
Dengan jantung berdegup kencang, Shaila terdiam ditempat. Matanya nyalang mencari keberadaan sang kakak. Namun yang dicari tak tampak batang hidungnya. Justru dia melihat Sarah berada diantara orang orang yang berteriak TERIMA, TERIMA, TERIMA. Sang adik bahkan tampak begitu bersamangat dengan berteriak yang paling kencang.
Dan disudut lain, tampak mama Eva yang ternyata juga hadir. Saat mata mereka beradu, mama Eva tampak mengatupkan kedua telapak tangan didada, seperti orang yang sedang memohon. Shaila juga bisa membaca gerak bibirnya, wanita itu berkata terima.
Disaat Shaila dilema, Diego gundah gulana. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Pikirannya terus melayang ke hal hal negatif. Bagaimana kalau Shaila menolaknya?
TERIMA, TERIMA, TERIMA
Teriakan itu masih menggema diseluruh cafe. Hingga Mila yang berada didapur keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan matanya seketika hendak terlepas tatkala melihat Shaila dilamar Diego. Diantara semua pekerja cafe, memang cuma Mila dan Shaila yang tidak tahu. Mila terlalu dekat dengan Shaila, dan mulutnya sedikit ember. Terlalu beresiko jika cewek itu tahu.
"SHA, WILL U MARRY ME?" Diego kembali mengucapkannya karena Shaila tak kunjung menjawab.
Dan akhirnya, setelah menarik nafas dan membuanganya perlahan, Shaila membuka mukutnya.
"YES, I WILL."
"Yesss." Teriak Diego sambil berdiri dan melonjak girang. Hatinya terasa plong. Tubuhnya terasa ringan seperti melayang karena beban beratnya sudah menguap.
"YEEEE.."
Plok plok plok
Seruan girang tak tepuk tangan meriuhkan cafe. Shaila menunduk malu dengan wajah merona. Diego, cowok itu menatap Shaila sambil tersenyum senyum sendiri.
"Makasih ya Sha." Ucapnya dengan senyum yang tak kunjung pudar dari bibirnya.
Shaila mengangguk malu malu. Menjadi pusat perhatian seperti ini, bukan hal yang biasa bagi Shaila. Dia gugup sekaligus malu.
"Aku pakaiin ya Sha?" Tanya Diego sebelum dia meraih tangan Shaila.
Shaila mengangguk dengan wajah masih menunduk. Dia tak berani menatap orang orang karena hanya akan menambah kegugupannya. Melihat lampu hijau, Diego segera meraih tangan Shaila dan memasangkan cincin berlian di jari manis gadis cantik itu.
Jantung Shaila seperti melompat lompat saat Diego menyematkan cincin dijari manisnya. Cincin yang begitu cantik itu, sangat pas dijari manisnya. Padahal tak pernah diukur? jadi bagaimana Diego bisa tahu ukuran jarinya?
Mama Eva yang begitu gembira segera menghampiri anak dan calon menantunya. Dia memeluk Shaila dan berucap terimakasih.
Setelah melepaskan pelukannya, Mama Eva meraih tangan Diego dan Shaila kemudian menyatukannya.
"Congratullation sayang." Ucap Mama Eva sambil menatap keduanya bergantian.
"Kapan nikahnya mah?" Celetuk Diego.
kletak
Mama Eva menjitak kepala anaknya yang tampak tak sabaran itu. Dan seketika, tawa para penonton pecah.
"Sabar, semua ada prosesnya." Tekan mama Eva sambil memelototi putranya.
__ADS_1
"Udah gak sabar nih kayaknya?" Teriak salah satu teman Diego.
"Diego pengen kawin." Yang lain menimpali.
"Mah, cepet kawinin mah, udah kebelet." Mereka terus saja meledeki Diego.
Wajah Shaila merah padam. Tapi tidak dengan Diego, cowok itu malah cengengesan dan tampak tak malu sama sekali. Mungkin karena sudah terbiasa bercanda dengan teman temannya.
"Sebagai wujud rasa syukur gue. Sekaligus terimakasih buat dukungan kalian. Hari ini, gue traktir sepuasnya. Pesen aja apapun yang kalian mau." Ucap Diego dengan suara lantang dan langsung disambut dengan tepuk tangan dan wajah penuh antusias. Siapa yang tak antusias kalau udah masalah makan gratis.
Ferdi menghampiri Diego sambil membawa cameranya.
"Go, gue yakin, konten kali ini bakal ramai. Bakal ditonton banyak orang dan dapat banyak like." Ucapnya penuh semangat.
"Konten?" Shaila mengernyit bingung. Apakah lamaran ini hanya konten semata?
"Iya Sha, kita sekalian bikin konten. Biar sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Ngelamar, sekaligus kerja. Lumayankan, bisa dapat duit." Jawab Ferdi dengan bangga.
