Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
GAGAL


__ADS_3

Ada adegan plus plus nya. Jangan baca saat puasa.


Nara menghela nafas berat setelah membaca pesan di ponselnya. Septian mengirim pesan jika malam ini, dia harus lembur. Tak ada niatan sama sekali untuk membalas. Diletakkannya kembali ponsel keatas meja rias.


Nara mengambil selembar tisu lalu menghapus kembali lipstik yang baru saja dia aplikasikan ke bibir. Untuk apa dia merias diri jika sang suami selalu pulang larut. Mood nya benar benar hancur sekarang.


Ceklekk


Nara terbelalak saat melihat pantulan dicermin. Septian, suaminya itu sudah pulang. Bukankah baru saja dia mengirim pesan jika hari ini lembur, tapi kenapa sudah pulang?


Dengan senyum merekah, Septian menghampiri Nara yang masih setia duduk didepan meja rias.


"Katanya lembur?" Tanya Nara tanpa menoleh. Tatapannya masih lurus menghadap cermin meja rias.


Septian tak menjawab. Dia menarik tangan yang sejak tadi berada dibelakang punggungnya. Ternyata, tangan itu tidak kosong. Sebuket bunga mawar putih yang sangat cantik tersembunyi disana.


"Buat aku?" Tanya Nara saat Septian menyodorkan bunga tersebut kearahnya.


"Buat bik Surti. Ya buat kamu lah yank." Jawab Septian sambil tertawa ringan. Tawa yang akhir akhir ini jarang sekali menghiasi bibirnya.


"Makasih." Jawab Nara sambil meraih bunga tersebut lalu mencium wanginya.


"Kamu suka?"


"Hem." Jawab Nara sambil mengangguk.


Septian meraih kedua pundak Nara lalu menariknya keatas agar wanita itu berdiri.


"Maafin abang ya. Maaf karena abang gak ada waktu buat kamu dan Ay." Ujarnya sambil menatap dalam dalam mata Nara.


"Abang terlalu bersemangat kerja hingga tak ada waktu buat kalian. Abang janji, setelah ini, akan luangkan lebih banyak waktu buat kalian."


Nara berdecak lalu meletakkan buket bunga keatas meja rias.


"Gak usah janji kalau gak bisa nepatin." Sahutnya dengan wajah masam.


"Kamu masih marah sama abang?"


Nara tak menjawab, dia malah berdiri lalu sibuk merapikan kembali make up yang tak jadi dia pakai.


"Maafin abang sayang.... " Septian masih berusaha membujuk.


"Gak perlu minta maaf. Abang gak salah. Ini semua buat aku dan Ay kan? Buat bahagiain kita kan? Lalu untuk apa abang minta maaf?" Ucap Nara sambil tersenyum miring.


"Mau kemana?" Tanya Septian saat Nara hendak pergi.


"Kedapur, bantuin bibi nyiapin makan malam. Mumpung ada kamu. Kamu jagain Ay dulu."


Septian menarik lengan Nara saat wanita itu hendak pergi. Diraihnya tubuh sang istri kedalam dekapannya.


"Maafin abang."

__ADS_1


"Gak ada yang perlu dimaafin." Sahut Nara sambil berusaha lepas dari dekapan Septian.


"Abang akan berhenti kerja."


Nara seketika diam. Dia tak lagi berontak seperti tadi.


"Abang akan berhenti kerja agar punya lebih banyak waktu buat kalian."


"Gak perlu. Aku gak mau dianggap tidak mendukung. Aku gak mau dikira menghalangi suami yang hendak meniti karier." Ujar Nara demgan suara terputus putus karena menahan tangis.


Septian memebenamkan kepala Nara kedada bidangnya. Diciumnya puncak kepala wanita itu berkali kali.


"Tolong beri abang waktu selagi mengurus pengunduran diri. Semua butuh proses."


"Abang yakin?" Tanya Nara sambil menatap wajah suaminya.


"Sangat yakin."


"Aku gak mau jadi penghalang kesuksesan abang."


"Sukses adalah keinginan abang. Tapi prioritas abang, adalah kamu dan Ay."


Nara lalu melingkarkan kedua lengannya dipinggang Septian. "Makasih bang." Ujarnya dengan senyum yang merekah.


"Tapi kamu gak marahkan, jika nanti uang bulanan yang abang beri tak banyak."


