak Sholeh." Sahut Septian.
"Selamat ya Bu Nara. Semoga diberi kelancaran hingga persalinan. Tapi ngomong ngomong, biarpun perutnya gendut, Bu Nara kok makin kelihatan cantik sih." Puji Putra yang sangsung dapat toyoran dari Septian.
"Bini gue itu, kalau lo lupa." Serunya sambil melotot.
"Elah Sep. Cuma muji doang, bukannya mau merebut." Sahut Putra.
"Direbutpun, saya gak mau kok."
Bha hahahaha..... Seketika, tawa yang lainnya pecah. Putra hanya tersenyum gak jelas karena malu.
...*******...
Ditempat lain, Diego sedang yang sedang mengendarai mobil terus saja diomeli mamanya. Dia tak mau disuruh mengantar sang mama keacara tujuh bulanan putri temannya. Papanya sedang ada diluar negeri, jadi hanya Diego yang bisa dia harapkan untuk menemaninya kali ini.
"Aku tunggu dimobil ya mah." Ujar Diego saat mereka sudah sampai.
"Masuk, temani mama. Oh iya, mungkin pacar kamu juga ada disini. Siapa kemarin namanya, mama lupa?"
"Shaila." Jawab Diego cepat.
"Dia kan member VIP di salonnya Bu Tiur, pasti diundang juga. Seluruh member VIP diundang. Ayo cepetan masuk."
Diego akhirnya pasrah saat sang mama memaksa. Dia berharap, Shaila benar benar ada diacara ini.
Tiba tiba langkah Diego terhenti saat membaca karangan bunga ucapan selamat. Dia shock saat tahu ini acara tujuh bulanan Nara dan Septian. Padahal dia sudah niat tak mau datang meski Nara mengundang. Dan sekarang, dengan bodohnya, dia malah ada disini. Dan satu lagi, dia sendiri, tanpa membawa pacar.
Jangan lupa bawa pacar kamu.
Ucapan Nara itu terngiang ditelingannya. Dia pasti malu kalau ketahuan jomblo. Mau ditaruh mana muka gantengnya. Yang menurut para mahasiswi, paling ganteng seangkatan.
"Mah, aku lupa, ada tugas kuliah. Aku pulang dulu ya mah."Diego hendak kabur tapi lengannya lebih dulu dicekal sang mama.
"Bentar aja temenin mama. Papa gak bisa datang, jadi kamu sebagai gantinya."
"Astaga mah, aku lupa. Tadi nyalain kompor belum dimatiin. Aku pulang bentar ya mah, takut meledak, nanti rumah kita kebakaran."
"Emang kamu bisa nyalain kompor?"
Diego menelan ludahnya susah payah. Otaknya sungguh tak bisa diajak kerja sama. Bagaimana bisa memberikan alasan tak masuk akal. Jangankan nyalain kompor, nyentuh benda itu aja gak pernah.
"TV, maksud aku TV dikamar aku belum dimatiin mah."
"Biarin aja, cuma TV."
"Nanti rusak mah."
"Rusak beli lagi. Lagian sejak kapan kamu mikirin TV? Perasaan benda itu hanya nongkrong dikamar kamu. Gak pernah mama lihat kamu nonton TV." Mama Diego tahu jika sang anak hanya mencari alasan..
"Ayo masuk."
__ADS_1
Diego makin kelabakan saat tangannya ditarik masuk. Dari jauh, dia melihat beberapa anak kampusnya dan juga dosen.