Shaila seketika menatap Diego. Cowok itu tersenyum absurd sambil menggaruk garuk tengkuknya. Merasa bersalah juga Karena memanfaatkan Shaila untuk mendapatkan uang.
"Ini kamu jadiin konten?" Tanya mama Eva.
"Hehehe... iya mah. Lumayankan dapat duit, buat bayar cincin berlian itu. Kan masih ngutang." Jawabnya sambil menunjuk cincin yang tersemat dijari manis Shaila.
Mama Eva dan Shaila seketika melongo. Shaila menyentuh cincin itu dengan perasaan tak enak.
"Becanda mah. Hahaha... " Diego segera memeluk mamanya agar wanita itu tak meledakkan kemarahannya..
Shaila bernafas lega, dia pikir Diego beneran ngutang. Dia sudah kepikiran untuk mengembalikannya jika memang masih hutang. Lebih baik cincin emas biasa daripada berlian tapi utang, pikirnya.
"Nanti kalau dapat uangkan bisa buat tambah biaya pernikahan mah." Ucap Diego dengan tangan masih melingkar di bahu sang mama.
"Gak usah mikirin biaya. Biar itu jadi urusan mama dan papa. Kalian cukup cari wo dan pilih konsep, gedung dan perintilan lainnya."
"Beneran mah?"
"Iya."
"Yess... "Diego merasa senang sekali. Kali ini, uang tabungannya bisa selamat dari kekeringan.
"Sha." Mama Eva meraih tangan Shaila dan menatapnya.
"Iya tante."
"Bilang ibu kamu, lusa keluarga kami akan datang untuk melamar kamu secara resmi."
"Kok lusa sih mah? kenapa gak ntar malem aja?" Protes Diego.
__ADS_1
"Hus, kamu pikir lamaran itu gak butuh proses? Banyak yang harus dipersiapkan." Jawabnya sambil memelototi Diego.
Shaila hanya mengangguk. Dulu, saat mama Eva melamar, ibu nya menyerahkan semua keputusan pada Shaila. Wanita itu tidak mempermasalahkan apapun jawaban yang akan di beri Shaila. Tapi tidak dengan abangnya. Pria itu masih tampak berat memberika restunya. Dan sejak tadi, dia terus menebak, apakah abangnya tahu tentang lamaran ini?
"Oh iya, ajak Shaila membeli apa saja yang dia mau untuk hantaran. Beli sesuai yang dia minta." Titah mama Eva.
"Gak usah repot repot tante." Sahut Shaila.
"Bukan repot, tapi wajib. Mama mau kamu dapat hantaran yang sesuai selera dan kemauan kamu. Bagus dan mahalpun, kalau kamu gak suka, gak akan berguna. Jadi lebih baik, kamu yang milih sendiri." Terang mama Eva.
Sarah tiba tiba datang lalu memeluk kakaknya. Wajah gadis itu tampak sangat bahagia.
"Selamat ya Kak."
Shaila melepaskan pelukan adiknya dan segera mengajak sedikit menjauh dari Diego dan mamanya.
"Abang mana?" Tanya Shaila dengan raut cemas.
"Abang dirumahnya lah kak. Emang kenapa?" Tanya Sarah santai.
"Aku takut abang marah Sar."
"Hah." Sarah melongo. "Marah? kenapa pula abang harus marah?"
"Abang gak suka sama Diego." Jawab Shaila sambil meremas tangan Sarah.
"Masak sih kak? perasaan beberapa hari yang lalu pas aku kesini, mereka berdua ngobrol akrab."
Shaila berdecak. "Kamu gak tahu sih Sar."
Shaila tak melanjutkan obrolanlannya karena Diego datang mendekat.
"Kita keluar yuk yang. Katanya mau cari barang buat seserahan?" Ajak Diego.
Shaila melongo, bukan karena diajak nyari seserahan. Tapi karena panggilan Diego yang tiba tiba berubah menjadi yang. Rasanya sungguh aneh dan membuatnya malu.
Sedangkan Sarah, cewek itu terlihat menahan tawa. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kak, aku dibeliin juga ya?" Pinta Sarah pada Diego.
"Apa apaan." Shaila melotot. "Kamu itu gak dilangkahin, kenapa pula minta seserahan."
"Hehehe... " Sarah hanya nyengir.
"Gampang, nanti aku beliin. Kamu pengen kamerakan?" Tanya Diego.
"Heem." Sarah mengangguk cepat.
__ADS_1
Shaila sampai heran. Bagaimana Deigo bisa tahu apa yang diinginkan Sarah. Dan mereka juga tampak akrab. Jangan jangan... Sarah ikut andil dalam pedekatenya Diego.