Nara menggeleng cepat. "Tak masalah. Asal abang ada waktu untuk aku dan Ay. Aku yakin, suatu hari nanti, abang akan menjadi pengusaha serta barista yang sukses. Dan disaat itu, pasti aku tak sanggup menghabiskan uang bulanan dari abang."


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk abang. Untuk keluarga kecil kita."


Septian akhirnya bisa bernafas lega. Dibenamkannya wajah Nara di dada bidangnya, dan diciumnya puncak kepala Nara berkali kali.


"Malam ini, abang mau lembur sama kamu. Bolehkan?" Goda Septian sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Hahaha.... Tak hanya malam ini. Setiap malampun, aku siap dilembur sama abang." Jawab Nara dengan pipi merona.


"Yakin?"


"Of course."


Septian memegang tengkuk Nara dan segera menyatukan bibir mereka. Mengulum, menghisap, dan saling bertukar saliva penuh ghaiirah.


Setelah puas mengeksplor bibir, ciuman Septian turun menelusuri belakang telinga dan leher Nara. Menciptakan kissmark sebanyak banyaknya dileher dan dada Nara.


Tangannya mulai bergerak aktif masuk kedalam gaun yang dikenakan Nara. Meremas dua gundukan besar yang mengeluarkan asi untuk baby Ay.


Septian tetap tak berhenti meskipun tangannya basah karena asi yang mulai keluar akibat rangsangan yang dia berikan.


Nara mulai melenguh menikmati sentuhan yang sudah lama tak dia dapatkan. Nafasnya mulai terngah dengan tubuh yang terus menggeliat geliat tak tentu arah.


Septian menghentikan aksinya lalu membopong tubuh Nara keatas ranjang. Dilucutinya pakaiannya dan Nara hingga keduanya sama sama polos.

__ADS_1


Dengan mata yang dipenuhi kabut gairah yang nafas yang memburu, Septian mengungkung Nara dengan kedua tanganya. Diatatapnya wajah sang istri yang berada dibawahnya tanpa berkedip.


"Kamu cantik banget yang." Pujinya sambil mendekatkan wajah mereka.


Nara tiba tiba menahan dada Septian saat pria itu hendak menciumnya.


"Masih sore. Bukankah katanya mau lembur malam?"


"Anggap saja appetizer yank. Main course nya ntar malem." Goda Septian sambil mengedipakan sebelah mata.


Nara tak bisa menahan tawanya. Hingga dia membiarkan saat Septian kembali menyatukan bibir mereka.


Nara mulai memainkan senjata kebanggaan suaminya. Benda itu sudah mengeras sempurna dan siap mengobrak abrik miliknya.


Septian melepas pagutan bibirnya. Tubuhnya melorot kebawah dan memandangi bagian sensitif milik Nara.


"Masih tetep cantik kok yang biarpun habis melahirkan. Gak ada bedanya sama dulu." Nara segera menutupi miliknya dengan telapak tangan. Diperhatikan seperti itu jelas membuatnya malu.


"Aku masukin ya yank?"


Nara mengangguk malu saat Septian menyingkirkan tanganya yang menutupi pintu surga dunia.


Perlahan tapi pasti, Septian mulai memasukkan miliknya.


"Awww..." Nara meringis lalu menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa yang?" Septian mendadak panik.


"Sakit."


"Hah." Mata Septian membola dengan mulut menganga. "Jangan jangan terlalu sempit saat dijahit dulu, lalu sekarang sobek."


Nara tak bisa menahan tawanya. Dia tak menyangka jika suaminya akan berpikiran seperti itu.


"Belum pernah denger ada kasus jahitan sobek bang. Mungkin sedikit sakit karena lama tak dipakai. Aku sih sempat ada baca seperti itu." Jawab Nara.


"Kalau begitu, abang lanjutin gak apa apa?"


"Hem, iya bang."


Mendapat lampu hijau dari Nara, Septian tak mau membuang kesempatan lagi. Dia hendak kembali memulai tapi.


OEK OEK OEK


Tangis baby Ay tiba tiba pecah. Membuat konsentrasi keduanya langsung hilang.


"Ay nangis bang." Tutur Nara.


"Huft...gagal."


.

__ADS_1


ADEGAN 21+ PENUTUPAN MENJELANG PUASA.


__ADS_2